The Secret Heirs (#1 The Secret Series)

The Secret Heirs (#1 The Secret Series)
Bab 26



Hunter duduk dengan serius di balik kemudi mobil pick up tuanya, matanya fokus memerhatikan supermarket dimana kedua perempuan tadi masuk, sudah hampir satu jam lebih ia mengawasi tempat itu, orang suruhannya sudah siap di depan pintu keluar hanya tinggal menunggu aba-aba darinya.


"Cincin sialan!"


Ia menggeram marah, tangannya mencengkram kemudi dengan kuat, andai bayarannya tidak setimpal maka ia akan menolak mencari cincin yang membuatnya harus mengambil resiko penyamarannya terbongkar beberapa hari lalu ketika memasuki tempat tinggal pria itu yang sangat ketat penjagaannya, untung saja pengalamannya dalam mengintai para calon korbannya selama ini sangat berguna pada saat-saat seperti itu, tapi yang lebih sialnya kali ini ia tidak menemukan benda yang dicarinya di sana. Dapat dipastikan kalau cincin itu ada pada gadis yang kini sedang diintainya atau setidaknya ia akan menemukan petunjuk dimana sebenarnya cincin itu berada karena ia tidak menemukan benda itu di tempat pertama.


"Sudah waktunya, siap-siap!"


Ia memberi perintah kepada seseorang melalui telepon genggam kemudian menyalakan mesin mobil tua itu, sorot matanya berubah siaga ketika melihat kedua perempuan itu keluar dari gedung swalayan dengan dua orang pengawal di belakang mereka yang salah seorangnya mendorong troli belanjaan, dan satu pengawal lainnya di depan mereka terlihat waspada mengawasi sekitar.


Matanya menatap mereka seperti Elang yang mengunci targetnya, dalam hati dia mengutuk tugasnya kali ini. Baginya membunuh akan lebih mudah daripada mencari benda sialan yang membuatnya harus membayar beberapa penjahat kambuhan kota.


Ia memerhatikan kedua wanita itu berjalan ke arah parkiran mobil tanpa menyadari bahaya yang mengintai, dengan hanya melihat dan mengamati sekitarnya serta pengalamannya selama ini ia bisa memperhitungkan jarak yang tepat bagi orang suruhannya untuk melakukan aksi. Huter bisa melihat orang suruhannya sudah siap di atas motor masing-masing.


"Ayo, sedikit lagi," ia berbisik dengan telepon genggam masih ditelinganya, tangan kanannya mengetuk-ngetuk kemudi mobil tidak sabar, kakinya siap di atas pedal gas, matanya nyalang menatap calon korbannya, rahangnya mengeras, adrenalinnya mulai terpacu, seringai sadis mulai muncul di bibirnya ketika target memasuki wilayah pemburuannya.


"Sekarang!"


****


Calista berjalan keluar dari supermarket bersama dengan Mrs. Winchester disampingnya, beliau sedang menceritakan pengalamannya selama di Indonesia beberapa waktu lalu dan ia sangat menyukai cerita tentang negara tropis itu, kalau ini semua berakhir ia akan meminta Theo untuk mengajaknya kesana, hanya dengan membayangkan ia akan berlibur dengan tunangannya di negara tropis saja sudah membuat pipinya memanas.


Mereka kini tengah menyeberangi jalan area parkiran swalayan yang sangat luas, ia sudah melihat mobil mereka hanya tinggal beberapa meter didepannya ketika matanya menangkap sesuatu yang tergeletak di tengah jalan.


Sebuah boneka, ia mengerutkan alisnya karena seperti mengenali boneka itu, semakin ia mendekati maka kerutan alisnya semakin dalam. Jantungnya terasa berhenti ketika ia melihat boneka itu dari dekat, bonekanya! Itu boneka Barbienya, dengan tubuh gemetar ia berjongkok mengambil boneka berambut pirang dengan mata biru yang mengenakan gaun berwarna merah, gaun itu yang membuatnya mengenalinya karena gaun itu sengaja dibuat oleh pengasuhnya dulu dengan bordiran namanya di atas dada.


Ia masih mematung mengamati boneka yang mengenakan gaun dengan bordiran namanya ketika mendengar pengawalnya berteriak, Calista berbalik dan melihat pengawal itu berlari kearahnya tapi suara raungan mesin motor yang bergemuruh membuatnya mengalihkan pandangan ke arah lain, ia tercengang melihat beberapa motor mendekatinya dengan sangat cepat. Calista terbelalak tapi kemudian memejamkan matanya sekuat tenaga ketika melihat salah satu motor itu menabrak troli yang didorong dengan kuat oleh pengawalnya, terdengar benda jatuh dengan keras diikuti desingan besi yang beradu dengan aspal.


Detik berikutnya yang ia rasakan adalah seseorang merampas tasnya lalu menendang penggungnya dengan keras sehingga ia terpelanting lalu terjatuh setelah sebelumnya tubuhnya menghantam belakang mobil yang terparkir hingga alarmnya berbunyi.


"Calista!" Samar-samar ia bisa mendengar suara wanita memanggil namanya, ia berusaha membuka matanya dan samar-samar ia melihat Mrs. Winchester membungkuk di atasnya sebelum akhirnya semuanya menjadi gelap.


*****


Theo berjalan dengan cepat di lorong rumah sakit yang sepi menuju tempat Calista dirawat, derap suara kakinya bergema di sepanjang lorong, jantungnya berdebar kencang, amarahnya menyeruak kepermukaan menutupi aura ketampanannya yang biasa terpancar, dalam hati ia mengutuk diri sendiri karena meninggalkan tunangannya hanya dengan beberapa pengawal, seharusnya ia tidak meninggalkannya bukankah ia sudah berjanji akan menjaga gadis itu dengan nyawanya sendiri?


Ia membuka kamar VVIP itu dengan sekali sentakan dengan napasnya terengah-engah membuat semua orang yang berada di dalam sana terlihat siaga tapi itu berubah ketika melihat bahwa Theolah yang masuk ruangan itu.


"Ya Tuhan."


Theo dapat melihat gadis itu menatapnya dengan mata biru besarnya yang berkaca-kaca, hatinya terasa sakit dan perih melihat tatapan tunangannya itu, secepat kilat ia mendekat lalu membawa tubuh Calista dalam pelukannya, seketika tangis gadis itu pun pecah menyayat hati Theo yang semakin terasa sakit dan membangkitkan kembali amarahnya, dia akan membunuh siapapun yang telah membuat gadis yang dia cintai menangis. Theo mengernyit menyadari perasaannya, entah sejak kapan gadis polos dalam dekapannya itu telah mencuri hatinya yang jelas saat ini ia hanya ingin membuatnya merasa aman dan nyaman dalam pelukannya.


"Maafkan aku," Theo berbisik dengan suara lembut sambil mencium kepala Calista yang masih terisak dalam pelukannya, "Seharusnya aku tak meninggalkanmu sendirian."


Calista menggelengkan kepalanya di dada Theo, tangisnya sudah mulai reda berganti dengan isakan-isakan lirih. Theo membelai punggung Calista lembut tapi ia dapat merasakan gadis itu terkesiap dan merintih kesakitan.


"Sial! apa b*j*ng*n itu memukul punggungmu, Sunshine?" Suara Theo pelan tapi sarat akan amarah, ia hampir saja berteriak ketika menyadari hal itu mungkin saja terjadi.


"Dia menendangnya."


Suara lemah Mrs. Winchester di antara isak tangisnya membuat Theo mengalihkan pandangannya kesudut ruangan dimana wanita paruh baya itu tengah duduk di samping Daniel yang memeluk ibunya mencoba menenangkan.


"Maafkan aku, Nak, ini salahku," tangis wanita yang telah Theo anggap seperti ibunya sendiri itu kembali pecah.


"Tidak, ini bukan salah anda, tolong jangan menangis lagi," suara Theo yang lembut malah membuat suara tangisnya semakin keras.


"Seharusnya aku tak mengajaknya pergi," lanjut ibu dari si kembar dan Daniel itu diantara tangisnya.


"Tidak.. anda tidak salah Mrs. Winchester, aku yang memaksa anda untuk mengajakku pergi." Suara Calista terdengar serak akibat tangisnya tadi, ia terlihat sedih melihat Mrs. Winchester terus menangis karena merasa bersalah, "Theo, Mrs. Winchester sudah melarangku ikut tapi aku memaksanya."


Calista kini menatap Theo yang tengah memegang tangannya erat.


"Aku merasa bosan di rumah sendirian, Emily tertidur karena baru minum obatnya dan aku melihat beliau mau pergi berbelanja jadi aku memaksa ikut dengannya," Calista mencoba membaca raut muka Theo sebelum melanjutkan bercerita.


"Mrs. Winchester mengizinkanku ikut tapi harus membawa pengawal, akhirnya aku meminta dua orang untuk ikut dengan kami dan sisanya untuk menjaga Emily," ia mulai menguap rupanya efek dari obat penahan rasa sakitnya mulai bekerja, "Tapi Mrs. Winchester meminta keempat pengawal itu ikut dengan kami karena merasa kalau Emily sudah aman, tapi aku tidak bisa meninggalkan dia tanpa pengawasan akhirnya aku meminta satu orang untuk tetap tinggal di sana menjaga Emily."


Calista kembali menguap dan Theo menyadari hal itu, dia membetulkan posisi duduknya di atas tempat tidur meyandarkan tubuhnya ke kepala tempat tidur lalu menarik Calista dalam pelukannya yang langsung menyurukkan kepala di dada Theo yang terasa aman dan nyaman.


"Ssst.. sudah, semua sudah berlalu kau aman sekarang," Theo mengelus rambut gadis itu dengan lembut, "kalian berdua tidak bersalah, kau telah berbuat benar, Sunshine, sekarang tidurlah," Theo berkata sambil mencium kepala Calista lalu menaruh dagunya di sana.


"Dia sangat baik seperti malaikat, dia masih memikirkan keselamatan Emily."


Mrs. Winchester sudah berhenti menangis kini yang terdengar hanya isakan-isakan kecil saja. Theo mengangguk mendengar ucapan Mrs. Winchester. Iya, Calista memang seperti malaikat kecil yang lugu dan polos tapi sialnya iblis tengah mengintainya, rahang Theo mengeras memikirkan tunangannya yang dalam bahaya.


****