The Queen'S Love Scandal

The Queen'S Love Scandal
mengambil tindakan



Putra mahkota menghela nafas kesal melihat kondisi Maledine yang demam, namun satu pun tabib di desa ini tidak mau memperdulikan nya. Sebenci itukah, sampai melupakan sumpah seorang tabib yang tidak akan pernah meninggalkan pasiennya. Dierez hanya bisa geleng kepala dan mulai merawat Maledine bersama dengan pelayanan pribadinya.


Semalaman penuh Dierez menjaga Maledine. Mengompres dahi Maledine, menyuapkan obat yang dibuat oleh pelayan pribadi ratu itu. Beruntung di sekitar desa ini masih ada beberapa tanaman obat-obatan yang bisa digunakan untuk obat demam. Dengan telaten Dierez merawat Maledine, dan saat itulah semakin melihat Maledine, semakin perasaan Dierez diobrak abrik oleh wanita yang menyandang status ibu tirinya ini.


“ Yang mulia.. Anda bisa kembali ke tempat peristirahatan anda. Jangan disini nanti anda bisa sakit. Di tempat ini kotor yang mulia.. “ udap Maledine yang merasa tidak enak ketika menyaksikan sendiri bagaimana Dierez harus duduk di atas jerami.


“ Diamlah dan Terima perawatan dengan baik agar lekas sembuh.. Aku disini bukan untuk menolong mu, aku disini mengawasi mu agar bisa menikah pantas atau tidak kau bergelar Ratu. “ ucap Dierez kasar.


Meski Dierez berkata kasar padanya, Maledine sama sekali tidak memasukannya ke dalam hati. Memang seperti itulah putra mahkota sejak dulu. Sebagai pelayanan pribadi Ratu, jelas Maledine tahu bagaimana peringai putra mahkota. Jadi Maledine sama sekali tidak kaget mendengar ucapan Dierez.


“ Apa hebatnya menjadi Ratu? Lihat sekarang kau bahkan tidak mendapatkan perawatan dari tabib karena mereka membenci mu..” tanya Dierez mengolok.


“ Saya tidak pernah menginginkan tahta sebagai Ratu, yang mulia.. Tapi yang mulia kaisar mengatakan bahwa saya harus membalas jasa mendiang yang mulia Ratu dengan mengikuti apa yang beliau inginkan.. Jika harga yang harus saya bayar ketika menjadi Ratu adalah kebencian dari semua orang, saya memilih untuk meninggalkan istana.. Tapi.. “ ucapan Maledine terputus saat tangan Dierez menyentuh dahinya. Ada sebuah getarkan ketika kedua kulit mereka bersentuhan. Jutaan kupu-kupu menggelitiki perut Maledine karena apa yang dilakukan Dierez padanya.


“ Huft... Kalau begitu jangan lemah hanya karena mendapatkan hinaan dan cemoohan dari mereka.. Kalau kau lemah, semakin mereka menginjak harga diri mu.. “ pesan Dierez.


Maledine langsung tersenyum lebar saat Dierez terlihat mengkhawatirkannya. Tidak ada yang bisa membuat Maledine tersenyum semenjak dia diangkat menjadi ratu, baru Dierez lah yang bisa membuatnya tersenyum. Hal ini membuat Maledine terbang tinggi dengan angan yang indah bersama dengan putra mahkota.


“ Ehem.. Maafkan saya yang mulia.. Tapi ada yang perlu saya katakan tentang penyelidikan mengenai kematian misterius hewan ternak di desa ini.. Saya pikir ini semua karena air yang dikonsumsi hewan ternak berasal dari sungai yang entah terkontaminasi dari mana sehingga menjadi beracun.. “ ucap Maledine.


“ Kau masih sakit.. Tapi bisa banyak bicara juga.. “ Dierez tersenyum mengekek. Membuat Maledine malu dibuatnya.


Keesokan harinya, Dierez kembali menyelidiki tentang air yang digunakan warga desa untuk diberikan pada hewan ternak mereka. Hingga semua orang mengarahkan pencarian ini pada sebuah sumur yang letaknya dekat dengan hutan. Sumur yang lubangnya sudah ditutup itu, terlihat sangat mencurigakan. Sepertinya Dierez akan mendapatkan petunjuk dari sumur tua ini.


“ Kalian ambil air dari sumur itu, dan bawa ke tempat peneliti untuk melihat apa yang terjadi pada air di sumur ini.. Apakah air sumur ini mencemari air sungai di dekatnya? “ perintah Dierez pada pasukan yang dibawanya.


“ Baik yang mulia.. Untuk masalah air sumur yang mencemari sungai, sepertinya air sumur ini merembes ke tanah dan masuk ke aliran sungai.. “ ucap salah seorang dari anggota pasukan Dierez.


Pasukan Dierez segera berpencar untuk mengumpulkan semua warga desa ini dengan maksud untuk membantu mengeringkan sumur yang sepertinya menjadi sumber masalah di desa ini. Penduduk pun akhirnya mau turun tangan karena Dierez yang memberi perintah dan bila penduduk desa tidak mau membantu, maka dengan sangat kejam Dierez akan meninggalkan desa ini tanpa mendapatkan bantuan dari Kerajaan lagi setelah ini.


Berbondong-bondong penduduk desa ini datang dan langsung mengerjakan tugas mereka sesuai dengan arahan yang diberikan ketua pasukan Dierez. Semoga saja setelah sumur itu kering, masalah sumber air di desa ini yang mengakibatkan hewan ternak mati bisa terselesaikan. Dierez mengawasi dengan seksama setiap orang yang tengah bekerja di depannya. Tidak ingin jika sampai ada yang bermalas-malasan dan membuat pekerjaan jadi lama selesai.


Sementara di gubuk tua yang ditempat oleh Maledine, terlihat kondisi dari Maledine sedikit demi sedikit sudah kembali sehat. Wajahnya tidak sepucat semalam dan badannya sudah tidak panas lagi. Namun ketika Maledine hendak meninggalkan gubuk itu untuk membantu putra mahkota dalam penyelidikan. Seorang dari salah satu pasukan Dierez yang berjaga di tempat itu melarangnya. Menurut penjaga itu, Dierez sendiri yang memerintahkan agar Maledine tidak pergi kemana pun.


Tapi dasarnya maledine yang bandel, dia tetap keluar untuk melihat sejauh mana sekarang ini penyelidikan tentang wabah pada hewan ternak di desa ini. Terlihat banyak orang yang berkumpul di sebuah sumur tua yang letaknya tidak jauh dari aliran sungai yang mengalir di desa ini. Ketika bertanya pada salah satu penjaga yang merupakan anak buah Dierez, rupanya mereka semua tengah menguras sumur tua yang merupakan sumber dari wabah penyakit karena terkontaminasi oleh benda berkarat.


“ Apa yang anda lakukan disini? Bukankah anda sedang sakit? Anda jangan-jangan tertular penyakit yang menyerang hewan dans ekarang anda ingin menularkannya pada kami?” sentak seorang wanita yang kemarin sempat cekcok dengan Maledine.


“ Bukan.. Bukan maksud ku begitu.. Aku hanya ingin melihat sejauh mana masalah wabah ini terselesaikan..” ucap Maledine menjelaskan.


“ Sudah sana pergi, kami tidak buth bantuan anda.. Sudah da yang mulia putra mahkota disini jadi sebaiknya anda pergi.. Dasar tidak tau diri, sudah tahu sedang sakit malah datang kemari..” gerutu seorang wanita lainnya.


“ kembalilah ke gubuk tadi.. Setelah aku mengawasi semua ini, kita segera kembali ke istana.. Untuk apa mendengarkan orang-orang yang tidak tahu terima kasih seperti mereka itu..” ucap Dierez datang mendekati Maledine yang terlihat shock.


“ Tapi?”


“ Tidakkah kau dengar mereka mengusir mu.. Jangan memperkeruh keadaan.. Tidak semua orang menerima dirimu sebagai yang mulia Ratu saat ini.. Tujuan mu ke sini untuk membuktikan bahwa diri mu pantas menjadi ratu kan? Lalu apa yang akan kau lakukan jika mereka saja sejak awal tidak menginginkan dirimu di posisi itu?”


Ucapan putra mahkota berhasil membuat Maledine malu setengah mati dan juga merasa tertampar. Benar, dia tengah membuktikan dirinya mampu dan pantas menjadi ratu seperti ucapan raja. Tapi jika sejak awal saja semua rakyat di kerajaan ini sudah tidak mengakuinya, bisa apa dia. Memaksa mereka untuk menerima pun hanya akan membuat kondisi saat ini menjadi semakin buruk.


Maledine pun pergi kembali ke gubuk tempatnya semalam beristirahat. Maledine memerintahkan pada semua dayang dan pasukan Dierez yang ada di sana untuk membereskan semua perlengkapan mereka. Malam ini juga mereka akan kembali ke istana. Maledine tidak ingin jika harga dirinya semakin direndahkan oleh orang-orang ini.


“ Kita kembali ke istana malam ini.. Sampaikan juga hal ini pada yang mulia putra mahkota !!” titah Maledine.