The Queen'S Love Scandal

The Queen'S Love Scandal
Menyadari



Di istana, suasananya masih mencekam lantaran ratu pulang setelah diculik dalam kondisi yang memprihatinkan. Tidak sekali dua kali, ketika Maledine terbangun, dia kan berteriak histeris seperti orang ketakutan. Tidak ada yang tahu apa yang dialami Maledine selama diculik, kecuali pelaku penculikan ini. Meski begitu, bisa disimpulkan bahwa yang Maledine alami pastilah sangat menakutkan, terbukti dari apa yang diperlihatkan Maledine setiap kali dia tersadar dari tidur atau lamunannya.


Satu hal yang paling mencolok setelah penculikan ratu. Hubungan ratu dengan putra mahkota menjadi dekat. Ratu hanya akan berhenti berteriak histeris saat ada putra mahkota di sampingnya. Raja awalnya tidak senang memandang pemandangan itu karena telah menimbulkan gosip tidak sedap lainnya di istana tentang ratu.


Beruntung, tabib menjelaskan alasan kenapa sampai ratu berlaku seperti itu. Hal ini dikarena kondisi mental ratu yang tidak baik-baik saja setelah penculikan. Dan karena putra mahkota yang menyelamatkan ratu saat itu, jadilah ratu mulai bergantung pada putra mahkota secara tidak sadar karena itu adalah bawaan dari alam bawah sadar ratu yang menganggap putra mahkota adalah penyelamatnya.


Seperti pagi ini. Rtu kembali histeris lantaran tanpa sengaja jemari raja memegang bagian tubuhnya, yaitu perut. Meski kesal, raja mencoba memaklumi karena memang ini semua terjadi karena dirinya yang lemah sebagai raja, sehingga istrinya ini dijadikan sasaran balas dendam orang-orang diluar sana.


" Ada apa lagi ini? Tidak lelahkah kalian memanggil ku setiap hari untuk melakukan hal memalukan ini.." Dierez masuk ke kamar Maledine dengan mengomel.


" Yang mulia, tidak sengaja menyentuh bagian perut yang mulia ratu. Setelah itu yang mulia ratu jadi histeris lagi." lapor dayang yang menjadi dayang pribadi Maledine.


" Apa ayah sudah benar-benar tidak bisa menahan nafsunya sampai melakukan itu? Tidak tahu situasi sama sekali.." gerutu Dierez yang langsung menghampiri rajang dimana ayahnya dan Maledine berada.


Sebenarnya Dierez sangat senang karena bisa menemui Maledine dengan cara seperti ini. Karena alasan inilah, tidak ada yang curiga bahwa sebenarnya Dierez mulai memikirkan tentang perasaannya pada Maledine setelah penculikan itu. Dierez menyadari jika dia memandang Maledine dengan cara yang berbeda setiap kali dia memandang perempuan.


Salah memang, tapi bisa apa toh Dierez tidak meminta dirinya jatuh hati pada Maledine. Lagipula, sungguh tidak tahu malu sekali jika sang ayah justru benar-benar menganggap Maledine sebagai istrinya. Karena dilihat dari umur saja, Maledine lebih cocok sebagai menantunya.


" Sebenarnya apa yang ayah lakukan sampai dia jadi seperti itu?" Dierez mengomel.


" Ayah tidak sengaja menyentuh perutnya, hanya itu.." ucap raja tidak ingin disalahkan.


" Lupa, bagaimana penampilannya saat aku membawanya pulang ke istana? Dia hampir diperkosa delapan orang pria, apa ayah tidak bisa berpikir bagaimana ketakutannya saat itu?" Dierez masih asyik mengomel pada ayahnya. Cemburu jika sang ayah mendekati Maledine.


Raja pun melengos dan langsung keluar dari kamar ratunya. Para menteri sudah menunggunya di aula pertemuan, tapi raja menyempatkan diri untuk melihat ratunya karena khawatir dengan ratu. Namun apa yang terjadi sekarang, karena dirinya ratu justru jadi kembali ketakutan seperti hari-hari sebelumnya.


" Hei.. Tenanglah, ini aku." Dierez langsung memeluk Maledine setelah melihat ayahnya pergi keluar kamar dari Maledine.


" Pergi...pergi... Huuuuu...pergi..pergi..." gumam Maledine sama seperti kata-kata yang Dierez dengar saat menyelamatkan Maledine.


" Tenanglah.. Ini aku, Dierez.. Aku akan disini menemani mu, jadi sekarang tenang dan tidurlah.." ucap Dierez sangat lembut sekali. Kedua tangannya, yang satu mengusap punggung Maledine, yang satunya lagi memeluk pinggul Maledine seolah enggan untuk dipisahkan.


Cukup lama Dierez menenangkan Maledine hingga kemudian dia pun tertidur dalam pelukan Dierez. Segera saja Dierez meletakan tubuh Maledine ke ranjang, karena kedua tangannya terasa kebas karena terlalu lama menopang berat tubuh Maledine.


Pelayan dan dayang pribadi Maledine membantu untuk menyelimuti Maledine dan merapikan posisi tidur dari ratu mereka. Kemudian, mereka mengucapkan terima kasih karena sudah membantu menenangkan ratu.


Dierez tersenyum saat tiba di lapangan latihan, karena melihat pangeran kedua sudah kembali dari perbatasan. Meski berbeda ibu, namun Dierez sangat menyayangi pangeran kedua. Itu semua karena sikap dan sifat pangeran kedua yang sama sekali tidak serakah. Padahal bisa saja dia menginginkan tahta.


" Kapan kau kembali?" Dierez menghampiri Aeolus dan memeluknya.


" Saat kau sangat sibuk dengan menjadi penawar penyakit yang mulia ratu." sarkas Aeolus bercanda.


" Sialan kau.." Dierez meninju lengan dari Aeolus.


Keduanya berbincang dengan sangat asyik sambil mengawasi pasukan mereka berlatih. Aeolus, bisa melihat jika ada yang berbeda dari kakaknya ini. Karena penasaran, dia pun bertanya, dan dia cukup terkejut mendengar ucapan sang kakak jika kakaknya ini tengah jatuh cinta. Batin Aeolus bertanya-tanya, siapa wanita yang beruntung mendapatkan hati seorang Dierez yang terkenal dingin pada wanita yang dia kenal maupun tidak.


" Cukup pelik kisah ku.. Seharusnya aku tidak jatuh cinta dengannya, namun entah sejak kapan aku pun tidak tahu. Begitu aku tahu, aku sudah jatuh cinta dengannya." ujar Dierez mengakhiri ceritanya.


" Cinta tidak pernah salah kak, dan jika kau mencintainya, bukankah seharusnya kau memperjuangkannya.." ucap Aeolus memberi semangat.


Dierez tertawa geli mendengar saran sang adik. Andai saja Aeolus tahu, siapa wanita yang Dierez cintai. Pastinya dia akan memaki Dierez dengan semua jenis umpatan. Karena dengan sangat sadar, Dierez paham betul bahwa cintanya ini terlarang. Namun, apa dayanya, dia tidak bisa membuang perasaan ini, entah karena apa. Tapi baginya, Maledine, adalah wanita yang tepat untuknya.


Tidak ingin terus menerka-nerka apa Maledine juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Dierez memutuskan untuk menemui Maledine, dan bertanya bagaimana perasaannya terhadap Dierez. Sebenarnya, dari awal Dierez tahu apa yang akan Maledine katakan. Kesempatannya untuk bisa bersama dengan Maledine hanya satu persen.


Namun bagi Dierez, satu persen yang dia miliki ini, akan dia buat untuk mengubah semua yang sudah ada di depan matanya. Ratu yang akan duduk di samping singgasana nya nanti, hanya boleh Maledine seorang.


" Boleh kita bicara sebentar?" tanya Dierez ketika tidak sengaja bertemu dengan Maledine di taman. Sepertinya, dewa tengah membantunya dengan mempermudah pertemuan mereka kali ini.


" Tentu saja, yang mulia putra mahkota.." Maledine langsung berdiri dan mempersilahkan Dierez untuk duduk.


" Jangan bersikap terlalu formal dengan ku.. Jika kita hanya berdua sama seperti saat ini, kau boleh memanggil nama ku saja, Dierez.." Maledine tersipu malu.


" Apa yang membawa ......ehm...mu kemari?" tanya Maledine sedikit gugup.


" Ada yang perlu aku tanyakan pada mu.. Saat menjawab pertanyaan ku nanti, tolong jawab cepat." Maledine merasa sedikit tidak enak saat ini.


" Apa itu? " Maledine ketar-ketir.


" Aku menyukai mu.. Apakah kau mau membalas perasaan tulus dari hati ku ini ? " Maledine langsung melotot tajam.