
Pagi ini, istana dihebohkan dengan kabar dari wilayah selatan negeri antah berantah ini. Wilayah selatan, adalah wilayah yang memang sedikit lebih gersang dibandingkan bagian wilayah yang lain karena sedikitnya sumber air di tempat itu. Bahan makanan juga tidak melimpah, seperti di wilayah bagian lainnya karena kurangnya sumber air.
Wilayah selatan, dikabarkan kehilangan bahan pangan mereka karena lumbung mereka telah dibobol sekelompok orang yang tidak dikenal. Karena kejadian ini, bisa dipastikan jika wilayah selatan, tidak akan mampu melewati musim panas ini.
Dierez benar-benar murka begitu mendengar berita tentang ini. Yang lebih membuat raja Dierez ini murka adalah kejadian ini sudah berlangsung selama tiga hari dan baru pagi ini para menteri melaporkan masalah ini padanya. Direz merasa seperti dirinya ini adalah raja yang tidak peduli pada nasib rakyatnya.
" Kenapa baru mengatakannya pada ku hari ini, jika kejadian ini sudah berlangsung beberapa hari? Kalian punya motif khusus melakukan hal ini?" tanya Dierez di rapat paginya bersama para menteri. Suara Dierez terdengar sangat menakutkan bagi semua yang mendengarnya.
" maafkan kami yang mulia. tapi kami melakukan semua ini semata-mata karena tidak ingin menambahkan beban anda setelah masalah perbatasan kmbali memanas." jawab menteri pangan.
" Beban kau bilang? " Dierez mencibir.
" Katakan hal semacam itu jika kalian bisa menyelesaikan masalah ini sebelum kalian melaporkannya pada ku. Apa gunanya kalian memikirkan beban ku, jika nyatanya kalian lah yang menyumbang beban paling besar dalam hidup ku.." semua orang yang ada di aula istana pagi ini menundukan kepala mereka, tidak berani menatap wajah murka raja mereka.
Yang dihadapan para menteri saat ini, bukanlah jendral perang Dierez yang terkenal sangat ramah meski terkadang sangat disiplin dan juga pendiam. Jendral yang kini menjadi raja di kerajaan ini, telah berubah menjadi dewa maut bagi siapa saja yang berani menentangnya Entah sudah berapa nyawa yang hilang ditangannya selama empat tahun belakangan ini. Rumornya, jauh lebih banyak dari nyawa yang dia ambil di medan perang.
" Apa ada bangsawan atau menteri yang terlibat dalam masalah ini?" tanya Dierez tidak mau lagi membahas betapa kecewanya dia pada para menterinya.
" Kami masih menyelidiki yang mulia. Namun dilihat dari bersihnya perbuatan mereka, sepertinya mereka memang sudah mengenal tempat itu dengan sangat baik." perdana menteri Aeollus melaporkan.
" Besok... Besok aku ingin mendengar semua hal yang masih dalam misteri pagi ini.. JIka tidak, bersiaplah kalian semua mendapatkan hukuman." ujar Dierez sebelum akhirnya mengakhiri pertemuan mereka pagi ini.
Suasana hati Dierez semakin hari semakin buruk, membuatnya menjadi orang yang tidak mau mentolerir kesalahan apapun yang dilakukan orang-orangnya. Saat ini, semua menteri berharap jika baik bangsawan ataupun menteri, tidak ada yang terlibat dalam masalah ini. Atau mereka akan menjadi samsak tinju raja mereka yang kini terkenal kejam.
**************
Dierez memilih pergi ke tempat yang menyimpan banyak kenangannya bersama dengan Maledine. Tempat yang sangat maledine sukai di istana yang bagai sangkar emas baginya. Sebuah taman yang ada di kediaman ratu, yang selama empat tahun ini tidak memiliki tuan. Dieres ke tempat ini, ditemani William yang memang selalu bersamanya sejak Luke bertugas di luar istana.
Wajah yang ditekuk, bibir yang sedikit manyun, kini menjadi hal yang biasa William dan orang-orang Dierezz lihat setiap harinya. Tidak ada lagi senyum dan tawa yang menghiasi wajah Dierez dan semua itu membuat orang-orang yang selama ini berada di dekatnya menjadi canggung.
" Apa anda masih kesal dengan apa yang dilakukan para menteri, yang mulia?" William mengawali pembicaraan diantara mereka.
" Kau masih bertanya?" Dierez melirik William dengan sinis.
" Heh.. Aku tidak membutuhkan simpati mereka.. Dan berhentilah melihat ku dengan tatapan mata seperti itu.. Aku tidak ingin dikasihani, Will.." Dierez bangkit berdiri, menghampiri bunga-bunga yang bermekaran di depannya.
Tatapan mata yang biasanya terlihat tegas dan kejam bagai elang yang siap untuk memburu mangsanya, kini berubah menjadi tatapan mata yang teduh. Hanya saat seperti inilah, Dierez akan terlihat seperti manusia. Karena merindukan jiwanya yang telah lama pergi meninggalkan dirinya di tempat yang mirip sangkar emas.
" Lihatlah... Mereka tumbuh dengan sangat subur dan berbunga indah meski kau tidak lagi disini merawatnya." batin Dierez.
Samar-samar, ingatan tentang dirinya dan Maledine di tempat ini terlintas dalam pikirannya. Ingatan berupa kenangan yang kini mulai terlihat samar karena lama sekali, kenangan ini tidak diulang. Kenangan tentang wanita cantik yang telah menjadi dunia baginya.
" Kau sangat kejam... Apa kau tidak merindukan ku? Apa kau tidak tahu betapa aku lemah tanpa mu disisi ku?" keluh Dierez dalam hati.
Dari tempatnya berada, William menatap penuh iba pada tuannya yang telah banyak mengalami perubahan beberapa tahun belakangan ini. William adalah saksi bagaimana Dierez lahir dan tumbuh dengan limpahan kasih sayang dari mendiang raja dan ratu. Melihat Dierez yang sekarang, sama saja dengan melihat manusia yang tidak lagi memiliki harapan untuk hidup, dan tiu menyakiti hati William.
" Saya menunggu anda untuk mengatakan yang sebenarnya, yang mulia. Jujur pada diri anda sendiri dan pada orang lain.. Saya sangat menantikan hal tersebut." batin William.
Dierez menghabiskan sisa waktunya di hari ini, hanya untuk duduk di taman bunga ini menatap kosong ke arah bunga yang bermekaran itu. Diam tanpa mengucap sepatah kata pun, hingga langit yang tadinya terang, kini mulai berubah warna menjadi gelap.
William mendekat ke arah Dierez, untuk mengajaknya kembali ke kediamannya. Angin malam di musim panas, sangatlah tidak sehat untuk kondisi Dierez saat ini.
" Yang mulia.. Apa yang anda pikirkan? Langit sudah berubah warna, saatnya anda kembali, yang mulia." ucap William tepat di samping Dierez.
" Yang aku pikirkan? Menurut mu, apa yang aku pikirkan?" Dierez malah balik bertanya.
" Bagaimana saya tahu apa yang sedang anda pikirkan, yang mulia. Jika saya tahu, maka saya tidak akan bertanya." jawab William sambil tersenyum.
" Jika aku mengatakan apa yang selama ini mengganggu ku, apakah kau bisa memberikan solusi? Jika tidak, maka diam saja dan jangan mengurusi apa yang aku pikirkan." ucap Dierez sarkas.
" Tidak ada yang tahu, apakah saya bisa membantu anda atau tidak yang mulia.. Anda akan mengetahui, ketika anda mengatakannya pada saya." ucap William dengan sangat tenang dan santai.
Meski merasa sedikit terganggu dengan ucapan dari William. Namun Dierez memilih untuk mengabaikannya. Siapa yang bisa membantunya mendapatkan kembali cintanya yang hilang. Ketika dirinya bahkan sudah mencari ke seluruh penjuru kerajaan ini.