The Queen'S Love Scandal

The Queen'S Love Scandal
Menciptakan kesempatan



Beberapa bulan telah berlalu, kejadian dimana ada dayang yang meninggal dunia di kediaman ratu masih belum terungkap. Pelakunya, masih memilih untuk bungkam hingga akhirnya putra mahkota memutuskan untuk mengeksekusinya. Kini, ratu juga sudah kembali ke kediamannya sendiri. Tentunya, kepindahan ratu ini atas saran dari putra mahkota.


Perut ratu sudah mulai terlihat besar, karena usia kandungannya sudah memasuki usia empat bulan. Ayah dari janin yang dikandung ratu sangat rajin menengok ratu untuk memastikan kondisi ratu dan juga anaknya baik-baik saja. Ratu sendiri sudah jarang sekali mual dan muntah, namun sebagai gantinya, dia jadi banyak makan hingga berat badannya naik drastis.


Untuk menjaga kesehatan dan juga mengantisipasi kelebihan berat badan pada janin lantaran ratu tidak bisa menahan rasa laparnya, akhirnya tabib meminta ratu untuk selalu melakukan jalan-jalan pagi. Biasanya, ratu akan berjalan berkeliling dari kediamannya menuju ke kediaman putra mahkota, lalu kembali ke kediamannya.


Namun pagi ini, rencana berubah. Raja datang dan mengatakan akan menemani ratu jalan-jalan pagi. Kedatangan raja ini sukses membuat mood ratu buruk di pagi hari. Sepertinya janin di dalam kandungan ratu, merasa kesal karena kehadiran raja membuat dia dan ibunya tidak bisa bersama dengan ayahnya. Agar tidak membuat raja curiga, ratu berusaha bersikap biasa meski rasanya di hati gondok sekali.


" Maaf kan aku, ya.. Padahal usia kandungan mu sudah empat bulan, tapi baru kali ini aku menemani mu jalan-jalan pagi.. " Ucap raja ketika tengah berjalan pagi dengan ratu di sekitar kediaman ratu.


" Tidak apa yang mulia.. Saya memahami kesibukan yang mulia.. ( lagi pula juga saya tidak suka jika anda kemari.. Lebih baik saya jalan-jalan sendiri) " Maledine ngedumel dalam hati.


" Apa calon anak kita nakal? " Tanya raja.


Maledine yang mendengar pertanyaan raja langsung dibuat mual dan ingin muntah. Padahal, sudah lama sekali dia tidak pernah mual dan muntah. Tapi, baru mendengar raja menyebut jika janin nya adalah anak mereka, Maledine langsung mual muntah. Apakah ini pertanda janin dalam perutnya menolak pria di sampingnya ini?


" Ratu ku.. Apa kau tidak apa? Ada yang sakit? " Raja langsung panik.


" Hoek.. Hoek.. " Maledine masih terus memuntahkan semua yang dia makan pagi tadi sebelum memutuskan untuk jalan-jalan pagi.


" Panggil tabib.. Cepat panggil tabib.. " Raja sudah panik sendiri melihat Maledine terus muntah.


" Tidak perlu... Ratu, apa Anda baik-baik saja? " Tanya seseorang yang tiba-tiba saja datang entah sejak kapan.


Ajaibnya, saat orang ini datang, Maledine langsung berhenti muntah. Semua orang sampai terheranmelihat reaksi Maledine ketika seseorang ini datang. Mungkin, bagi yang mengetahui siapa orang ini bagi Maledine, akan menganggap ini semua hal wajar. Akan tetapi, bagi yang tidak mengetahuinya jelas pasti dibuat terheran-heran.


" Dierez.. Kenapa bisa ada di sini? " Tanya raja merasa terkejut melihat kehadiran putranya di tempat di berada bersama dengan ratu.


" Kalau anda lupa, maka akan saya ingatkan.. Di sana adalah kediaman saya.. " Dierez menunjukkan ke arah kanan, " Dan suara ratu yang sedang muntah, membuat istirahat pagi saya terganggu.. " Tambah nya. Namun, di dalam hatinya yang paling dalam, Dierez memohon maaf yang sebesar-besarnya pada kekasihnya karena bicara kasar.


Maledine sudah tidak heran dan sakit hati dengan ucapan putra mahkota padanya. Dia, paling tahu apa yang ada di dalam hati pria yang telah menjadi kekasih gelapnya itu. Jadi, sekarang ini, bagi Maledine jika putra mahkota berucap seperti itu, artinya putra mahkota sedang melindunginya.


" Dierez.. Tolong jaga ucapan mu.. Ratu bisa sakit hati jika mendengarnya.. " Tegur raja.


Maledine yang digoda oleh Pangeran, langsung memalingkan wajahnya karena takut jika semua orang menyadari jika wajahnya kini berubah menjadi merah setelah digoda oleh kekasih hatinya itu. Jika Maledine memalingkan wajahnya lantaran malu, lain dengan raja yang memandang jika Maledine tidak menyukai putra mahkota. Raja, kemudian berpikir untuk membuat hubungan keduanya menjadi baik. Lagipula, jika hubungan keduanya menjadi baik, maka perdana menteri tidak akan bisa berbuat macam-macam pada ratunya.


" Dierez.. Bisa kau menolong ayah sebentar.. " Raja memanggil putra mahkota yang sudah berjalan agar jauh dari tempatnya berdiri.


Putra mahkota berbalik dengan alis sebelahnya yang terangkat karena bingung dengan kemauan sang ayah. Tidak biasanya, raja akan meminta bantuannya di depan banyak orang seperti ini. Raja tidak ingin mempertontonkan ketidak mampuan nya di depan semua orang karena nya sering kali meminta bantuan dari putra mahkota saat keduanya hanya berdua saja.


" Temani ratu untuk jalan-jalan pagi.. Aku akan menghadiri rapat pagi dengan para menteri.. Tolong ayah, menjaga ratu ya.. " Dierez dan Maledine dibuat melongo dengan ucapan raja.


" Tolong ayah ya.. Jadikan kesempatan ini untuk dekat dengan ratu.. " Bisikan raja, kemudian menepuk pelan pundak sang putra.


Putra mahkota menatap kepergian raja dengan alis berkerut. Tidak biasanya ayahnya menyediakan waktu untuk dirinya dan ratu berdekatan. Bukankah raja mengetahui jika hubungan ratu dan putra mahkota itu buruk. Akan tetapi, setelah raja benar-benar tidak lagi bisa dia lihat, Dierez tersenyum sangat lebar.


" Masa bodoh dengan tujuannya, yang terpenting aku bisa berduaan dengan Maledine tanpa orang mencurigai nya.. " Gumam Dierez senang sekali.


" Yang mulia.. " Maledine tersenyum malu-malu saat Dierez mendekatinya.


" Hei.. Jangan tersenyum seperti itu.. Kau membuat ku jadi ingin menerkam mu sekarang juga.. " Bisikan Dierez.


Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan berduaan, putra mahkota lekas mengajak ratu untuk melanjutkan jalan-jalan pagi mereka. Kali ini, bukan jalan-jalan di sekitar kediaman mereka berdua, melainkan agar lebih jauh lagi. Mereka, berjalan masuk ke dalam hutan yang ada pondok mereka di bagian tengahnya. Keduanya sengaja berjalan ke arah sana, agar tidak menarik perhatian banyak orang ketika mereka terlihat dekat.


Isu tentang adanya hubungan spesial di antara kedua orang ini belum benar-benar hilang. Orang-orang yang membicarakan hubungan mereka hanya dipaksa diam oleh Raja lantaran raja tidak suka mendengar gosip itu. Kesannya, seolah ratu dan putra mahkota, istri dan putranya, mengkhianati dirinya. Padahal tanpa raja ketahui, hal itulah yang menjadi kenyataannya.


***************


Di kediaman selir Oclariana, pagi ini dikejutkan dengan kedatangan raja. Awalnya, raja memang menginginkan untuk mengikuti rapat pagi dengan para menteri, akan tetapi, entah kenapa tiba-tiba saja raja menginginkan untuk bisa memiliki waktu dengan satu-satunya selir yang dia miliki.


Raja, bukan tidak menyukai selirnya hingga jarang mengunjungi dan memuaskan sang selir. Raja bersikap dingin pada selirnya ini, lantaran selir Oclariana adalah keponakan perdana menteri. Raja takut, jika nantinya perdana menteri menjadikan selir Oclariana sebagai mata-matanya. Raja, tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Andai, andai saja selir ini bukan keponakan perdana menteri, sudah barang pasti, raja akan membuat wanita ini menjadi ratu..


" Yang mulia.. Ada gerangan apa sehingga Anda mengunjungi kediaman saya yang buruk ini? " Sapa selir Oclariana merendahkan diri.


" Aku.. Tentu saja merindukan mu.. Selir ku.. Maukah kau memuaskan ku di pagi ini? " Raja tersenyum menatap sang selir yang wajahnya sudah berubah menjadi merah kala mendengar ucapan raja.