
Disebut sebagai istana dingin, bukan karena tempatnya yang sangat dingin. Melainkan suasananya yang sangat dingin, suasana disini yang dimaksud adalah mengenai hidup di dalam kesendirian tanpa saudara, tanpa orang tercinta, dan tidak bisa melihat dunia. Suasana dingin karena terasa tidak ada kehidupan ketika seseorang tinggal di tempat seperti ini. Harapan, mimpi, tujuan hidup, dan kebahagiaan, semuanya mati karena dinginnya tempat ini.
Pertama kali menapakan kakinya di tempat yang disebut sebagai istana dingin ini, ratu merasa sangat kesepian. Saking sepinya, tubuhnya sampai bergetar seperti orang kedinginan. Air matanya luruh tanpa permisi, merasa bahwa hatinya sangat saking karena dibuang kemari.
Ratu bisa saja memberi kabar tentang dirinya pada putra mahkota. tapi, hal semacam itu hanya akan membuat skandal mereka diketahui banyak orang dan putra mahkota tidak bisa naik tahta seperti keinginannya yang ingin memajukan kerajaan antah berantah ini. Ratu tidak ingin jika pria yang dia cintai kehilangan tujuan hidupnya hanya karena dirinya yang lemah hingga tidak bisa melindungi dirinya sendiri.
" Disini kamar mu.. Jangan mengharapkan sesuatu yang spesial disini karena itu tidak mungkin. Orang tidak tahu diri seperti mu, memang pantas hidup ditempat seperti ini.." seorang pelayan kelihatan sangat buruk sekali dalam memperlakukan ratu.
" Hei.. Berani-beraninya kau bersikap tidak sopan pada yang mulia ratu.." hardik dayang ratu.
" Ratu??? Hahahahahaha... Sepertinya kau masih bermimpi menjadi wanita kesayangan yang mulia mulia raja.. Bangun.. Ayo bangun dan sadarlah, jika sebentar lagi gelar mu akan diubah menjadi ' Mantan Ratu '. Hahahahahaha.." ejek dayang yang menjadi pengurus di istana dingin ini.
" Kau... Mulut mu memang.."
" Sudah.. jangan memancing keributan.. Aku tidak apa." ratu lekas melerai pertengkaran ini agar tidak semakin merembet kemana-mana.
" Lihat.. Tuan mu saja tahu diri, kenapa kau yang pelayannya justru tidak tahu malu.." dayang itu pergi sambil melirik sinis dayang yang ratu bawa untuk menemaninya di istana dingin ini.
" Dasar tidak tahu diri.. Memangnya siapa dirinya? Tunggu aku keluar dari sini maka aku akan membuat perhitungan darinya.." dayang ratu yang merupakan perantara tuannya itu terlihat sangat marah.
" Sudah.. lebih baik kita merapikan tempat ini.." ratu masih berusaha menyikapi semua ini dengan ikhlas. Menurutnya untuk sekarang ini dia melakukan apapun akan dianggap tetap salah, karena dia memang bersalah. Jadi daripada bersikap dnegan sombong, lebih baik bersikap untuk tahu diri.
Dimulai dengan membersihkan kamar, kemudian ratu dan dua dayangnya membersihkan area luar kamar yang masih ada di dalam istana dingin ini. Setelah selesai dengan semua ini, mereka akan merapikan halaman yang sudah ditumbuh ilalang yang sangat tinggi. Takutnya jika di antara ilalang itu ada sarang ular atau hewan berbahaya lainnya.
Hanya bertiga mereka membersihkan tempat yang disebut sebagai istana dingin itu. Para pelayan dan dayang yang bertugas di tempat ini sama sekali tidak mau membantu dan hanya menyaksikan saja dari jauh sambil sesekali mengolok ratu dan kedua dayangnya. Jika tidak ingin sedang apa mereka di tempat ini, kedua dayang ratu ini pasti akan dengan senang hati memberi pelajaran pada orang-orang itu.
" Aku tidak apa.. Untuk ibu hamil, memang dibutuhkan banyak bergerak agar darah tetap mengalir dengan lancar." ratu menolak.
" Tapi anda sudah sejak tadi belum istirahat sama sekali.. Anda juga belum makan.. Sebenarnya apa saja kerjaan dari pelayan dan dayang disini?" heran dayang ratu.
" Ngomong-ngomong soal makanan, salah satu dari kalian bisa melihat ke bagian dapur.. Karena membicarakan tentang makan, aku jadi merasa lapar.." ujar ratu terkekeh dengan tingkah konyolnya ini. Perutnya bahkan tidak sungkan untuk mengeluarkan bunyi.
" Biar saya saja yang ke dapur.. Yang mulia istirahat dulu saja." ratu pun mengangguk.
Lama ditunggu, dayang ratu yang pergi ke dapur tidak kunjung kembali juga. Ratu pun merasa cemas hingga akhirnya dia bersama dengan dayang yang satunya lagi menyusul pergi ke dapur untuk melihat apa gerangan yang membuat teman mereka lama sekali di dapur.
Mata ratu membola, ketika melihat dayangnya tangah memasak dangan tampilan yang acak-acakan. Tanpa banyak berkata, ratu langsung menghampiri dayangnya itu dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi sampai penampilan dayang ini lebih mirip pengemis dijalan dibandingkan sebagai dayang di istana.
" Mereka tidak mau memasak untu kita semua. Bahkan mereka meminta saya memasak dangan bahan yang sudah mereka sortir terlebih dahulu. Kita hanya mendapatkan sisa sayuran dan daging yang sama sekali tidak sehat untuk dimakan oleh kita. Apalagi untuk yang mulia yang tengah mengandung. Saat saya memprotes mereka, saya justru dipukuli oleh mereka.." dayang ratu ini menunduk sedih.
" Maafkan aku.. Kalian terseret ke tempat ini karena kesalahan ku.. Aku akan mengirim surat pada yang mulia raja agar kalian bisa kembali ke istana." ucap ratu merasa tidak enak hati pada kedua dayangnya yang jadi hidup menderita karena dirinya.
" Jangan yang mulia.. Jika nada sendirian disini bersama para penyamun itu, kami lebih tidak bisa tenang.. Kam ikhlas ikut dengan anda, bahkan jika anda mengajak kami ke neraka sekalipun, maka tanpa berpikir dua kali, kami akan langsung ikut." ratu merasa sedih dan terharu disaat yang bersamaan. Dalam hatinya, ratu berpikir kapan semua ini akan berakhir. Apakah dia sanggup bertahan di tempat ini sedangkan semua penghuni istana dingin ini membencinya dan merendahkannya.
" Dierez... Aku merindukan mu.. Aku sungguh ingin kau berada disisi ku saat ini.." batin ratu..
Degh..