
"Jadi sekarang kita sedang berhadapan dengan tentara bayaran?" Theo bertanya setelah mendengar ceritan Dylan tentang pertemuannya dengan Alex semalam.
"Lebih tepatnya pembunuh bayaran," jawab Dylan sambil meminum soda yang dari tadi dipegangnya, saat ini mereka sedang berada di rumah Theo, tadi pagi Calista telah diijinkan pulang dan saat ini sedang berada di kamarnya ditemani Emily.
"Menurut cerita Max, setelah ditangkap pemberontak Afganistan, dia berhenti jadi tentara lalu beredar gosip kalau orang itu menjadi pembunuh bayaran tapi dia terlalu lihai sehingga tidak pernah ada satupun bukti yang mengarah kepadanya."
"Sampai sekarang," ujar Theo menyambung cerita Dylan.
"Iya sampai sekarang." Dylan mengangguk membenarkan ucapan Theo, "Kita beruntung karena Max mengenalinya, jadi kita mengetahui siapa yang kita hadapi."
Mereka kembali terdiam beberapa saat sebelum Dylan kembali melanjutkan ucapannya, "Tapi kita menunggu hasil penyeledikan pihak polisi, Alex akan memberikan informasi yang dia terima kepada detektif yang menyelidiki kasus ini, kita akan mengetahui secepatnya apa benar orang ini Hunter atau bukan."
Theo mengangguk lalu kembali diam matanya menerawang terlihat berpikir.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Dylan bertanya sambil duduk bersandar santai di atas sofa.
"Tidak, aku cuma berpikir kalau misalnya kita berhadapan dengan orang yang sama dengan yang Max ceritakan, maka akan mudah baginya untuk masuk ke dalam rumah dan menghabisi kita semua," ujar Theo dengan serius, dia merasa takut kalau itu terjadi maka nyawa Calista benar-benar dalam bahaya besar.
"Kau benar, Max bilang kalau dia adalah orang yang akan 'bersenang-senang' dahulu dengan korbannya, dia akan memberikan teror hingga mereka merasa ketakutan terlebih dahulu, lalu membiarkan mereka waspada sebelum menghabisinya."
Jantung Theo berdetak kencang mendengar cerita Dylan, emosinya sudah tak terbendung lagi, ia merasa marah sekaligus kesal karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk menangkap ******** itu.
"Boneka itu, apa itu sebagian dari terornya?" Theo bertanya dengan berbisik, tapi Dylan bisa mendengar kemarahan di dalamnya, dengan menyesal Dylan mengangguk.
"Alex menyimpulkan seperti itu, tapi itu belum pasti Theo, kita masih harus menunggu hasil penyelidikan dari NYPD."
Dylan berkata sambil kembali meminum sodanya, mereka berdua kembali terdiam beberapa saat sampai suara langkah kaki terdengar menuruni tangga rumah, mereka melihat Emily yang masih jalan terpincang-pincang menuju arah mereka lalu menghempaskan tubuhnya di sofa.
"Dimana Calista?" Theo bertanya sambil menyerahkan satu kaleng soda yang langsung disambar Emily.
"Dia tertidur, pengaruh obat yang tadi dia minum," jawab Emily setelah meminum sodanya, Theo mengangguk mengerti.
"Kau sendiri bagaimana keadaan luka tembakmu?" Theo bertanya sambil memerhatikan sahabat baiknya itu yang terlihat sudah kembali ceria.
"Sudah lebih baik, aah… aku harap bisa pulang ke apartemenku secepatnya," ujur Emily dengan memelas, "kalian tahu? Orangtuaku memperlakukanku seperti bayi, mereka tidak memperbolehkanku melakukan apapun," lanjutnya dengan putus asa.
"Karena kau sedang terluka, Cupcake," sahut Dylan sambil tersenyum.
"Aku tahu, tapi itu sangat membosankan bahkan Daniel ikut-ikutan berperan seperti babysiter!"
Emily memutar bola matanya mengingat perlakuan kakaknya itu, sedangkan Theo dan Dylan hanya tersenyum mendengar ocehan Emily, setidaknya itu menjadi hiburan tersendiri bagi keduanya dan itulah yang mereka butuhkan saat itu, pengalihan sementara dari pikiran yang membuat kepala mereka serasa mau pecah.
"Apa kau sudah mengingat siapa yang memberikan cincin itu kepadamu?" Theo bertanya setelah dari tadi ia melihat Dylan memainkan cincin yang dijadikan liontin kalungnya, Dylan menggeleng sambil memasukan kembali benda itu kedalam kemejanya.
"Apa kau yakin itu bukan peninggalan orangtuamu?" Emily penasaran mengenai kalung yang tak pernah dilepaskan Dylan dari dulu walaupun cuma sesaat.
"Aku telah mengingat wanita yang memberikannya padaku, tapi itu bukan Ibuku," ucap Dylan sambil mengangkat kedua bahunya.
"Atau jangan-jangan itu benar, kalau itu adalah cincin pertunanganmu dengan seorang gadis yang dijodohkan orangtuamu."
Theo berkata dengan serius sambil mengangguk-anggukan kepalanya yang sukses mendapat lemparan bantal kursi dari Emily yang tengah cemberut. Theo tertawa sambil mengembalikan bantal itu ke atas sofa, "Ayolah, Em, bukankah kau dan Alexa yang memiliki ide itu dulu? Kalau Dylan telah bertunangan dari ia masih kecil?"
"Itu.. itu hanya bercanda kau tahu, kami pikir akan romantis kalau misalnya Dylan telah bertunangan dari kecil dan karena hilang ingatan maka mereka terpisah lalu setelah dewasa mereka akan kembali bertemu kemudian saling jatuh cinta."
"Kau benar itu sangat romantis kalau jadi kenyataan," ucap Theo sambil mengangguk-anggukan kepala setuju.
"Tidak! Sekarang itu tidak lagi romantis!" Seru Emily sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Menurutku itu masih sangat romantis sampai sekarang," ujar Dylan yang mendapat persetujuan dari Theo.
Emily menatap kedua pria di hadapannya sambil menganga tak percaya, "Bagaimana kalian bisa mengatakan itu romantis? Itu tidak romantis sama sesekali!" ujarnya dengan penuh semangat.
"Karena.. karena.. aaarrrgghh dasar kalian para pria tak memiliki hati!" Umpat Emily kesal sambil cemberut, sedangkan Theo dan Dylan hanya menatapnya bingung.
"Cupcake, sebaiknya kau bilang terus terang apa maksudmu?" Dylan bertanya sambil menaruh kaleng sodanya diatas meja.
"Wanita dengan sejuta misterinya," ucap Theo sambil menatap Emily dengan senyum miringnya.
"Pria dengan kebodohan dan ketidak sensitifannya," balas Emily sambil bersandar dengan muka masih ditekuk.
"Kau salah, Em, aku sangat sensitif di daerah tertentu," ucap Theo sambil mengedipkan sebelah matanya yang sukses mendapat lemparan bantal sofa untuk kedua kalinya.
"Dengarkan aku, Dylan!" Emily berkata sambil menatap kekasihnya dengan sorot mata membunuh, "Kalau itu sampai terjadi.. tentang tunanganmu dan kau jatuh cinta padanya yang kau anggap romantis, maka aku akan meminta Calista untuk menjodohkanku dengan kakaknya, apa kau paham?"
Kedua pria itu hanya diam beberapa saat sebelum akhirnya Theo memecahkan keheningan dengan tertawa, sedangkan Dylan masih menganga tak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Bagaimana kau bisa minta dijodohkan dengan kakaknya Calista, yang bahkan kau belum pernah bertemu dengannya," Emily hanya mengangkat bahunya tak perduli.
Dengar, Cupcake, kau telah berjanji akan menikah denganku bagaimana bisa kau minta dijodohkan dengan pria lain?"
"Aku tak pernah berjanji padamu, kau yang berjanji padaku akan menikahiku tapi kau malah akan jatuh cinta lagi kepada tunanganmu waktu kecil, bahkan kau bilang itu sangat romantis," ujar Emily dengan kesal.
Dylan diam beberapa saat sebelum akhirnya mengetahui maksud kekasihnya itu, sambil tersenyum ia bergeser mendekati Emily yang masih cemberut, dengan lembut Dylan mengangkat gadis itu ke dalam pangkuannya.
"Kau benar, Cupcake, itu sangat tidak romantis," ucap Dylan sambil menatap Emily dengan penuh kasih sayang yang membuat gadis itu perlahan tersenyum.
"Aku sudah bilang, kalau itu sekarang tidak romantis," ujar Emily manja sambil mengalungkan tangannya kelehar Dylan.
"Menurutku itu romatis." Theo berkata sambil duduk santai berpangku tangan.
"Tidak!" sanggah Emily dan Dylan berbarengan yang membuat Theo akhirnya mengalah.
"Kau berjanji tidak akan jatuh cinta kepada perempuan lain? Bahkan kalau itu tunanganmu waktu kecil?" Emily bertanya dengan muka serius.
"Cupcake, cincin ini belum tentu cincin tunanganku."
"Aku tahu, kau tetap harus berjanji padaku." Dylan tersenyum dan akhirnya mengangguk setuju setelah melihat sorot mata cemas dalam mata amber milik gadis itu.
"Kau juga harus berjanji kalau kau tidak akan meminta Calista menjodohkanmu dengan kakaknya." Emily terlihat berpikir beberapa saat sebelum mengangkat bahunya, yang membuat Dylan protes kalau itu tidak adil.
"Kalau David seperti Calista, hmm aku akan memikirkannya," ucap Emily sambil tersenyum menggoda yang membuat Dylan cemberut.
"Maksudmu dengan mata biru dan rambut pirang?" Tanya Dylan sambil menatap Emily yang masih bergelayut manja di atas pangkuannya.
"Iya, mata biru dan rambut pirang," jawab Emily sambil mengangkat kedua alisnya lalu tersenyum.
"Hmm kalau seperti itu, maka kau akan dijodohkan dengan pria seperti Theo," Emily langsung menatap Theo yang sedang meminum soda.
"Kau benar pria itu akan seperti Theo," ucap Emily sambil meringis.
"Hei, memangnya apa yang salah denganku? Aku sangat tampan dan juga kaya," ucapan Theo itu membuat Emily tertawa.
"Kau tidak salah Theo, tapi aku lebih suka bertunangan dengan pria bermata hijau dan rambut coklat," ucap Emily sambil mengedipkan sebelah matanya yang membuat Dylan langsung mencium gadis itu.
"Ya Tuhan, bisakah kalian tidak berciuman di depanku?" Emily dan Dylan tidak mendengarkan protes dari Theo yang kini telah berdiri sambil mengoceh meninggal keduanya yang tengah asik dengan aktifitas barunya.
"Sial, aku seperti sedang mengintip adik perempuanku berciuman," umpat Theo sambil terus berjalan menaiki tangga.
****