
Maledine terpaku di tempatnya, ucapan Dierez yang baru saja didengarnya itu, Maledine menolak untuk percaya. Bukankah Dierez membencinya, lalu kenapa bisa Dierez sekarang mengatakan bahwa dia mencintai Maledine. Apakah ini adalah cara yang digunakan oleh Dierez untuk menghancurkan Maledine secara perlahan.
Dierez yang melihat Maledine hanya diam saja tanpa mengatakan suatu apapun, justru merasa semakin gugup. Untuk pertama kalinya, Dierez jatuh cinta dan menyatakan perasaannya. Jadi, harapan Dierez kali ini, dia tidak akan mendapatkan penolakan. Bukankah dia bisa malu bertemu orang jika ada yang tahu dia telah ditolak oleh seorang perempuan.
Lagipula, untuk Dierez berada di posisinya sekarang, mengakui perasaan yang dia miliki pada Maledine, merupakan hal yang sangat berat. Menghadapi peperangan, jauh lebih mudah bagi Dierez dibandingkan menghadapi perasaannya sendiri untuk Maledine. Harapan Dierez, dia bisa diterima sebagai apresiasi karena telah berani mengakui perasaannya.
" Bagaimana? Apa kau mau menerima cinta ku.. Tapi, jujur saja, kau harus menerimanya karena aku tidak ingin ditolak.. " Tanya Dierez, mendesak Maledine untuk segera menjawab.
" Apa anda tahu, apa yang anda katakan? " Tanya Maledine. Bukannya menjawab, dia justru bertanya. Hal ini membuat Dierez menjadi kesal.
" Tentu saja.. Kau pikir, aku akan berada disini ketika tidak tahu apa yang aku rasakan.. Kau menghina ku ya? Kau pikir aku bodoh? " Dierez marah.
" Bu-bukan begitu, yang mulia.. Anda jelas tahu status saya, kenapa anda melakukan ini semua? " Tanya Maledine.
" Kenapa dengan status mu? Kau sudah mencintai ayah ku? " Raut wajah Dierez berubah menjadi dingin dan tersirat ada kemarahan dari ucapannya barusan.
Maledine meneguk ludahnya kasar melihat perubahan sikap dari putra mahkota. Tanpa siapapun ketahui, Maledine sudah memiliki tambatan hati sejak dulu kala. Hanya saja, Maledine tidak berani berangan atas apa yang dia rasakan karena itu hanya akan membuat dirinya terlihat hina. Bagaimana mungkin, remahan memimpikan bersama dengan matahari yang selalu bersinar itu.
Ingin Maledine menjawab tidak, atas pertanyaan dari putra mahkota mengenai perasaannya pada Raja. Akan tetapi, statusnya saat ini, ungkapan perasaan Dierez juga, justru membuatnya harus mengatakan iya, meski sebenarnya tidak.Bagaimana mungkin Maledine mencintai pria yang sepatutnya menjadi ayah, daripada suami.
" Apa maksud anda bertanya seperti itu? Mohon maafkan saya, yang mulia.. Saya anggap, anda sedang dalam kondisi tidak sadar ketika mengatakan ini semua.. Maka dari itu, saya akan menganggap, tidak pernah mendengar ini semua dari anda.. Mohon maafkan saya, permisi.. " Maledine langsung berjalan cepat tanpa sekalipun berbalik. Secepatnya dia harus pergi dari sana, sebelum hatinya goyah atas ungkapan cinta dari putra mahkota.
Kepergian Maledine membuat Dierez merasa kesal. Dierez tahu, pasti Maledine juga menyukainya. Siapa yang bisa menolak pesonanya, karena siapapun wanita akan melemparkan diri mereka padanya tanpa dia minta sekalipun. Alasan Maledine berkata seperti itu, pasti karena statusnya sebagai istri sang ayah, atau bisa dikatakan dia adalah ibu tirinya.
Meski mendapatkan penolakan tidak langsung dari Maledine, tapi Dierez sama sekali tidak ingin menyerah atas perasaannya ini. Dierez, akan berjuang untuk mendapatkan Maledine, meski dia harus menjadi musuh ayahnya sendiri. Menurut Dierez, Maledine hanya pantas menjadi ratunya, bukan ratu ayahnya yang sudah tua itu.
Dierez, sekarang sudah bertekad. Dia tidak akan pernah menjilat ucapannya sendiri, dia tidak akan menyerah mendapatkan cinta dari Maledine. Meski dunia akan menjadi musuhnya, Dierez tidak akan pernah mundur.
" Lihat saja nanti.. Jangan sebut aku Dierez Damocles, kalau tidak bisa mendapatkan hari mu, Maledine.. " Dierez tersenyum miring. Dia sudah memiliki rencana untuk membuat cintanya menjadi kenyataan.
Untuk beberapa saat ke depan, jelas Maledine akan membutuhkan Dierez, entah itu dia suka atau tidak. Dierez tidak melewatkan begitu saja kesempatannya untuk bisa menunjukan cintanya pada Maledine. Raja juga semakin mempermudah kesempatan Dierez bisa bersama dengan Maledine, karena setiap Maledine di sentuh oleh orang lain selain dirinya, Maledine akan langsung ketakutan. Dierez entah sadar atau tidak, bersyukur atas penculikab Maledine, karena itu membuatnya banyak mendapatkan keuntungan dari sana.
Seperti saat ini, Dierez kembali diminta datang ke kamar Maledine oleh sang ayah, karena Maledine kembali histeris saat raja hendak meminta haknya sebagai suami. Mengetahui tujuan ayahnya datang ke kamar Maledine, sebenarnya Dierez begitu marah. Namun, untuk tetap mendapatkan apa yang dia inginkan, Dierez harus bermain cantik. Dan untuk itu, dirinya memiliki ide yang bagus.
" Apa ayah binatang? Kenapa tidak bisa menahan nafsu sampai membuat istri sendiri seperti ini? " Sindir Dierez.
" Jaga bicara mu, Dierez.. Apa maksud mu berucap seperti itu? " Sentak raja yang tidak Terima diolok seperti itu oleh sang putra.
" Biarkan dia sembuh.. Dengan begitu tidak perlu lagi kita semua mengalami ini.. Jika memang tidak baik ditahan, ayah masih memiliki satu selir.. Jika ayah pintar, seharusnya ayah mencari perhatian dan dukungan dari perdana menteri, dengan begitu, kejadian yang terjadi pada Maledine, tidak akan dia alami lagi... " Ucap Dierez penuh penekanan.
Namun dalam batinnya, sebenarnya Dierez sendiri tidak yakin akan ucapannya ini. Karena dia hanya menebak dan mencoba memanfaatkan situasi. Dengan begini, raja tidak akan pernah menyentuh, Maledine,, selamanya.
" Maksud mu? " Raja terlihat terkejut.
" Menurut ayah siapa lagi yang tidak suka pada Maledine? Aku memang tidak menyukainya, tapi aku akan memakai cara bersih, bukan cara kotor seperti menculiknya dan menyakitinya.. Jadi.. Sekarang ini, lebih baik ayah perlakukan selir ayah itu dengan baik.. " Ujar Dierez memberi saran.
Hasil tidak pernah mengecewakan usaha. Selama beberapa hari Maledine menghindarinya, namun kesempatan Dierez untuk bertemu dengannya justru semakin banyak karena ulah raja. Namun ketakutan Dierez jika raja menyentuh Maledine, membuatnya harus menjauhkan sang ayah dari wanita yang dicintainya. Beruntung, sang ayah bisa dimanipulasi dan sekarang tengah pergi meninggalkan kediaman ratu, untuk pergi ke tempat selir.
" Percuma menghindar, karena akan selalu ada kesempatan bagi ku, untuk menemui mu.. " Ucap Dierez tepat di telinga Maledine karena sekarang ini dia tengah memeluk Maledine untuk menenangkannya.
" Pergilah... Jangan pernah temui saya lagi.. Perasaan anda tidak boleh ada yang mulia.. Dan saya tidak memiliki perasaan apapun pada anda.. " Ucap Maledine setelah dirinya berhasil menguasai ketakutan nya.
" Jangan habis manis sepah di buang, ratu ku.. Inilah balasan dari mu karena aku baru saja menenangkan mu? " Dierez tidak menyerah.
Dengan sedikit kasar Maledine mendorong Dierez. Maledine langsung membalikan badannya memunggungi Dierez. Dia merasa harus segera memperjelas semuanya sebelum Dierez berlaku nekat. Jadi malam ini, Maledine memutuskan untuk menolah Dierez.
" Saya tidak menyukai Anda.. Saya sudah berjanji pada mendiang ratu, mendiang ibu Anda, untuk mencintai suaminya dan merawatnya. Dan saya akan menepati janji saya itu.. Jadi sekarang, saya minta Anda tinggalkan kamar saya.. " Ucap Maledine mantap. Namun tanpa Dierez sadari, Maledine tengah menangis ketika hatinya justru mengatakan yang sebaliknya.