The Queen'S Love Scandal

The Queen'S Love Scandal
Pergi



HUUUAAAAAA


HUUAAAAA


YANG MULIA


YANG MULIA


YANG MULIA


Di kediaman raja, telah banyak orang berkumpul karena sesuatu yang diluar tebakan semua orang. Seorang pria yang masih bisa hidup hingga dua puluh tahun lagi, kini terbujur kaku tidak lagi bernyawa. Semua orang menangisi kepergian pria ini, meski ada di antara mereka yang menangisi hanya untuk menutupi rasa senang mereka, atas berpulangnya Raja Delroy Damocles ke tanah para dewa.


Beberapa waktu yang lalu, William, yang merupakan penasehat raja juga merupakan saudara jauh dari ratu terdahulu, menemukan raja Delroy telah menghembuskan nafas terakhirnya. William memang masih bisa mengajak raja berbincang sejenak sebelum akhirnya raja kejang dan kemudian tidak lagi bernyawa.


" Will, kabarkan para putra mahkota jika yang mulia telah berpulang.. " Ujar perdana menteri yang terlihat sangat sedih atas kepergian raja kerajaan ini. Padahal, dalam hatinya, pria ini tertawa karena pada akhirnya bisa membuat raja boneka yang mulai menggigit itu kehilangan nyawanya.


Haruskah perdana menteri berterima kasih pada ratu yang telah menciptakan skandal hingga membuat raja sakit dan akhirnya meninggal. Sepertinya perdana menteri memang harus memberikan ratu hadiah yang sangat besar, atas jerih payahnya mensukseskan rencana perdana menteri.


Dengan begini, putra mahkota akan naik tahta. Raja yang diramalkan akan membawa kedamaian dan kehidupan makmur di Kerajaan ini, sebentar lagi akan naik tahta. Yang paling senang dalam situasi dan kondisi seperti ini adalah Perdana menteri. Karena akhirnya, dia bisa menjadi orang yang memiliki pengaruh besar di Kerajaan jika putra mahkota yang dia sayangi itu naik tahta.


" Persiapkan pemakaman yang mulia dengan baik.. Begitu putra mahkota tiba, kita akan langsung memakamkan yang mulia raja Delroy.. " Titah perdana menteri pada beberapa orang yang pastinya memang sudah terbiasa menangani situasi macam ini.


" Baik tuan perdana menteri.. "


Semuanya pun bubar setelah perdana menteri memerintahkan semuanya untuk memberikan waktu pada selir Oclariana menyampaikan salam perpisahan dengan raja yang adalah suaminya. Jadi untuk saat ini, di dalam kamar pribadi raja saat ini hanya ada perdana menteri dan selir Oclariana saja. Keduanya langsung menyeringai ketika tujuan mereka telah berhasil.


Berita tentang Raja Delroy pun sampai ke telinga ratu Maledine yang berada di istana dingin karena hukuman atas perbuatannya. Ratu, sangat shock bahkan sampai pingsan mendengar jika suaminya telah meninggal dunia. Benar memang tidak ada cinta di hati ratu untuk raja, namun tetap saja ratu akan bersedih. Raja sudah seperti ayahnya yang selalu mengayomi nya.


" Yang mulia.. Bagaimana bisa? " Maledine masih saja menangis karena kematian raja meski sudah pingsan beberapa kali sejak mendengar berita kematian raja Delroy.


Maledine mencari cara untuk menghadiri pemakaman raja. Bahkan dia untuk pertama kalinya selama tinggal di istana dingin, berani mendebat orang-orang yang bekerja disini dan diminta oleh Selir Oclariana untuk mengawasinya.Semua ini Maledine lakukan karena dia ingin sekali melihat raja untuk terakhir kalinya.


Mau bagaimana pun raja menghukumnya, tapi selama Maledine menyandang status sebagai ratu, raja tetap memperlakukannya dengan baik. Banyak hal yang raja lakukan untuknya hanya untuk menarik perhatiannya. Belum lagi setiap waktu yang raja luangkan hanya untuk menemaninya melakukan hal-hal yang mungkin tidak akan pernah raja lakukan seperti menanam bunga bersama.


Dulu, Maledine sama sekali tidak menyangka jika kejadian yang dia anggap tidak seharusnya terjadi diantara dirinya dan raja, akan menjadi kenangan yang ditinggalkan oleh raja. Sungguh untuk saat ini dan mungkin disisa umur Maledine, dia akan tetap hidup dalam penyesalan karena menjadi luka terbesar raja hingga membuatnya meninggal dunia.


" Kebaikan anda yang selalu anda tunjukan pada saya, dengan itu saya yakin jika anda akan mendapatkan tempat yang terindah di nirwana dan bertemu dengan mendiang ratu.. Tolong... Tolong sampaikan permintaan maaf saya telah mengacaukan segalanya. Telah mengkhianati anda dan telah jatuh cinta pada putra anda.. Maafkan saya... Tolong maafkan saya...Saya telah menyakiti orang yang seharusnya tidak pernah saya sakiti.. Maafkan saya.." dalam doanya Maledine menyelipkan permintaan maaf untuk kesalahan yang telah dia perbuat pada mendiang raja dan ratu.


" Saya berjanji.. Akan menjaga cucu kalian dengan baik setelah ini.. Mohon untuk selalu menyertai kami ke depannya.." setelahnya Maledine tertidur.


Ketika Maledine terbangun, hari telah berganti. Dirinya masih diam di atas ranjang enggan untuk bangun. Maledine mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi kemarin. Kemudian dia mengingat tentang raja yang telah meninggal dan Maledine pun kembali menangis. Dia pikir semua itu hanyalah mimpi belaka, tapi kenyataannya, pria yang berstatus sebagai suaminya dan merupakan kakek dari janin yang dikandungnya, benar telah meninggal dunia.


Selama beberapa saat Maledine menangis, hingga suara ribut-ribut di luar sana mengalihkan perhatiannya. Meski enggan, Maledine pun bangun dari baringnya dan melihat keluar, apa yang terjadi di waktu yang masih dibilang sangat pagi ini.


PLAK


PLAK


Pipi Maledine, keduanya terasa kebas setelah mendapatkan tamparan yang entah siapa pelakunya. kejadiannya cukup cepat sehingga Maledine yang membuka pintu kamar yang tidak lagi terkunci dari luar langsung dikejutkan dengan tamparan di kedua pipinya.


" Puas kau sekarang.. Karena ulah mu, karena keserakahan mu dan karena dirimu yang tidak tahu malu, sekarang aku harus menjadi seorang janda di usia yang sangat muda.." teriak selir Oclariana tepat di depan wajah Maledine.


" Wanita tidak tahu diri seperti dirimu ini pantas untuk diberi hukuman mati.. Bodohnya mendiang raja masih saja melindungi mu hingga akhir hayatnya.. AAARRRRHHHHGGGGG..." seli Oclariana berteriak kencang melepaskan kekesalannya.


Tubuh Maledine membeku, bukan karena teriakan selir Oclariana yang memekakan telinga, tapi karena ucapannya yang mengatakan jika raja masih saja melindunginya di akhir hayatnya. Ingin bertanya, tapi melihat selir Oclariana yang masih histeris, Maledine takut jika itu justru membahayakan dirinya dan kandungannya.


" AAAKKHHG.." erang kesakitan keluar dari mulut Maledine saat rambutnya ditarik kuat oleh Selir Oclariana.


" Jika kau masih ingin anak haram dalam kandungan mu itu selamat.. Maka cepat pergi dari tempat ini.. Pergi sejauh mungkin hingga tidak akan ada orang yang akan menemukan mu.. Jika aku masih melihat mu di tempat ini, maka aku bersumpah akan melanggar titah raja dan membunuh mu.."


Brugh..


Tubuh Maledine di hempaskan oleh selir Oclariana hingga hampir saja terjatuh. Beruntung salah satu dayang pribadinya menangkapnya sehingga hanya punggung dayang itulah yang terbentur meja. Kandungan Maledine masih selamat saat ini, tapi mungkin tidak jika dilain waktu,


Maledine yang ketakutan jika selir Oclariana benar-benar melakukan apa yang dia katakan tadi, akhirnya memutuskan untuk pergi dari tempat ini, dari istana ini, dari sisi pria yang mungkin akan membencinya ketika dia memilih pergi membawa sebagian dari dalam dirinya.


" Selamat tinggal... Maafkan aku, jika aku memilih pergi.."