
Pagi-pagi sekali, Raja Dierez mengadakan rapat dadakan dengan para menteri. Suasana di aula istana terlihat sangat mencekam, apalagi ketika semua orang melihat bagaimana ekspresi wajah raja mereka ketika memasuki aula istana. Semua orang langsung menunduk, karena takut mendapatkan masalah yang nyasar karena suasana hati raja Dierez yang tengah buruk.
Biasanya jika seperti ini, perdana menteri Aeolus akan menjadi penyelamat mereka. Sayangnya orang yang selalu menjadi pahlawan mereka itu, sudah hampir seminggu keberadaannya tidak diketahui. Perdana menteri disebut tengah mengambil perjalanan jauh untuk menjalankan perintah Raja Dierez.
" Apa ada yang tahu apa yang terjadi? " Bisikan menteri pertanian yang baru setelah menteri sebelumnya ditangkap karena telah menjadi salah satu orang yang menyebabkan permasalahan di wilayah.
" Entahlah.. Tapi melihat bagaimana raut wajah yang mulia, sepertinya ini masalah yang serius. " Menteri perdagangan menjawab sambil berbisik.
" Kalian diamlah!! Jika yang mulai mendengar kalian berbisik, bisa-bisa kita semua mendapatkan masalah. " Menteri keuangan yang berdiri tidak jauh dari kedua menteri ini menegur. Bisa gawat kalau sepagi ini mereka sudah menjalani hukuman dari raja mereka.
Raja Dierez sejak tadi hanya diam dan menatap satu persatu menteri nya tanpa melakukan apapun atau memberi perintah apapun. Hanya diam menatap dengan tatapan penuh amarah yang sebenarnya siap untuk dimuntahkan entah pada siapa saja yang memiliki keberuntungan tidak sebanyak lainnya.
Tatapan matanya tajam, membidik siapa saja yang ada di depannya tanpa terkecuali. Seperti elang yang memburu buruannya dan siap menerkam. Membuat siapa saja yang melihat bagaimana tatapan mata raja Dierez, merasakan ketakutan yang luar biasa.
" Yang mulia... Apa gerangan yang membawa anda untuk mengumpulkan kami semua disini? " Menteri Pertahanan yang sudah lama mengenal dekat raja Dierez memberanikan diri untuk bertanya.
Namun sepertinya keputusannya untuk bertanya akan dia sesali seumur hidupnya saat dia kini justru mendapatkan delikan tajam dari raja Dierez. Menteri Pertahanan bahkan kesulitan menelan ludahnya sendiri karena mereka tercekik dengan delikan tajam dari raja Dierez. Dia pun langsung menunduk untuk memutuskan kontak mata diantara mereka.
" Aku akan melakukan perjalanan keluar istana selama beberapa hari. Pastikan semuanya berjalan lancar selama kepergian ku!! Kalian tahu apa arti kata lancar yang aku maksud? " Semuanya dibuat terkejut dengan pernyataan yang baru saja raja mereka katakan.
" Yang mulia... " Ucapan menteri Pertahanan harus berhenti ketika raja Dierez dengan lantang mengucapkan kalimat sakral yang selalu sukses membuat siapa saja berbisik ngeri.
" Lakukan saja dan jangan banyak bertanya. Jika sampai aku mendapati kalian membuat masalah selama kepergian ku, maka kalian akan menjadi teman bermain Lorian.. " Ucap raja Dierez dengan senyum menawannya menghiasi wajahnya yang dingin.
Senyum menawan yang justru memiliki arti lain bagi mereka yang sudah tahu seperti apa sepak terjang dari raja mereka yang kadang-kadang tingkahnya sangat ajaib itu. Dan nama Lorian, memang selalu menjadi momok bagi siapa saja yang pernah melihat, bagaimana mengerikannya pemilik nama itu.
" Filian.. Selama aku pergi, kau yang akan menjadi pemilik kuasa tertinggi di tempat ini. Manfaatkan itu dengan baik, dan jangan kecewakan aku. " Raja Dierez menunjuk menteri Pertahanan sebagai pemegang kuasa tertinggi selama dirinya tidak berada di istana.
" Saya akan mengemban tugas ini dengan sebaik mungkin, yang mulia. " Filian langsung berlutut menerima tugas dari rajanya. Diikuti semua menteri dan orang-orang yang berada di ruangan itu.
Keputusan mempercayakan semuanya pada menteri Pertahanan, bukan diputuskan secara sembarangan oleh raja Dierez. Selain karena hubungan mereka yang sudah dekat sejak raja Dierez masih sebagai jendral perang. Kemampuan dari menteri Pertahanan sendiri memang patut diacungi.
Caranya membuat strategi dan wawasannya yang luas, menjadikannya kandidat terbaik sebagai perwakilan raja Dierez apabila raja dan perdana menteri tidak berani di istana seperti saat ini. Semuanya menteri dan petinggi kerajaan juga tidak akan menolak apa yang sudah diputuskan raja mereka selain karena memang menteri Pertahanan layak dengan hal itu, mereka juga menghindari bertemu dengan Lorian, singa jantan kesayangan raja Dierez.
************
" Kenapa kau ngotot sekali ikut dengan ku ke wilayah itu? Will, gelagat mu sangatlah mencurigakan. " Tanya raja Dierez yang mencapai batasannya menghadapi penasehat kerajaan yang merengek ikut pergi bersama dengan raja Dierez.
" Saya ingin pulang kampung, yang mulia. Saya bahkan belum kembali ke asal saja selama lebih dari lima tahun. " Jawab William memang begitu kenyataannya.
" Ck.. Jika kau ikut pergi, siapa yang akan membantu Fillian selama aku pergi? " Raja Dierez sudah ingin sekali memaki William andai tidak mengingat jika yang dihadapinya kini adalah orang tua.
" Saya yakin tuan Fillian akan dibantu oleh para menteri yang lain. Lagian saya tidak memiliki tugas yang sebenarnya disini. Saya seperti makan gaji buta karena anda tidak pernah mendengarkan kata-kata saya. " William setengah mengeluh dan mengadu.
Raja Dierez melotot tajam saat mendengar bagaimana penasehat nya mengeluh. Karena sejujurnya memang begitulah kenyataan yang terjadi. Nyatanya memang William tidak benar-benar menjalankan tugasnya sebagai penasehat kerajaan. Adanya William di tempat ini murni karena raja Dierez yang tidak ingin jika posisi penasehat raja kosong dan diisi orang-orang yang tidak dia sukai.
Alasan yang sungguh sangat di luar nalar dan hal ini bisa raja Dierez yang melakukannya. Jika saja raja-raja terdahulu berbuat seenaknya seperti raja Dierez, sudah barang pasti mereka akan dibuang oleh mantan perdana menteri yang sebenarnya menjadi puncak kekuasaan sesungguhnya di kerajaan ini.
" Kau itu sudah tua.. Memangnya apa yang akan kau lakukan di sana? Lebih baik disini, makan dan tidur dengan nyaman. " William memberengut tidak senang dengan ucapan Rajanya.
" Ck.. Jangan cemberut seperti wanita, Will.. Ingat berapa umur mu!! " Raja Dierez bergidik ngeri melihat tingkah William.
" Pokoknya saya ingin ikut anda pergi ke wilayah itu. Dengan atau tanpa persetujuan anda. " William pergi begitu saja, mengabaikan teriakan raja Dierez yang terus memanggilnya untuk kembali.
Masa bodoh dengan keputusan raja Dierez, bagi William dia memiliki tugas mulai hingga memaksanya tetap harus ikut raja Dierez pergi ke wilayah dimana perdana menteri berada dan dikabarkan dengan sakit parah. Hal inilah yang menyebabkan raja Dierez harus melihat kondisi perdana menteri di tempat itu, dengan meninggalkan singgasananya.