The Queen'S Love Scandal

The Queen'S Love Scandal
Hancur



Ratu duduk di lantai dan menangisi nasib hidupnya dan anak yang dikandungnya setelah raja mengetahui rahasia yang selama ini dia dan kekasih hatinya tutupi. Ratu tidak tahu harus berbuat apa, menentang keputusan raja pun tidak bisa karena persyaratan ari raja agar dirinya tidak dihukum adalah mengatakan siapa yang menjadi ayah dari anaknya. Bagaimana bisa ratu mengatakan itu dan membuat hubungan raja dan putranya sendiri menjadi hancur.


Dipikir hingga hari berubah menjadi gelap pun ratu sudah tidak lagi mampu memikirkan cara untuk lepas dari masalah ini. Satu-satunya yang bisa dia lakukan hanyalah menuruti ucapan raja dengan begitu dia dan anak yang dikandungnya masih isa hidup. Masalah dengan putra mahkota akan ratu usahakan untuk berbicara ketika putra mahkota selesai dengan misinya.


" yang mulia.." dayang yang selama ini menjadi perantara antara putra mahkota dan ratu mendatangi ratu untuk menanyakan apa yang harus dia lakukan.


" Jangan katakan apapun padanya, biarkan semua ini aku yang akan menanggungnya. Dari awal bukan salah dirinya, melainkan salah ku yang tidak bisa menahan diri." Maledine pun bangun dari posisinya yang sejak pagi tadi hanya terduduk di lantai berlapis karpet tebal.


" Siapkan semuanya, malam ini kita akan menuju istana dingin.." titah Maledine yang langsung dilaksanakan oleh dayangnya.


Persiapan untuk pergi ke istana dingin sudah selesai. Kereta kuda yang membawa ratu ke tempat itu juga sudah siap di depan kediaman ratu sejak sore tadi. Ratu bersiap pergi dengan membawa dua dayang pribadinya yang satu adalah dayang dari putra mahkota dan satu lagi memang dayang ratu terdahulu yang kemudian menjadi dayangnya.


" Tidak pernah aku sangka, jika aku akan meninggalkan tempat ini disaat aku mulai merasa jika tempat ini bisa menjadi rumah bagi ku.." batin Maledine ketika dirinya menatap kediaman yang dia tempati selama hampir satu tahun terakhir ini.


Kereta kuda yang membawa ratu menuju ke istana dingin pun berangkat. Dari jarak pandang yang aman, raja menyaksikan semua itu dan hatinya begitu sakit saat melihat istrinya harus meninggalkan istana dengan cara yang buruk seperti ini. Hati raja hancur karena pengkhianatan dari putra dan istrinya sendiri.


" Uhuk...uhuk..uhuk.." raja terbatuk, sampai membuat William yang terus berada disampingnya panik.


" Yang mulia.. Sebaiknya anda istirahat terlebih dahulu.. Jika terus begini, kesehatan anda akan memburuk. " William memapah raja untuk kembali ke kediaman pribadinya.


Tidak ada yang bisa dilakukan raja saat ini. Dirinya begitu hancur dengan pengkhianat orang-orang terdekatnya hingga mengakibatkan kondisi kesehatannya memburuk dan raja harus mendapatkan perawatan dari tabib istana.


Berita mengenai kondisinya yang memburuk tidak boleh sampai didengar oleh orang-orang yang selama ini tengah mengawasinya atau nyawa seseorang yang sangat dia cintai akan terancam. Meski saat ini raja terlihat kejam, namun semau ini dia lakukan demi melindungi seseorang yang begitu dia sayangi dan cintai dengan segenap hatinya.


Niat hati ingin istirahat setelah melewati hari yang sulit, namun keinginan raja ini harus dia pendam karena saat ini di depan kediamannya berdiri selir Oclariana. Raja hanya bisa menghela nafas tanpa ingin mengambil pusing kedatangan selirnya ini yang pasti akan membahas tentang hukuman ratu.


" Maaf, yang mulia.. Akan tetapi yang Mulia Raja saat ini ingin beristirahat.. Anda bisa datang kembali besok karena raja tidak ingin diganggu saat ini." William mewakili raja mengusir selir Oclariana yang kedatangannya sama sekali tidak diharapkan oleh raja saat ini.


" Maafkan atas kelancangan saya yang mulia, tapi ini adalah perintah dari yang mulia raja secara langsung." William tidak gentar meski dirinya yakin akan terus diteriaki oleh selir dari raja ini.


" Aku tidak akan pergi sebelum bertemu dengan yang mulia raja.. Jangan menghalangi ku atau aku akan berbuat nekat.." selir Oclariana mengeluarkan jurus andalannya.


Raja yang sudah bersiap untuk naik ke atas ranjangnya, sampai mengurungkan niatnya ketika mendengar selirnya mengancam akan berbuat nekat. Raja tahu betul apa yang disebut dengan berbuat nekat jika yang mengucapkannya adalah selirnya. Akhirnya, dengan terpaksa raja pun menemui selir Oclariana aga setelahnya dia bisa beristirahat dengan tenang.


" Biarkan selir masuk, Will.." raja berucap dari dalam kamar pribadinya.


" Silahkan masuk yang mulia.." William membukakan pintu untuk selir Oclariana yang sudah bisa ditebak bagaimana ekspresi wajahnya saat ini yang pasti terlihat sangat sombong.


" Yang mulia.. Maafkan saya yang mengganggu istirahat anda di malam hari ini.. Akan tetapi, ada beberapa hal yang harus saya bahas dengan anda." selir Oclariana langsung duduk tanpa dipersilahkan oleh raja.


" Silahkan selir mengatakan apa yang ingin dibicarakan.. Sebaiknya cepat dibahas karena kita butuh segera istirahat malam ini." ujar raja terkesan ingin cepat mengakhiri pembicaraan malam ini.


" Ini tentang hukuman dari ratu.. Oh maaf, mantan ratu.. Kenapa nada tidak melakukan hukuman yang sesuai dengan peraturan yang ada di istana ini?" raja langsung memejamkan matanya karena sudah tahu jika inilah yang akan dibahas oleh selirnya.


" Aku memiliki beberapa pertimbangan.. Dan aku rasa sebagai seorang pemimpin dan penguasa wilayah ini, aku memiliki hak untuk tidak mengatakan alasan ku dalam memperlakukan seseorang kan." selir Oclariana mengatupkan bibirnya rapat. Lupa dengan siapa dia berbicara.


" Dengarkan aku selir ku.. jangan melewati batasan mu atau kau jua akan mendapatkan hukuman karena berani mempertanyakan keputusan dari pemimpin dan penguasa wilayah ini. Jadi lebih baik jika selir kembali ke kediamannya dan beristirahat." ujar raja kemudian meminta William mengantarkan selir keluar dari ruangannya.


Di luar kediaman pribadi raja, beberapa kali terdengar jika selir Oclariana mengumpat. kakinya bahkan dia hentakan ke lantai karena dirinya sangat kesal dengan tanggapan raja mengenaii maksud kedatangannya ke tempat ini.


" Jika anda tidak bisa membuat saya merasa puas karena wanita murahan itu. mak biarkan saya yang turun tangan sendiri memberi pelajaran pada calon mantan ratu yang sudah dnegan tidak tahu malunya menggaet anak dan ayahnya.." selir Oclariana menyeringai karena telah berhasil memikirkan cara membuat Maledine menderita.