The Queen'S Love Scandal

The Queen'S Love Scandal
Campur tangan ayah



" Apa anda tidak tahu jika beliau mencari anda hingga ke seluruh penjuru dunia?? " Nyonya Han menunduk.


Tidak tahu harus menjawab apa, karena apapun yang dia katakan rasanya di sini memang dialah yang akan dianggap bersalah. Bukan bersalah dalam arti nyonya Han telah melakukan kejahatan yang fatal. Melainkan bersalah karena bersembunyi selama beberapa tahun belakangan ini.


Nyonya Han sendiri memiliki alasan kenapa dirinya harus melakukan semua ini. Tapi nyonya Han tetap diam tanpa melakukan pembelaan apapun. Biarlah dirinya yang dianggap sebagai seseorang yang telah mengkhianati seseorang yang hingga kini masih menantikan dirinya untuk bisa kembali bertemu.


Bukan tidak tahu, karena setidaknya sebulan sekali surat dari ibukota akan tiba dan isi dari surat itu menceritakan tentang seseorang yang selalu nyonya Han rindukan dalam setiap hembusan nafasnya. Nyonya Han juga tahu perubahan yang terjadi pada pria yang masih menantikan kehadirannya ini.


Jujur saja nyonya Han menyayangkan hal itu sampai bisa terjadi, tapi disini dia bukanlah orang yang memiliki posisi untuk menyalahkan ataupun memprotes pria itu. Yang bisa nyonya Han lakukan hanya berdoa pada dewa, agar tetap menjaga pria itu apapun yang terjadi di masa depan.


" Bisakah kita membicarakan apa yang seharusnya kita bicarakan tuan? " Nyonya Han berusaha menghindari pembicaraan yang takutnya membuat dirinya goyah dan berakhir menyusul pria itu ke ibukota.


" Hahahaha... Jika beliau mengetahui hal ini, saya yakin beliau akan mengamuk dan menghukum semua orang untuk melampiaskan ke kesalahan nya. " Tamu dari ibukota tertawa lepas mengingat hal yang bisa dilakukan orang seseorang yang menantikan kehadiran nyonya Han di istana sana.


" Maafkan saya.. Ada beberapa hal yang tidak bisa saya katakan. Jadi, daripada anda akan semakin penasaran dan bertanya-tanya, lebih baik pembicaraan itu dihentikan sampai disini saja. Mari membahas permasalahan yang akhirnya membawa saya bertemu dengan anda, tuan perdana menteri. " Nyonya Han tersenyum canggung.


" Baik jika itu mau anda.. Maafkan saya yang terkesan ikut campur di dalam masalah kalian. " Perdana menteri berusaha untuk menghargai keputusan nyonya Han.


" Jadi, apakah anda menyetujui untuk menggunakan tanah yang saya tawarkan untuk ditanami beberapa bahan pangan yang bisa membantu masalah kesulitan pangan kita? " Tanya perdana menteri tanpa basa basi lagi.


" Letak tanah yang anda maksud memang tidak jauh dari tempat ini. Akan tetapi, masing-masing tanah memiliki jenisnya tersendiri. Saya akan memutuskan setelah melihat kondisi tanah nya. " Jawab Nyonya Han tidak langsung menyetujui tawaran perdana menteri.


" Kenapa begitu? Dan apa maksudnya dengan tanah memiliki jenis tersendiri? " Perdana menteri terlihat mulai tertarik pada pembicaraan ini dibanding topik sebelumnya yang mereka bahas.


Nyonya Han pun menjelaskan bahwa masing-masing jenis memiliki kandungan tersendiri. Dari hal itu, tidak semua jenis tanaman bisa ditanam di lahan tersebut. Jadi sebelum menanami tanah tersebut, alangkah baiknya perlu dilakukan tes terlebih dahulu agar bisa memahami bagaimana kriteria tanah tersebut dan tanaman apa yang bisa di atasnya.


" Artinya jika kita menanam tanaman ataupun sayuran yang tidak sesuai dengan kandungan tanah tersebut, maka bisa dipastikan kita mengalami gagal panen. " Nyonya Han menerangkan mengenai masalah tanah ini dengan bahasa sederhana yang bisa dimengerti orang awam seperti perdana menteri.


" Begitu rupanya.. " Perdana menteri terlihat mengangguk-anggukan kepalanya.


" Jadi taman itu masih ada? " Gumam nyonya Han yang masih bisa didengar oleh perdana Menteri.


" Tentu saja.. Semua yang berhubungan dengan anda, masih tetap berada di tempat yang seharusnya. Beliau benar-benar menjaga semua itu dengan sangat baik. " Ujar perdana menteri.


Bisa dilihat jika kedua mata nyonya Han saat ini berkaca-kaca karena ucapan dari perdana menteri. Tidak pernah dia sangka jika pria itu masih mengenangnya padahal sudah berlalu selama empat tahun lebih. Pria itu masih merindukannya dan saat ini rasanya nyonya Han seperti merasakan kepedihan yang juga dirasakan pria itu.


Perdana menteri memang tidak berbohong tentang semua yang dia katakan yang masih ada hubungannya dengan nyonya Han dan juga pria yang selalu menanti kedatangan nyonya Han. Kenyataan yang perdana menteri lihat memang benar adanya seperti itu. Dan selama empat tahun lebih ini, perdana menteri lah orang yang paling mengetahui apa yang dirasakan pria itu.


Kerinduan, kesedihan, kekecewaan, penantian dan juga keteguhan hati yang dirasakan pria itu, tidak akan mampu pria lain tanggung. Semua pria yang mengetahui duduk permasalahan ini pasti mengatakan untuk mencari pengganti dan meninggalkan sesuatu yang tidak pasti ini.


Namun pria yang menanti kembalinya nyonya Han, tidak akan pernah melakukan hal itu. Daripada melupakan dia justru memilih menanti dengan segala resiko yang ada dan juga memilih bertemankan rasa sakit karena penantian.


" Saya tidak akan mengatakan apapun pada beliau. Tapi bisakah anda menjawab pertanyaan saya? " Tanya perdana menteri hati-hati karena menyinggung perasaan nyonya Han.


" Pertanyaan apa itu? Saya akan menjawabnya jika memang bisa. " Nyonya Han sedikit penasaran namun sudah memiliki perkiraan kira-kira pertanyaan apa yang akan perdana menteri tanyakan.


" Keputusan anda untuk tidak menemuinya, apakah ada hubungannya dengan penasehat kerajaan? " Mata nyonya Han melotot ketika mendengar pertanyaan itu. Perdana menteri tersenyum miring saat dirinya sudah mendapatkan jawaban dari pertanyaannya tanpa perlu mendapatkan jawaban dari nyonya Han.


" Jika memang sulit, maka anda tidak perlu menjawab pertanyaan saya, nyonya.. Dan maaf atas kelancangan saya. " Perdana menteri menunduk.


Dirasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan lagi, perdana menteri lun berpamitan pada nyonya Han untuk meninggalkan tempat ini. Namun saat kakinya sudah berada di pintu tempat ini, suara nyonya Han membuatnya menghentikan langkahnya. Tidak menyangka jika nyonya Han akan buka mulut tentang masalah ini.


" Bukan penasehat kerajaan. Semua ini saya lakukan atas perintah terakhir dari mendiang raja. Penasehat kerajaan adalah orang yang menyelamatkan saya, saat kereta kuda yang saya tumpangi di serang oleh orang-orang dari selir dan perdana menteri terdahulu. " Ujar nyonya Han lirih.


" Saya berhutang nyawa pada beliau dan juga mendiang raja, dan semua ini adalah rasa Terima kasih saya karena mereka telah menyelematkan saya. Andai saja mereka tidak datang menyelamatkan saya, maka saya akan kehilangan satu-satunya bagian dirinya yang ada bersama dengan saya. " Setelah mengatakan hal itu, nyonya pergi meninggalkan perdana menteri yang masih diam di tempatnya berdiri saat ini.


Terlalu shock dengan apa yang dia dengar. Seberapa jauh mendiang ayahnya bertindak dalam masalah dari kedua orang ini. Apakah sejak awal mendiang ayahnya mengetahui tentang hubungan kedua orang ini. Ataukah ada alasan lainnya. Perlukah dia menyelidiki masalah ini agar semuanya jelas.