The Secret Heirs (#1 The Secret Series)

The Secret Heirs (#1 The Secret Series)
Bab 37



"Dylan, apa kau mendengarku?"


"Iya." Suara Dylan terdengar lemah.


"Bisa kau ceritakan di mana kau saat ini?"


Dylan mengernyit sesaat sebelum menjawab pertanyaan itu.


"Sebuah lorong yang sangat gelap."


"Baiklah, sekarang aku meminta kau berjalan lurus ke dapan sampai kau menemukan sebuah pintu. Apa kau telah melihat pintu itu?" Dr. Rose melihat kepala Dylan mengangguk.


"Bagus, sekarang kau buka pintu itu."


Dylan kembali mengernyit tapi sekarang terlihat lebih serius.


"Pintunya terkunci."


"Tidak apa-apa, sekarang buka kepalan tanganmu, kau akan melihat kuncinya ada pada genggamanmu, apa kau melihatnya?"


"Iya."


"Sekarang buka pintu itu. Apa kau bisa membukanya?"


"Tidak bisa, ini sangat sulit." Dylan mengerutkan keningnya terlihat bingung dan takut.


"Tidak, itu sangat mudah, Dylan, kau bisa melakukannya, percayalah kau akan merasa sangat kuat dan siap menghadapi apapun di balik pintu itu. Ayo coba buka lagi, apa sekarang berhasil?"


"Iya," ucap Dylan dan kerutan dikeningnya telah menghilang.


"Bagus, ceritakan padaku di mana kau sekarang berada?"


"Sebuah rumah, rumah yang sangat besar."


"Apa kau mengetahui rumah siapa itu?" Dylan menggeleng sebagai jawaban.


"Bisa kau ceritakan seperti apa rumah itu?"


"Rumah dengan gaya Victoria, sebuah lukisan potret keluarga yang sangat besar menghiasi dinding tangga, aku berjalan menurinya... tangisan, aku mendengar suara tangisan seorang anak."


"Apa kau mengenalnya?" Dylan mengerutkan keningnya sambil menggeleng.


"Sekarang kau dekati anak itu, lihat dari dekat, perhatikan baik-baik, apa sekarang kau mengenalinya?" Dylan bernapas dengan sangat cepat, satu butir air mata tanpa disadari keluar dari pelupuk matanya tapi bibirnya tersenyum.


"Iya, dia adikku," ujar Dylan dengan suara lirih.


"Bagus Dylan, lanjutkan perjalananmu sekarang apa yang kau lakukan?"


"Aku berjalan keluar dari rumah itu," Dylan kembali mengerutkan keningnya.


"Apa yang terjadi, Dylan?"


"Aku melihat seseorang berdiri di kegelapan."


"Apa kau mengenalinya?" Dylan menggeleng.


"Orang itu melihat ke arahku, dia mau melukaiku!" Ucap Dylan dengan suara ketakutan, ia mulai menggerak-gerakan badannya dengan gelisah.


"Tenang, Dylan, ia tak akan melukaimu, itu hanya kenanganmu saja," ucapan Dr. Rose itu berhasil membuat Dylan berangsur kembali tenang.


"Sekarang coba kau perhatikan pria itu baik-baik, apa kau mengenalnya?"


Dylan kembali menggeleng, "Tidak, terlalu gelap, aku tak bisa melihatnya dengan jelas." Dr. Rose menatap Dr. Reid sesaat dan melanjutkan pertanyaan kembali setelah dokter keluarga itu menganggukan kepala memberi isyarat.


"Baiklah Dylan, sekarang apa yang tengah terjadi?"


"Seorang wanita dan pria keluar dari rumah itu."


"Apa kau mengenalnya? Perhatikan baik-baik Dylan." Dylan terdiam beberapa saat sambil ngerutkan keningingnya.


"Mereka... mereka orangtuaku," suara Dylan bergetar ketika mengatakan hal itu.


"Bagus, Dylan."


"Cincin."


"Cincin? Cincin apa Dylan?"


"Ayahku bilang kalau sudah saatnya aku memiliki cincin itu."


"Apa Ayahmu memberikan cincin itu padamu?"


Dylan menggelengkan kepala, "Tidak, ia hanya memeluk dan menciumku lalu pergi menggunakan mobilnya."


"Aku pergi bersama Ibuku, kami duduk di dalam mobil dengan seorang supir dan seorang pria duduk di samping supir."


"Siapa pria itu Dylan? Apa kau mengenalnya?"


Dylan mengerutkan keningnya sesaat lalu ia kembali terlihat cemas.


"Dylan, dengar suaraku, kau harus tenang, ia tidak bisa melukaimu, sekarang fokus kepada pria itu, lihat baik-baik apa kau mengenalnya?"


"Tidak!"


"Dylan, tarik napas dalam-dalam lalu hembuskan perlahan, ulangi lagi. Apa kau sudah kembali tenang sekarang?" Dylan menganggukan kepala.


"Bagus, sekarang kita kembali fokus kepada pria itu, apa kau bisa? ... Bagus, sekarang lihat baik-baik apa yang bisa kau kenali dari pria itu?"


"Ia masih muda, sekitar 25 tahun, matanya tajam berwarna gelap, alisnya tebal,"


"Apa kau bisa melihat ciri khusus lainnya, Dylan,"


"Tidak, aku hanya melihat matanya saja dari kaca spion," ucap Dylan sambil menggelengkan kepala cepat.


"Baiklah, Dylan, di mana kau saat ini?"


"Masih di dalam mobil, ya Tuhan! Pria itu mematahkan leher supirnya! Mobil menjadi tak terkendali, pria itu... melompat keluar dari mobil!"


"Dylan, tenang, ingat itu hanya kenanganmu saja tidak akan melukaimu, sekarang fokus kepada Ibumu, apa yang ia lakukan?"


"Ia berusaha membuka pintu tapi terkunci, Ibuku mengambil sesuatu dari dalam tasnya, sebuah kalung. Ia memberikannya padaku lalu memelukku erat. Cahaya.. cahaya yang sangat terang dihadapan kami."


"Cahaya apa itu, Dylan?"


"Sebuah mobil! Kami bertabrakan lalu masuk ke dalam jurang. Ya Tuhan, darah! Ibuku berdarah! Mobil terus berputar-putar, tapi ia tak melepaskan pelukannya, ia melindungiku dari benturan," ucap Dylan dengan cemas, keringat membasahi badannya.


"Ia mengatakan sesuatu?"


"Apa yang ia katakan, Dylan?"


Dylan mengerutkan keningnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Terlalu pelan aku tak bisa mendengarnya," ucap Dylan dengan putus asa.


"Kau bisa mendengarnya, Dylan, fokus."


Dylan kembali mengernyit kemudian dengan suara lirih dia berkata.


"Jaga adikmu… aku mencintaimu... David McArthur, jagoan kesayanganku."


Tanpa sadar, air mata mulai membasahi pipinya, ruangan itu kembali hening Dr. Reid menghembuskan napas panjang lalu kembali mengangguk.


"Baiklah, Dylan, aku rasa sudah cukup. Aku akan membangunkanmu kembali dan saat sadar nanti kau akan kembali tenang dan damai, kau akan mengingat semua kejadian dari alam bawah sadarmu, apa kau paham?" Dylan mengangguk sebagai jawaban.


"Aku akan berhitung sampai tiga lalu kau akan bangun dalam keadaan sangat tenang dan damai tanpa ada rasa sakit sedikitpun, tarik napas dalam-dalam lalu hembuskan perlahan... satu... dua.. tiga."


Perlahan Dylan mulai membuka matanya, beberapa saat ia hanya terdiam sambil menutup mata dengan tangan kanannya sebelum akhirnya duduk bersandar, ia terlihat bingung memikirkan kenyataan yang baru saja ia ketahui mengenai identitas dirinya yang sebenarnya, Dr. Reid berjalan mendekati Dylan yang masih terdiam membisu.


"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Dr. Reid dengan suara tenangnya sambil menatap Dylan dengan penuh simpati. Untuk sesaat Dylan hanya menatap dokter yang sepertinya sudah mengetahui mengenai identitas dirinya dari dulu.


"Iya, aku baik-baik saja," suara Dylan terdengar sangat lemah, terlalu banyak pertanyaan yang berkecambuk dalam dirinya saat ini, "Apa kau mengetahuinya dari dulu? Tentang siapa aku?" Dylan bertanya dengan sorot mata tajam menuntut jawaban jujur dari pria yang sudah lama ia kenal itu.


"Iya aku mengetahuinya dari dulu."


"Sial!" Umpat Dylan sambil menjambak rambutnya sendiri, "Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Dylan dengan putus asa.


"Maafkan aku, Dylan, maksudku, David, aku tak punya hak untuk menceritakan semuanya, lebih baik kau bertanya kepada ayahmu, Mr. Regan," ujar dr. Reid dengan sangat menyesal. Dylan tahu percuma bertanya lebih lanjut kepada pria itu, yang bisa menjelaskan semuanya adalah Mr. Regan pria yang sudah ia anggap sebagai ayahnya sendiri, maka ia pun menelan kembali pertanyaan yang sudah di ujung lidah. Hening beberapa saat sempai akhirnya Dylan memecahkan keheningan itu.


"Jadi aku adalah David McArthur?"


"Iya, kau adalah David McArthur, pewaris sah group Royal."


*****


Jam menunjukan pukul sebelas malam ketika Dylan keluar dari gedung tempat praktik Dr. Reid dan mulai menelusuri jalanan kota New York yang terlihat sepi, mungkin karena musim dingin dan hujan deras tengah mengguyur kota terpadat itu membuat kebanyakan orang malas untuk keluar dari rumahnya di tengah malam seperti ini. Dengan tenang Dylan mengendari mobilnya tapi tanpa disadari seseorang tengah mengikutinya dengan sangat ahli, ia menatap lurus ke arah mobil Land Rover yang berada beberapa meter didepannya, dengan mengendarai mobil truk kontainer ia tidak akan dicurigai, seringai jahat muncul di wajahnya ketika melihat mobil incarannya berbelok ke arah Times Squer yang bisanya menjadi pusat kepadatan di New York malam ini terlihat lenggang.


Hunter telah memasang alat di ban mobil Dylan, dengan hanya menekan satu tombol maka akan terjadi sedikit ledakan yang akan membuat roda kendaran itu rusak dan dengan jalan selicin ini maka mobil itu akan kehilangan kendali dan 'kecelakaan' parah sangat dimungkinkan terjadi. Ia kembali serius setelah melihat kendaraan merah itu mulai mendekati tempat eksekusi, matanya menatap tajam, tangannya siap menekan alat pemacu yang ada di tangan kirinya, setelah kendaraan itu hampir memasuki area blind spot di mana tidak ada CCTV yang mengawasi area itu, ia langsung menekan tombol dalam genggamannya.


Bersamaan dengan ditekannya tombol yang ada di alat pemacu terjadi ledakan kecil di roda belakang mobil Land Rover di depannya, ia menyeringai ketika melihat kendaraan itu mulai kehilangan arah tak terkendali karena jalanan yang licin memperparah lajunya dan akhirnya berhenti setelah menabrak tiang lampu jalanan yang terletak di persimpangan 43th street dan 44th street, kemudian dengan sekuat tenaga Hunter menginjak rem, memacu truknya dengan kencang lalu kembali menabrak mobil Land Rover itu hingga berputar-putar, dan akhirnya menghantam dinding sebuah gedung pertokoan yang berada di pinggir jalan itu.


Suara dentuman keras terdengar memecah keheningan di bawah derasnya hujan, diikuti oleh suara alarm toko yang terkena hantaman mobil, membuat beberapa orang menghentikan laju kendaraannya hanya sekedar menjadi penonton atas kejadian yang di sutradari pria yang masih duduk di belakang kemudi truk.


Untuk sesaat Hunter terdiam memastikan kalau targetnya sudah tak bisa bergerak lagi, kemudian dengan tenang pergi dari sana meninggalkan kendaran yang sudah tak berbentuk itu dengan pengendara yang terkulai lemas di balik kemudi dengan darah mengalir dikepalanya, dari kejauhan terdengar suara sirine polisi bersautan yang dengan sigap menanggapi laporan mengenai kecelakaan, tapi semua sudah terlambat Hunter sudah pergi jauh meninggalkan area itu dengan seringai kepuasan menghiasi wajahnya.


****