The Queen'S Love Scandal

The Queen'S Love Scandal
Tidak bisa menjawab



Raja duduk termenung di singgasananya, memikirkan pemandangan yang dia lihat di waktu tadi saat dirinya mengantarkan sang putra untuk menjalankan misi. Kini di depan raja, ada beberapa orang yang penampilannya sudah tidak berbentuk lagi lantaran baru saja mendapatkan siksaan. Melihat kejadian tadi dan sekarang ada orang-orang yang berlutut di depannya, raja hanya bisa terdiam tanpa tahu apa yang harus dia lakukan.


" Sekarang katakan yang sebenarnya.. Siapa yang memerintahkan kalian untuk berada di kediaman ratu?? " Jendral Alex mengintrogasi tiga pria yang merupakan penjaga keamanan. Dan setahu raja, ketiga orang ini adalah orang dari putranya.


" Masih diam.. Apa perlu jika sekalian aku potong lidah kalian agar kalian tidak usah bicara selamanya??!! " Sentak jendral Alex.


" Hentikan yang mulia.. Kenapa Anda melakukan ini semua? Cukup dengan membawa wanita murahan itu dan hukum dia.. Dengan begitu semua masalah beres.. " Selir Oclariana tiba-tiba saja datang dan langsung melayangkan protes.


" Jaga bicara Anda yang mulia selir Oclariana.. Siapa disini yang ada sebut sebagai wanita murahan? " Willian langsung menegur selir sebelum raja sendiri yang menegur.


" Jelas saja wanita yang kalian semua sebut sebagai ratu itu.. Bagaimana tidak bisa disebut murahan jika dia saja menjalin kisah cinta dengan putra tirinya sendiri.. " Selir berbicara dengan nada sinis.


Di singgasananya raja mengepalkan kedua tangannya erat. Dia, sudah mengetahui semuanya, tentang hubungan terlarang yang dilakukan oleh putra dan istrinya. Dan hatinya sakit sekali karena itu. Raja menunda menghukum ratu atas kesalahannya karena memikirkan kandungan ratu saat ini. Tapi, kini raja juga mulai ragu, Jangan-jangan janin yang dikandung ratu bukanlah anaknya.


Tidak ingin banyak berspekulasi dan justru menimbulkan kesalahpahaman lebih banyak lagi, akhirnya raja pun memberanikan dirinya untuk menemui ratu di kediamannya. Hari ini juga, semuanya harus jelas dan tidak ada lagi orang yang menipu dan ditipu.


Di kediamannya, ratu menyambut kedatangan raja dengan sangat sopan seperti biasanya. Kedatangan raja kali ini memang sedikit tidak biasa bagi ratu. Akan tetapi, ratu tetap menyambut raja dengan baik karena seperti itulah tugasnya sebagai seorang ratu.


Raja sama sekali tidak nampak mencurigakan dan masih bersikap biasa. Meski sebenarnya raja begitu ingin mempertanyakan mengenai hubungan ratu dan putra mahkota serta anak dalam kandungan nya itu, siapa ayah kandungnya. Tapi, raja masih menahannya, karena melihat ratu sama sekali tidak memberikan kesan buruk ketika raja datang berkunjung.


" Ratu ku.. Bagaimana kondisi mu dan kandungan mu? Tidak ada yang bermasalah kan?" tanya raja basa basi.


" Semuanya dalam kondisi yang baik yang mulia.. Terima kasih atas perhatian anda.." Maledine menunduk hormat pada raja.


" Syukurlah jika memang semuanya baik-baik saja.. pakah ada keinginan khusus ratu yang mungkin belum terpenuhi?" alis Maledine menukik karena merasa jika raja kali ini sedikit aneh.


Namun, belum juga Maledine menjawab pertanyaan dari raja, tiba-tiba saja dia merasa sangat mual hingga Maledine pun bergegas berlari ke kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutnya di dalam sana.


Raja banyak bertanya tentang perilaku ibu hamil dan juga mengenai suasana hatinya termasuk raja juga menanyakan tentang ratu yang selalu mual ketika dekat dengannya. Akan tetapi, akan sangat berbeda ketika putra mahkota yang bersama dengan ratu. Sama sekali tidak ada keanehan dan cenderung baik-baik saja.


Jawaban dari tabib atau dokter yang merawat ratu selama masa kehamilan, kemudian dijadikan patokan oleh raja untuk sekarang menemui ratu.


* Biasanya, ibu hamil akan sangat lengket dengan ayah dari janin yang dikandungnya atau dengan kata lain adalah suami dari ibu hamil itu sendiri. Hal ini disebabkan bawaan dari janin yang dikandungnya, yang mana janin ini ingin sekali dekat dengan ayahnya *


" Rupanya benar.. Bukan aku ayah dari janin itu.." gumam raja sedih.


Raut wajahnya yang tadinya masih terlihat penuh dengan kasih sayang dan cinta, kini berubah menampakan ekspresi marah dan kecewa. Tapi lebih banyak rasa kecewa yang raja rasakan dibandingkan marah atau benci. Jika benar janin yang dikandung ratu adaah anak dari putra mahkota, bukankah itu berarti adalah cucunya. Lalu haruskan raja membenci dan marah. Kejadian ini lebih tepat jika dikatakan sebagai berkah yang membawa musibah.


" Maafkan saya yang mulia.. Tiba-tiba saja saya merasa mual.." Maledine menunduk hormat. Dalam dirinya sama sekali tidak merasa jika di depannya ini adalah masalah yang akan membuatnya kehilangan seseorang yang dia cintai.


" Ratu.. Tolong berkemaslah.. Karena mulai hari ini, anda akan tinggal di istana dingin sampai waktu yang tidak bisa ditentukan.." ucap raja kemudian langsung meninggalkan ratu begitu saja yang masih dalam kondisi shock.


Ketika raja bahkan sudah sampai bagian luar kediaman ratu, barulah Maledine tersadar dari keterkejutannya. Dia pun langsung berlari mengejar raja untuk bertanya apakah benar ucapan raja tadi dan mengapa.


Maledine mengetahui adanya istana dingin itu untuk apa. Istana dingin merupakan penjara bagi wanita yang tinggal di harem. Sebuah tempat tinggal yang sangat dingin dan jauh dari istana. Dan hanya mereka yang dianggap memiliki kesalahanlah yang harus tinggal di istana dingin.Lalu untuk Maledine, kesalahan apa yang sudah dia lakukan. Apakah?


Dalam hati yang diliputi ketakutan, Maledine memberanikan diri untuk menghadang raja. Dia harus menanyakan apa kesalahannya dan jika memang tebakannya benar, maka Maledine hanya berharap jika dia tidak akan ikut dihukum dan biarlah dia yang menanggung semuanya sendiri.


" Yang mulia.. Mohon ampuni saya atas kelancangan saya ini..Tapi, kenapa anda memerintahkan saya untuk pergi ke istana dingin?" tanya Maledine takut-takut.


" Apa kau bisa mengatakan, siapa ayah dari janin yang kau kandung? Jika bisa ,maka aku tidak akan memerintahkan kau untuk tinggal di istana dingin.." tubuh Maledine membeku. Tidak tahu apa yang harus dia katakan. Pertanyaan dari raja ini seolah mengatakan jika sebenarnya raja tahu bahwa janin dalam kandungan ratu bukanlah anaknya. Jadi, Maledine lebih memilih untuk diam.


" bahkan sampai akhir pun kau masih melindunginya.. Sebesar itu cinta mu padanya.." batin raja kecewa.