
Merindukan seseorang yang teramat kita sayangi, memang hal yang bisa membuat seseorang menjadi gila apabila tidak bisa melampiaskan rasa rindu itu sendiri. Hal inilah yang putra mahkota rasakan saat ini. Ingin bertemu, namun keberadaan darinya saja tidak diketahui. Bagaimana dia bisa melampiaskan rasa rindu yang menyesakkan ini.
Memacu kudanya seperti orang gila, putra mahkota pergi meninggalkan pasukan miliknya untuk bisa sampai ditempat tujuan lebih cepat. Berharap ada sebuah mukjizat yang bisa membuat dia bertemu dengan kekasih hatinya.
Malam sudah tiba, jalanan menjadi sangat gelap. Tapi tidak menghalangi putra mahkota untuk memacu kudanya dengan cepat. Siapa saja yang menghalangi dia, maka jangan salahkan dirinya jika siapa saja yang menghalangi jalannya akan binasa.
" Tunggu aku.. Jangan buat aku tidak bisa menemukan keberadaan mu.. Tunggu aku.. " Dalam hati putra mahkota berdoa.
Hingga matahari muncul di ufuk timur, kuda yang dinaiki oleh putra mahkota telah sampai di bagian terluar hutan yang menjadi lokasi keberadaan kereta kuda yang membawa ratu pergi dari istana.
Putra mahkota semakin mempercepat laju kudanya, tidak peduli andai nanti kuda ini akan mati karena kelelahan. Yang terpenting baginya saat ini adalah secepat mungkin sampai ke tempat tujuan.
" Yang mulia... Terus ke depan, kemudian belok ke kanan.. " Luke berteriak memberi petunjuk pada putra mahkota.
" Aku paham.. " Putra mahkota menyahut.
Dari semua pasukan yang dia bawa dari istana, hanya Luke saja yang mampu menyusul dirinya dengan kecepatan yang tidak wajar itu. Tidak salah jika putra mahkota memilih Luke sebagai ajudannya. Terlihat jelas kemampuan Luke tidak bisa dianggap remeh.
" Berhenti.. " Putra mahkota mengangkat sebelah tangannya, memerintahkan pasukannya untuk berhenti.
" Sisir tempat ini sampai radius lima puluh meter!!! Cari apapun yang bisa memberitahukan keberadaan ratu!! " Titah putra mahkota.
" Baik yang mulia.. " Semua pasukan milik putra mahkota langsung berbalik arah dan menyebar untuk menjalankan perintah putra mahkota.
Luke mendekat ke arah putra mahkota berada. Luke perlu memastikan jika putra mahkota baik-baik saja ketika mengetahui bahwa apa yang dia harapkan tidak terwujud. Saat sampai ditempat tujuan, apa yang putra mahkota cari tidak diketemukan. Luke yakin jika suasana hati tuannya ini sedang tidak baik-baik saja.
" Yang mulia.. " Panggil Luke.
" Apa? " Putra mahkota menjawab panggilan Luke tanpa mengalihkan pandangan nya dari sekitar.
" Apa and baik-baik saja, yang mulia? " Tanya Luke memastikan kondisi tuannya.
" Menurut mu? Apakah aku harus baik-baik saja saat ini? " Putra mahkota melirik Luke sinis.
" Maafkan saya yang mulia.. Saya terlambat mengetahui tentang hal ini.. " Luke merasa bersalah. Karena kurangnya kemampuan pasukan yang dilatihnya, membuat mereka kehilangan banyak waktu untuk mengetahui keberadaan dari ratu.
" Jangan hanya bisa meminta maaf Luke. Kau tahu kan, apa yang harus kau lakukan saat ini.. "
" Paham yang mulia.. "
Putra mahkota memang tidak mengatakan agar pasukan mereka menginap di tempat ini. Tapi, Luke bisa menarik kesimpulan dari ucapan putra mahkota. Jika ingin menebus kesalahannya, maka Luke harus segera menemukan keberadaan ratu. Luke paham betul apa yang dikhawatirkan oleh putra mahkota. Kandungan ratu yang sudah semakin cepat dengan masa kelahirannya.
" Yang mulia.. Sebaiknya anda kembali lebih dahulu ke istana.. Orang-orang anda di sana, membutuhkan instruksi dari anda.. " Ucap Luke.
" Hm.. Setelah pasukan kembali.. " Ucap putra mahkota dengan mengedikkan bahunya acuh.
Luke menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sikap tuannya saat ini jelas mengatakan jika dia sedang marah dan kesal pada Luke. Lalu apa yang harus Luke lakukan. Dirinya tidak hanya mengurusi pencarian terhadap ratu, tapi juga pergerakan pasukan putra mahkota di istana.
Jika bisa dibagi menjadi dua bagian, maka senang hati Luke akan membagi tubuhnya menjadi dua, bisa lebih kalau andai itu bisa terjadi. Dengan begini, semua perintah putra mahkota yang dia emban, bisa beres tanpa ada kendala seperti saat ini.
Hari sudah semakin sore, ketika pasukan yang diminta menyebar oleh putra mahkota kembali ke titik awal. Melihat wajah-wajah mereka semua, putra mahkota bisa mengambil kesimpulan jika tidak ada petunjuk apapun yang bisa mereka temukan. Apakah kurang jauh pencarian mereka.
Mengingat sikap Maledine ketika penculikan yang dilakukan oleh perdana Menteri saat dulu. Maledine pasti meninggalkan sesuatu sebagai petunjuk. Jika tidak ada petunjuk apapun, apakah yang menyelamatkan Maledine adalah orang yang dia kenal. Atau dia sudah tidak dalam kondisi bisa meninggalkan petunjuk. Jika disuruh memiliki kemungkinan yang terjadi, maka putra mahkota akan memilih kemungkinan yang pertama saja.
" Ingatkan aku untuk menghukum kalian semua ketika pencarian ini selesai.. " Ucap putra mahkota yang sudah sangat kesal sampai ke ubun-ubun.
Tanpa mengatakan apapun, putra mahkota meninggalkan pasukannya untuk kembali ke istana. Meski kesal pada Luke, tapi apa yang dikatakan oleh ajudannya itu benar. Orang-orang yang dia sebar di ibukota dan istana, membutuhkan instruksi darinya. Tidak boleh ada satu pun kesalahan, agar putra mahkota bisa dengan tenang duduk di tahta Kekaisaran bersama dengan wanita yang dia cintai.
******************
Luke dan pasukannya belum kembali meski sudah tiga hari lamanya. Putra mahkota menjadi uring-uringan karena sama sekali tidak ada hal yang beres dengan apa yang dia kerjakan. Baik urusan mencari keberadaan Maledine maupun urusan dengan orang-orang di istana dan ibukota, semuanya tidak ada yang berjalan dengan lancar.
Sikap putra mahkota yang jadi kasar dan pemarah ini tidak lepas dari pantauan Willian yang merupakan penasehatnya saat ini. Meski belum naik tahta, tapi kepemimpinan tertinggi di Kerajaan ini untuk saat ini memanglah putra mahkota. William disini bertugas membantu putra mahkota dalam mengambil keputusan.
Sayangnya, fungsi dari seorang penasehat pun sama sekali tidak ada artinya dimata putra mahkota. Dia sama sekali tidak pernah mendiskusikan apapun dengan William, dan memutuskan semuanya sendiri sesuai dengan kehendaknya. William merasa heran, sikap putra mahkota yang keras begini, menurun dari siapa.
" Apa ada yang bisa saya bantu yang mulia? " Tanya William mendekat ke arah putra mahkota yang tengah pusing di ruang kerjanya.
" Hm.. Jika kau bisa menangkap orang-orang sialan itu, maka aku anggap kau membantu.. " Ucap putra mahkota terkesan kasar.
" Tentu saja saya bisa menangkap mereka, yang mulia.. Hanya memerlukan sedikit bantuan dari anda saja, maka mereka semua akan dilempar keluar dari istana.. " Ucap William yang tidak ambil pusing dengan sikap kasar putra mahkota.
" Benarkah? Apa yang harus aku bantu? " Putra mahkota begitu senang karena akhirnya bisa menemukan cara mempermudah aksinya.
" Yang mulia harus bersabar dan jangan marah-marah, saya jamin sebentar lagi, mereka semua akan bisa ditangkap.. "
" Sialan kau William.. Apa maksud mu bicara seperti itu, HAH.. " dan putra mahkota kembali marah-marah.