The Secret Heirs (#1 The Secret Series)

The Secret Heirs (#1 The Secret Series)
Bab 23



Pria paruh baya itu berdiri dengan tegap memandang jalanan kota London dari jendela kantornya, sesekali dia menghisap cerutu yang dia apit diantara jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya, kepulan asap putih keluar dari udara yang dia hembuskan. Dering telepon yang menggema di dalam ruangan itu membuatnya menoleh ke arah telepon yang tergeletak di atas meja kerjanya, dengan malas dia berjalan mendekati meja itu lalu menghempaskan tubuhnya di atas kursi kulit hitamnya.


"Halo." Dia mengangkat telpon itu sambil kembali menghisap cerutunya.


"Informasi apa yang kau dapatkan?" Dia duduk dengan santai, tubuhnya dia sandarkan dan kembali menghisap cerutunya lalu menghembuskan asapnya perlahan.


"Apa maksudmu!?"


Dia menggeram pelan namun sarat akan amarah, suara geramannya berbarengan dengan suara gebrakan meja yang dia pakai untuk bertumpu satu tangannya ketika berdiri dari duduknya, wajahnya memberengut memerah, napasnya terengah-engah, cuping hidungnya kembang-kempis menahan amarah. Beberapa saat dia terdiam mencoba mengatur napasnya, setelah bisa mengendalikan amarahnya dia kembali duduk, alisnya kembali berkerut mendengar informasi yang dia terima dari seseorang di seberang telepon.


"B*j*ng*n satu itu! Seharusnya aku sudah menduga dari awal, Regan ada di balik hilangnya kedua anak sialan itu!"


Dia memijat keningnya berusaha menghilangkan sakit kepala yang tiba-tiba dia rasakan setelah mendengar informasi yang membuatnya naik darah.


"Tidak! Kita tidak bisa sembarangan bertindak, aku tak mau Regan si b*j*ng*n itu menyangkut pautkan hal ini denganku." Keningnya berkerut, dia mencoba mencari jalan lain yang tidak membahayakan posisinya.


"Hubungi Hunter, suruh dia jangan bertindak gegabah saat ini." Dia mematikan cerutunya lalu berjalan mendekati jendela kaca raksasa kantornya.


"Untuk saat ini suruh dia mencari kunci brangkas itu, aku yakin salah satu dari anak sialan itu memilikinya. Beri dia bayaran lebih untuk tugas ini, ingatkan dia jangan sampai meninggalkan jejak sedikitpun."


Dia memutuskan sambungan teleponnya, matanya kembali menatap jalanan kota London tapi kali ini dengan pandangan penuh amarah.


****


"Hei, Em, bagaimana keadaanmu?" Daniel baru saja datang dan kini bergabung dengan Emily duduk di kursi taman belakang.


Setelah keluar dari rumah sakit Emily dipaksa orangtuanya untuk tinggal di rumah mereka di daerah West Village New York, sebenarnya rumah mereka hanya beda beberapa blok dari rumah keluarga Regan itulah sebabnya mereka bisa satu sekolahan ketika SMA dulu.


"Seperti orang yang baru kena tembak."


Daniel tersenyum mendengar jawaban adiknya itu, untuk sesaat dia terdiam, mengambil napas panjang menghirup udara segar dari taman belakang. Ibunya yang merupakan seorang keturunan warga Indonesia sengaja mendesign rumah mereka menjadi rumah tropis untuk mengurangi kerinduan kepada kampung halamannya. Di taman belakang ini ditumbuhi berbagai macam pohon dan bunga yang menyebabkan udara di sana selalu terasa lebih segar, bahkan ibunya membuat kolam ikan koi lengkap dengam air mancurnya, katanya suara gemericik air memberikan ketenangan kepada siapapun yang berada di taman itu dan itu benar-benar ampuh, itulah kenapa taman ini menjadi tempat favorit semua.


"Alex bahkan iri padamu, dia seorang detektif tapi tak punya luka tembak sepertimu." Emily tertawa mendengar perkataan kakaknya itu.


"Kau harus melihatnya tadi ketika Alexa memaksanya mengantar dia kebandara."


"Dia tadi ke sini?"


"Iya tadi dia ke sini untuk memberi laporan kepada Dad mengenai kasusku." Emily meringis setiap mengingat kasus penembakannya.


"Dan kau tahu? Lexa langsung menarik Alex masuk ke dalam mobil ketika dia melihatnya keluar dari ruang kerja Dad dan memaksa untuk mengantarkannya ke bandara, bahkan dia menyuruh Alex untuk menyalakan sirine mobilnya karena dia takut terlambat dan tak mau terjebak kemacetan."


Daniel tidak bisa menahan tawanya membayangkan sahabatnya yang selalu terlihat menakutkan di depan para penjahat tidak bisa berkutik di depan adiknya.


"Tidak mungkin!" Emily mengangguk-anggukan kepalanya dengan semangat sambil tersenyum lebar.


"Dia cari mati memanggilnya Lexi."


"Oh iya, aku tak tahu apa yang akan dilakukan Lexa sepanjang jalan menuju bandara." Emily dan Daniel tertawa membayangkan nasib Alex sang detektif.


Alexa paling benci di panggil Lexi karena ketika mereka masih kecil tetangga mereka memiliki anjing Chihuahua yang diberi nama Lexi, jadi setiap orang memanggil nama Lexi, anjing itu akan menggong-gong dan berlari kearahnya, dia bahkan pernah meminta orangtuanya mengganti namanya dan tentu saja tidak dikabulkan lalu akhirnya dia meminta Emily untuk bertukar nama dengannya yang langsung saja ditolak kembarannya itu. Hei, siapa yang mau memiliki nama sama dengan anjing Chihuahua? Ya walaupun Chihuahua sangat imut, tapi memiliki nama yang sama? Big no untuk itu.


"Mereka akan menjadi pasangan yang cocok." Emily berkata sambil tersenyum.


"Kau mau menjodohkan mereka?" Daniel terkejut mendengar ucapan Emily yang kini sedang tersenyum penuh misteri, "Lexa akan membunuh setiap wanita yang akan merayu Alex," lanjutnya sambil tertawa membayangkan adiknya harus ekstra keras menjaga Alex dari para penggemarnya.


"Dan Alex akan menembak setiap pria yang akan mengajak Lexa berkencan," Mereka kembali tertawa memikirkan pasangan Tom and Jerry itu.


"Ngomong-ngomong soal pasangan, bagaimana kabarmu dengan Dylan?" akhirnya Emily menyadari inilah inti dari pembicaraan saat ini... hubungannya dengan Dylan.


Pipi Emily kini bersemu merah dan Daniel menyadari itu, "Tidak ada apa-apa." Emily mengalihkan pandangannya ke dalam kolam ikan koi dihadapannya.


"Em, kau tidak usah menyangkalnya, aku sudah mengetahuinya."


"Aku tak menyangkalnya, hanya saja..." suara Emily terdengar putus asa dan Daniel merasa kasian untuk adiknya itu.


"Aku percaya padanya, Em, dia sangat mencintaimu, kau harus melihatnya ketika kau berada di ruang operasi kemarin, dia terlihat hancur," perkataan Daniel itu sukses membuat Emily mengalihkan pandangannya kepada kakaknya yang menganggukan kepala meyakinkan gadis itu.


"Aku.. aku hanya takut, Daniel, kau tahu? Kami berteman baik selama sepuluh tahun terakhir ini, kami sudah saling mengetahui keburukan masing-masing, dan tiba-tiba saja (dia menjetikan jarinya) secepat itu dia bilang mencintaiku."


"Kau salah, Em, dia mencintaimu sejak lama." Emily membelalakan matanya tak percaya mendengar perkataan Daniel.


"Iya, sebagai sesama lelaki aku mengetahui bagaimana cara seseorang memandang gadis yang dia cintai." Daniel menarik napas panjang sebelum melanjutkan perkataannya, sudah waktunya dia membuat adiknya itu menyadari perasaannya.


"Awalnya mungkin dia menyangkal seperti yang kau lakukan saat ini,"


"Aku tidak.." Emily berusaha memotong perkataan Daniel tapi langsung berhenti setelah melihat pelototan mata Daniel yang tidak mau dia memotong pembicaraannya, jadi dia kembali diam sambil memainkan jari-jari tangannya.


"Em, tidak mudah untuk mengakui perasaanmu sendiri kepada sahabat dekatmu," Emily mengangguk dengan mata berbinar sambil menatap Daniel seolah-olah berkata, 'Itu maksudku!'


"Tapi semakin kau menyangkal, maka beban di dadamu akan semakin besar," Emily kini mengerucutkan bibirnya mendengar perkataan Daniel.


*****