The Secret Heirs (#1 The Secret Series)

The Secret Heirs (#1 The Secret Series)
Bab 51



"Lepaskan aku!"


Dylan terbelalak menatap Thomas yang hanya tersenyum puas ketika mendengar teriakan Calista di dalam rumah.


"Apa yang anakmu lakukan!" Teriak Dylan, "Jangan sentuh mereka!" Lanjutnya dengan suara menggeram penuh amarah, kakinya berusaha berdiri dengan tangan masih terikat ke belakang, tapi gagal karena Hunter berdiri tepat di sampingnya dan dengan gampang menarik bahunya lalu menekannya yang membuat ia tak bisa bangkit.


"B*j*ng*n! Kau telah berjanji tak akan melukai mereka!" Dylan kembali berteriak, badannya meronta mencoba melawan walaupun sia-sia setelah kembali terdengar teriakan dari adiknya.


"Itu bukan urusanku. Aku tidak mau ikut campur urusan perempuan, mereka lebih mengerikan dari apa yang kita bayangkan," ucap Thomas dengan santai, ia duduk bertumpang kaki dan matanya kembali berkilat bahagia ketika mendengar teriakan Calista, yang tentu saja membuat Dylan semakin geram.


Ia berteriak menyalurkan amarahnya, matanya nyalang menatap orang yang kini tersenyum mengejeknya, tubuhnya meronta mencoba melawan dan akhirnya bisa terlepas dari cengkraman Hunter tapi para pengawal Thomas langsung menghadangnya yang membuat ia kembali tersungkur di lantai beton.


Dylan meludah dan mengeluarkan darah segar dari mulutnya akibat pukulan dari salah satu pengawal Thomas yang berkepala plontos, tapi pukulan itu tidak menyebabkan ia menyerah, dengan tenaga yang ia miliki, ia berdiri lalu sekuat tenaga menendang dada pria plontos yang menyebabkannya terhuyung ke belakang lalu ambruk setelah menabrak dinding gudang.


"Brengsek! Apa yang kalian lakukan, hajar dia!" Perintah Thomas yang kini telah berdiri dengan wajah memerah penuh amarah setelah melihat Dylan berhasil melukai salah satu anak buahnya.


Dua orang yang memakai kemeja putih di balik setelan hitam mulai berjalan mendekati Dylan yang menatap mereka dengan napas terengah, rahangnya mengeras, sorot matanya tajam menatap keduanya. Dari arah samping kirinya ia melihat Hunter juga mulai mendekatinya, dia menggunakan celana jeans berwarna pudar dan kaos hitam berbeda dengan setelan anak buah Thomas yang lain.


"Sial!" Umpat Dylan pelan setelah melihat pistol yang ada di pinggang mereka semua. Tangannya masih berusaha melepaskan ikatan yang mulai melonggar, ia berjalan mundur bersamaan dengan ketiga orang itu yang semakin mendekat, dari ujung matanya ia bisa melihat pria plontos-pun mulai berdiri dan berjalan ke arahnya. Jarak mereka semakin mendekat membuat Dylan semakin terpojok, tapi dia memiliki sedikit harapan ketika dirasakan ikatan tangannya semakin melonggar, dan bersamaan dengan terlepasnya ikatan itu terdengar suara ledakan yang mengguncang gudang dan membuat semua orang tercengang.


"APA ITU!" Teriak Thomas, salah seorang anak buahnya yang berjaga di luar masuk kedalam gudang dengan wajah tegang.


"Ada yang meledakan mobil anda, Sir," ucap pria berambut rapi itu dengan wajah pucat pasi yang membuat bosnya itu terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berteriak marah.


"Siapa yang telah melakukannya?" Tanya Thomas sambil berjalan cepat ke arah anak buahnya yang semakin memucat melihat wajah penuh amarah bosnya, Thomas mencengkram kerah kemeja putihnya, "Cari pelakunya, dan bunuh dia!" Teriaknya tepat di depan wajah pucat pria itu sambil mendorong tubuhnya ke belakang yang membuat anak buahnya terhuyung dan menabrak pintu gudang.


"Y-yes, Sir," jawab pria itu dengan tergagap. Baru saja anak buah Thomas itu melangkahkan kaki keluar dari gudang ketika terdengar ledak untuk kedua kalinya.


"Seseorang telah meledakan mobil satunya lagi, Sir!" Teriak salah satu anak buah Thomas dari pintu gudang, yang membuat semua orang terdiam mematung sebelum akhirnya Dylan berdiri lalu berlari menerjang ke luar gudang.


Kakinya berhenti, matanya membelalak melihat pemandangan di hadapannya, dua buah mobil sedan hitam yang tadi terparkir di depan rumah kini telah diselimuti api yang melumatnya habis, asap hitam membumbung tinggi ke angkasa mewarnai langit sore yang sudah mulai menua.


"Calista! Lexa!" Teriak Dylan sambil berlari berusaha memasuki rumah yang jalan masuknya hampir tertutup api.


"Suzane!" Dylan mendengar Thomas meneriakkan nama anaknya, ia memaki memarahi semua anak bauhnya, matanya nyalang menatap pemandangan dihadapannya, tangannya berkaca pinggang.


"Sir, mereka melarikan diri dan... Suzane telah mereka jadikan sandera," lapor pria bertubuh gempal yang membuat Thomas semakin murka.


"Dengar, tugasku sudah selesai di sini dan ku harap kau sudah mengirimkan bayaranku!" Ancaman Hunter itu semakin membuat pria yang telah menyewanya semakin meradang, dalam sekejap dia mengeluarkan pistolnya dan menodongkannya tepat di pelipis pembunuh bayaran itu.


"Tugasmu belum selasai!" Geramnya, tangannya semakin menekan ujung pistol itu ke kepala Hunter yang rahangnya mengeras karena menahan amarah, "Kau habisi mereka semua, atau aku akan menghabisimu!" Ancam Thomas dengan mata tajam yang memerah, "Apa kau paham?"


Hunter balik menatap tajam Thomas tanpa rasa takut sedikitpun, "Aku akan menghabisi mereka tapi kalau sampai kau belum mengirimkan bayaranku... aku bersumpah akan memburumu sampai ke neraka."


Thomas terdiam beberapa saat mendengar ancaman orang dengan mata hitam tajam itu sebelum akhirnya dia mengangguk setuju, "Baiklah," ucapnya dengan suara menggeram, "Sekarang kau habisi kedua perempuan itu, dan aku akan menghabisi ******** satu ini," lanjutnya sambil mencari sosok Dylan yang menghilang dari hadapannya.


Hunter mengangguk mengerti, lalu ia pergi menyusul keempat anak buah Thomas yang telah lebih dulu pergi untuk mengejar Calista dan Alexa menggunakan motor Trail miliknya yang ia parkirkan di samping gudang.


Di sisi lain Dylan tengah bertarung dengan ketiga anak buah Thomas yang berusaha menangkapnya kembali, beberapa kali ia terkena pukulan di kepala dan juga perut. Dylan sempat meringis kesakitan ketika salah satu pukulan mereka mengenai bekas operasi di dadanya.


Napasnya memburu, amarah menguasai dirinya hingga tak menghiraukan rasa sakit yang ia rasakan, ia terus berusaha melawan ketiganya walau terlihat tak seimbang dari segi jumlah tapi Dylan berhasil membuat ketiganya kelimpungan, pelajaran taekwondo yang ia terima bersama Theo selama ini telah banyak membantunya di pertarungan kali ini. Seseorang dari mereka menyerang kepala Dylan yang reflek mengangkat tangan kirinya untuk menangkis serangan tiba-tiba itu lalu dengan tenaga penuh tangan kanannya memukul tepat di ulu hati pria berkulit hitam yang kini tersukur ke tanah, seolah-olah menyalurkan amarahnya Dylan menendang tubuh itu berulang-ulang hingga akhirnya pria itu tak lagi bergerak, dari sisi berlawanan Dylan melihat seseorang kembali mendekatinya ia berdiri mengahadap pria itu dengan sorot mata penuh amarah seperti singa yang baru keluar dari kandang, Dylan melompat sambil berputar memberikan tendangan tepat di samping kepala orang itu yang langsung ambruk di atas tanah tak sadarkan diri.


Dengan napas masih terengah ia mendekati pria satunya lagi yang kini mulai berjalan mundur karena melihat kedua rekannya kini telah tergeletak tak bergerak, Dylan memberikan seringai iblisnya yang membuat pria dihadapannya semakin memucat, tangannya yang gemetar mencoba mengeluarkan pistol dari balik jasnya, tapi terlambat Dylan telah mengetahui rencananya yang membuat pria bermata hijau itu berlari ke arah pria itu lalu menarik kedua pundaknya hingga membuat ia membungkuk dan dengan lututnya Dylan menghajar ulu hati pria plontos itu, matanya kini membelalak kesakitan belum puas sampai situ tangan kiri Dylan mencengkaram belakang kerah kemeja lalu dengan tangan kanannya ia meninju bawah rahangnya yang membuat ia tak sadarkan diri seperti kedua rekannya yang lain.


"Seharusnya kalian tidak mendengarkan perintah b*j*ng*n itu untuk tidak membunuhku," ujar Dylan sambil menendang tubuh tak bergerak itu, Dylan baru saja melap darah yang keluar dari bibirnya dengan punggung tangan ketika ia mendengar suara tembakan yang mengenai tanah di depannya.


"Tembakan selanjutnya aku pastikan tidak akan meleset, David!" Seru Thomas dengan pistol ditangannya yang membuat Dylan terdiam.


"Kenapa kau tidak membunuhku sekarang?"


"Oh percayalah aku sangat ingin melakukannya, tapi aku memerlukanmu hidup-hidup untuk menandatangani dokumen-dokumen pengalihan semua aset McArtur menjadi atas namaku." Thomas berjalan mendekati Dylan yang menatapnya tajam seperti Elang yang mengincar mangsanya.


"Dan hanya kau yang bisa melakukan itu, karena Ayah dan Adikmu sepertinya tidak akan hidup lebih lama lagi."


"B*j*ng*n! aku akan membalasmu, ingat itu!" Ancam Dylan dengan suara menggeram.


"Yeah.. tapi aku akan segera membunuhmu setelah semua itu selasai," ucap Thomas dengan seringai jahatnya yang membuat wajah Dylan memerah karena amarah.


"Kita lihat siapa yang akan mati lebih dulu," suara lembut milik perempuan yang baru saja keluar dari balik mobil Van berwarna pink terang yang terparkir sedikit jauh dari kedua mobil sedan yang terbakar membuat keduanya menatap perempuan berambut coklat yang tengah berjalan ke arah mereka dengan menodongkan pistol ke arah Thomas.


*****