The Queen'S Love Scandal

The Queen'S Love Scandal
Mengajukan diri



" Lepaskan aku... Aku mohon tolong lepaskan aku.." Maledine masih berusaha memberontak ketika para pria dengan pakaian serba hitam membawanya semakin menjauh dari istana.


" Oh... Ayolah.. Jangan banyak bertingkah dan bersikaplah dengan baik.. Kami jamin kau tidak akan celaka jika kau tidak banyak bertingkah." seorang dari pra penjahat ini nampak gemas dengan tingkah Maledine.


" Tapi kemana kalian akan membawa ku?" tanya Maledine yang tidak lagi memberontak.


" Menemui orang yang ingin kau dibawa pergi dari istana.. Jadi yang mulia ratu yang terhormat, bersikaplah baik dengan begitu kita semua akan mendapatkan keinginan kita.." jawab pria yang membawa Maledine bersama satu kuda dengannya.


Tidak ada lagi pemberontakan yang dilakukan oleh Maledine. Selain percuma saja memberontak, dia pun sudah kelelahan. Badannya belum terlalu benar-benar sehat setelah demam yang menyerangnya ketika dia berada di desa dekat perbatasan ibukota untuk menyelidiki kasus tentang hewan ternak yang banyak mati.


Maledine hanya bisa berpasrah diri, jika memang ini adalah akhir dari kisah hidupnya setidaknya dia sudah memenuhi mimpi yang mulia ratu terdahulu, yaitu menjadi penggantinya. Jika memang ini akhirnya, Maledine tidak masalah jika mati dengan mengorbankan dirinya agar semua orang yang membencinya bisa tenang.


***************************************************


Direz merasa perasannya tidak enak entah karena apa. Dia yang merasa seperti tadi mendengar Maledine berteriak memanggil dirinya, namun setelah dia melihatnya tidak ada orang itu di sana, membuatnya berpikiran yang tidak-tidak. Lagipula tidak mungkin di hari yang hampir petang ini dia mendatangi kediaman Maledine. Bisa-bisa dia digosipkan menikung ayahnya sendiri.


Saat hendak ke ruang kerjanya untuk membaca laporan yang dikirimkan anak buahnya dari wilayah perbatasan, Dierez mendengar ribut-ribut di sisi kanan kediamannya. Sebelah kanan dari kediaman putra mahkota adalah kediaman ratu. Berarti keributan itu ada di tempat Maledine berada. Karena penasaran, Dierez pun memutar langkahnya menuju ke kediaman Maledine.


" Ada apa ini?" terlihat banyak orang sudah berkumpul di sana. Bahkan Raja juga ada di sana yang mana terlihat sangat panik saat ini.


" Yang mulia ratu menghilang, yang mulia.." jawab seorang penjaga yang tengah berkeliling seperti mencari sesuatu.


" Apa? Bagaimana bisa? Dimana para penjaga?" tanya Dierez.


" Penjaga tidak ada di sekitar sini yang mulia. Saat dayang dari yang mulia ratu sadar, mereka langsung melaporkan hilangnya yang mulia ratu pada yang mulia raja..Sekarang kami diperintahkan yang mulia untuk mecari petunjuk yang mungkin bisa menunjukan keberadaan yang mulia ratu.." tutur penjaga itu panjang lebar.


" Lanjutkan saja kalau begitu.." ucap Dierez yang langsng pergi dari tempat itu.


Dierez mulai berpikir jika apa yang dia dengar siang tadi adalah memang benar suara dari maledine yang mungkin saat itu dikejar oleh penculiknya. Seketika Dierez menjadi merasa bersalah karena tidak bisa mencegah peristiwa itu terjadi dan berakhir Maledine menghilang.


Dierez menelusuri lorong yang tadi dia rsa mendengar suara dari Maledine. Matanya menelisik setiap sudut, siapa tahu ada petunjuk yang bisa dijadikan dasar penyelidikan tentang kasus hilangnya yang mulia ratu ini.


" Apa ini?" gumam Dierez merasa tidak asing dengan benda yang kini dipegangnya.


Alis Dierez berkerut ketika dia mencoba untuk mengingat dimana kiranya dia pernah melihat benda yang dia genggam ini. Hingga beberapa saat, mata Dierez membola karena menyadari benda itu milik siapa. Tapi kenapa benda ini terjatuh, apakah ini merupakan petunjuk yang ditinggalkan oleh Maledine atau benda ini terjatuh secara tidak sengaja.


" Aku harus bicara dengan ayah.." ucap Dierez langsung berbalik arah menuju ke tempat yang ada ayahnya di sana.


Tak perlu kesusahan mencari keberadaan raja, karena jelas pasti pria ini berada di kediaman ratu karena khawatir dengan kondisi istrinya itu. Sudah pasti saat ini, entah dimana dia berada, Maledine pasti ketakutan. Memikirkan jika mungkin saja istri kecilnya tengah menangis saat ini, membuat raja frustasi karena rasa bersalah karena tidak mampu menjaga sang istri.


" Ini semua salah ku.. Andai saja aku mampu meredam kebencian orang-orang padanya.. Sekarang ini tidak mungkin dia mengalami kemalangan seperti ini. Apakah aku hanya orang yang membawa kesialan untuknya.." gumam raja yang terlihat sangat sedih saat ini.


" Anda tidak boleh bicara seperti itu yang mulia.. Anda yang paling tahu alasan dari mendiang ratu sampai meninggalkan surat wasiat yang meminta anda untuk menikahi gadis itu.. Jangan bicara ang artinya keputusan mendiang ratu adalah sebuah kesalahan.." William, selaku penasehat raja mencoba menasehati raja agar jangan sampai patah semangat.


" Yang perlu anda pikirkan saat ini adalah cara menemukan yang mulia ratu.. Jika anda terlalu lama larut dalam rasa bersalah dan kesedihan, saya tidak bisa membayangkan setakut apa beliua di sana.." Raja langsung menoleh ke arah William.


Sungguh sangat bodoh sekali dirinya ini, di saat Maledine ketakutan di tempat asing bersama orang asing. Dirinya yang sebagai suami bukannya mencari petunjuk atau mengutus orang untuk mencari tahu keberadaan istrinya, malah duduk bersedih hati meratapi nasib. Sungguh dia merasa gagal menjadi suami bagi Maledine.


" Kau benar William.. Panggilkan jendral Hans untuk segera menghadap ku.." titah raja. Jendral Hans adalah jendral yang memimpin pasukan pribadi raja.


" Tidak perlu ayah.. Biarkan masalah ini aku yang menanganinya.. Aku sudah mendapatkan petunjuk, tinggal mendalami petunjuk ini dan kita akan menemukan keberadaan istri anda itu.." Dierez yang sejak awal mendengar percakapan ayahnya dengan penasehatnya, langsung keluar ketika ayahnya hendak memanggil pemimpin pasukan pribadinya.


Sebenarnya Dierez sedikit penasaran dengan ucapan dari Willian tentang sang ayah yang tahu alasan kenapa mendiang ibunya meminta raja untuk menikahi Maledina. Namun, bertanya di situasi semacam ini sangat lah tidak tepat. Jadi Dierez akan menyimpan rasa penasarannya ini dan akan dia tanyakan nanti setelah Maledine di temukan.


" Apakah benar kau mau mengambil tugas ini, putra ku?" tanya raja yang terlihat terkejut saat ini.


" Kau sedang tidak mencoba merencanakan sesuatu di belakang ku kan?" Dierez langsung menggeleng.


" Bukankah penilaian ku tentang dia belum usai. Jadi sudah sewajarnya aku menyelamatkannya agar suatu saat nanti bisa mengatakan dengan jelas pada ayah apa kelemahannya setelah mengenal dia nantinya.." jawab Dierez berusaha menutupi niatnya yang sebenarnya.


" Jika begitu, ayah akan sangat senang sekali. Karena kau adalah orang yang paling mampu dalam menjalankan misi penyelamatan ini.. Pergilah nak. Selamatkan gadis malang itu.. Lagi, terima kasih karena masih mau menolong gadis malang itu.." ucap raja.