
Kehamilan Maledine sudah mulai terlihat. Perutnya sudah terlihat membuncit dan karena memang kehamilannya sudah menginjak umur lima bulan. Raja begitu bahagia atas kehamilan ratunya, karena saking bahagianya, raja sampai memanjakan ratu terlalu berlebihan. Hal ini pada akhirnya membuat beberapa orang semakin membenci ratu karena iri.
Hubungan ratu dan putra mahkota juga semakin dekat. Keduanya sudah mulai berani berduaan di depan umum. Tentu saja itu semua karena raja yang memberikan kedua orang ini kesempatan untuk saling dekat. Raja, mempercayakan keselamatan ratu dan calon anaknya pada putra mahkota.
Seperti pagi ini, putra mahkota terlihat menemani ratu jalan-jalan pagi. Kedekatan mereka ini disaksikan oleh putri Conrad dan itu membuat calon istri putra mahkota ini sangat marah. Bukannya mendekatkan diri dengannya seperti perintah Raja, putra mahkota malah sibuk mendekatkan diri dengan ibu tirinya. Sungguh putri Conrad tak mampu lagi menahan kekesalannya.
" Kenapa mereka semakin dekat saja? Aku harus melakukan sesuatu, aku yakin mereka ada sesuatu. Kalau tidak, kenapa bisa sampai senatural itu hubungan mereka. Bahkan tidak ada rasa canggung.. " Monolog putri Conrad.
" Selir.. Iya.. Aku harus meminta ayah ku untuk menjalin kerjasama dengan selir dan juga perdana menteri... Iya.. Aku harus melakukannya.. " Setelahnya putri Conrad langsung meninggalkan tempatnya dan meminta tolong pada raja untuk memanggil ayahnya ke istana.
Saat jalan-jalan bersama, secara tidak sengaja putra mahkota dan ratu berpapasan dengan perdana menteri. Tentu saja mereka saling menyapa, saat itu juga. Perdana menteri pun memiliki kecurigaan atas hubungan kedua orang ini. Awalnya memang tidak percaya, tapi ketika melihat dengan mata kepalanya sendiri, perdana menteri jadi memikirkan bahwa kecurigaan dari keponakannya itu benar adanya.
" Yang mulia.. Bolehkah saya berbincang dengan anda sejenak? Saya berjanji tidak akan lama.. " Ucap perdana menteri.
" Tentu.. "
" Tunggu di sana saja.. " Dierez menunjukkan sebuah kursi yang ada di taman istana agar Maledine menunggunya di sana.
Setelah memastikan Maledine duduk di kursi yang dia tunjuk, putra mahkota langsung mengikuti perdana menteri untuk berbincang sejenak. Sebenarnya ada beberapa hal yang terlintas dipikiran putra mahkota tentang maksud dari perdana menteri ini. Tapi, dia berusaha bersikap setenang mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan.
" Ada apa? Katakan dengan segera dan jelas.. " Titah Dierez.
" Maafkan kesalahan saya yang mengganggu kegiatan anda, yang mulia.. Tapi saya perlu bertanya hal penting ini pada anda.. " Perdana menteri menjeda sejenak ucapannya.
" Apa anda masih berada di pihak kami? " Tanyanya langsung tanpa berbelit-belit dan dierez sudah tahu jika pertanyaan inilah yang akan ditanyakan oleh perdana Menteri.
" Apa kau pernah melihat aku, melanggar janji atau mengkhianati orang ku? " Bukannya menjawab, Dierez malah balik bertanya.
Perdana menteri sedikit terkejut mendapatkan pertanyaan seperti itu dari putra mahkota. Awalnya perdana menteri pikir, putra mahkota akan menjawab pertanyaannya seperti biasanya dengan berucap jika dia memang selalu berpihak pada perdana menteri. Akan tetapi, mendapatkan pertanyaan seperti itu, perdana menteri jadi ragu dengan kecurigaannya.
" Lagipula, bertindak dengan cara halus namun berakhir mematikan, jauh lebih berkesan dibandingkan dengan cara kasar.. " Dierez tersenyum miring dan langsung meninggalkan perdana menteri dengan banyaknya pemikiran atas ucapan Dierez.
Perdana menteri melihat, putra mahkota kembali menghampiri ratu dan melanjutkan acara jalan-jalan pagi mereka. Luke pun mendekat ke arah perdana menteri dan membisikan sesuatu. Tidak tahu apa yang Luke bisikan, tapi perdana menteri langsung tersenyum begitu mendengar bisikan dari Luke.
" Jika anda paham maka diam saja dan melihat apa yang akan dilakukan putra mahkota.. Begitulah pesan beliau.. " Luke pun pamit undur diri.
" Ternyata, dia benar-benar lebih pintar dari ayahnya.. Akan sangat menguntungkan jika dia yang naik tahta.. Apakah perlu dipercepat? " Perdana menteri tersenyum miring.
Maledine terus menatap putra mahkota tapi tidak berani bertanya mengenai pembicaraan putra mahkota dengan perdana menteri tadi. Tapi sebenarnya dia sangat penasaran sekali dengan pembicaraan yang dilakukan putra mahkota tadi.
Putra mahkota sebenarnya tahu jika kekasihnya ini penasaran. Sifat baru Maledine semenjak hamil adalah menjadi selalu ingin tahu dengan setiap apa yang dilakukan oleh putra mahkota. Namun kali ini, putra mahkota sengaja diam dan memancing Maledine untuk bertanya padanya. Tetapi melihat wajah Maledine yang kebingungan itu, membuat Dierez tidak tega melanjutkan niatnya.
" Jangan dipikirkan kejadian tadi.. Percayakan saja semuanya pada ku.. Dan kita akan tetap baik-baik saja.. " Ucap Dierez. Tangannya terulur untuk mengusap puncak kepala Maledine.
" Benarkah tidak apa? " Maledine terlihat ragu dengan ucapan putra mahkota.
" Kau meragukan ku? Lihat saja sekarang, ayah mempercayakan diri mu pada ku.. Lalu kau masih meragukan kemampuan ku? " Ujar Dierez terkesan membanggakan dirinya sendiri.
" Aku hanya takut keadaan kita ini mempersulit Anda.. " Ucap Maledine terlihat sedih.
" Tenang saja.. Aku akan baik-baik saja.. Percaya padaku ya.. " Dierez berucap dengan sangat lembut. Satu dari sekian banyak hal baik yang Dierez selalu lakukan padanya dan dia menyukai hal ini.
Keduanya pun kembali melanjutkan jalan-jalan mereka. Saking senangnya mereka melewati kegiatan pagi ini, sampai-sampai mereka tidak menyadari jika ada seseorang yang mendengarkan ucapan mereka. Orang ini sangat terkejut dengan apa yang didengarnya. Tidak percaya saja, bahwa dia telah mendengar sesuatu yang mengejutkan.
" Mereka berdua benar-benar... Ada sesuatu.. "