
" Lagi? Apa ayah bercanda dengan ku? " Wajah Dierez sudah terlihat menahan amarah karena lagi dan lagi ayahnya bertindak sesuai dengan keinginannya sendiri tapi tidak mau mengerti perasaannya.
" Tidak ada yang bisa ayah andalkan selain diri mu.. Jadi ayah mohon, kali ini bantu ayah menyelesaikan permasalahan dengan pihak kerajaan Monggol. " Raja sudah memasang wajah memelas agar putranya ini bersedia untuk memenuhi keinginannya.
Beberapa waktu yang lalu, sebelum raja memanggul putra mahkota untuk bertemu. Di dalam kamar pribadinya, raja tengah memikirkan banyaknya kemungkinan yang terjadi dan salah satunya seperti apa yang selir Oklariana sampaikan padanya. Meski menolak percaya, tapi makin ke sini, raja semakin ketakutan jika semua ucapan selirnya adalah sebuah kenyataan.
Jika benar apa yang sudah di ucapan oleh selir Oclariana, lalu bagaimana lagi raja bisa berhadapan dengan rakyatnya, dengan pada menterinya. Jelas raja tidak akan memiliki muka bertemu dengan mereka semua. Reputasinya yang sudah buruk sejak pelantikannya menjadi raja, akan semakin menjadi lebih buruk lagi setelah skandal putranya dan istri mudanya terkuak.
Raja bisa saja dilengserkan dari posisinya dan itupun akan mempersulit ratu dan putra mahkota. Raja sekarang mereka sangat dilema, tidak ada ide yang terlintas dalam otaknya untuk terlepas dari situasi yang tidak menyenangkan ini. Lalu, harus seperti apa dirinya untuk mencegah hal buruk terjadi.
" Aku harus apa, William? " Tanya raja. Kedua tangannya memegang kepalanya yang tidak berhenti berdenyut jika memikirkan masalah yang selirnya katakan.
" Menurut saya, sebaiknya anda menyelidiki masalah ini dulu, yang mulia.. Akan sangat buruk bagi hubungan anda dengan keduanya jika sampai anda salah tuduh.. " Ucap William memberi saran.
" Aku takut, Wil.. Sungguh, sejujurnya aku sangat takut jika semua ini benar.. Putra ku sendiri dan istri ku.. Mereka... " Raja meremas rambutnya sendiri lantaran sudah kalut. Melanjutkan ucapannya saja raja sudah tidak mampu karena saking takutnya menghadapi kenyataan.
" Namun jika anda tidak segera bertindak, tidak baik juga untuk mereka berdua yang mulia.. Selir bisa saja menjebak mereka dan itu akan merugikan mereka berdua termasuk juga anda.. " Masih tetap setia, William menemani dan memberikan saran pada raja. Merasa pernah sama-sama berjuang hingga di posisi saat ini, membuat William mengabdikan seluruh hidupnya tulus pada raja.
" Bagaimana membuktikan semua ini? Bagaimana cara mengetahui semuanya tanpa kecurigaan dari siapapun? " Gumam raja terus sejak tadi.
Hingga dipertengahan hari, akhirnya raja menemukan sebuah ide untuk membuktikan semuanya. Benar atau tidaknya, raja akan berusaha untuk menerima. Tapi, setidaknya raja ingin mengetahui kebenaran tentang hubungan putra mahkota dan ratunya.
* semoga saja semuanya tidak benar.. Aku tidak sanggup kehilangan salah satu dari kalian * batin raja dilema.
Dan disinilah putra mahkota tengah menemui raja yang mana pada akhirnya raja kembali memberikan misi. Padahal, raja pernah mengatakan asal putra mahkota mau menemani ratu, maka dia akan dibebaskan dari misi untuk sementara waktu sampai batas waktu yang tidak bisa ditentukan.
" Ayah.. Ingkar janji.." ucap Dierez, ketus.
" maafkan ayah nak.." dengan wajah yang penyesalan, raja menunduk.Hatinya mengatakan jika tindakannya ini salah. Akan tetapi logikanya memintanya untuk menyelidiki semuanya.
" Setelah ini.. Aku tidak ingin ada misi lagi ayah.." pinta Dierez, dan langsung diangguki oleh raja.
Jelas tidak ada misi lagi karena misi kali ini hanya akal-akal dari raja saja untuk membuat putra mahkota keluar dari istana. Jika masih ada putra mahkota di istana dan dia mengetahui jika raja menyelidiki gosip yang beredar tentangnya dan juga ratu, jelas pasti putra mahkota akan menyangkal dan berakibat perseteruan.
Setelah pembicaraan yang alot ini berakhir, Dierez lekas mencari ratu dengan tujuan untuk mengatakan jika dia akan berangkat menjalankan misi dari raja. Apa yang paling ditakutkan oleh putra mahkota benar-benar terjadi. Ratu marah padanya dan mendiamkannya begitu tahu jika besok putra mahkota akan pergi untuk menjalankan misi.
" Maafkan aku.. Aku tidak berbuat apa-apa untuk menolak keinginan dari ayah yang meminta ku menjalankan misi.. Maafkan aku ya.." Dierez berucap sangat lembut sekali. Jika sampai dia salah ucap maka bisa dipastikan jika kekasihnya pasti akan mengamuk.
" tapi.. hiks...hiks.. bukankah anda sudah berjanji akan terus menemani saya sampai saya melahirkan anak kita.." ucap Maledine memelas. Pengaruh hormon kehamilan memang membuatnya selalu saja menjadi gampang marah, gampang menangis, gampang bersedih dan masih banyak keanehan lainnya.
" Maafkan aku.. Aku janji setelah misi kali ini selesai, maka aku akan selalu berada di dekat mu.. Bagaimana?" rayu Dierez hingga akhirnya Maledine pun mengangguk. Meski sebenarnya dalam lubuk hatinya sangat berat melepas kepergian Dierez saat ini. Entahlah, perasaan Maledine sangat tidak tenang, tidak enak dan tidak nyaman. Seperti akan ada badai yang menghantam dua anak manusia ini.
Keesokan harinya putra mahkota benar-benar pergi meninggalkan istana. Ratu bahkan sama sekali tidak ingin ikut mengantar karena takut akan menangis di sana dan membuat semua orang curiga.Di dalam kamarnya, Ratu tengah menangis saat ini, dia tidak ingin ditinggalkan oleh kekasih hatinya.
Tanpa ratu sadari sejak ada seseorang yang mengawasinya dari jarak aman. Wajah kecewa diperlihatkan orang ini, bahkan matanya sudah memerah lantaran menahan tangisnya agar tidak sampai jatuh juga. Dia tidak ingin dianggap lemah oleh siapapun meski nyatanya dia memang sangat lemah.
" Sakit.."