The Secret Heirs (#1 The Secret Series)

The Secret Heirs (#1 The Secret Series)
Bab 43



"Aku tak mungkin melarikan diri hanya karena masalah seperti itu."


"Aku sudah tahu itu, tapi kenapa kau ada di sini?"


"Well, aku tak tahu ini berhubungan apa tidak, tapi... beberapa hari sebelum aku di mutasi, aku melihat Anna bersama Peter."


"Peter? Peter atasanmu yang playboy?"


"Eh-hmm"


"Peter yang pernah merayumu?"


"Kau benar lagi."


"Tapi... tapi bagaimana bisa?"


"Oh aku lupa kalau Anna itu 'B'."


Emily kembali meringis setelah menyadari arti kata B, yang biasa di ucapkan para pria ketika sedang mengumpat atau kesal kepada seorang wanita.


"Jadi kau di mutasi?"


"He-eh, kalau mereka kira ini hukuman... mereka salah," ucap Alexa sambil tersenyum, "Bagaimana mungkin ini hukuman kalau aku bisa berada di sekeliling orang yang menyayangiku."


Emily ikut tersenyum, "Tapi bagaimana dengan karirmu? Bukankah Paris tempat yang bagus bagi karir seorang designer untuk diakui dunia?"


"Kali ini kau salah, Em, memang Paris pusat mode dunia tapi untuk menjadi seorang designer yang hebat, dimana kita berada bukan alasan untuk maju atau tidaknya, tapi karyalah yang membuat mereka menjadi hebat." Alexa turun dari tempat tidur, "Jadi tenang saja, aku akan membuat karya yang luar biasa hingga diakui di dunia," Ia berjalan menuju pintu kamar, "Aah aku sangat haus, kau mau minum, Em?"


Emily mengikuti Alexa yang berjalan keluar dari kamarnya di lantai atas menuju dapur di lantai bawah.


"Katakan padaku, Lexa, apa kau mencintai Ethan?" Emily mengekor di belakang Alexa yang kini tengah membuka lemari pendingin dan mengambil air mineral, ia memajukan bibirnya ciri khas dirinya ketika sedang berpikir.


"Cinta? Tidak, aku rasa aku hanya menyukainya, Em," jawab Alexa setelah berpikir beberapa saat, mereka kini duduk bersebelahan di depan meja counter dapur.


"Bagaimana kau tahu kalau kau tidak mencintainya?" Emily bertanya sambil menuangkan air ke dalam gelas miliknya.


"Aku hidup sendiri di sana, kadang aku merasa sedih karena merindukan kalian semua dan saat itulah Ethan selalu ada untukku, dia menghibur dan menemaniku. Awalnya aku kira kalau itu cinta, tapi ketika dia mengungkapkan perasannya kalau dia mencintaiku... aku tidak merasakan apa-apa. Maksudku, dadaku tidak berdetak kencang, seperti yang kau rasakan ketika Dylan mengatakan kalau dia mencintaimu, atau ketika dia menciummu."


Alexa membuang napas berat lalu meminum satu gelas langsung air mineral dingin dihadapannya, "Aku tak merasakan apa-apa, Em, ketika dia menciumku. Bahkan aku sering kali menghindar ketika dia mau menciumku dan ketika aku melihatnya berselingkuh dengan Anna, aku tak merasakan apa-apa selain merasa kecewa."


"Kau benar, aku rasa kau tidak mencintainya. Kalau aku melihat Dylan berselingkuh dengan temanku sendiri, mungkin aku tidak bisa hidup, Lexa."


"Kau terlalu berlebihan."


"Maksudku, aku mungkin akan menangis selama berhari-hari, aku tidak mau keluar dari kamar dan bertemu dengan orang lain."


"Tapi percayalah Dylan tidak akan melakukan itu."


"Tentu saja, karena dia sangat mencintaiku," ucap Emily sambil tersenyum bangga, "Dan jangan lupa, dia sangat tampan, seksi dan pewaris group Royal... Ya Tuhan, Lexa, bukankah dia sangat sempurna," lanjut Emily dengan mata berbinar yang membuat Alexa tertawa.


"Iya, kau benar dia sangat sempurna dan dia akan menyerahkan nyawanya untuk menjagamu. Kau sangat beruntung, Em," ucap Alexa sambil tersenyum dengan tulus.


"Suatu saat kau akan menemukan cinta sejatimu, Lexa. Seseorang yang membuat jantungmu berdebar sangat kencang walaupun hanya dengan menatap matanya, seseorang yang membuat separuh nyawamu serasa menghilang ketika ia dalam bahaya atau terluka, dan ketika kau berada dalam pelukannya kau akan merasa jadi manusia yang utuh."


Emily tersenyum dengan mata berbinar ketika mengatakan itu semua yang membuat Alexa ikut tersenyum, ia bahagia akhirnya kakak kembarannya itu sudah menemukan cinta sejati yang melengkapi hidupnya.


"Kau benar, suatu saat aku pasti akan menemukannya."


"Menemukan apa?" Suara berat milik Alex membuat kedua perempuan itu memutar badannya menatap ke arah pintu dimana pria itu tengah berdiri dengan santai sambil bersandar di dinding dekat pintu dengan berpangku tangan dan kakinya disilangkan.


"Apa yang kau lakukan di situ?" Tanya Emily dengan wajah kagetnya.


"Seperti yang kau lihat aku sedang berdiri," ucap Alex santai sambil mengangkat sebelah alisnya tidak lupa senyum miring menghisi wajah tampannya yang membuat kedua perempuan itu memutar bola matanya.


"Mrs. W menelepon kami untuk membawa jatah makan mingguan," lanjut Alex dengan wajah berbinar ketika menyinggung makanan.


"Kami?"


"Kakakmu Daniel dan Gerard."


"Mereka ada di sini sekarang?" Tanya Alexa sambil turun dari kursinya lalu berjalan menuju lemari pendingin untuk mencari buah-buahan.


"Yap, mereka sedang di ruang keluarga bersama orangtua kalian," jawab Alex sambil ikut berjongkok melihat isi lemari pendingin di samping Alexa. Setelah mengambil beberapa buah apel dan pir, Alexa kembali ke counter dimana Emily masih duduk dengan tenang dan ia mulai mengupas buah-buahan tadi.


"Jadi apa yang kalian bicarakan tadi?" Tanya Alex sambil duduk di sebelah Alexa, dan meminum soda rasa bluebarry yang baru saja ia ambil.


"Rahasia, detektif. Itu pembicaraan perempuan," jawab Emily sambil mengambil potongan apel hasil karya Alexa, tak mau ketinggalan Alexpun mengambil satu potong apel dan mulai memakannya.


"Hmm.. baiklah, aku mengerti," ucap Alex sambil mengambil potongan apel lagi tapi kali ini tangannya dipukul Alexa yang menatapnya dengan tajam.


"Bagaimana keadaan Dylan, Em?"


"Sudah jauh lebih baik, rencananya besok dia akan pulang dan meneruskan perawatan di rumah."


Alex mengerutkan keningnya mendengar jawaban Emily, ia terdiam beberapa saat dan hal itu tidak luput dari perhatian Emily.


"Apa menurutmu itu tindakan yang cereboh membawanya pulang?" Tanya Emily, ada nada kekhawatiran dari suara gadis itu yang membuat Alexa menatapnya lalu ikut menatap Alex menunggu jawaban pria itu.


"Kalau soal keamanan yang kau tanyakan. Tidak, itu bukan masalah, pengawalan dan keamanan rumah keluarga Regan lebik baik daripada di rumah sakit, tidak sembarang orang bisa masuk ke sana itu akan membuat Dylan terlindungi dan aman, dan aku akan meminta polisi berpatroli di depan rumahnya setiap jam untuk lebih memastikan lagi."


"Apa belum ada kabar soal pelakunya?" Alexa bertanya sambil memotong pir dan menyusunnya di atas piring bersama dengan apel.


"Sayangnya belum.. hmm.. Em, ada sesuatu yang harus aku katakan padamu," ucap Alex dengan wajah serius yang membuat Emily dan Alexa saling pandang sebelum akhirnya menatap Alex untuk meminta penjelasan.


"Aku telah berbicara dengan Max, karena dialah yang paling mengenal b*j*ng*n itu dengan sangat baik. Dia mengatakan mungkin saat ini Dylan akan sedikit aman, karena b*j*ng*n itu pasti tidak akan menyerang Dylan untuk saat ini mengingat pengamanan yang melindungi kekasihmu. B*j*ng*n itu akan menunggu di saat kita lengah, jadi kita tidak akan menurunkan kewaspadaan kita sampai b*j*ng*n itu di tangkap. Max yakin kalau b*j*ng*n..."


"Stop! Alex kau telah mengatakan kata 'b*j*ng*n' (suara berbisik) sebanyak para berandalan mengatakannya dalam satu minggu, dan kau mengatakannya dalam satu kalimat! Bisakah kau menggantinya dengan kata lain?" Ujar Emily yang di dukung Alexa dengan mengangguk-anggukan kepalanya.


Alex menatap keduanya selama beberapa saat sebelum akhirnya ia berbisik, "Sorry," lalu melanjutkan kembali ceritanya, "Sampai dimana tadi? Aah Max yakin kalau ba.."


"Penjahat," potong Alexa yang membuat Alex kembali menganggukkan kepalanya.


"Penjahat itu memiliki rencana lain. Dan dia meyakini kalau orang-orang terdekat Dylan masuk dalam rencananya. Termasuk dirimu, Em."


Wajah Emily langsung memucat, jantungnya berdetak dengan hebat ketika mendengar penuturan Alex yang mungkin saja nyawanya kembali dalam bahaya, ia bisa merasakan Alexa menggenggam tanganya tapi dirinya belum pulih dari keterkejutan sehingga tidak bisa mendengar ucapan mereka dengan jelas.


"Em, kau tidak apa-apa?" Alex bertanya dengan cemas setelah melihat perubahan dari wajah Emily, dia menyesal karena harus memberitahu gadis itu mengenai kemungkinan terburuk yang akan menimpanya.


"Iya.. aku tidak apa-apa," jawab Emily dengan gugup.


"Maafkan aku, Em, tapi kau harus nengetahuinya supaya kau lebih waspada."


"Tidak apa-apa, kau benar aku harus mengetahui hal ini."


"Tapi bagaimana bisa Emily masuk dalam rencana b*j*ng*n itu?" Tanya Alexa dengan suara sarat akan emosi yang membuatnya lupa kalau dia baru saja mengumpat yang membuat Alex mengangkat alisnya.


"Max, menduga kalau 'penjahat' itu akan mengincar orang-orang terdekat Dylan untuk memuluskan aksi selanjutnya. Setelah ia gagal membunuh Dylan, ia akan menjadi sedikit terobsesi untuk menyakitin korbannya terlebih dahulu sebelum menghabisinya. Emily dan Calista adalah sumber kekuatan dan juga kelemahan Dylan, dia akan melakukan apa saja demi untuk menyelamatkan keduanya, termasuk mengorbankan nyawanya."


Emily kembali memucat memahami betapa benarnya analisa dari Alex, Dylan akan mengorbankan apa saja untuk menyelamatkan dirinya dan Calista.


"Tapi kau tak perlu khawatir, Em. Mr. Regan telah mengirim beberapa pengawal untuk mengawalmu dan Calista. Tapi untuk sementara kau belum bisa kembali ke apartemenmu, di sini jauh lebih aman dan juga akan ada patroli di sekitar sini untuk menjaga kalian semua."


Emily mengangguk memahami perkataan Alex, dan dia akan mematuhi itu. Setidaknya hanya itulah yang bisa ia lakukan untuk membantu kekasihnya terhindar dari bahaya.


"Jadi kalau kau akan keluar rumah, yang harus kau lakukan adalah menghubungi Theo, dia akan memerintahkan beberapa pengawal untuk mengawalmu, dan pastikan kita semua tahu kemana kau akan pergi, apa kau paham?" Tanya Alex dengan suara lembut.


"Baiklah, aku paham," ucap Emily sambil menganggukkan kepalanya.


"Bagus. Dengar, Gerard telah memasukkan pelacak di telepon kalian jadi kemanapun kalian pergi jangan sampai meninggalkan telepon genggammu, paham?"


"Termasuk aku?"


"Termasuk kau Lexi," ucap Alex yang langsung saja mendapat pukulan di lengan kanannya dari Alexa karena telah memanggilnya dengan panggilan yang dia benci karena sama dengan nama anjing Chihuahua milik tetangga mereka. Alex hanya tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya yang membuat Alexa semakin cemberut.


"Jadi, apa Theo sudah mengirim para pengawalnya ke sini?" Emily bertanya tanpa menghiraukan Alexa dan Alex yang memang sudah seperti Tom & Jerry dari dulu.


"Iya, aku melihat mereka sudah mulai berjaga di depan rumah."


"Sebaiknya aku membawakan mereka beberapa kaleng minuman dan beberapa makanan ringan," ucap Emily sambil menyiapkan minuman dan makanan lalu membawanya keluar.


Alexa baru akan berdiri dari duduknya ketika tangan Alex menahan bahunya, membuat gadis itu menatap Alex dengan bingung, untuk beberapa saat Alex hanya terdiam menatap Alexa dengan mata tajamnya.


"Jadi... siapa Ethan?" Tanya Alex dengan sorot mata menggoda lengkap dengan senyum miring yang membuat Alexa membelalakan matanya tak percaya kalau pria dihadapannya telah mendengarkan percakapan dirinya dengan Emily tadi. Dan itu pertanda tidak bagus, hanya memerlukan beberapa menit sebelum Daniel dan yang lainnya mengetahui soal ini. Dan Alexa mengetahuinya, bagaimanapun ia memohon agar Alex merahasiakan masalah ini, itu semua hanya sia-sia para pria posesif itu akan mengetahuinya dan ia harus siap diintrogasi kelimanya. Maka dari itu tidak mau membuang-buang tenaga untuk memohon, Alexa lebih memilih untuk diam.


Dia menatap Alex dengan mata ambernya yang dipicingkan, wajahnya cemberut membuat ia seperti anak kecil yang sedang merajuk, dan tanpa banyak kata ia berdiri lalu menginjak kaki pria di hadapannya dengan sekuat tenaga yang membuat Alex meringis kesakitan. Setelah puas melihat wajah kesakitan Alex, dengan santai ia berjalan meninggalkan dapur.


"Lexi, kau lupa buahmu!" Seru Alex yang membuat Alexa menghentikan langkahnya dan menatap Alex dengan galak dari balik bahunya, tapi sayang tatapan itu malah membuat Alex tertawa.


Dengan mulut masih mengunyah apel, dan tangan membawa piring buah, Alex berjalan ke ruang keluarga dimana Daniel dan Gerard tengah menonton pertandingan football.


"Guys, apa kalian tahu kalau Lexi..."


"ALEX, diam! Atau kali ini aku akan menginjakmu di tempat yang akan kau sesali selamanya!"


****