
Tubuh Maledine terasa sangat tegang saat ini. Wanita di depannya, telah menyimpulkan dengan tepat apa yang tengah dirasakan olehnya. Meledine takut, jika sampai wanita ini bersikukuh dengan pendapatnya dan melaporkannya apa raja. Bukan, Maledine bukan takut dirinya yang mendapatkan ganjaran atas perasaan Terlarang nya. Tapi Maledine takut, sangat takut jika nantinya ayah dan anak itu akan saling membenci hanya karena dirinya.
Tidak boleh, Maledine tidak boleh membiarkan siapapun tahu tentang dirinya dan putra mahkota. Dia, harus membuat sebuah alasan yang tepat agar wanita ini tidak semakin curiga dan semua tetap aman tanpa ada yang mengetahuinya.
" Tolong anda jangan mengada-ada.. Hubungan saya dengan yang mulia putra mahkota, Yang mulia raja pun mengetahuinya. Jangan membuat suasana di istana menjadi keruh.. Apa anda lupa siapa saya? Bahkan sebelum anda mengatakan hal yang tidak-tidak pada yang mulia Raja, saya bisa dengan mudah membuat Anda keluar dari istana ini segera.. " Maledine mencoba untuk memperlihatkan kekuatannya di depan wani ya yang merupakan calon istri dari kekasihnya itu.
" Kau... Kau.. Bagaimana bisa kau berani melakukan itu? Kau hanya wanita rendahan yang menjilat kaki yang mulia raja.. Kau.. Hanya.. " Belum selesai putri Conrad bicara, Maledine sudah lebih dulu memotong ucapannya.
" Semua yang disini mendengar bagaimana anda menyebut siapa saya.. Jangan khawatir, yang mulai Raja akan segera mengetahui hal ini secepatnya.. " Maledine menyeringai.
Karena takut, putri Conrad lekas meninggalkan kediaman Maledine tanpa mengatakan apapun. Hanya matanya saja yang melotot tajam ke arah Maledine, seolah ingin mengatakan jika dia sangat membenci kehadiran Maledine.
Setelah kepergian dari putri Conrad, bersama dengan para dayang dan pelayan, Maledine pun kembali masuk ke kediamannya. Sebenarnya, bukannya lega setelah melihat putri Conrad pergi, tapi justru Maledine semakin was-was. Jika putri Conrad saja sudah sampai pada kesimpulan itu, maka bisa saja semua orang juga bisa menyimpulkan hal yang sama dengan putri Conrad.
Maledine harus membicarakan hal ini dengan putra mahkota. Tidak boleh dibiarkan, jika nantinya masalah menjadi besar lantaran mereka berdua tidak mengindahkan peringatan. Ada anak mereka di dalam kandungan Maledine yang harus dijaga dengan baik. Saat ini, sungguh Maledine dan putra mahkota tidak memiliki jalan lain selain membatasi pertemuan mereka guna meminimalisir kecurigaan dari orang di sekitar mereka.
**************
Di tempatnya berada, saat ini putra mahkota tengah menginterogasi pelayan yang bisa dipastikan bahwa orang ini adalah orang yang memasukan ular berbisa ke kediaman Ratu yang sekarang tengah diselidiki. Sudah sangat lama, Putra mahkota memaksa pelayan ini untuk bicara, namun selama itu pula, pelayan ini tutup mulut.
Saking kesalnya, putra mahkota bahwa sudah mengambil jalan yang paling ekstrem untuk memaksa pelayan ini bicara. Namun, sepertinya pengaruh dari orang yang memerintah pelayan ini lebih besar dibandingkan ketakutan yang ditebarkan oleh putra mahkota.
" Sampai kapan kau akan tetap diam? Sudah tiga hari kau disini, selama itu pula, bahkan orang yang memerintah mu sama sekali tidak peduli.. Jika memang dia peduli, seharusnya kau tidak sampai tertangkap oleh ku.. " Ujar Dierez yang mulai menyerang mental pelayan ini.
" Ho.. Ho.. Ho.. Masih diam rupanya.. Oke, sekarang aku ingin mengatakan sesuatu pada mu.. Orang yang memerintah mu, adalah perdana menteri dan selir Oclariana kan? " Dierez tersenyum miring.
Tebakan Dierez benar karena setelah mengatakan kedua orang itu, pelayan yang sebelumnya seperti patung tanpa ekspresi itu, nampak mulai terlihat ketakutan. Jangan dibilang Dierez akan dengan mudah mengampuni orang yang sudah menyentuh orangnya. Dia sudah sangat terbiasa dan sangat pandai jika menghadapi orang-orang macam seperti ini.
" Masih tidak mau mengatakannya? " Ejek Dierez tersenyum miring.
Di tempat ini, sudah bisa dipastikan jika tidak akan ada yang bisa masuk dan keluar tanpa persetujuan dari Dierez. Bertahun-tahun hidup dalam peperangan, membuatnya sangat gesit dan memiliki insting tajam jika bersangkutan dengan hal semacam ini. Cepat atau lambat, Dierez akan mendapatkan nama-nama yang terlibat dalam kasus ini.
" Sebarkan berita yang mengatakan jika perdana menteri dan juga selir raja bekerja sama untuk mencelakai ratu.. Dan sebarkan juga bahwa pelaku yang memasukan ular ke kediaman ratu telah ditangkap.. " Perintah Dierez pada Luke.
" Anda yakin akan berbuat seperti ini? " Tanya Luke. Rencana yang Dierez buat ini, bisa menguntungkan mereka, juga bisa merugikan mereka.
" Tentu.. Kau tahu betul bahwa aku tidak akan bertaruh jika aku tidak yakin akan memperoleh kemenangan. " Luke pun mengangguk dan lekas melakukan sesuai apa yang Dierez perintahkan tadi.
Setelah urusan dengan pelayan yang tertangkap selesai, Dierez pergi untuk menemui Raja. Dia, tetap harus melapor pada raja sesuai dengan apa yang dia dapatkan. Namun, biasanya, Dierez tidak akan mentah-mentah mengatakan apa yang dia dapatkan. Tentu saja, dia harus memiliki kartu AS untuk bisa membuat ayahnya bertekuk mengalah padanya. Ada hati yang harus dia perjuangkan, ada keturunannya yang harus dia perjuangkan.
" Semuanya sesuai dengan yang aku katakan.. Ayah.. " Ucap Dierez setelah selesai membuat laporan.
" Menurut mu, siapa yang berada di balik semua ini? " Tanya raja. Baik dirinya maupun putranya memiliki beberapa nama yang mungkin saja mendalangi ini semua.
" Masih sama seperti yang kemarin membuat masalah.. " Ucap Dierez.
Raja pun hanya bisa menghela nafas. Rupanya baik dia dan putranya memiliki tebakan yang sama. Raja sendiri tidak bisa berbuat apa-apa jika sudah orang ini yang membuat perkara. Pasalnya, seluruh orang yang mendukungnya berada dibawah perintah dari perdana menteri. Sebutan raja boneka, adalah sebutan yang sangat cocok untuk raja saat ini.
Alasan inilah yang membuat Dierez nantinya akan berani menentang sang ayah demi Maledine. Kenapa, karena jika Dierez menyerah, maka Maledine akan dijadikan tumbal oleh perdana Menteri. Apalagi, sejak Maledine dinobatkan sebagai ratu di Kerajaan ini, jelas hal itu menghalangi niat dari perdana menteri agar keponakannya menjadi ratu.
" Menurut mu, langkah apa yang harus kita ambil? " Tanya raja terlihat resah.
" Kita?? Ayah lupa jika aku berada di pihak perdana menteri? Hanya saja aku tidak suka caranya yang sangat kasar pada seorang wanita. Maka dari itu aku menyelidiki masalah ini.. " Ujar Dierez membuat raja terkejut.
Raja berpikir, setelah dua kali Dierez campur tangan dengan masalah Maledine, putranya ini sudah berada di pihaknya dan mendukung dirinya mengangkat Maledine sebagai ratu. Nyatanya, putranya tidak sama sekali ingin menjadi sekutunya. Padahal jika Dierez mau menjadi pendukung raja, perdana menteri tidak bisa berbuat banyak.