
Aeolus termenung di ruang kerjanya, memikirkan apa yang dia dengar tadi saat dirinya menghampiri kakak tirinya. Apa yang Aeolus dengar tadi, sangat membuatnya terkejut. Pasalnya, sebelum ayahnya meninggal dunia, di istana tengah diributkan sebuah peristiwa yang cukup menghebohkan dimana ratu dikabarkan berselingkuh dengan pria lain hingga hamil.
Banyak prasangka yang terlintas di dalam benaknya, salah satunya, dan yang paling dia harapkan tidak benar terjadi adalah kakak tirinya lah yang menjadi selingkuhan ratu. Jika benar, apakah dia harus membenci kakaknya karena dari peristiwa ini, ayahnya meninggal dunia. Tapi Aeolus sama sekali tidak dekat dengan sang ayah.
Kepala Aeolus menjadi pusing, dan dia membutuhkan obatnya untuk menghilangkan sakit kepalanya. Saat dirinya tengah meminum obatnya, tanpa sengaja sang istri melihat itu semua. Istri Aeolus, putri Eugene terkejut melihat suaminya meminum obat yang sudah lama tidak dia minum lagi.
" Apa yang terjadi? Kenapa anda kembali meminum obat itu? Apa anda kembali sakit? " Eugene langsung menerobos masuk ke dalam ruang kerja Aeolus tanpa peduli jika dirinya akan kena marah nanti.
" Sudah hilang sopan santun mu, istri ku? " Eugene menunduk tidak berani menatap suaminya.
Aeolus menghela nafas untuk menghilangkan rasa kesalnya pada istrinya yang tidak punya sopan santun, langsung menerobos masuk ruangan nya tanpa ketuk pintu terlebih dahulu. Tapi Aeolus juga sadar juga menyadari jika sebenarnya istrinya seperti ini karena khawatir padanya.
Aeolus menepuk pelan punggung Eugene yang sudah dia peluk. Bisa Aeolus rasakan jika saat ini istrinya tengah menangis. Rasa bersalah muncul di dalam dirinya karena merasa keterlaluan melampiaskan semua yang dia rasakan pada sang istri.
" Maaf.. Ada beberapa hal yang membuat kepala ku sakit, sampai rasanya ingin pecah.. Maaf sudah bicara kasar pada mu.. " Ucap Aeolus berbisik di telinga sang istri.
Eugene tidak menjawab hanya mengangguk kan kepalanya saja sebagai jawaban. Eugene memahami jika suaminya pasti kesal, apalagi saat ini kepalanya sedang sakit. Saking terkejut nya Eugene melihat suaminya minum obat, dirinya jadi melupakan sopan santun.
Pernikahan mereka adalah karena sebuah perjodohan. Meski sebenarnya sejak awal Eugene sudah jatuh hati pada pangeran kedua ini. Tapi saat itu Eugene tahu jika pangeran kedua telah memiliki tambatan hati dan gadis itu adalah sepupunya sendiri. Tapi keluarga sepupunya memiliki status dibawah keluarganya hingga mendiang raja saat itu memutuskan untuk pangeran kedua menikahinya.
Eugene yang meminta ayahnya untuk menjalankan perjodohan antara dirinya dan pangeran kedua. Hal itu akhirnya membuat Aeolus membenci dirinya diawal pernikahannya karena telah memisahkannya dengan sepupu dari Eugene. Pernikahan mereka kini sudah berlangsung selama empat tahun, dan belum dikaruniai seorang anak.
Baru satu tahun inilah, pernikahan mereka mulai seperti pernikahan pada umumnya. Aeolus mulai bisa menerima takdirnya untuk bersama dengan Eugene dan melupakan mantan kekasihnya yang sudah menikah dengan seorang komandan pasukan perang dibawah kepemimpinan putra mahkota.
Dan satu bulan yang lalu, Eugene dikabarkan tengah mengandung dan Aeolus begitu bahagia mendengar kehamilan istrinya. Aeolus mulai mencintai istrinya dimulai sejak dia mengetahui sang istri begitu mencintainya sampai rela mengorbankan semua demi dirinya.
" Ayo sekarang kita tidur saja.. Hari sudah malam, jadi waktunya istirahat.. Ingat, kau sedang mengandung.. " Eugene pun mengangguk.
Masih dalam pelukan suaminya, mereka kembali ke kamar tidur mereka. Mengistirahatkan badan mereka yang letih akibat kegiatan seharian ini. Aeolus juga ingin beristirahat agar kepalanya tidak lagi pusing. Mungkin besok, ketika dia menemui kakaknya untuk rapat pagi, dia akan bertanya tentang yang dia dengar tadi.
**************
Keesokan harinya, Dierez bangun dengan kepala yang sakit karena terlalu banyak minum dalam pesta semalam. Rasanya kepalanya seperti ingin pecah, saking sakitnya. Dierez pun meminta kepala dayang yang mengurus kediamannya untuk menyiapkan bubur yang bisa membuat efek mabuknya hilang.
" Yang mulai.. " Luke menghadap.
" Semua menteri sudah menunggu anda di aula istana.. Apa ada pesan yang harus saya sampaikan? " Luke bertanya karena tahu jika Dierez tidak akan mendatangi rapat pagi hari ini dengan kondisi kacau seperti ini.
" Rapat ditunda nanti sore saja.. Aku butuh waktu untuk tidur lagi.. " Perintah Dierez dan Luke lekas keluar untuk memberi tahu kan pada semua menteri yang sudah menunggu di aula istana.
Setelah kepergian Luke, tidak ada yang bisa Dierez lakukan selain kembali tidur. Untuk duduk saja kepalanya sangat pusing, apalagi untuk berjalan. Entah kenapa dirinya seperti ini, biasanya dirinya juga banyak minum dan tidak pernah mabuk seperti ini.
Dalam tidurnya, Dierez melihat seorang anak kecil laki-laki yang wajahnya mirip dengan wajahnya ketika dia masih kecil. Anak laki-laki ini tengah bermain sebuah permainan anak-anak pada umumnya. Dan dia bermain sendirian tanpa ada seorang teman pun menemaninya.
Ada perasaan aneh yang dirasakan oleh Dierez ketika dirinya melihat anak laki-laki di depannya ini. Perasaan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, Dierez sendiri tidak tahu kenapa dia bisa merasakan ini. Perasaan yang begitu aneh, dan baru pertama kali dia rasakan.
Saat Dierez terbangun, ternyata hari sudah hampir sore. Dayang yang dia minta untuk menyiapkan bubur penghilang rasa mual karena mabuk, datang menghampiri dirinya dan menawarkan untuk menghangatkan bubur yang Dierez pesan tadi. Tentu saja Dierez mengiyakan karena nyatanya dia sangat lapar saat ini.
Ada rasa terkejut, ketika Dierez melihat ada Aeolus duduk di ruang tamu kediamannya. Entah sejak kapan adik tirinya ini ada di sana, tapi dari wajahnya sepertinya ada sesuatu yang tidak baik-baik saja terjadi.
" Apa yang membawa mu kemari? " Tanya Dierez yang langsung mengambil tempat duduk di kursi lain yang menghadap adiknya.
" Apa hubungan anda dengan mantan ratu, yang mulia? " Alis Dierez berkerut mendengar pertanyaan dari adiknya. Cara bicaranya juga terlalu formal untuk hubungan mereka berdua.
" Memangnya kenapa? " Tidak langsung menjawab, karena Dierez merasa jika Aeolus mengetahui sesuatu tentang dirinya dan Maledine.
" Aku mendengar mu mengigau semalam saat kau tertidur karena mabuk. Kau memanggil nama Maledine dan mengatakan kau mencintainya dan merindukannya.. Apa kau.. Laki-laki yang menjadi selingkuhan dari Maledine? Kenapa? Kenapa kau melakukan itu? " Tidak lagu menahan rasa ingin tahu dan kekesalannya, akhirnya Aeolus mengatakan apa yang dia pikirkan.
" Jadi kau sudah membuat kesimpulan seperti itu? Baik, aku akan mengatakan pada mu.. Anak yang dikandung oleh Maledine adalah keponakan mu.. Sudah bisa menyimpulkan? "
BRAK
" KAU GILA KAK.. DIA ADALAH ISTRI DARI MENDING AYAH!! " sentak Aeolus tak bisa menahan amarahnya saat prasangka buruknya ternyata menjadi nyata.
" Kembalilah.. Kita akan bicara saat kau tidak dalam pengaruh emosi seperti ini.. " Dierez mengusir Aeolus karena tidak ingin terjadi pertengkaran di antara mereka berdua.
Aeolus yang marah pun, akhirnya mengikuti perintah dari Dierez karena sebenarnya dia ingin sekali menghajar sang kakak. Tapi kali ini, dia harus kembali terlebih dahulu untuk mengontrol emosinya, sebelum nantinya meminta penjelasan pada Dierez.