
Di sebuah kediaman dari seorang bangsawan yang ada di salah satu desa yang terdampak bencana kekurangan pangan. Terlihat beberapa orang tengah sibuk menurunkan barang-barang yang sepertinya baru saja dikirimkan oleh seseorang.
Seorang wanita cantik terlihat berdiri mengawasi orang-orang yang sibuk menurunkan barang kiriman itu. Matanya bergerak ke sana kemari untuk melihat barang-barang yang datang. Semua ini merupakan bahan pangan dan obat-obatan yang dikirim dari ibukota.
" Nyonya.. Sebaiknya anda masuk ke dalam saja. Di luar sangat panas." ucap kepala pelayan kediaman bangsawan ini.
" Tak apa.. Aku hanya ingin memastikan jika barang-barang yang kita butuhkan telah sampai semuanya." ucap nyonya kediaman ini.
" Anda tidak perlu khawatir. Tuan besar pasti tidak akan melewatkan barang yang memang sangat dibutuhkan." kepala pelayan ini tersenyum karena paham betul apa yang dikhawatirkan oleh nyonya kediaman ini.
" Iya.."
Cuaca memang sangat panas akhir-akhir ini. Sangat berat selama beberapa waktu ini hanya untuk mendapatkan air bersih. Bukan hanya itu saja, pangan dan obat-obatan juga sangat sulit didapatkan setelah lumbung pangan di beberapa desa ini telah dicuri oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Untuk bertahan hidup masyarakat di wilayah krisis ini, hanya menantikan belas kasihan dari wilayah lain dan juga dari ibukota. Hanya saja, karena musim panas seperti ini, tentunya wilayah lain juga tidak memiliki persediaan yang banyak untuk pangan mereka sendiri. Hanya yang benar-benar melimpah bahan pangannya lah yang bisa memberi bantuan ke wilayah krisis ini.
" Nyonya.." sapaan dari salah satu tenaga yang menurunkan barang kiriman, membuyarkan nyonya kediaman ini.
" Ya??" sahutnya terkejut.
" Kami sudah selesai menurunkan semua barang-barang ini.. Ada beberapa kotak obat, dan kepala pelayan telah membawanya ke tempat tabib untuk diperiksa." lapornya.
" Benarkah? kalau begitu, kalian bisa beristirahat dan minta upah kalian pada kepala pelayan nanti." nyonya kediaman ini tersenyum begitu senang karena kekhawatirannya tidak terjadi.
" Baik nyonya.. Kalau begitu kami pamit dulu." nyonya pun mengangguk.
Nyonya kediaman ini terkenal memiliki hati yang baik dan lagi tidak sombong. Sekitar empat tahun yang lalu, bangsawan pemilik kediaman ini membawa si nyonya ke desa ini. Sejak saat itu, si nyonya yang saat itu tengah mengandung tinggal di desa ini.
Awal-awal kedatangannya, semua orang sempat berpikiran buruk tentang si nyonya. Ada yang mengatakan jika dia adalah simpanan si bangsawan pemilik kediaman ini. Ada pula yang mengatakan jika dia hamil di luar nikah dan masih banyak lagi.
Namun, semua prasangka buruk itu sirna saat penduduk desa ini merasakan kebaikan dari si nyonya. Tak segan si nyonya membantu penduduk ketika musim panen. Upah untuk para buruh di kediaman ini juga dinaikan. Si nyonya juga kerap kali membeli bahan pangan dan obat-obatan dengan harga di atas pasaran.
Si nyonya juga ringan tangan dan selalu membagi apa yang berlebih di kediamannya. Lambat laun, penduduk desa ini tidak lagi berbicara buruk tentang si nyonya dan menganggap nyonya kediaman ini sebagai utusan dewa dan memperlakukannya dengan sangat baik.
Sudah sejak beberapa waktu yang lalu, Dietroy terserang penyakit cacar dan karena tiba-tiba saja terjadi krisis, kondisi kesehatannya semakin memburuk. Bahan obat-obatan yang dicuri, membuat pengobatan Dietroy terpaksa dilakukan seadanya. Hingga kini, kondisinya belum membaik dan itu membuat nyonya Han dan penduduk desa ini bersedih.
" Bagaimana? Apa bisa membuat obat dari semua bahan ini?" tanya nyonya Han memburu karena saking paniknya.
" Syukurlah semua bahan yang dibutuhkan untuk membuat obat untuk tuan muda kecil semuanya lengkap, nyonya.. Saya akan langsung membuat obatnya." ucap tabib yang merawat Dietroy.
" Syukurlah.. Saya berhutang banyak sekali pada nada tuan." ucap nyonya Han merasa bersyukur.
" Saya hanya membalas apa yang telah anda lakukan untuk saya. Jadi nyonya tidak perlu merasa sungkan dengan saya. Seharusnya saya yang berterima kasih atas bantuan anda terakhir kali." ucap tabib ikut merasa bersyukur.
Andai saja tidak bertemu dengan nyonya Han saat dia berada di hutan dekat desa ini. Mungkin saat ini, tabib yang bernama tuan Lion ini pasti sudah tinggal nama saja karena disantap oleh harimau yang saat itu tengah lapar.
" Kalau begitu silahkan tabib melakukan pekerjaan anda.. Saya akan pergi ke kama Dietroy.." pamit nyonya Han.
" Baik nyonya." tabib pun lekas mempersiapkan semua bahan obat untuk tuan muda kecil, dan dibantu pelayan kediaman ini.
Nyonya Han kini telah berada di kamar putranya. Dilihatnya wajah buah hatinya ini terlihat sangat pucat. Badannya juga banyak mengalami penurunan, dan semua itu telah melukai hatinya. Putra yang dia lahirkan dengan bertaruh nyawa disaat terpuruk hidupnya, kini tengah sakit dan dia tidak bisa melakukan apapun untuk meringankan derita putranya.
" Cepat sembuh ya... Ibu menantikan kesembuhan mu, jadi kita bisa bermain lagi nantinya." ucap nyonya Han berlinangan air mata.
" Hati ibu sangat sakit sekali melihat putra kesayangan ibu sakit seperti ini." hati ibu mana yang tidak hancur disaat buah hatinya mengalami hal yang serupa dengan apa yang dialami Dietroy.
Terlahir dan tumbuh besar taba kehadiran seorang ayah, namun Dietroy tumbuh dengan sangat baik. Dietroy begitu perhatian dan menyayangi ibunya sehingga tidak pernah sekalipun Dietroy bertanya dimana keberadaan ayahnya.
Pernah melihat anak-anak lain tumbuh dan besar didampingi ayah dan ibu, sejujurnya Dietroy sangat iri. Akan tetapi, pernah satu kali Dietroy melihat ibunya menangis sambil menyebut satu nama pria yang Dietroy yakini adalah nama ayahnya. Sejak saat itu Dietroy tahu jika ibunya akan terluka ketika nanti dia membahas tentang ayahnya.
Jadilah Dietroy kecil hanya mampu bertanya dalam hati, dan selalu terlihat baik-baik saja di depan ibunya. Sayangnya, apa yang Dietroy tutupi itu telah nyonya Han ketahui. Tapi karena satu lain hal, nyonya Han memilih pura-pura tidak tahu. Nyonya Han tidak ingin memberikan harapan palsu pada putranya dan berakhir putranya yang kecewa.
" Suatu hari nanti, takdir akan membawa kita padanya. Seseorang yang mungkin menanti kedatangan kita, atau justru telah lama berpaling..Bertahanlah hingga hari itu tiba nak.." ucap nyonya Han dalam hati. Sedikit berharap, bahwa dia masih mencari keberadaan dirinya dan anak mereka.