The Secret Heirs (#1 The Secret Series)

The Secret Heirs (#1 The Secret Series)
Bab 57 (End)



"Pesta malam ini akan menjadi headline di semua majalah dan koran untuk beberapa hari ke depan," ujar Daniel yang disetujui yang lainnya. Mereka kini tengah berkumpul di dekat jendela kaca raksasa yang sengaja di buka untuk memperlihatkam taman bunga yang berada persis di samping ballroom itu, Dylan, Daniel, Alex dan Gerard terlihat luar biasa tampan dengan stelan berwarna hitam dan hanya Theo yang memakai stelan berwarna putih mengingat dialah bintang dari acara malam ini. Kelima pria itu menarik perhatian para wanita yang ada di pesta, tidak sedikit yang mencoba mencari perhatian dari para pria tampan itu tapi langsung mengurungkan niatnya setelah melihat para perempuan cantik yang berdiri bersama mereka, yang langsung memberikan tatapan maut kepada siapapun yang berani mendekati para pria itu.


Emily terlihat cantik dengan gaun panjang biru tosca berhiaskan payet diujungnya yang membuat gaun itu terlihat jatuh sempurna di tubuh langsingnya, dan Alexa terlihat menawan dengan gaun hijau selutut, kakinya berbalut stiletto tali setinggi 9cm yang membuat kaki jenjang miliknya terlihat lebih menarik, sedangkan Kerelyn yang datang atas undangan Calista terlihat cantik seperti biasanya dengan gaun hitam yang ia kenakan.


Lagu dari band pengiring mulai terdengar, beberapa orang mulai berjalan ke lantai dansa dengan pasangannya masing-masing, begitu pula dengan Dylan yang mengajak Emily berdansa, disusul oleh Theo dan Calista.


"Kau tidak membawa teman kencana malam ini?" Gerard bertanya kepada Alex yang terlihat aneh datang ke pesta besar seorang diri.


"Tidak," jawabnya singkat sambil menyesap anggur yang dia ambil dari pelayan yang melewati mereka dengan nampan peraknya.


Semua orang saling pandang tak percaya dengan apa yang mereka dengar, "Ini bukan seperti dirimu, datang ke pesta seorang diri," ucap Daniel.


"Biar ku tebak, kau akan mencari pasanganmu di pesta inikan?" Alexa bertanya sambil menatap Alex yang menatapnya sambil menaikkan alis.


"Aah, kau benar, Lexa, seharusnya aku menyadari itu dari tadi," ujar Gerard sambil tersenyum, matanya menyapu ruangan, "Man, apa kau lihat perempuan dengan gaun merah sexy itu?" Lanjutnya sambil menatap perempuan sexy yang berdiri tak jauh dari mereka.


"Bukankah dia cantik? Dia memerhatikanmu dari tadi."


Alex mengangkat alis matanya menatap perempuan yang kini terang-terangan menggodanya dengan mata dan bahasa tubuhnya.


"Kau benar dia cantik, tapi aku tak menyukainya," jawab Alex santai sambil membalikkan badan menghadap Daniel dan Gerard yang terdiam saling pandang.


"Kau tidak menyukainya?" Tanya Daniel tak percaya, "Man, yang benar saja. Dia sangat selaramu, pirang dan sexy."


"Dan bodoh," sela Alexa yang membuat semua orang langsung menatapnya lalu menyuruhnya untuk diam, "Baiklah, maafkan aku, tapi yang aku tahu perempuan yang kau kencani selama ini hanya tahu bagaimana memakai lipstik dan berpakaian sexy. Aku ragu kalau mereka hapal perkalian lima," lanjutnya yang membuat semua orang harus menahan tawa.


"Mereka tak seburuk itu, Lexi, mereka hanya tidak tahu bagaimana cara meledakkan dua buah mobil."


"Kalian berdua berhenti bertengkar, perempuan itu berjalan kemari," ucap Gerard menghentikan apapun yang akan Alexa ucapkan pada saat itu.


"Hai, boleh aku bergabung bersama kalian?" Sapa perempuan bergaun merah sexi dengan belahan dada rendah itu.


"Ya tentu saja," jawab Gerard sambil tersenyum.


"Namaku Monica," ucapnya mengenalkan diri.


"Hai Monica, aku Gerard, ini Daniel, Kerelyn, Alexa dan Alex," ujar Gerard mengenalkan mereka semua, dan seperti telah di prediksi sebelumnya Alexlah yang menjadi alasan Monica mendekati mereka. Secara terang-terangan dia menggoda pria bermata biru tajam itu yang hanya tersenyum menanggapi rayuannya.


"Monica, boleh aku bertanya sesuatu?" Alexa bertanya ketika ia melihat tangan gadis itu dengan lembut menggoda menyusuri lengan Alex yang kokoh, "Apa kau hapal perkalian lima?"


Sontak semua orang menatap Alexa tajam sambil menahan tawa ketika mendengar pertanyaan gadis itu.


"Maaf?" Tanya Monica bingung dengan pertanyaan yang di ajukan gadis bermata amber itu.


"Tidak, lupakan saja, tidak usah kau dengarkan dia," Gerard berkata sambil mengapit lengan Alexa, "Ayo, Lexa, berdansa denganku," lanjut Gerard sambil tersenyum ke arah Monica yang masih terlihat bingung.


"G, hati-hati dengan luka bekas operasinya, dia belum sembuh total," ujar Alex mengingatkan Gerard.


"Aku sudah sembuh."


"Dan, hati-hati dengan kakimu, G, kita tahu seburuk apa dia berdansa," lanjut Alex yang membuat Alexa cemberut.


"Ayo kita berdansa, tidak usah dengarkan pria impoten itu," ucap Alexa sambil menarik Gerard ke lantai dansa meninggalkan mereka semua yang terkejut mendengar ucapannya.


Kerelyn hampir saja menyemburkan kembali minumannya, Daniel sudah tidak bisa lagi menahan tawanya, dan Monica menatap Alex tak percaya, sedang Alex hanya bisa tersenyum miris sambil mengangkat bahunya seolah membenarkan ucapan Alexa, yang langsung saja membuat gadis yang tadi merayunya itu mengambil langkah seribu meninggalkannya.


Daniel kini tertawa terbahak-bahak sedangkan Kerelyn masih tak percaya dengan apa yang di dengarnya, "Tak usah kau dengarkan anak nakal itu, Don Juan satu ini masih berfungsi 100% dengan sangat baik," ujar Daniel kepada Kerelyn yang kini tersenyum merasa prihatin kepada Alex yang hanya bisa membuang napas panjang.


"Oh, Bro, ada apa dengan adikmu yang satu itu," ujarnya sambil menggeleng-gelengkan kepala, matanya menatap Alexa yang berdansa dengan Gerard yang terlihat meringis karena kakinya terinjak.


*****


Dylan diam-diam mengajak Emily keluar dari ruangan itu, tangan Emily mengapit lengan kekasihnya. Mereka berjalan memasuki taman bunga yang ada di samping tempat acara berlangsung, sayup-sayup terdengar suara musik yang mengalun merdu. Mereka terus berjalan mengikuti jalan setapak dari batu-batu alam, cahaya temaran terpancar dari lampion-lampion yang di pasang menggantung di atas mereka.


Dua sejoli itu terus berjalan memasuki taman, keheningan di sepajang jalan hanya menambah suasana romantis bagi keduanya, sesekali mereka akan saling pandang untuk kemudian saling tersenyum penuh kasih sayang, sampai akhirnya mereka tiba di sebuah gazebo yang ada di tengah taman.


Gazebo mungil berwarna putih, berbentuk segi enam dengan enam pilar yang menopang atap berbentuk kubah. Pilar-pilar itu dihiasi tanaman yang merambat dengan bunga-bunga kecil berwarna putih, merah dan ungu. Tak jauh dari gazebo terdapat sebuah kolam yang dihiasi ratusan lilin yang mengambang bercampur dengan kelopak bunga mawar merah yang bertebaran memenuhi kolam itu.


"Ya Tuhan, ini sangat indah," ujar Emily dengan takjub melihat pemandangan di hadapannya.


"Kau menyukainya?" Dylan bertanya sambil memeluk Emily dari dari belakang.


"Iya," jawab Emily masih menatap kerlap kerlip cahaya lilin di atas kolam, "Apa kau yang menyiapkan semua ini?" Lanjut Emily sambil berbalik menghadap Dylan yang hanya tersenyum sambil mengangkat alisnya.


"Iya, aku di bantu oleh Alexa dan juga Calista."


"Jadi itu sebabnya dia sibuk dari kemarin?" Emily mengingat bagaimana saudara kembarnya itu sibuk seharian kemarin dan juga tadi.


Dylan hanya tersenyum menjawab pertanyaan Emily, kedua tangannya yang berada di pinggang ramping gadis itu kemudian menariknya untuk memberikan sebuah ciuman lembut.


"Kau sangat cantik malam ini, Cupcake," puji Dylan sambil mencium pipi Emily yang memerah.


"Kau juga sangat tampan," ucap Emily sambil mengalungkan kedua tangannya di leher Dylan, dan merekapun larut kembali dalam sebuah ciuman.


Dari kejauhan sayup-sayup terdengar lagu A thousand years-nya milik Chritina Perry yang menjadi soundtrax film Twilight saga.


Heart beats fast


Jantungku berdebar kencang


Colors and prom-misses


Warna-warni dan janji-janji


How to be brave


Bagaimana agar berani


How can I love when I'm afraid to fall?


Bagaimana bisa aku mencinta saat aku takut jatuh?


Jantung mereka ikut berdetak kencang, kening mereka saling menempel dan bibir mereka saling mengecup ringan. Mereka larut dalam syair romantis, tubuh mereka bergerak mengikuti irama nada yang terdengar.


But watching you stand alone


Namun melihatmu sendirian


All of my doubt suddenly goes away somehow


Segala bimbangku mendadak hilang


One step closer


Selangkah lebih dekat


Tiap hari aku telah mati karena menantimu


Darling don't be afraid


Sayang jangan takut


I have loved you for a thousand years


Aku telah mencintaimu selama ribuan tahun


I'll love you for a thousand more


Aku kan mencintaimu selama ribuan tahun lagi


Dylan mengeluarkan cincin bertahtakan batu zamrud dari sakunya, dengan keyakinan ia memakaikannya di jari manis Emily yang terperangah melihat cincin milik keluarga McArtur itu.


"Ini? Bukankah kau akan mengembalikan cincin ini kepada Ayahmu?"


Dylan hanya tersenyum, tangannya kembali menggenggam tangan Emily yang kini telah mengenakan cincin peninggalan ibunya.


"Kau tahu arti cincin ini?" Dylan bertanya sambil menatap Emily yang masih terlihat bingung, "Ayahku mengatakan, dia mendapatkan cincin ini dari Kakekku, sebagai segel keluarga, yang artinya siapa saja yang mengenakan cincin ini maka tidak diragukan lagi kalau dia adalah seorang McArtur."


Dylan menatap Emily dengan lembut penuh dengan rasa cinta dan juga keyakinan yang kuat, "Ayahku memberikan ini kepada Ibuku yang selanjutnya ia berikan kepadaku, untuk ku berikan kepada Istri dan Ibu dari anak-anakku nanti."


Jantung Emily kembali berdetak kencang, mengetahui kemana arah pembicaraan mereka saat ini, matanya hanya bisa menatap mata hijau itu seolah terhipnotis.


"Dan aku mau kaulah yang menjadi Istri dan Ibu dari anak-anakku," ucap Dylan sambil tersenyum, "Aku tak pandai berkata-kata romantis, mungkin kau sudah mengetahuinya," lanjut Dylan yang membuat Emily tersenyum, "Tapi yang pasti aku sangat mencintaimu dan akan selalu mencintaimu. Aku tak bisa memberikan dunia di bawah kakimu, tapi aku akan memberikan hati dan jiwaku dalam genggamanmu. Aku tak akan bisa mengambilkan bintang di langit untukmu, tapi aku akan memberikan bahuku untuk kau bersandar. Aku tak akan menjanjikan hidup yang gemerlap untukmu, tapi aku akan berusaha membuatmu tersenyum setiap hari, aku akan menjadi rumah untuk kau berlindung dan aku ingin kau menjadi teman hidupku sampai maut memisahkan."


Dylan menarik napas panjang, matanya menatap Emily yang sudah mulai berkaca-kaca.


"Emily Winchester, maukah kau menikah denganku?"


Emily sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, air mata mengalir dari matanya yang memancarkan kebahagian, sambil menatap kekasihnya dan penuh keyakinan ia mengangguk.


"Iya!" Jawabnya dengan suara bergetar, senyum mengembang dari bibir mereka, Dylan langsung memeluk kekasihnya itu sambil tertawa bahagia.


Ia kembali mencium Emily yang kini telah berstatus sebagai tunangannya di bawah cahaya bulan yang malam itu bersinar terang seolah-olah merestui mereka berdua.


Time stands still


Waktu berhenti berputar


Beauty in all she is


Segala tentangnya begitu indah


I will be brave


Aku akan berani


I will not let anything take away


Takkan kubiarkan segalanya berlalu begitu saja


What's standing in front of me


Apa yang menghalangi di depanku


Every breath


Tiap tarikan nafas


Every hour has come to this


Tiap jam telah sampai di sini


One step closer


Selangkah lebih dekat


And all along I believed I would find you


Dan selama itu aku yakin aku kan temukan dirimu


Time has brought your heart to me


Waktu telah membawa hatimu padaku


I have loved you for a thousand years


Aku tlah mencintaimu ribuan tahun


I'll love you for a thousand more


Aku kan mencintaimu ribuan tahun lagi


One step closer


Selangkah lebih dekat


One step closer


Selangkah lebih dekat


****


The End


Sampai jumpa di ***THE SECRET ADMIRER


Terima kasih buat yg sudah baca sampai tamat, terimakasih atas dukungannya selama ini.


Mohon luangkan 1 detik untuk menekan tanda LIKE sebagai dukungan bagi kami para penulis...🙇‍♀️


Terimakasih banyak, sampai jumpa di cerita selanjutnya...


Love


A.K***