
TUK
Dierez menyentil dahi Maledine. Dia memang ingin sekali mencium bibir mungil merah cherry itu. Hanya saja, Dierez masih waras karena sadar dimana dirinya berada sekarang. Tidak mungkin dia mengambil resiko ketahuan oleh orang dari lawannya dan membuat hubungannya dengan Maledine jadi berantakan. Dierez lebih memilih menahan hasratnya, demi bisa memiliki hubungan yang lama dengan kekasih hatinya.
" Apa kau benar sangat ingin aku cium? " Bisik Dierez tepat di telinga Maledine.
Mendengar hal itu, buru-buru Maledine memundurkan tubuhnya. Wajahnya terlihat sangat merah sekali, mirip buat tomat yang sudah masak. Dierez terkekeh pelan saat melihat bagaimana kekasihnya ini terlihat malu-malu.
" Lihat.. Ada yang malu rupanya.. " Dierez menggoda Maledine.
PLAK
Maledine memukul pelan lengan Dierez lantaran malu digoda oleh Dierez. Sungguh semerah apa wajahnya sekarang, Maledine tidak tahu. Tapi dia yakin, jika wajahnya sudah sangat merah saat ini. Maledine sampai malu karena godaan dari Dierez.
" Sudah berani memukul ku sekarang.. Apa kau tidak tahu bahwa di bagian lengan yang kau pukul, ada luka karena misi kemarin? " Ujar Dierez berpura-pura kesakitan dan memelas.
" Benarkah? Maafkan saya.. Sungguh saya tidak bermaksud untuk melakukannya.. Maafkan saya.. " Ucap Maledine dengan tangan terulur mengusap lengan Dierez yang dipukul nya tadi.
" Apa boleh saya melihatnya? Apa perlu saya panggilkan tabib? " Maledine menawarkan.
" Tidak.. Kamu pasti akan menangis jika melihat luka ku.. Kemudian, daripada memanggil tabib, aku lebih cepat sembuh jika melakukan ini.. " Dierez langsung memeluk Maledine erat.
Diam-diam Maledine tersenyum karena perbuatan Dierez yang selalu berhasil membuatnya senam jantung dan tersipu. Inikah indahnya jatuh cinta, andai semua lebih mendukung untuk cinta mereka, bukankah akan lebih indah lagi dan bahagia. Namun, untuk saat ini, Maledine harus banyak-banyak bersyukur. Setidaknya, perasaannya terbalaskan dan kini hubungan mereka semakin dekat.
" Ada... Yang ingin... Saya katakan pada anda.. " Ucap Maledine terdengar gugup.
" Ada apa? Apa kau sakit? " Dierez sudah panik duluan. Apalagi, sejak tadi dia melihat jika wajah Maledine sedikit pucat sebelum akhirnya berubah merah padam karena dirinya.
" Saya... Saat ini saya... " Maledine tidak melanjutkan ucapannya karena takut jika Dierez tidak akan menerima berita yang akan dia sampaikan ini.
" Saya kenapa? Katakan dengan jelas, sayang.. Tahukah kau jika sekarang ini aku khawatir dengan kondisi mu.. " Ucap Dierez berusaha membuat Maledine mengatakan apa yang dia ingin katakan tanpa ragu.
" Saya... Hamil... " Ucap Maledine sangat lirih.
Alis Dierez berkerur saat mendengar ucapan Maledine, hanya saja dia tidak benar-benar jelas dengan hal itu. Dierez masih menunggu Maledine mengulang ucapannya, namun ternyata lantaran sangat gugup Maledine tidak kembali mengulang ucapannya.
Maledine sendiri sudah berpikiran negatif pada Dierez lantaran tidak kunjung memberikan tanggapan. Maledine langsung terlihat sedih dan hendak menangis karena berpikiran jika Dierez tidak menyukai kabar darinya ini. Padahal, Dierez tidak mendengar dengan jelas ucapan Maledine.
" Hei.. Kenapa kau menangis ? " Tanya Dierez panik melihat Maledine malah menangis.
" Ada apa? Apa ada yang sakit? Kenapa menangis? " Dierez berusaha untuk menenangkan Maledine.
" Anda... Apa anda.. Tidak menyukainya? " Tanya Maledine ditengah isakannya.
" Maksudnya bagaimana? Tidak menyukai apa? " Tanya Dierez dengan wajah terlihat bingung.
Dierez terkejut dengan ucapan Maledine. Tubuhnya serasa membeku, lidahnya kelu untuk hanya mengucap satu kata saja, belum lagi tenggorokannya terasa sangat kering saat ini. Matanya menatap Maledine dengan sangat intes. Berusaha untuk mengucapkan rasa yang dia rasakan saat ini lantaran Maledine telah mengandung anaknya.
" Benarkah? " Akhirnya Dierez bisa berkata. Maledine pun mengangguk sebagai jawaban.
" Terima kasih.. Aku bahagia sekali, aku akan jadi ayah... Terima kasih sayang.. " Dierez langsung memeluk tubuh Maledine dengan sangat erat.
Maledine kembali mengangguk sambil tersenyum sangar lebar dalam pelukan Dierez. Memang sisa air matanya masih ada, namun ini adalah air mata bahagia lantaran pria yang menjadi ayah janinnya ini mau menerima dirinya dan juga janin dalam perutnya.
" Apa ayah ku tahu? " Pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Dierez setelah melerai pelukannya.
" Iya.. Tabib langsung mengatakannya pada yang mulia tadi. " Jawab Maledine jujur.
Wajah Dierez langsung berubah masam karena ternyata ayahnya lebih dahulu tahu darinya. Menurut Dierez itu tidak adil karena dirinyalah yang membuat janin itu ada. Justru sang ayah yang tahu pertama kali itu hanya bergelar sebagai kakek saja.
Maledine yang melihat wajah Dierez yang berubah menjadi masam, hanya bisa terkekeh pelan. Dia paham kenapa kekasih hatinya memasang wajah begitu. Tapi, apa bisa Maledine perbuat karena ini semua berada diluar kendalinya. Toh sekarang Maledine sudah mengatakannya, jadi Dierez pun juga sudah tahu.
" Dia tetap anak anda meski bukan Anda yang pertama tahu tentang keberadaannya. " Ucap Maledine berusaha menghibur putra mahkota.
Tangan Dierez diletakan tepat di depan perut Maledine. Dan hal yang dirasakan Maledine saat ini adalah perasaan bahagia dan juga ada rasa menggelitik di perutnya. Rasanya di hati sangat senang. Entah ini senang yang dia atau janinnya rasakan. Karena setelah Dierez menyentuh perutnya dan juga mengelusnya, rasanya sangat berbeda.
***********
Putri Conrad berlarian di lorong istana untuk segera menuju ke kediaman putra mahkota, setelah mendengar dari pelayannya jika gosip kepulangan putra mahkota sudah tersebar di seluruh penjuru istana. Rasanya sudah tidak sabar bertemu dengan calon suaminya. Dia sangat merindukan pria itu, meski memang sama sekali putra mahkota tidak memperhatikannya tapi dia tetaplah calon istri dari putra mahkota.
" Apa dia merindukan ku karenanya dia pulang cepat? Mungkin dia mendengar jika aku baru saja sakit. " Ucap putri Conrad terlalu percaya diri.
Tapi, kebahagiaan diawal dia mengetahui kepulangan putra mahkota, kini dibayar kekecewaan karena putra mahkota tidak ada di tempatnya. Entah dimana dia harus mencari keberadaan putra mahkota saat ini. Jika belum melihat wajah dari calon suaminya, dia masih merasa tidak tenang.
" Mungkinkah putra mahkota langsung menemui yang mulia raja untuk melapor ya? " Wajah putri Conrad kembali berbinar.
Langkah kaki putri Conrad kini sudah berpindah menuju ke tempat dimana sekiranya raja berada. Dan benar saja, raja berada di ruang kerjanya. Raja juga menyambut kedatangan putri Conrad dengan baik dan mereka pun berbincang sejenak sebelum putri Conrad mengutarakan tujuannya ke tempat raja.
" Apa yang mulia putra mahkota sudah melapor pada anda yang mulia? " Tanya putri Conrad memancing.
" Dierez? Dia... Belum melapor karena sekarang masih mengurus kasus ular yang masuk kediaman ratu. " Jawab raja tersenyum manis melihat putri Conrad begitu perhatian pada putra mahkota.
" Jadi... Yang mulia putra mahkota berada di kediaman baru yang mulia ratu? " Putri Conrad menebak, dan raja pun mengangguk.
Dalam diamnya putri Conrad meremas jemarinya yang berada di atas pahanya. Wajahnya memang memasang senyum manis di depan raja, namun dalam hatinya dirasa sangat panas lantaran sekali lagi, putra mahkota lebih memperhatikan ibu tirinya itu, dibandingkan dirinya yang merupakan calon istrinya.
( Sepertinya rencana kedua harus segera dilaksanakan, untuk memberikan pelajaran pada wanita serakah tidak tahu malu itu. )