The Queen'S Love Scandal

The Queen'S Love Scandal
Dalang penculikan



Maledine membuka matanya ketika dia merasakan adanya sinar yang menyilaukan matanya. Rupanya hari sudah berganti, namun Maledine tidak tahu berapa dia tidak sadarkan diri.


Malam itu ketika diculik, Maledine yang terus memberontak membuat para penculik kesal dan akhirnya memukul tengkuk Maledine, hingga dia pingsan. Ketika bangun, dia mendapati dirinya berada di sebuah gubuk tua yang sudah lapuk di sana sini, belum lagi banyaknya sarang Laba-laba, menunjukkan sudah sangat lama tempat ini tidak berpenghuni.


Ketika hendak menggerakan tubuhnya, Maledine menyadari bahwa tangan dan kakinya terikat, tubuhnya dibaringkan di jemari. Maledine mencoba memberontak dengan menggerakan tangan dan kakinya, tapi tidak bisa karena ikatan ini adalah simpul mati. Pasrah, akhirnya Maledine kembali membaringkan tubuhnya dan menatap langit-langit tempat dimana dia berada saat ini.


" Dimana aku? Apakah sudah ada dari mereka yang menyadari aku menghilang? Apa... mereka akan menyelamatkan ku? " monolog Maledine ketika menyadari nasib buruknya.


Air mata Maledine akhirnya tumpah, setelah selama dia diculik, dia berusaha untuk tidak menangis. Maledine sendiri bingung kenapa semua orang membencinya hanya karena dia menjalankan apa yang ratu terdahulu dan raja titahkan. Bukankah jika Maledine menolak, dia akan dianggap sebagai pengkhianat. Lalu kenapa ketika pasrah dan bersedia untuk mengikuti pesan terakhir ratu, semua orang kini membencinya.


Bukan keinginannya menjadi seperti sekarang. Meski statusnya sekarang tinggi, tapi dia sama sekali tidak menginginkan hal itu karena harga yang harus dia bayar adalah kebencian dari semua orang. Maledine lebih suka menjadi pelayan saja, tidak ada yang memperhatikannya, tidak ada yang menargetkan dirinya. Hidup untuk dirinya dan mengabdi pada tuannya.


" Bukan salah ku, tapi kenapa semua orang begitu membenci ku.. " ucap Maledine disela tangisannya.


" Ingin tahu kenapa semua membenci mu? " Maledine tersentak ketika mendengar suara orang di tempat dia ditahan saat ini.


" Anda... Kenapa bisa anda? " Maledine terkejut melihat sosok yang duduk tak jauh dari tempatnya saat ini.


" Apakah tidak boleh jika itu aku? " Maledine meneguk ludahnya. Tidak bisa dia pungkiri, sekarang dia sangat takut. Maledine tahu apa yang bisa orang ini lakukan.


" Saya bertanya pada anda yang mulia.. Apakah anda ingin tahu kenapa semua orang membenci anda? " orang itu tersenyum miring.


" Hahahahahaha.. Kaget? Berharap aku merendahkan diri ku seperti orang lain? Namun sayangnya jangan berharap aku akan merendahkan diri ku di hadapan pelayan.. " sarkasnya.


" Kenapa.. Kenapa anda melakukan ini pada ku? " tanya Maledine masih menangis. Jika tadi dia menangis karena sedih, sekarang dia menangis karena ketakutan.


" Kenapa ya? Apa karena kau merebut kasih sayang yang mulia pada selir Oclariana? Atau karena seharusnya kau tidak menjadi ratu? Atau karena semua membenci mu? Bisakah kau menebaknya? "


Maledine semakin sesenggukan. Dia takut, sangat takut. Di istana saja, orang ini dengan berani mengintimidasinya padahal ada raja. Lalu, saat ini Maledine sendiri, tanpa penjaga, tanpa raja, bukankah sudah pasti orang akan semakin berani melakukan hal buruk padanya.


" Seekor burung pipit, bermimpi menjadi pheonik, bukankah itu keterlaluan. " sarkas orang yang menjadi dalang penculikan Maledine.


" Bebaskan saya.. Saya mohon pada anda, tolong bebaskan saya.. Apapun, apapun akan saya lakukan, asal tolong bebaskan saya.. " Maledine mengiba.


" Hahahahahaha.. Takut?? Wanita sombong yang sok karena bersembunyi di bawah ketiak raja, dengan beraninya kau mencari gara-gara dengan ku? Sudah aku peringatkan sejak awal, jangan berbuat sesuatu diluar kemampuan mu, tapi kau tidak mengindahkan peringatan dari ku.. Maka,, nikmati kesenangan yang akan aku berikan untuk mu... " orang itu menyeringai tajam.


Namun, Maledine juga tahu, bahwa raja tidak akan bisa menyentuh orang ini karena raja bergantung pada keluarga dari orang ini untuk bisa mendapat posisinya sekarang. Raja dicap sebagai raja lemah karena tidak memiliki kemampuan, lain dengan para pendahulunya. Untuk menguatkan posisinya sebagai pewaris, raja akhirnya menikah anak perempuan dari keluarga ini. OCLARIANA MANDELFLEUS, satu-satunya selir yang raja Delroy Damocles miliki.


" Paman.. Ayo cepat.. Jika kita terlalu lama berada di luar, nanti orang-orang itu bisa mencurigai mereka. " terdengar suara perempuan memanggil orang yang masih duduk manis di depan Maledine.


" Oh.. Hai.. Rupanya kau sudah sadar, yang mulia ratu dari rakyat jelata.. Hahahahaha.. " tawa wanita ini menggelegar.


" Manusia dari kasta rendah, bermimpi menjadi ratu.. Ck.. ck.. ck.. bukankah masih lebih baik aku dari pada dirinya.. " sarkas wanita yang Maledine kenal sebagai selir satu-satunya raja itu.


" Bebaskan saya.. Saya mohon.. Jika yang mulai raja mengetahui hal ini, maka kalian akan mendapatkan masalah.. Jadi saya mohon bebaskan saya, maka saya tidak akan mengatakan apapun.. " Maledine kembali mengiba, berharap wanita ini bisa menolongnya.


" Cih.. Dasar perempuan tidak tahu diri. Membebaskan mu? Dalam mimpi mu.. " ucap selir Oclariana tepat di depan wajah Maledine.


" Hentikan itu, yang mulia.. Jangan habiskan tenaga anda untuk mengurusi wanita ini.. Lebih baik anda persiapkan diri anda, untuk menjadi ratu.. " ucap pria itu terdengar sangat tegas dan dingin.


" Kau benar paman.. Aku serahkan wanita ini pada mu.. Buat dia menyesali keserakahannya.. " selir Oclariana pun pergi keluar dari tempat dimana Maledine berada.


Tidak ada yang bicara diantara kedua orang ini. Maledine masih menangis dan menatap pria di depannya ini memelas. Sedangkan pria di depan Maledine ini hanya menatap dengan seringai jahat terlihat di wajahnya. Pupus sudah harapan Maledine, karena dia tahu bahwa orang ini tidak akan melepaskan dirinya dengan mudah.


" Coba anda pikirkan, yang mulia ratu.. Apa pendapat yang mulia raja, saat mengetahui istri yang belum disentuhnya, lebih dulu digilir oleh pria kasar? Apakah menurut anda, yang mulia raja masih memandang anda penuh kasih sayang? Atau memandang anda dengan tatapan jijik? " ucap pria itu tepat di telinga Maledine.


" Jangan.. Saya mohon jangan.. Tuan perdana menteri.. Saya mohon jangan lakukan itu.. Saya akan melakukan apapun permintaan anda.. saya mohon.. Tuan perdana menteri. " teriak Maledine dengan tubuh yang bergetar sangat hebat.


Perdana menteri, hanya menyeringai kemudian keluar dari tempat itu dengan tawa senang yang menggema di tempat ini. Maledine sangat ketakutan saat ini, apalagi tak lama dari kepergian perdana menteri, masuk delapan orang pria yang bertubuh besar, badan yang kotor, dan tidak terurus.


Delapan pria ini mendekat ke arah Maledine, dengan tatapan yang membuat tubuh Maledine merinding dan bergetar karena ketakutan. Maledine beringsut mundur, berusaha menjauh dari kedelapan pria itu.


" Tolong.. Jangan mendekat.. Tolong jangan mendekat.. Tolong.. Aaaarrggghhh tolong... Pergi.. Pergi.. "


" Hehehehe.. Jangan takut nona cantik, mari kita bersenang-senang.. "


" Aaaaarrrrrrggghhhhh... "