
Semenjak kedatangan putri Conrad yang menyatakan kecurigaan nya pada hubungan putra mahkota dan Maledine, sejak saat itu, Maledine lebih banyak di kediamannya saja dan hanya keluar jika diperlukan. Untuk bertemu dengan putra mahkota, biasanya mereka akan berjumpa di waktu tengah malam di pondok yang ada di dalam hutan di kediaman ratu yang lama. Untuk ke sana, Maledine menyamar sebagai pelayanan agar tidak ada yang curiga.
Putra mahkota, sengaja meletakan dayang dan pengawal di tempat raja, untuk berjaga-jaga jika saja raja ingin mengunjungi Maledine saat malam hari. Jika seperti itu, maka putra mahkota yang mendapatkan laporan dari orangnya di tempat raja, akan membatalkan pertemuannya dengan Maledine. Beruntungnya, sangat jarang sekali raja berada di kediaman Maledine saat malam hari. Kerjaan yang menumpuk, membuat raja tidak bisa berbuat apa-apa.
Banyaknya pekerjaan raja, jelas ini merupakan campur tangan dari Dierez. Sebagian pekerjaannya diserahkan pada raja, dengan alasan Dierez tengah menyelidiki masalah ratu. Tentu saja jika sudah menyangkut ratu, tidak akan bisa raja menolak. Contohnya saja malam ini, ketika Luke mengantarkan beberapa laporan yang harusnya diperiksa oleh putra mahkota, namun dilimpahkan pada raja dengan alasan malam ini, putra mahkota akan kembali menginterogasi tersangka.
" Sudah kau antarkan? " Tanya Dierez ketika melihat Luke datang menghadapnya.
" Sudah yang mulia.. " Luke mengangguk.
" Kalau begitu, kita ke penjara terlebih dahulu.. Sampaikan pada dayang itu, agar dia datang tepat tengah malam.. " Luke mengangguk.
' Dia ' yang dimaksud oleh putra mahkota ini jelas Luke paham betul karena pastinya hanya satu orang yang akan disebut ' dia ' oleh putra mahkota. Ratu, itulah ' dia ' yang putra mahkota maksud. Mereka berdua akan mengadakan pertemuan lagi malam ini, namun bukan di pondok melainkan di kediaman lama ratu. Tempat itu untuk saat ini aman karena pasukan Dierez berjaga di sana.
Putra mahkota, tetap harus menjalankan kewajibannya untuk mengurus tersangka kasus di kediaman ratu agar bisa menjadi alibi dirinya. Tahunya raja dan orang-orang, putra mahkota tengah menginterogasi tersangka, dan tanpa mereka ketahui, hampir setiap malam putra mahkota akan bertemu dengan Maledine.
" Masih belum mau mengatakan siapa yang memerintah mu? " Tanya Dierez pada seorang pelayan yang merupakan tersangka dalam kasus di kediaman ratu.
Pelayan ini tetap kekeh tidak mau bicara padahal tidak kurang-kurang putra mahkota meminta orangnya untuk memaksa pelayan ini buka suara. Pakaiannya yang awalnya rapi saja sekarang menjadi compang camping lantaran siksaan yang dilakukan oleh anak buah putra mahkota. Darah kering banyak di sekujur tubuhnya, namun pelayan ini masih saja tetap diam.
" Apa yang mereka berikan pada mu, sampai kau sebegitu loyal nya pada mereka yang bahkan sudah tidak peduli pada mu. " Tanya putra mahkota tidak habis pikir.
Pelayan itu hanya menunduk diam, tidak tahu harus berkata apa. Bukan masalah dia memiliki sikap loyal yang tinggi pada tuannya. Hanya saja, saat ini sesuatu yang begitu berarti baginya telah dikuasai oleh tuannya. Jika sampai dia melakukan sesuatu yang berakibat fatal pada tuannya, maka dia akan benar-benar kehilangan apa yang menurutnya sangat berharga.
Putra mahkota bukannya tidak tahu apa yang tengah menjadi alasan kenapa pelayan ini masih tetap bungkam padahal bukan hal yang ringan yang dilakukan oleh anak buah putra mahkota selama proses interogasi. Satu hal yang membuat putra mahkota salut dengan pelayan ini adalah karena dia yang memiliki mental yang sangat kuat.
" Sejujurnya.. Aku mau membantu mu asal kan kau mau bekerja sama dengan ku.. Kalau memiliki sesuatu yang mengganggu, katakan pada ku maka aku akan membantu. Tentu satu syarat dari bantuan yang aku berikan pada mu...Kau pasti tahu kan?" putra mahkota menyeringai. Setelah puas menginterogasi tersangka kasus yang menimpa kekasihnya.
Setelah dari ruang tahanan, putra mahkota lekas pergi ke pondok yang ada di hutan kecil dekat dengan kediaman ratu yang lama. Ada jalan rahasia yang hanya diketahui putra mahkota yang mana bisa ke pondok itu tanpa diketahui siapapun.Dan lorong inilah yang akhir-akhir ini sering dilewati oleh putra mahkota.
Pintu pondok terbuka dari luar, siapa lagi pelakunya jika bukan putra mahkota. Bibirnya langsung mengulas senyum saat mengetahui jika kekasih hatinya sudah berada di dalam pondok itu menunggu dirinya. Hati putra mahkota tiba-tiba terasa sangat hangat karena perhatian kecil yang kekasihnya lakukan.
" Sudah lama tiba?" tanya Dierez basa basi.
" Belum juga yang mulia.. Apa ada masalah sampai anda datang terlalu akhir?" tanya Maledine yang sedikit khawatir dengan kesehatan Dierez yang sangat sibuk akhir-akhir ini.
" Biasa.. Pelayan yang menjadi pesuruh dari orang yang ingin mencelakai mu tidak mau mengaku juga. Padahal tanpa dia berucap pun aku sudah tahu siapa yang memerintahkannya. " Dierez terlihat kesal.
Maledine tersenyum melihat wajah dari putra mahkota yang selalu terlihat menggemaskan saat dia tengah kesal atau merajuk. Menurut Maledine, putra mahkota akan berkali-kali lipat lebih tampan dari biasanya jika sedang dalam ekspresi wajah seperti ini. Sepertinya anak dalam kandungannya begitu senang melihat ayahnya bersikap seperti ini.
" Kenapa senyum-senyum sendiri? Kau mengolok ku?" tanya Dierez dengan mata yang melotot marah ke arah Maledine.
" Tidak.. Tentu saja tidak.. Kenapa saya harus mengolok anda? Menurut saya ... ehm.. anda menjadi sangat tanpa saat mengerucutkan bibir seperti tadi.." Maledine menunduk malu karena telah mengatakan alasan yang membuatnya senyum-senyum sendiri.
" Benarkah? " Dierez terlihat tersneyum, namun sedetik kemudian," Jadi sebelum-sebelumnya aku tidak tampan, begitu maksud mu?" Dierez langsung mengubah wajahnya yang semula tersenyum menjadi terlihat marah.
Maledine yang mendapatkan sinyal bahaya dari putra mahkota, lekas memundurkan tubuhnya. Namun naasnya, punggungnya sudah terbentuk ke dinding sehingga dia tidak bisa melarikan diri ketika putra mahkota mendekatkan badannya dan langsung menyambar bibir Maledine dengan begitu rakus. Keduanya saling menyesap dan saling *******, meresapi rindu yang tengah mereka coba untuk salurkan melalui ciuman mereka ini.
Maledine merasa berjuta kupu-kupu bertebaran di dalam perutnya karena dicium oleh Dierez begitu dengan gelora. Sungguh, hal seperti inilah yang membuat Maledine akhirnya terjatuh ke lubang dosa. Dirinya tidak sanggup menolak candu yang dihantarkan oleh putra mahkota di setiap sentuhan yang diberikannya.
" Stttsss... Kalau tidak mengingat kata tabib kau tidak boleh melakukan hubungan suami istri, sudah ku terkam kau.." Dierez mendesis lantaran telah membangunkan sesuatu yang tidak seharusnya dia bangunkan. Pasalnya, jodoh dari sesuatu yang terbangun dalam dirinya ini sedang tidak bisa diajak bertemu karena kondisi pemiliknya yang tengah hamil muda.
" Maaf.... Anda jadi..." ucapan Maledine terpotong karena Dierez menutup mulut Maledine dengan satu jarinya.
" Tak apa... Disini bukan kau yang salah.. Aku justru sangat bahagia sekarang, karena ada buah cinta kita di dalam sini.." Dierez mengusap perut Maledine yang sudah tidak terhalang apapun itu.