The Queen'S Love Scandal

The Queen'S Love Scandal
Penculikan



Rombongan putra mahkota dan ratu akhirnya sampai di istana. Raja dengan beberapa menterinya menyambut kepulangan ratu dan putranya dengan wajah penuh kegembiraan dan rasa bangga pada kedua orang yang merupakan keluarganya itu. Raja senang karena kedua orang ini telah berhasil menjalankan misi mereka untuk mengungkapan misteri tentang kematian hewan ternak di desa itu dan juga memberikan penyelesaian yang terbaik untuk masalah ini.


Penyelesaian yang dimaksud adalah menguras sumur tua dan juga menimbunnya dengan tanah. Dengan begitu air di sungai yang berada di sekitar sumur tua itu tidak lagi terkontaminasi air dari sumur tua yang sudah buruk itu. Meski pengerjaan untuk menimbun sumur tua itu belum selesai ketika rombongan putra mahkota dan ratu kembali ke istana. Tapi putra mahkota sudah memerintahkan beberapa anak buahnya untuk tinggal dan mengawasi di sana.


" Selamat datang... Selamat datang kembali ke rumah.." sambut raja merentang kedua tangannya menyambut anak dan ratunya.


" Kami pulang ayah.." ucap Dierez sambil menghindari pelukan dari ayahnya. Tidak disangka, Maledine juga melakukan hal yang sama. Jadilah kedua tangan raja direntangkan tanpa ada yang menyambutnya.


" Hahahaha... Aku dengar ratu ku sempat sakit di sana, perlukah jika aku memanggil tabib untuk memeriksa mu?" raja menawarkan pengobatan ulang untuk Maledine.


" Saya rasa tidak perlu yang mulia.. Saya sudah baik-baik saja sekarang. Dan itu semua berkat putra mahkota yang mengawasi perawatan saya.." ucap Maledine menolak secara halus penawaran dari suaminya.


" Kalau begitu, aku ucapkan terima kasih Dierez, telah merawat ratu ku.." raja menepuk pelan pundak Dierez sebagai ucapan terima kasih.


Raja tidak tahu saja jika Dierez merasa tidak nyaman dengan hal itu. Apalagi ketika ayahnya mengatakan ' ratu ku ' dengan penekanan seolah ingin mengatakan jika Maledine adalah miliknya. Maledine sendiri merasa sangat malu dengan sikap dari raja karena semakin raja menyayanginya secara berlebihan seperti saat ini. Semakin banyak orang yang membenci Maledine, dan tentunya gadis ini tidak menginginkan hal itu.


" Ayah.. Biarkan ratu beristirahat.. Dia baru saja sakit dan ayah sudah menahannya disini.. " ucap Dierez mengganggu kemesraan yang ditunjukan oleh ayahnya ini. Entah kenapa ada sedikit rasa perih di hati Dierez karena melihat ayahnya dan Maledine seperti itu.


" Oh ya.. Benar-benar.. Ratu ku, silahkan beristirahat ya.. Kau pasti lelah.. Pelayan, antar ratu ke kediamannya. Pastikan ratu beristirahat dengan tenang.. " titah raja.


" Baik yang mulia.. " pelayan pribadi Maledine pun langsung mengantar tuannya kembali menuju kediamannya.


Dierez dalam dalam diamnya merasa lega ketika melihat Maledine sudah meninggalkan tempatnya berada baru saja. Tidak hanya Dierez, semua orang di tempat itu, para menteri pun menghela nafas karena adegan tidak patut mereka lihat itu berhasil dihalau oleh putra mahkota. Sekali lagi mereka harus berterima kasih karena putra mahkota kembali menjadi penyelamat mereka.


" Putra ku.. Ada yang ingin ayah bicarakan.. Bisa ikut ayah sebentar? " ujar Raja yang lebih pada perintah daripada permintaan.


" Tentu ayah.. " Dierez pun mengekor ayahnya pergi ke ruangan yang lebih privasi karena hanya ada mereka berdua disana.


Para dayang menghidangkan beberapa makanan kecil dan minuman untuk menemani perbincangan ayah dan anak ini. Sudah lama sekali mereka tidak duduk bersama berbincang seperti ini, sepertinya sejak Dierez diurus ke perbatasan untuk menyelesaikan konflik di sana. Terbilang sudah hampir empat tahun lamanya.


Pada awalnya, mereka membicarakan beberapa hal tentang masalah yang terjadi di desa perbatasan ibukota itu. Namun semakin ke sini, yang dibahas raja bukan lagi mengenai masalah itu atau masalah kenegaraan. Raja justru menanyakan tentang tantangan yang dia berikan pada Dierez mengenai masalah Maledine yang menjadi ratu.


" Huft.... " Dierez menghela nafas malas. Pembicaraan ini yang sejak tadi Dierez hindari karena entah sejak kapan jika dia mendengar ayahnya membicarakan tentang Maledine, dia akan merasa tidak nyaman di dadanya. Entah apa itu.


" Belum.. Menurut ku mentalnya sebagai ratu tidak ada.. Wibawa juga tidak ada, baru digertak penduduk saja sudah sakit.. Payah sekali dia.. " cibir Dierez.


" Itu bukan syarat menjadi seorang ratu, putra ku.. Yang kau bicarakan itu hanya cara memandang mu padanya.. Seorang ratu juga tidak mungkin turun tangan langsung memaki rakyatnya kan.. " ujar Kaisar membela Maledine.


" Bela saja terus istri baru anda itu.. " sarkas Dierez.


" Kau seperti sangat membenci dirinya.. Awas saja kalau nantinya justru kau jatuh cinta dengannya.. " raja meledek putranya itu.


" Ayah berharap kau yang suatu saat nanti akan melindunginya.. Dia hanya wanita malang yang terpaksa menjalani ini semua karena permintaan mendiang ibu mu.. Jadi ayah harap kau jangan membencinya, dia tidak punya siapa-siapa di istana ini selain kita.. "


" Ayah mencintainya? Seperti perasaan ayah pada ibu? "


" Mungkin.. Karena ayah sendiri belum mengetahui secara pasti bagaimana perasaan ayah padanya. Entah sebagai pria terhadap wanita, atau sebagai ayah pada putrinya.. "


Setelah pembicaraan dari hati ke hati antara ayah dan anak itu selesai. Dierez segera pergi dari tempat itu menuju ke kediamannya sendiri yang memang tidak jadi satu dengan kediaman Raja. Dierez memiliki tempat sendiri di dekat kediaman Ratu. Dierez sangat lelah dan lekas ingin membaringkan tubuhnya di ranjang nya yang empuk.


Di tempat lain, di jalan menuju ke kediaman ratu. Terlihat beberapa orang dengan pakaian serba hitam menghadang langkah ratu dan para dayangnya. Tidak ada penjaga sama sekali di tempat itu, adanya keberadaan penjaga sangat jauh karena penjaga tidak diizinkan berada di kawasan kediaman ratu, oleh raja. Sungguh sangat disayangkan aturan itu belum dirubah oleh Raja padahal ratu sudah digantikan oleh Maledine.


" Apa mau kalian? " dayang dari Maledine maju.


" Jangan halangi kami jika kalian tidak ingin mati.. Yang kami inginkan hanya wanita yang kalian sebut Ratu itu.. "


Deg..


Jantung Maledine berdetak sangat kencang saat mengetahui ternyata dialah target dari orang-orang yang sepertinya merupakan kelompok orang jahat yang diutus seseorang yang tidak menyukai Maledine. Dan itu sudah pasti ada satu orang atau bahkan semua para bangsawan dan menteri yang mungkin saja terlibat dengan kejadian ini.


" Jangan berani maju atau kami akan teriak.. " ujar pelayan pribadi Maledine.


" Hahahahahaha.. Wanita memang hanya bisa berteriak saja dalam situasi begini.. Lalu apa kalian pikir kami akan takut..? "


Kemudian entah bagaimana ceritanya secara cepat sekali para pria berpakaian serba hitam itu sudah melumpuhkan dayang dan pelayan Maledine. Menyisakan hanya Maledine seorang yang masih dalam kondisi sadar.


" Apa mau kalian? " tanya Maledine terus memundurkan tubuhnya sekaligus mencari kesempatan untuk lari.


" Kami ingin kau ikut bersama kami dan bersenang-senang.. Mari yang mulia ratu, anda harus ikut kami.. "


" AAAARRRGGHHH TOLONG.... TOLONG.. TOLONG... " Maledine berteriak sambil berlari berusaha menyelamatkan diri.


Maledine melihat ada Dierez di ujung lorong dimana dia berlari saat ini. Memang sangat jauh, tapi jika Maledine berteriak pastilah Dierez mendengar suaranya.


" DIEREZ TOLONG.. TOLONG AKU, DIEREZ..


EEEMMMPPTTTTT... " mulut Maledine langsung dibekap oleh pria bertopeng hitam itu. Tepat sebelum Dierez menolah karena dia mendengar suara seseorang memanggil namanya.


" Siapa yang memanggil ku ya? "