The Queen'S Love Scandal

The Queen'S Love Scandal
Terjebak



Tidak ada lagi gunanya untuk tetap tinggal, jika rasa sakit yang harus dia rasakan melebihi batasnya. Belum lagi, sesuatu yang ada di dalam dirinya kini terancam akan menjadi taruhan dari pilihan yang akan dibuatnya. Maledine akhirnya memilih pergi, karena jika dia tetap tinggal sesuai janjinya dengan putra mahkota, maka anak dalam kandungannya akan menjadi tumbal.


Rasa bersalah pada mendiang ratu terdahulu dan raja yang tetap melindunginya padahal dirinya sudah berkhianat, akhirnya memaksa Maledine untuk pergi demi kebaikan dari putra mahkota sendiri. Skandal mereka berdua bisa sampai tersebar, maka putra mahkota tidak akan bisa naik tahta. Putra mahkota akan menderita jika benar hal itu sampai terjadi.


Pergi demi bisa menjaga dan melindungi pria yang dia cintai, anggap saja sebagai balas budi atas semua kebaikan yang keluarga istana berikan padanya. Maledine pun pergi, sebelum putra mahkota kembali ke istana. Maledine, hanya membawa satu saja dayangnya, dan itu adalah dayang pribadinya bernama Clara. Meladine memutuskan meninggalkan dayang dari putra mahkota.


Di dalam sebuah kereta yang sediakan oleh putri Conrad, kini Maledine bersama dengan Clara akan pergi ke suatu tempat yang sangat jauh dari Kerajaan dimana Damocle memerintah ini. Maledine akan hidup bersama anaknya dan Clara, memulai semuanya dari awal, mengenang kisah cintanya bersama pria bernama Dierez Damocles dan mencoba berdamai dengan masa lalu.


Maledine tidak berkata apa-apa selama perjalanan dari istana dingin ke tempat yang akan dia tuju. Dia, lebih memilih melihat pemandangan dari jendela kereta kuda yang terbuka. Hari ini, adalah terakhir kalinya dia akan melihat tempat-tempat ini. Jadi sebelum dia tidak lagi bisa melihatnya, Maledine ingin sepuasnya melihat tempat-tempat ini.


AAAARRRRGGGGGHHHHHHHH


Lamunan Maledine buyar seketika saat dia terkejut kereta kudanya berguling entah karena menabrak apa. Clara keluar lebih dahulu untuk melihat situasi, dan dia dikejutkan dengan banyaknya pria berpakaian serba hitam sudah mengelilingi kereta kuda yang membawanya bersama Maledine tadi.


" Yang mulia.. Jangan keluar.. " Ucap Clara mencegah Maledine yang hendak keluar dari kereta kedua yang sudah terguling.


Clara merasa jika saat ini, dia dan tuannya telah masuk jebakan yang dibuat oleh dua wanita ular itu. Pantas saja Clara merasa ada yang aneh, karena bisa dengan mudahnya tuannya dibebaskan begitu saja. Rupanya, hukuman mereka ada di depan matanya saat ini.


" Siapa kalian dan siapa yang memerintahkan kalian? " Sentak Clara. Bohong jika dia tidak takut, tapi dia memiliki tugas untuk tetap melindungi tuannya apapun yang terjadi.


" Hahahahahahaha.. Lihat, wanita ini sok berani sekali.. Kita keroyok juga pasti dia kabur.. " Ejek seorang dari kawanan pria berbaju hitam itu. Dipercaya, pastinya pria ini adalah pemimpin mereka.


" Bos.. Kita boleh melakukan apapun pada mereka berdua sebelum membunuhnya kan? " Tanya seorang pria yang lain.


Deg


Di dalam kareta, otak Maledine langsung berpikir keras mengenai ucapan dari entah siapa yang pasti bertujuan jahat padanya. Maledine melihat sekeliling dari atas kereta kuda yang sudah lepas dari tempatnya. Mereka ada di dalam hutan, entah kapan kereta ini keluar jalur, sepertinya karena Maledine melamun dan Clara tertidur, hal ini dimanfaatkan oleh kusir kereta kuda yang ternyata juga komplotan pria-pria ini.


" Nyonya.. Saya akan mengalihkan perhatian mereka.. Anda harus lekas lari sejauh mungkin.. Seingat saya di depan ada sebuah desa.. Pergi dan minta bantuan dari sana.. " Bisik Clara yang hanya bisa didengar Maledine.


" Tidak.. Aku tidak akan meninggalkan mu.. " Maledine menolak.


" Ini adalah tuan saya untuk melayani dan melindungi anda.. Jadi biarkan saya melakukan tugas saya meski untuk yang terakhir kalinya. " Clara tetap kekeh melindungi Maledine.


Maledine menahan perutnya yang sakit karena dipaksanya untuk berlari. Andai dia harus mati di tempat ini, dia tidak ingin mati ditangan pria-pria tadi. Maledine dan Clara berlari tidak tentu arah, yang terpenting bagi mereka hanya ingin berlari dan berlari saja.


Hingga akhirnya pelarian Maledine dan Clara harus berhenti karena di depan mereka ada jurang. Maledine merasa sangat putus asa saat ini. Apakah dirinya harus melompat dan mati jatuh ke jurang. Ataukah dirinya memilih ditangkap oleh pria jahat ini dan sudah pasti bagaimana nasibnya.


Sama-sama berujung dengan kematian, tapi setidaknya dengan lompat ke jurang dia akan mati dengan terhormat. Maledine pun memutuskan untuk melompat saja. Namun belum sempat dia sampai di pinggiran jurang, seseorang telah berhasil menangkapnya.


" Emmppptttt.... Emppptt... "


************


Putra mahkota saat ini tengah berada di dalam perjalanan kembali ke istana. Semua masalah dengan Kerajaan Theme, dia paksa selesai sebelum waktunya dengan memberikan penawaran yang menguntungkan Theme agar bisa lepas dari masalah ini untuk kembali ke istana.


Niat hati memerintahkan seseorang untuk melihat keadaan kekasih harinya, putra mahkota justru mendapatkan kabar jika ayahnya meninggal dunia karena sakit. Sempat bertanya-tanya dalam hati apa yang terjadi sampai ayahnya jatuh sakit dan meninggal. Tapi ingatan putra mahkota jatuh kepada ratu dan dirinya langsung panik karena saat ini pasti ratu sangat membutuhkan dirinya di sampingnya.


Harapan dari putra mahkota hanya semoga saja ratu baik-baik saja sampai menunggu kepulangannya. William ada di sana, pastinya orang kepercayaan dari ayahnya ini akan menjaga ratu dari orang-orang yang berniat jahat pada janda ayahnya itu.


" Kita harus segera sampai, Luke.. Perasaan ku tidak enak saat ini memikirkan istana tanpa ayah.. " Ucap putra mahkota meminta Luke untuk mempercepat perjalanan.


" Besok kita akan sampai yang mulia, jika kita melewatkan istirahat nanti malam. " Ucap Luke menanggapi putra mahkota.


" Kalah begitu, perintahkan pasukan untuk tidak menginap malam ini.. Kita harus segera sampai di istana. " Luke mengangguk dan lekas memberikan perintah pada pasukan putra mahkota sesuai dengan arahan dari putra mahkota.


Dengan kecepatan berkuda di atas Rata-rata dan tanpa beristirahat, akhirnya putra mahkota dan pasukannya tiba di istana lebih awal dari perkiraan orang-orang di istana. Tidak ada sambutan atas kedatangan putra mahkota dan pasukannya, tapi bukan itu yang terpenting bagi putra mahkota saat ini. Dia harus segala mencari keberadaan ratu setelah melihat keadaan terlebih dahulu.


Kini, putra mahkota menemui perdana menteri untuk bertanya situasi dan kondisi istana pasca meninggalnya raja. Putra mahkota bertanya apa yang sebenarnya terjadi sampai ayahnya jatuh sakit dan jawaban dari perdana menteri membuatnya terkejut setengah mati.


" Ratu ketahuan telah berkhianat dengan hamil anak pria lain. Raja yang murka pun jatuh sakit karena hal itu. " Dierez membeku. Bagaimana bisa semua ketahuan disaat dirinya pergi. Tapi, tidak ada yang menuduhnya tentang hal ini. Putra mahkota sungguh dibuat bingung dengan keadaan saat ini.


" Apa yang sebenarnya terjadi di sini.. " Batinnya bertanya-tanya.