The Queen'S Love Scandal

The Queen'S Love Scandal
Rindu



Berita mengenai ratu yang telah mengandung sudah tersebar di seluruh penjuru istana. Raja, sengaja mengadakan pesta di seluruh bagian kerajaannya sebagai syukur atas karunia dari dewa karena ratu telah mengandung keturunannya. Namun, bukan hanya raja yang bahagia atas kehamilan dari ratu, putra mahkota pun senang bukan main karena dia sedang menunggu saat menjadi seorang ayah.


Putra mahkota bahkan tidak pernah bisa tidur nyenyak lantaran kebahagiaannya atas kehamilan dari ratu. Mau apa kata orang, putra mahkota tidak peduli karena dia sungguh sangat bahagia saat ini. Secara diam-diam dia membagikan sedikit harta miliknya pada rakyat yang membutuhkan sebagai bentuk syukur.


Jika raja selalu membuat pesta jika dalam suasana hati yang baik. Lain dengan putra mahkota yang tidak akan lupa berbagi dengan yang membutuhkan. Memang keduanya berbeda, namun entah sejak kapan, rakyat di Kerajaan antah berantah ini lebih mengunggulkan putra mahkota sebagai pemimpin mereka.


" Pesta lagi? " Tanya Maledine saat pelayan pribadinya mengatakan jika raja akan mengadakan pesta besok.


" Benar yang mulia.. Saya diminta menyampaikan pada anda agar besok anda bersiap. Karena menurut yang mulai raja, anda adalah pemilik acara besok.. " Ucap pelayan pribadi ratu.


HUFT..


Maledihe menghela nafas lantaran jengah dengan apa yang raja lakukan. Dulu, saat mendiang ratu masih hidup, selama Maledine menjadi pelayan, terhitung sudah puluhan bahkan hampir ratusan kali raja mengadakan pesta. Awalnya Maledine yang dulu menikmati saja setiap pesta karena akan ada pertunjukan dan juga makanan enak. Tapi sekarang, Maledine mulai memahami arti ucapan dari ratu terdahulu padanya.


" Jangan sampai ada pesta lagi setelah ini.. Rasanya aku tidak akan sanggup.. " Gumam Maledine.


Dia kembali merenung di balkon kamarnya, menatap ke arah depan yang mana dari tempatnya saat ini, dia bisa melihat kediaman selir Oclariana. Maledine kembali menghela nafas, karena tempat dimana dia berada saat ini, mempersulitnya bertemu dengan putra mahkota.


Entah bawaan janinnya atau memang Maledine sudah sangat cinta, dia selalu merindukan putra mahkota untuk terus terlihat oleh kedua matanya. Pagi tadi saja, Maledine sengaja berlama-lama sarapan agar bisa melihat wajah putra mahkota dari dekat. Sayangnya, karena putra mahkota memiliki jadwal, keduanya tidak bisa saling melepas rindu terlebih dahulu.


" Kau.. Kemarilah!! " Pintar Maledine pada dayang yang merupakan utusan dari putra mahkota.


" Ada yang bisa saya bantu, yang mulia? " Dayang ini menawarkan diri.


" Bisa kau... Ehm.. Bagaimana ya mengucapkannya.? " Maledine tidak tahu harus berucap bagaimana lantaran malu ketahuan ingin bertemu dengan putra mahkota.


" Anda bisa ke taman anda yang ada di kediaman lama.. Jika anda sangat ingin melihat beliau.. " Dayang itu tersenyum, seolah dia bisa membaca jalan pikiran tuannya.


" Bukan.. Bukan itu maksud ku.. Aku hanya... " Maledine yang malu menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


" Beliau tidak bisa kemari karena orang-orang selir Oclariana tengah mengawasi anda. Bisa jadi, akan ada gosip tidak sedap jika yang mulia datang kemari.. Jadi, beliar berpesan seperti itu. Jika anda ingin bertemu, anda bisa datang ke taman bunga milik anda di kediaman lama. " Maledine yang kini ganti tersenyum. Rupanya, putra mahkota masih perhatian dengannya.


************


" Luke.. Apakah ada sesuatu yang terjadi dengan tuan mu? Apa dia mengalami kecelakaan saat pulang ke istana, kenapa dia terlihat terus tersenyum begitu? " Tanya Aeolus yang berkunjung ke istana begitu mengetahui Dierez telah kembali ke istana.


" Saya juga tidak tahu yang mulia pangeran. Seingat saya, kamu sampai di istana dengan selamat tanpa kekurangan suatu apapun.. " Ujar Luke enggan mengatakan yang sebenarnya.


" Rasanya aneh.. Dia mirip orang jatuh cinta. Apa hubungannya dengan putri Conrad meningkat ke tahap yang lebih serius ya? " Aeolus masih bingung dengan perubahan sikap dari kakaknya itu.


" Siapa yang meningkat dengan wanita itu? Jangan membuat gosip tidak benar, Aeolus.. Aku tidak ingin seseorang salah paham.. " Dierez menegur pangeran kedua.


Namun sepertinya Aeolus harus menelan pil pahit karena Dierez sama sekali tidak mengatakan apapun. Pria ini justru meninggalkan Aeolus begitu saja dan memilih untuk pergi ke istana utama menemui sangat ayah untuk membahas mengenai masalah yang terjadi di kediaman ratu.


Aeolus pun memilih mengikuti karena memang seharusnya dia pergi ke tempat ayahnya dahulu untuk memberi salam. Tapi, dia justru membaliknya dan malah pergi ke tempat Dierez berada. Aeolus memang tidak terlalu dekat dengan sang ayah semenjak kecil. Karena tidak memiliki ibu, jadinya raja juga tidak terlalu perhatian dengannya. Hal ini terbawa sampai Aeolus dewasa, dia tidak dekat dengan sang ayah.


" Putra ku.. Apa yang membawa kedua putra ku kemari? " Raja menyambut dengan wajah sumringah. Tentu saja wajahnya yang terlibat bahagia itu bukan karena kedatangan putra nya, melainkan karena kehamilan sang istri.


" Saya mengucapkan salam pada ayahanda.. Dan selamat atas kehamilan yang mulia ratu, ayah.. " Aeolus memberikan selamat.


Dierez langsung melotot tajam lantaran adiknya ini mengucapkan selamat pada ayah mereka. Ingin saja Dierez berteriak dan mengatakan jika anak dalam kandungan ratu adalah miliknya. Dierez jadi malas sekali saat ini berada di tempat ini karena mood nya sudah hancur lantaran mendengar adiknya mengucap selamat pada sang ayah.


" Kenapa putra pertama ku terlihat tidak senang? " Tanya raja yang bisa melihat jika Dierez berwajah muram karena Aeolus mengucapkan selamat padanya lantaran kehamilan ratu.


" Tidak ada.. " Jawab Dierez malas.


" Ayah berharap kau bisa bersikap baik pada ratu.. Sekarang dia tengah mengandung adik mu.. " Ucap raja.


( Maaf saja.. Sepertinya kau salah ayah.. Bukan adik mu, tapi anak ku.. Yang dikandung ratu itu adalah anak ku) Dierez berteriak dalam hati.


" Hm.. " Dia berdehem karena takut keceplosan berucap.


Dierez dan Aeolus mengambil duduk di dalam ruang pribadi raja, tentunya setelah raja mempersilahkan mereka. Belum ada obrolan diantara ketiga pria ini, hanya beberapa pelayan yang berlalu mengantarkan makanan dan minuman. Dierez juga masih enggan mengatakan tujuannya datang kemari karena masih sedikit emosi tentang pembicaraan tadi.


" Kak.. Kau tidak mengatakan tujuan mu pada ayah? " Aeolus berbisik.


" Tunggu sebentar.. " Jawab Dierez pelan.


" Hei ayolah.. Cepat sedikit.. Aku harus menjemput istri ku yang datang mengunjungi ratu.. " Kembali Aeolus berbisik.


" Kenapa tidak bilang dari tadi, ayo kita ke tempat istri mu saja.. " Dierez hendak bangkit berdiri, namun dicegah oleh Aeolus.


" Kenapa kesana tiba-tiba? Katakan dulu tujuan mu datang kemari pada ayah.. "


" Hish.. Tahu begini aku tidak datang kemari.. " Dierez menggerutu pelan sekali, sampai Aeolus di samping tidak mendengar ucapannya.


" Apa tujuan kalian kemari? " Tanya Raja tidak sabar.


" Ini tentang pelaku yang memasukan ular ke dalam kediaman ratu. Orang ku berhasil mendapatkan nya, apa ayah mau menyelidikinya sendiri atau menyerahkan penyelidikan ini pada ku? " Tanya dierez,


Wajah raja berubah masam karena sekali lagi orang-orang yang dia miliki kalah cepat dari putra mahkota. Kejadian di mana Maledine diculik dulu, raja bukan tidak memerintah pasukannya mencari keberadaan Maledine, tapi saat itu dia kalah cepat dari pasukan putra mahkota. Dan sekarang semua itu terulang, lagi, raja bingung apa yang harus dia katakan sebagai jawaban pada putranya.