
Di salah satu ruangan di kastil Damocles, suasananya terasa mencekam karena amarah dari kedua keturunan mendiang raja Delroy. Apalagi penyebabnya jika bukan masalah yang akhir-akhir ini menjadi buah bibir di istana. Tentang siapa pria yang telah menghamili mantan ratu.
Aeolus terus mengepalkan kedua telapak tangannya karena tidak ada tanggapan sama sekali dari Dierez setelah duduk di ruangan yang sama ini hampir satu jam lamanya. Dierez hanya meminum wine yang ada di tangannya, enggan menjelaskan apapun pada Aeolus.
BRAAKKK
Habis sudah kesabaran Aeolus. Dia pun menggebrak meja yang ada di depannya tanpa peduli dengan siapa dia berhadapan saat ini.
" Sampai kapan kakak akan diam? Atau kakak sedang mencari-cari alasan untuk menutupi semuanya? " Sarkas Aeolus.
" Heh... " Dierez tersenyum meremehkan.
" Disini kau menempatkan posisi mu sebagai apa dan siapa? Beraninya kau bertindak tidak sopan para ku!! " Mata Dierez menatap tajam Aeolus seperti ingin menguliti tubuh pria yang duduk di depannya itu.
" Sebagai anak ayah.. " Jawab Aeolus, tidak gentar.
" Bagus.. Aku suka dengan keberanian mu.. Sayangnya, tidak seharusnya keberanian mu yang besar itu kau gunakan untuk melawan ku.. Pangeran kedua.. " Setelah mengatakan kalimat yang cukup tajam di dengar telinga, Dierez bangkit dari duduknya menuju ke sebuah lemari yang berisikan banyak sekali buku.
Dierez mengambil dua buku berwarna merah yang memang hanya dua buku ini yang memiliki tampilan paling menyolok. Dierez kemudian melempar kedua buku itu tepat di depan Aeolus, dan kemudian kembali duduk di kursi khusus untuknya.
" Buka dan baca.. Setelahnya putuskan siapa yang menurut mu tidak tahu diri disini.. Kau... Aku... Atau mendiang raja.. " Ucap Dierez bagai sebuah perintah yang langsung Aeolus laksanakan.
Dua buku berwarna merah, yang berisikan curahan hari dari dua mantan ratu. Yang Aeolus baca lebih dahulu adalah buku milik mendiang ratu yang merupakan ibu dari Dierez. Bukunya terlihat sedikit lebih usang jika dibandingkan satu buku lagi.
Aeolus membuka satu demi satu, lembaran di dalam buku yang merupakan curahan dari mendiang ratu. Hingga habis semua lembaran halaman di buku itu, Aeolus akhirnya menyadari satu hal yang janggal di dalamnya.
Aeolus menatap ke arah Dierez yang kini menyunggingkan senyum mengejek ke arahnya. Belum saja Aeolus tahu, betapa mendiang raja telah berbuat banyak kesalahan hanya demi keegoisannya akan cinta dari wanita muda yang tidak sekalipun memperhatikannya.
" Baca satunya lagi!! Kenapa kau diam? Takut jika apa yang akan kau baca nyatanya membuat hati mu terluka? " Ejek dierez.
Meski ada keraguan, tapi pada akhirnya Aeolus tetap membaca buku yang satunya lagi. Tulisan tangan seorang dari kalangan bawah seperti mantan ratu, cukup membuatnya terkesan. Muncul pertanyaan, bagaimana bisa orang dari kalangan bawah bisa membaca dan menulis seperti mantan ratu. Apa ada sesuatu di balik identitasnya itu.
Hingga akhirnya, Aeolus membaca curahan hati mantan ratu yang ternyata mampu membuatnya mendapatkan jawaban atas semua pertanyaannya itu. Aeolus, menatap tidak percaya ke arah Dierez, dan yang dia tatap justru menyunggingkan senyum penuh kemenangan.
" Mending ayah, membuat sebuah kebohongan besar mengenai pesan terakhir mendiang ibu ku.. Dari sini saja kau tahu, siapa yang salah dalam hal ini.. Karena aku tidak merebut apa yang memang seharusnya menjadi milik ku kan? " Ucap Dierez begitu Aeolus menutup buku yang dia baca.
" Kenapa mendiang ayah melakukan itu semua? " Tanya Aeolus yang kini dari nada suaranya sudah tidak sekasar tadi.
" Serakah.. Menginginkan sesuatu yang bukan miliknya.. Ayah, adalah orang yang menghancurkan keluarga Maledine, dan ibu ku yang menyelamatkan Maledine dan menjaganya untuk tetap disisinya. Kemudian, sebelum ibu meninggal, beliau memberikan wasiat yang mengatakan jika beliau menitipkan Maledine pada ku, namun ayah mengubah semua itu.. "
" Sejak awal, ayah memang sudah menargetkan Maledine. Karena saat itu, Maledine masih berusia dua belas tahun. Ayah dengan setia menunggu sampai Maledine memiliki usia yang pantas untuk dia nikahi.. " Dierez mengatakan semua hal yang dia ketahui.
Aeolus ingin percaya ucapan Dierez, tapi otaknya menolak itu semua. Dierez pasti sudah merancang sedemikian rupa untuk membuatnya terlihat tidak bersalah. Mana ada maling yang mengaku, begitulah jalan pikiran Aeolus saat ini.
Tapi benarkah, sampai segitunya Dierez merancang semua ini, sampai-sampai melibatkan wasiat mendiang ratu. Lalu, Aeolus juga mengetahui akhir dari keluarga Maledine, hanya saja untuk adanya keluarga yang masih selamat dari peristiwa itu, Aeolus tidak mengetahuinya.
" Apa sudah sejak lama kau mengetahui semua ini? " Tanya Aeolus mengutarakan kecurigaan nya.
" Kau pasti mengira aku merancang semua ini.. Boleh saja.. Tapi aku juga baru mengetahui semua ini setelah diri ku menjadi raja dan aku murka karena itu. Ayah, telah melakukan perbuatan yang hina hanya demi kepuasan nya saja.. Awalnya aku merasa bersalah telah merebut Maledine darinya. Tapi setelah semua ini, rasanya aku sama sekali tidak bersalah disini.. " Ucap Dierez penuh keyakinan tanpa terlihat sedikit saja rasa takut di matanya.
" Aeolus... Aku tahu kau tidak bodoh, jadi kau pasti bisa menyimpulkan apa yang akan aku katakan pada mu sekarang ini.. " Dierez menjeda sebentar ucapannya, menatap mata Aeolus dengan tatapan yang dalam.
" Menurut mu, apakah kau bisa menerima ataupun mencintai orang yang telah melemparkan mu dalam neraka? "
Tubuh Aeolus membeku. Ucapan Dierez barusan, meruntuhkan semua kepercayaan dirinya yang menganggap jika disini Dierez lah yang bersalah atas apa yang menimpa ayah mereka.