
"Permisi, Nyonya, bisakah kau menyingkirkan tanganmu dari tunanganku?" Emily berdiri dengan melipat tangan didadanya dan menatap perempuan itu dengan galak.
"Nyonya? kau memanggilku Nyonya? Apa kau tak melihat kalau aku masih muda?" Perempuan itu sangat terkejut mendengar panggilan dari gadis yang kini menatapnya dengan galak.
"Maafkan aku, aku pikir kau sudah menikah, karena kau terlihat seperti Ibuku."
Theo hampir saja menyemburkan kembali minumannya ketika mendengar ucapan Emily, sedangkan Dylan terlihat menahan diri untuk tidak tertawa melihat wajah perempuan yang dari tadi menggodanya kini sudah semerah kepiting rebus menahan amarah.
"Sekarang, bisa kau jauhkan tanganmu dari tunanganku sebelum aku mematahkannya."
Perempuan itu cepat-cepat menarik tangannya dari bahu Dylan, matanya hampir saja keluar, hidungnya terlihat kembang kempis menahan amarah, dia mengangkat dagunya tinggi tapi sayang sikap yang dia kira dapat mengintimidasi Emily itu tidak membuat gadis itu gentar sedikitpun, dia hanya menatap perempuan itu dengan malas sambil mengangkat kedua alisnya.
"Aku tak mengira laki-laki setampan dia mempunyai tunangan sekasar ini." Wanita itu tersenyum mengejek Emil yang sekarang telah maju satu langkah mendekati perempuan itu yang langsung mundur beberapa langkah.
"Yeah, aku yakin karena itu lah dia tergila-gila padaku. Jadi, Nyonya, sekarang apa kau mau pergi dari sini atau aku bersumpah kalau aku membawa jarum di dalam tasku yang akan aku tusukkan ke dada palsumu itu."
Perempuan itu membelalak mendengar ucapan Emily dan langsung saja reflek menutup dadanya dengan tangan sebelum akhirnya pergi dengan muka semerah kepiting rebus saus tomat. Dylan dan Theo tidak dapat lagi menahan tawanya, mereka tertawa sampai beberapa orang menatap mereka dengan pandangan bertanya.
"Ya ampun, Cupcake, kau membuatnya sangat marah." Dylan menarik Emily hingga duduk dipangkuannya lalu memeluknya sambil tersenyum bangga dan memberikannya ciuman singkat.
"Berhenti memanggilku Cupcake, dan jangan menciumku! Kenapa kau diam saja dirayu perempuan semangka itu?"
Theo kembali tertawa mendengar panggilan Emily untuk perempuan yang baru saja dia bikin K.O.
"Aku akan memanggilmu Cupcake, karena aku sangat sukai cupcake," bisik Dylan sambil menggigit kuping gadis itu yang sukses membuat Emily merinding. "Dan aku tidak diam saja, Em, aku sudah menolaknya berkali-kali sampai kalian datang." Dylan menatap Emily dengan lembut dan Emily percaya dengan ucapannya, dia bukan pria seperti itu yang akan diam saja dirayu sembarang perempuan.
"Demi Tuhan, Em, Ibumu akan terkena serangan jantung kalau mendengarmu tadi." Theo kembali tertawa mengingat kejadian tadi.
"Jangan ada yang berani memberi tahu ibuku, atau aku akan membuatnya menyesal."
"Memberi tahu apa? Theo apa yang sedang kau tertawakan?" Alex yang baru saja datang dari kantornya terlihat bingung mendapati Theo tertawa terbahak-bahak.
"Kau baru saja melewatkan pertunjukan yang sangat menarik." Emily memicingkan matanya kepada Theo menyuruhnya untuk diam.
Alex masih tidak mengerti tentang apa yang terjadi, tapi dia ingat tujuannya datang menyusul ketiga sahabatnya kedalam The Rock.
"Sebaiknya kita pulang sekarang, Gerard sedang menunggu kita di apartemen kalian, semoga saja dia menemukan sesuatu."
Mereka langsung saja berdiri dan keluar dari sana setelah mendengar kalau Gerard sang ahli IT telah pulang kembali.
******
Mereka duduk mengelilingi Gerard yang jari-jarinya sedang menari dengan lincah di atas keyboard laptopnya.
Tidak ada yang berani mengeluarkan sepatah katapun, seolah perkataan mereka akan mengacaukan konsentrasi sang jenius IT, ruangan itu tampak sunyi yang terdengar hanya suara ketikan jari-jari Gerard di atas keyboard.
"Aku mendapatkannya!"
Gerard berteriak dengan semangat dan membuat semua orang tampak antusias menatap layar laptop Gerard, yang bahkan mereka sendiri tidak tahu apa itu. Semua orang mengerutkan alisnya ketika hanya melihat tulisan dan angka-angka di dalam layar itu, setelah beberapa menit dalam keheningan dan kerutan alis mereka semakin dalam, akhirnya Alex menyerah, "Ok, bisa kau jelaskan apa itu?" Semua orang kini menatap Gerard penuh harap.
"Dalam bahasa Inggris, Gerard," lanjut Alex sebelum Gerard menjelaskannya dalam bahasa komputer yang malah membuat mereka bertambah stress.
"Ehm,” Gerard berdehem sebelum melanjutkan ucapannya, ”Ok, aku telah mendapatkan beberapa orang yang memasuki dinding facebook Emily dan masuk ke dalam album fotonya yang tentu saja semua orang bisa melakukannya, tapi aku telah mempersempitnya menjadi beberapa bulan terakhir saja dan ternyata ada satu orang yang memasuki album facebook Emily yang tidak ada di daftar pertemanannya." Semua orang saling pandang mendengar penjelasan Gerard, tidak menyangka kalau upload-an sebuah foto di sosial media bisa memicu kejahatan.
"Orang ini cukup teliti dia menggunakan data palsu, tapi aku mendapatkan no ip komputernya, jadi kita bisa melacak keberadaannya."
Semua orang tampak menghembuskan napas lega atas penemuan Gerard, minimal ada secercah harapan dari sana untuk menangkap orang yang telah mengancam Emily dan keluarganya.
"Bisakah kau mendapatkan alamatnya?"
Gerard mengangguk menjawab pertanyaan Alex sebelum matanya kembali fokus ke layar laptop yang menampilkan kumpulan angka dan huruf-huruf yang jarinya ketikikan di atas keyboard.
"Aku telah mendapatkannya!" Gerard mengerutkan alis ketika menatap layar laptopnya.
"Gerard, ada apa? Apa ada yang salah?" Emily terdengar cemas ketika melihat sikap Gerard yang terlihat bingung menatap layar 14' dihadapannya.
"Man, cepat beritahu kami apa yang kau ketahui." Suara Dylan yang tak sabar itu membuat Gerard menatap semuanya yang terlihat sama penasarannya denga Dylan.
"Aku telah mengetahui alamat ip komputer itu," Gerard menarik nafas panjang sebelum melanjutkan penjelasannya tentang apa yang dia temui, "Tempat itu adalah perusahaan tempatmu bekerja, Em," perkataannya itu membuat semua orang membelalak tak percaya.
"Apa maksudmu seseorang yang bekerja denganku adalah pelakunya?" Suara Emily gemetar tak mempercayai kebenarannya, seseorang yang dia kenal adalah penjahat yang selama ini mereka cari, seseorang yang telah mengacaukan hidupnya.
Gerard mengangguk dengan simpati ketika menjawab pertanyaan Emily.
"Aku telah memasuki database perusahaan tempatmu bekerja untuk mencari tahu siapa pengguna komputer itu."
Gerard berhenti beberapa saat dan menatap Emily yang terlihat sangat terpukul atas informasi yang dia berikan, mata amber milik Emily menatap Gerard dengan penuh harap, berharap kalau pengguna komputer itu adalah seseorang yang tidak dia kenal, tapi harapannya pupus ketika Gerard berkata.
"Komputer itu terdaftar atas nama Jenifer Hampson."
Emily menggeleng-gelengkan kepala tak percaya, tidak mungkin orang yang telah mengancam kehidupannya adalah orang yang sama yang dia kenal, teman baik dikantornya yang sangat dia sukai, orang yang beberapa jam yang lalu dia peluk, bahkan Emily berbahagia untuknya, tidak mungkin orang yang telah mengacaukan hidupnya adalah Jane. Jane perempuan penggugup dan manis itu adalah orang yang telah mengancam menghancurkan keluarganya. Itu tidak mungkin!
*****