The Queen'S Love Scandal

The Queen'S Love Scandal
Kalah taruhan



Raja Dierez duduk di sebuah taman yang selalu menjadi tempat yang akan dia tuju saat dirinya berada dalam mood yang buruk. Entah apa yang terjadi di luar sana, hanya saja raja Dierez merasakan jika sesuatu telah terjadi dan dia tidak bisa memprediksi apa kira-kira yang bisa terjadi di luar sana.


Jantungnya berdebar sejak pagi tadi dan hingga kini rasanya masih tetap sama. Dalam pikirannya, dia berpikir mungkinkah jika dirinya kini tengah mengidap penyakit yang sangat parah hingga jantungnya berdetak tidak wajar seperti saat ini. Kepala raja Dierez rasanya ingin meledak karena ketidakmampuannya dalam menafsirkan apa yang dia rasakan saat ini.


" Yang mulia.. Apa anda baik-baik saja? " William bertanya. Kebetulan dia diajak oleh Raja Dierez untuk menemaninya bersantai di taman yang dulunya adalah taman yang ratu rawat.


" Memangnya kenapa? Aku baik-baik saja. " Jawab Dierez acuh.


" Saya lihat anda terus saja menghela nafas dan juga terlihat gelisah. " William mengatakan apa yang dia lihat.


" Entahlah.. Aku tidak tahu mengapa, tapi perasaan ku tidak enak saat ini. " Ujar raja Dierez masih terlibat acuh dengan topik pembicaraan ini.


Semua fokus yang raja Dierez miliki hanya untuk menatap bunga yang merupakan bunga kesayangan ratu. Bunga mawar dengan berbagai warna, adalah bunga yang paling disukai ratu dan dia rawat sendiri dengan kedua tangannya. Raja Dierez menatap bunga itu dengan tatapan penuh kerinduan dan tersirat kesedihan yang mendalam juga.


Diam-diam penasehat kerajaan memperhatikan setiap gerak gerik yang dilakukan raja Dierez. Penasehat kerajaan sepertinya tengah menilai raja Dierez dari sudut pandangnya. Penasehat begitu penasaran, sedalam apa perasaan dari raja pada ratu hingga mengosongkan posisi ratu padahal sudah lima tahun lamanya raja naik tahta.


Tidak sedikit protes yang dilayangkan padanya mengenai kosongnya posisi ratu. Baik itu rakyat, para bangsawan, pelajar, menteri bahkan prajurit pun melayangkan protes. Hanya saja, raja Dierez tidak pernah menanggapi protes itu. Satu kalimat yang selalu dia ucapkan tiap kali protes dilayangkan.


" Aku sudah memiliki ratu, hanya saja dia belum ingin kembali ke posisinya. Jadi jangan bahas lagi atau aku akan menghukum kalian semua. "


Seperti itulah kata-kata yang keluar dari mulut raja Dierez. Dan kata-kata ini tidak pernah berubah selama lima tahun ini. Dia mengatakan dirinya masih menunggu ratu nya kembali ke posisinya. Namun tidak pernah menyebutkan siapa yang dia maksud.


Semua orang awalnya masih sering bertanya mengenai posisi ratu apalagi mereka yang memiliki seorang putri. Namun seiring berjalannya waktu, semua orang menjadi jenuh sendiri menawarkan putri mereka untuk menduduki posisi ratu. Raja Dierez benar-benar tidak mempedulikan semua itu.


" Saya lihat dan perhatikan, sejak meninggalnya yang mulia Delroy, anda selalu mengunjungi tempat ini. Apakah ada alasan khusus sampai anda rutin mengunjungi tempat ini yang mulia? " Tanya penasehat raja memancing.


" Kau bertanya? Apa kau tidak mendengar berita yang menggemparkan istana sebelum ayah meninggal? " Raja Dierez justru melempar pertanyaan pada penasehat kerajaan, alih-alih menjawab pertanyaan dari penasehat nya itu.


" Heh.. Apakah ucapan mu ini benar? Tidak mempercayai hal itu, lalu apa alasannya? Bisa saja semua itu memang benar adanya. " Raja Dierez tersenyum miring.


" Anda tidak mungkin melakukan itu yang mulia. Karena beliau adalah ibu tiri anda. " Sepertinya penasehat kerajaan sedang mencoba memancing singa yang tengah tertidur.


Singa yang tertidur, memang mungkin itu adalah kata yang pantas menggambarkan raja Dierez ketika dirinya tidak sedang dalam kondisi emosi. Tapi bisa dilihat sekarang jika sepertinya singa itu mulai terbangun karena dua kata yang paling dia benci di dunia ini. ' Ibu tiri ' , raja Dierez sangat membenci hal itu. Dia tidak mengakui wanita manapun sebagai ibu karena ibunya hanyalah mendiang ratu terdahulu.


Raja Dierez saat ini tengah berjalan mendekat ke arah penasehat kerajaan. Tatapan matanya seperti hendak mencabik siapa saja yang menghalanginya. Raja Dierez benar-benar murka saat kata-kata keramat itu terucap dari mulut penasehat kerajaan.


" William dengarkan aku.. Pasang kedua telinga mu baik-baik, dan dengarkan apa yang akan terusan dari bibir ku. " Ucap raja Dierez penuh penekanan di setiap katanya.


" Jangan pernah sebut dua kata itu jika kau tidak bisa menanggung murkanya seorang Dierez Damocles. Camkan itu baik-baik. " Raja Dierez memperingati.


" Satu lagi.. Berita itu memang benar adanya, ratu adalah wanita ku dan anak dalam kandungannya berasal dari benih ku. Tidak peduli apa yang dikatakan orang-orang, dia lah ratu ku. " Setelah mengatakan semua itu, raja Dierez pun pergi dari taman dengan rasa marah di dalam dirinya.


Ingin rasanya raja Dierez menghajar seseorang tidak peduli orang itu bersalah atau tidak. Emosinya harus dilampiaskan atau dia akan mengalami sakit kepala yang tidak tertahankan. Karena itu raja Dierez berjalan menuju ke penjara bawah tanah untuk menemui orang-orang yang tertangkap karena masalah krisis pangan di wilayah kekuasaannya itu.


Satu-satunya cara yang tepar melampiaskan semua amarahnya adalah dengan memberi hukuman orang-orang yang telah membuat kalau wilayahnya. Ini juga sebagai pembelajaran untuk yang lainnya, agar tidak mencari masalah selama dirinya masih menjadi seorang raja di kerajaan ini.


******************


" Saya tidak pernah menyangka bahwa ketika saya bertanya secara langsung, beliau akan langsung mengakuinya. " Seorang pria tengah berdiri menatap sebuah lukisan besar, sambil berbicara. Sepertinya pria ini tengah mengajak bicara sosok di dalam lukisan itu.


" Sepertinya saya kalah taruhan dengan anda. Padahal saya merasa benar-benar telah memahami sifat beliau sejak beliau masih kecil. Nyatanya waktu merubah segalanya. " Pria itu terkekeh.


" Karena saya telah kalah dalam taruhan ini. Maka saya akan melakukan sesuai dengan apa yang anda inginkan. Sudah saatnya mengembalikan semua ke posisi semula. Semoga tidak terlalu lama waktu mengalahkan perasaan itu sendiri. " Pria itu tersenyum, kemudian melangkah pergi meninggalkan lukisan besar dari seorang pria yang juga tengah tersenyum dan memakai pakaian berwarna merah.