
Istana dibuat heboh kali ini, masih karena Raja mereka yang bisa dibilang, selalu saja membuat para menteri nya bisa merasa kesal. Bagaimana tidak kesal, ritual malam pertama adalah hal yang biasa Raja lakukan. Raja pun sudah melakukan beberapa kali bersama dengan wanita yang menjadi selirnya. Dengan mendiang ratu pun dia juga sudah melakukannya. Lalu kenapa sekarang, disaat raja akan melakukan ritual malam pertama dengan pengganti ratu, harus ada pesta meriah di istana.
Bangsawan, perdana menteri, para menteri, dan putra mahkota sendiri sampai heran dengan kekonyolan yang dilakukan oleh raja. Putra mahkota bahkan menjadi orang yang pertama marah atas keputusan yang ayahnya buat, tanpa persetujuan siapapun. Dierez sendiri tidak habis pikir, kenapa ayahnya sampai segitunya dengan Maledine. Bukankah pernikahan mereka tidak didasari cinta.
" Yang mulia.. Apa Anda tidak akan datang ke pesta? " Tanya Luke.
" Nanti.. Tidak sekarang.. " Jawab Dierez malas. Kalau bukan karena rencana yang dia buat agar Maledine terbebas dari ritual malam pertama ini, rasanya malas sekali baginya untuk hadir ke pesta yang diselenggarakan sang ayah.
" Apa sudah banyak yang datang? " Tanya Dierez.
" Sudah yang mulia.. Saya dengar, yang mulia mengancam akan mengurangi jatah dari bangsawan dan menteri tentang hasil bumi jika mereka menolak untuk datang.. " Dierez sungguh tidak menyangka, ayahnya bisa berbuat seperti ini.
" Luke.. Tidak kah kau merasa bahwa ayah ku sudah sangat keterlaluan sekarang.. " Dierez menatap Luke yang berada di depannya.
" Ehm... Maafkan saya yang mulai.. Saya tidak bisa memberikan pendapat saya mengenai hal itu.. " Ucap Luke merasa tidak enak.
" Ck.. Jangan terlalu menganggap ayah ku sebagai pemimpin kerajaan.. Sejujurnya dia tidak pernah bisa menjadi raja.. Untung saja ada aku, kalau tidak sudah lama sekali kerajaan ini punah.. " Ucap Dierez mencibir ayahnya sendiri.
Menunggu waktu yang tepat, akhirnya Dierez pun berangkat ke pesta ditemani oleh Luke yang memang selalu berada di sampingnya dan tidak pernah meninggalkan tuannya ini sendirian. Dierez datang ke pesta saat hampir semua tamu undangan sudah datang. Bisa dia lihat di singgasana sana, ayahnya terlihat begitu bahagia. Diam-diam, tangan Dierez terkepal kuat lantaran tidak suka dengan apa yang akan dilakukan oleh ayahnya sendiri.
" Lihat lah pria tua tidak tahu malu itu.. " Ujar Dierez pada Luke, yang hanya bisa diam tanpa menanggapi.
Dierez berjalan menuju ke singgasana tempat dimana ayahnya duduk bersama dengan para bangsawan dan menteri yang kentara sekali sedang membuat senyum yang dipaksakan. Dierez pun duduk di sebelah kanan sang ayah, agar menunjukkan siapa dirinya di tempat ini.
" Yah.. Aku memang harus berterima kasih pada mendiang ratu ku, karena telah memberikan jalan pada ku untuk memiliki wanita cantik secantik Maledine di sisi ku.. " Dierez langsung menatap ayahnya tidak Terima.
" Tentu saja yang mulia.. Semua ini berkat kasih sayang mendiang ratu untuk anda.. " Ucap perdana menteri.
" Benar sekali.. Saking baiknya ibu ku, dia menjerumuskan seorang wanita muda yang seharusnya tidak pernah pantas mendapatkan posisi sebagai ratu.. Apa kalian semua disini sudah menerima wanita ini menjadi ratu? " Ucap Dierez. Apa yang dia katakan ini, sebenarnya hanya bualan saja. Dia harus pandai-pandai menutupi apa yang terjadi, agar semuanya berjalan lancar hingga dia naik tahta.
" Putra ku, jangan berucap seperti itu.. Jika ibu mu mendengar ini semua, maka dia akan bersedih di ritual pertama kami.. " Ucap Raja sungguh tidak tahu malu sekali.
" Dan asal anda tahu yang mulia, ibu saya sudah meninggal beberapa waktu yang lalu.. Saya sekarang tidak memiliki ibu.. " Ucap Dierez.
Semakin mendekati waktu malam, semakin raja terus mengajak semua minum dan berpesta. Entah sudah berapa banyak gelas yang diminum oleh raja, yang jelas Dierez senang melihat sang ayah mulai mabuk. Dalam raut wajah yang terlihat datar, muncul senyum yang sangat tipis. Saling tipisnya, tidak ada yang dapat melihat senyum itu.
" Ratu ku... Oh.. Ratu ku... Suami mu ini datang... Ratu ku.. " Teriak raja ketika memasuki kamar pengantinnya.
" Yang mulia.. Anda mabuk.. " Maledine lekas menghampiri pria tua yang berstatus suaminya itu. Meski sebenarnya, Maledine kecewa, karena ucapan Dierez tidak benar terjadi. Buktinya, raja masih masuk kamar pengantinnya malam ini.
" Aku tidak mabuk.. Bagaimana bisa aku mabuk, disaat aku akan menghabiskan malam pertama kita, ratu ku.. " Raja maju ke depan, untuk semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Maledine.
Dalam hati Maledine sudah ingin menangis lantaran takut malam pertamanya dengan pria di depannya ini akan benar terjadi. Meski traumanya sudah sembuh berkat tekadnya untuk tidak terus bergantung pada Dierez, hanya saja, Maledine tetap tidak ingin melakukan malam pertama dengan Raja.
Disaat Maledine panik karena raja hendak menciumnya, dia memejamkan mata lalu terdengar suara sangat keras hingga membuat Maledine melonjak kaget. Raja, terjatuh di lantai, dengan posisi terlentang. Sepertinya raja tertidur.
" Kau... Menunggu ku.. " Maledine ingin berteriak saat mendengar seseorang berbisik dari belakang tubuhnya.
" Apa yang anda lakukan disini? Yang mulia masih ada disini.. Anda.. " Maledine berusaha untuk memberontak. Sayangnya, tenaganya tidak cukup kuat jika dibandingkan dengan tenaga Dierez yang adalah seorang kesatria.
" Pria tua itu tidak akan bangun sampai besok pagi.. Karena itu, kau harus masuk bekerja sama dengan ku agar tidak ada yang curiga dengan ini semua, termasuk dengan dia.. " Dierez menyandarkan dagunya di pundak Maledine.
" Maksudnya bagaimana? Saya tidak paham maksud yang mulia.. " Otak Maledine memang tidak lagi bisa berpikir lantaran tiba-tiba melihat Dierez ada di dalam kamarnya.
" Aku.. Mencampurkan bir milik ayah dengan obat tidur.. Karena itu sekarang ini dia sudah tidur dengan sangat nyenyak dan tidak akan bangun sampai besok pagi.. Tugas kita sekarang, adalah mewujudkan malam pertama, agar pria itu tidak curiga.. " Ucap Dierez terlihat sangat santai.
Maledine tidak paham maksud dari Dierez. Namun ketika Dierez menjelaskan bahwa mereka berdualah yang harus melanjutkan ritual malam pertama, sontak Maledine terkejut dan langsung menolak dengan keras. Dia, tidak bisa melakukan ini semua karena dia masih sah istri Raja. Bagaimana bisa dia justru menjalankan malam pertama bersama putra tirinya sendiri.
" Dengar aku.. Bukankah kau ingin menghindari malam ini? Jika kau tidak melakukan seperti apa yang aku katakan, maka dia akan kembali membuat ritual malam pertama lagi.. Lalu, sampai kapan aku bisa menggagalkan nya. Dia akan curiga.. " Dierez merasa gemas dengan Maledine.
" Tapi ini tidak boleh. Saya dan anda, tidak boleh sampai melakukan ini semua.. Ini dosa yang mulia.. Saya adalah istri ayah anda. " Maledine tetap kekeh dengan pendiriannya meski hati kecilnya menginginkan Dierez.
" Persetan dengan itu semua.. Kau tidak mencintainya.. Dengarkan aku Maledine, jika aku menolak aku malam ini, aku bersumpah demi nama ku sendiri, aku tidak akan pernah menampakan wajah ku lagi di depan mu.. Aku tidak akan peduli lagi pada mu.. Lanjutkan hidupnya dengan pria tua itu.. "
Maledine langsung terduduk di lantai. Pilihan yang sangat berat. Antara tetap mempertahankan martabatnya sebagai istri dari raja, atau melakukan dosa terindah bersama dengan pria yang dicintainya. Lalu, harus apakah Maledine sekarang?