
Pagi ini, istana Damocles dikejutkan dengan berita menggemparkan tentang penangkapan perdana menteri dan juga beberapa menteri yang selama ini diketahui bahwa mereka adalah Sekutu dari perdana menteri. Semua orang ditangkap dengan tuduhan telah melakukan pengkhianatan berencana terhadap mendiang raja disertai begitu banyak bukti.
Perdana menteri sendiri cukup terkejut dengan kedatangan prajurit ke kediamannya dengan alasan perintah dari putra mahkota. Ingin menemui putra mahkota dan menanyakan apa yang sebenarnya sekarang ini tengah terjadi, tapi putra mahkota menolak bertemu dengan siapapun untuk saat ini.
Semua orang tidak menyangka dengan adanya berita ini, pasalnya semua orang tahu jika perdana menteri dan putra mahkota berada di perahu yang sama. Pertanyaan disini, apakah perdana menteri yang berkhianat ataukah putra mahkota yang berkhianat.
" Yang mulia.. Perdana menteri tetap kekeh ingin bertemu dengan anda.. " William datang menyampaikan pesan dari perdana menteri.
" Ck.. Merepotkan sekali.. Sebenarnya apa yang ingin dia katakan pada ku? " Putra mahkota mendecak kesal.
" Ini pasti ada hubungannya dengan penangkapan perdana menteri yang mendadak.. " Ujar William memberikan jawaban atas
" Saran saya, lebih baik yang mulia menemui saja perdana menteri agar jelas apa maksud dari perdana menteri.. " William menambahkan.
" Baiklah.. Nanti malam saja aku ke sana.." Setelah mengatakan hal itu, putra mahkota memilih pergi dari ruang kerjanya menuju ke tempat yang membuatnya merasa tenang demi bisa sedikit mengobati rindunya pada sang pemilik hati dan jiwanya.
Putra mahkota pergi ke kediaman ratu yang pernah menjadi saksi bisu betapa indah dan penuh gelora asmara hubungan di antara dirinya dan juga Maledine. Rasanya seperti baru kemarin mereka bersama, bercanda dan tertawa bersama. Tapi lihatlah sekarang, hanya dirinya sendiri yang berada di tempat ini merindukannya.
Putra mahkota menatap setiap sudut yang ada di tempat ini. Dulu dia tidak pernah memperhatikan tempat ini karena perhatiannya hanya tertuju pada wanita yang telah berhasil mencairkan es dalam dirinya.
Tapi saat dia kini bisa memperhatikan semua yang ada di tempat ini. Tata ruang tempat ini benar-benar sesuai dengan apa yang dia rasa nyaman. Ternyata, Maledine menata ruangan di kediamannya sesuai dengan hal yang disukai dan tidak disukai oleh putra mahkota.
Kini, putra mahkota hanya bisa menatap hal-hal yang sama sekali tidak pernah dia perhatikan, namun menjadi prioritas dari kekasihnya. Semakin merasa bersalah karena sampai sekarang masih belum bisa menemukan keberadaan pemilik hatinya.Putra mahkota takut jika sesuatu yang buruk terjadi pada kekasihnya yang tengah mengandung anaknya.
" Aku berharap jika kau baik-baik saja dimana pun kau berada saat ini. Tunggu aku datang untuk membawa mu kembali ke tempat yang seharusnya kau berada." gumam putra mahkota lirih.
Putra mahkota mendekat ke ranjang yang pernah dia bersama dengan Maledine gunakan untuk memadu kasih hingga kini Maledine mengandung buah cinta mereka. Putra mahkota memilih membaringkan tubuhnya di atas ranjang yang masih samar-samar tercium bau tubuh Maledine.
" Aku merindukan... bagaimana dengan mu? Apakah kau merindukan ku?" setelahnya putra mahkota terpejam, dan berangsur-angsur masuk ke alam mimpi.
Di bagian luar kediaman ratu, William berdiri menyaksikan bangunan yang dulu pernah di tempat ratu yang keberadaannya tidak diakui dan diinginkan orang lain karena statusnya. Mendiang raja juga tidak benar-benar bisa menemani dan menghibur ratu yang dilema karena sebuah wasiat yang mengharuskannya menjalani kehidupan yang tidak dia inginkan.
Yang biasanya akan bertemu setiap pagi dan malam, mendiang raja hanya menemui ratu saat malam tiba. Itupun hanya sebentar. Jadi jika ratu akhirnya menyerahkan hidup dan dirinya pada seorang pria lain yang jelas mampu membuat keberadaannya dihargai, hal itu sama sekali tidak mengejutkan.
Ratu menerima uluran tangan pria yang mampu memberikannya semua yang tidak bisa mendiang raja berikan untuk ratu. Pria ini bahkan rela menjadi orang yang berjalan di atas kerikil tajam dan hinaan orang-orang demi bisa bersamanya. Sesuatu hal yang sampai kapanpun tidak bisa mendiang raja lakukan.
Dalam diam William menyesali apa yang terjadi di istana ini, di dalam anggota keluarga kerajaan ini, di dalam keluarga Damocles. Kenapa disaat mereka semua bisa kembali berkumpul bersama, justru mereka dihadapkan pada pilihan yang sulit. Bertahan dengan menyakiti perasaan keluarganya sendiri, atau memiilih mundur yang jelas akan melukai hatinya sendiri.
" Sampai anda mau mengakui semuanya.. Sampai anda mengucapkan kata maaf pada mending raja.. Maka semua hukuman anda ini akan terus berlanjut yang mulia." ujar William lirih sebelum meninggalkan tempat ini.
William mengemban titah penting yang mendiang raja titahkan sebelum akhirnya menjemput ajalnya. William telah berjanji atas namanya untuk melakukan semua yang mendiang raja perintahkan padanya untuk dia lakukan.Hingga di waktu semuanya tidak lagi memendam rasa di hati maka saat itulah semuanya akan kembali seperti sedia kala.
*************
Malam harinya, putra mahkota menepati ucapannya yang mengatakan akan menemui perdana menteri yang saat ini ada di dalam penjara. Putra mahkota yakin jika perdana menteri akan bertanya tentang alasan yang membuat putra mahkota memperlakukannya seperti ini. Dan putra mahkota sendiri sudah menyiapkan alasan untuk menjawab semua pertanyaan dari perdana menteri.
Di dalam sel khusus yang hanya ada perdana menteri di dalamnya, putra mahkota berdiri di depan jeruji besi untuk melihat apa yang kira-kira dilakukan oleh perdana menteri setelah statusnya berubah menjadi tahanan.
" Apa yang ingin tuan tanyakan pada ku? Sampai-sampai berbuat nekat.." putra mahkota menyeringai saat melihat perdana menteri melihat ke arahnya.
" Kenapa bersikap seperti itu? Mirip seperti singa yang hendak menangkap buruannya." sarkas putra mahkota.
" Kau.. telah bermain-main dengan kepercayaan yang selama ini aku berikan pada mu.. Lihat sendiri apa yang akan kau tuai setelah ini." ucap putra mahkota.
" jadi selama ini anda memang tidak pernah berada di pihak saya.. " tanya perdana menteri.
" Sejak awal.. Tepatnya sejak aku memergoki mu bertemu dengan seseorang lain hingga mengajaknya menghabiskan waktu bersama.. Kenapa diam saja ? Apa yang aku katakan itu benar?" putra mahkota semakin tersenyum lebar menyeringai.
" Saran ku pada mu.. Terima saja suratan takdir yang sudah dewa gariskan tentang mu dan tentangnya." setelah mengatakan itu, putra mahkota meninggalkan perdana menteri seorang diri di tempat itu.