
BBBRRRRAAAAAKKKKKK
" BRENGSEK.. APA YANG KALIAN LAKUKAN.. BAJI******... " teriakan Dierez menggema di sebuah rumah yang sudah tidak layak huni. Matanya memerah, menatap tajam pada delapan pria dan satu wanita yang dia sangat kenal. Sungguh, Dierez ingin meremukan semua tulang dari kedelapan pria di depannya ini.
Beberapa jam yang lalu,
Dierez duduk di balkon kamarnya, memutar otaknya untuk bisa menebak apa maksud dari Maledine yang menjatuhkan bros dengan gambar hutan pinus. Dari sekian banyaknya bros yang cantik milik wanita itu, kenapa justru bros bergambar pohon pinus. Mungkinkah ini sebuah petunjuk, atau hanya ketidaksengajaan Maledine menjatuhkan bros ini.
Maledine sudah hilang selama dua hari, terhitung dari beberapa jam yang lalu. Saat ini, langit masih sangat gelap namun bisa dikatakan jika saat ini pagi hampir menjelang. Sudah dua hari Dierez tidak tidur, karena memikirkan penculikan Maledine.
Bukankah jika seperti ini, Dierez harusnya merasa senang. Dengan begini, keinginannya terwujud, untuk menyingkirkan Maledine. Bahkan sekarang dipermudahkan dengan dia yang tidak perlu melakukan semua itu dengan tangannya sendiri. Tapi entah kenapa, penculikan Maledine membuat Dierez merasa tidak tenang. Pikirannya selalu dihantui wajah Maledine yang menangis.
" Wanita itu pasti ketakutan saat ini.. Huft.. Dimana kau, gadis nakal..? " monolog Dierez.
Ketika mata Dierez menatap ke depan dengan tatapan kosong, Tiba-tiba saja terlintas dipikirannya sebuah fakta yang sepertinya sedikit masuk akal meski itu sangat dipaksa benar oleh Dierez. Tapi tidak ada salahnya mencoba mencari tahu dari sana. Siapa mungkin, dia bisa menemukan keberadaan Maledine. Perasaan Dierez tidak enak tentang penculikan ini, jadi dia harus secepatnya menemukan keberadaan Maledine.
" Hutan pinus? Mungkinkah dia mencium aroma hutan pinus dari penculiknya? Bukankah terlalu kebetulan jika Maledine memiliki bros bergambar hutan pinus diwaktu yang bersamaan dengan dia diculik..? " batin Dierez merasa dirinya memaksa fakta yang ada dipikirannya untuk menjadi kebenaran.
" Yang mulia.. Kenapa anda belum beristirahat? " tanya Luke, pria yang merupakan pengawal pribadi Dierez.
" Luke.. Kau dulu berasal dari mana? " tanya Dierez. Alis Luke berkerut, merasa sedikit aneh dengan pertanyaan dari tuannya ini.
" Saya berasal dari desa Wientroy, yang mulia.. " jawab Luke.
" Desa itu... Sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya kan? " Luke mengangguk.
" Desa Wientroy, merupakan desa yang berada di bagian luar hutan pinus yang ada di wilayah selatan ibukota. Benar begitu kan? " sekali lagi Luke mengangguk, " Apa di sana pernah ada sekelompok penjahat, atau mungkin sekelompok orang yang melakukan apapun demi uang? " Dierez melanjutkan pertanyaannya.
" Benar yang mulia. Di sana memang ada sekelompok orang yang menjadi pasukan bayaran, yang akan melakukan tugas apapun demi uang. " Dierez tercengang. Semua tebakannya benar, Jangan-jangan seseorang dari dalam istana bekerja sama dengan mereka, dan terjadilah penculikan Maledine ini.
" Benarkah? Bagaimana bisa laporan ini tidak sampai ke istana? " Dierez kaget.
" Kemungkinan di dalam istana ini ada orang yang menutupi keberadaan mereka. Seperti timbal balik, yang mulia.. Dan, mereka memiliki simbol hutan pinus yang berupa sebuah bros.. " ucap Luke.
Mata Dierez terbelalak saat Luke mengatakan bros bergambar hutan pinus yang merupakan simbol kelompok itu. Sungguh tidak Dierez duga jika bros ini milik penculik. Karena terus terang saja, awalnya Dierez berpikir ini milik Maledine yang ditinggalkan di sana sebagai petunjuk. Rupanya bros ini pastilah sengaja Maledine ambil dan dia jatuhkan untuk meninggalkan jejak untuk siapa saja yang mencarinya.
" Luke.. Katakan pada semua pasukan kita untuk bersiap ke Wientroy.. " titah Dierez.
" Apa? Aku tidak punya banyak waktu, Luke.. Kalau memberi informasi itu jangan setengah-setengah.. " tegur Dierez dengan suara yang sedikit meninggi.
" Mereka membagi kelompok mereka tersebar ke semua hutan pinus yang ada di Kerajaan ini. Total, ada lima hutan pinus di Kerajaan ini. Jadi, jika anda ingin mengetahui posisi sebenarnya yang Mulia ratu, anda harus menyusuri kelima hutan itu, Yang mulia. " ucap Luke langsung karena takut terkena amukan tuannya yang dalam mode senggol bacok itu.
" Kalau begitu segera bagi pasukan, dan temukan keberadaan ratu sekarang. Entah kenapa, aku mereka sesuatu yang buruk akan terjadi.." ujar Dierez tidak sabar.
Matahari sudah terbit, namun kabar dari pasukan yang Dierez kirim masih belum ada. Sudah beberapa kali Dierez mondar mandir keluar masuk kamarnya hanya untuk mencari tahu apakah pasukannya sudah kembali atau memberi kabar. Dierez jadi kesal sendiri lantaran anak buahnya tidak bisa menjalankan misi dengan cepat.
" Apa aku terlalu baik pada mereka? Sampai melakukan misi segampang ini saja mereka membutuhkan waktu sampai berjam-jam.. Sungguh perasaan ku tidak nak sama sekali, apakah akan terjadi hal buruk pada gadis itu." gumam Dierez kesal.
" Tidak bisa dibiarkan.. Setidaknya aku harus menyiapkan pasukan ku terlebih dahulu. Jika berita sudah tiba, aku tinggal berangkat. Dengan begini bisa menghemat waktu.." cetus Dierez yang langsung pergi ke tempat dimana pasukannya berada.
Setelah Dierez dan sebagian dari pasukannya yang memang tetap tinggal di istana yang mana nantinya akan berangkat menuju tempat dimana Maledine berada bersama dengan putra mahkota.Bertepatan dengan sudah siapnya pasukan Dierez, datang pengirim pesan dari pasukan yang Dierez titahkan untuk mencari keberadaan Maledine.
" Yang mulia.. Menurut pesan yang dikirimkan pasukan kita, mereka berada di bagian selatan. Berarti, tempat itu benar adalah Wientroy." ucap Luke.
" Kalau begitu, kita berangkat sekarang.." titah Dierez.
Sungguh tidak pernah Dierez sangka, melihat Maledine dalam kondisi mengenaskan seperti membuat hatinya panas. Ketika Dierez sampai di tempat yang mana digunakan untuk menyekap Maledine, kedua matanya melihat denan jelas bagaimana kondisi Maledine saat ini. Baju sudah terlepas dari dalam tubuhnya. Beruntung Dierez dan pasukannya tepat waktu, sehingga bisa mencegah tubuh Maledine dinikmati pria-pria jahat itu.
" Menyingkir dari wanita itu, jika kalian tidak ingin berakhir mengenaskan.." ancam Dierez. Namun sepertinya kedelapan pria ini tidak sama sekali mengindahkan ucapan dari Dierez.
" Heh.. Siapa kau beraninya memerintah kami?" tanya ketua dari kelompok yang hampir saja memperkosa Maledine.
" Jika itu yang kau inginkan, baik.. Aku akan segera mengabulkan keinginan kalian bertemu dengan dewa kematian.." ucap Dierez sebelum mengayunkan pedangnya menghajar delapan pria yang telah membuat seluruh tubuhnya panas dingin karena marah.
Maledine sendiri memilih duduk di pojokan ruangan itu dengan tubuh yang sudah tidak memakai sehelai benang pun untuk menutupinya. Maledine menenggelamkan kepalanya pada kedua lututnya yang dia tekuk untuk menutupi tubuhnya agar semakin tidak terekspos.
Badannya bergetar kuat lantaran ketakutan yang masih tersisa di dalam dirinya. Sungguh dia harus berterima kasih pada Dierez karena datang tepat waktu sebelum dirinya menjadi pemuas kedelapan pria yang sekarang sudah tergeletak tidak bernyawa di tangan Dierez.
" Maledine.. Kau tidak apa? " Dierez berjongkok do depan Maledine. Melepas jubahnya, kemudian menutupi seluruh tubuh Maledine dengan jubah itu.
" Maledine.. Ayo kita pulang.." Dierez hendak mengangkat tubuh Maledine. Namun dikejutkan ketika tiba-tiba tubuh Maledine tergeletak di lantai karena tidak sadarkan diri.
" Maledine...bangun.. Bangun... Maledine.." Dierez berteriak memanggil nama ibu tirinya itu.