
" Tolong lepaskan saya, yang mulia.. Anda mau membawa saya kemana?" Maledine terus memberontak karena Dierez terus menariik dirinya semakin masuk ke dalam rumah kaca ini.
" Mulai sekarang, jika aku ingin bersama mu. Maka datanglah ke tempat ini.. Kita akan bersama disini." ucap Dierez.
Maledine awalnya tidak paham maksud ucapan dari putra mahkota. Namun, matanya langsung terbelalak sempurna saat melihat putra mahkota menggeser sebuah pot bunga mawar hitam, dan pintu yang berada di bagian dalam tempat ini langsung terbuka. Maledine ikut mendiang ratu sudah sangat lama, namun tidak pernah mengetahui bila ada ruang rahasia di tempat ini.
" Tempat apa ini.... yang mulia?" tanya Maledine yang sangat takjub dengan apa yang baru saja dilihatnya.
" Tempat yang aku buat jika aku sedang malas mengikuti pelajaran sebagai putra mahkota. Aku akan ke sini dan masih ada hal yang akan membuat mu lebih takjub lagi..Tapi sebelum itu... Maledine, aku sangat merindukan mu." ucap Dierez yang langsung main sosor saja disaat Maledine belum siap.
" HAH... HAH... HAH... Bisakah anda membiarkan saya mengambil nafas. Saya bisa pingsan jika tidak bisa bernafas." protes Maledine dengan bibir yang mengerucut lucu sekali.
CUP..CUP
" Maaf.. Tapi aku benar-benar sangat merindukan mu. Tahukan kau selama seminggu ini aku tidak bisa tidur. Kenapa kau menghindar dari ku?" tanya Dierez yang menyembunyikan wajahnya dibagian ceruk Maledine. Dengan rakus, dia menghirup wangi tubuh Maledine yang selalu bisa menenangkannya.
" Anda masih bertanya, bukankah anda sudah memiliki tunangan dan sebentar lagi akan menikah.." ucap Maledine sedikit ketus.
" Kau cemburu?" Dierez tersenyum senang ketika menyadari jika Maledine sedang cemburu saat ini.
" Kata siapa saya cemburu.. Anda jangan bicara omong kosong, yang mulia." Maledine berusaha mengelak lantaran malu.
" Ahhhhh senangnya jika kau cemburu pada putri Conrad itu. Berarti aku memang seseorang yang sangat berarti bagi mu.." ucap Dierez langsung memeluk Maledine.
Setelah perdebatan kecil di antara kedua orang ini, keduanya akhirnya saling melepas rindu. Dierez tidak mampu menahan hasratnya karena sudah pernah merasakan bagaimana nikmatnya ketika melakukannya bersama dengan Maledine. Karena itulah, Dierez kini sangat ketagihan dengan rasa yang diberikan oleh tubuh Maledine.
Maleedine sendiri kini sudah tidak memiliki pertahanan diri lagi. Kenikmatan yang diberikan oleh Dierez selalu membuat dirinya hilang akal. Maledine bakan tidak lagi peduli apakah dirinya berdosa atau tidak. Yang Maledine ketahui, dia mencintai Dierez dan dia akan selalu bersama Dierez hingga maut memisahkan mereka.
Di taman tempat dimana tadi putri Eugene dan Arlonisa berdebat karena pembahasan yang tidak penting. Terkejut mendapati Maledine tidak lagi berada di tempat ini. Putri Eugene jadi merasa tidak enak, lain dengan Arlonisa yang langsung melebeli Maledine sebagai ratu yang sombong.
" Kemana perginya yang mulia ratu? Apa kalian tahu?" tanya Eugene bertanya pada pelayan yang ada di tempat itu.
" Mohon izin menjawab yang mulia. Tadi, yang mulia ratu pamit untuk kembali ke kamar dan beristirahat karena beliau kelelahan." jawab pelayan itu.
" Begitukah? Kalau begitu, sampaikan salam ku nanti pada yang mulia ratu." ucap putri Eugene yang kemudian meninggalkan rumah kaca.
***************
Sudah sebulan berlalu sejak pengumuman pernikahan antara putra mahkota dengan putri tunggal dari tuan Felus Conrad yang merupakan sepupu mendiang ratu. Namun, selama sebulan ini sama sekali tidak ada perubahan yang berarti. Dierez masih sangat acuh dengan Arlonisa, dan hanya terus menerus menempel pada ratu.
Jika bagi orang lain hal ini terlihat biasa saja karena beberapa dari mereka mengetahui misi dari putra mahkota yang diberikan oleh raja. Namun bagi Oclariana, apa yang sering ratu dan putra mahkota tunjukan ini adalah sesuatu yang tidak wajar. Oclariana bisa melihat bagaimana cara putra mahkota memandang Maledine, dan itu sama sekali bukan tatapan benci, melainkan tatapan kagum.
" Tidakkah mereka berdua kelewat dekat jika itu antara anak dan ibu tiri yang usianya bahkan lebih tua anak tirinya." ujar Oclariana berkomentar.
" Ck.. jangan memanggilnya ratu.. Tidak pantas sekali wanita yang kasta dibawah ku kau panggil ratu." Oclariana marah pada pelayan pribadinya.
" Maafkan saya yang mulia.." pelayan Oclariana menunduk merasa bersalah.
" Lanjutkan." titah Oclariana.
" Putra mahkota diminta untuk menyelidiki wanita itu, Jika ada perbuatan wanita itu yang tidak sesuai sebagai seorang ratu, maka yang mulia Raja akan mencabut posisi wanita itu sebagai....ehm..maafkan saya... Ratu.. Dan akna diturunkan sebagai selir." tutur pelayan selir.
" Hm... Menarik sekali... Tapi tetap saja hubungan mereka terlalu intim jika hanya untuk mengawasi saja." Oclariana tetap merasa ada yang lebih dari sekedar itu saja hubungan di antara Maledine dan putra mahkota.
" Bisa kau mencarikan orang dalam yang mau bekerja pada ku untuk mengawasi kedua orang itu?"
" Tentu yang mulia.. Saya akan segera melapor pada anda."
Oclariana tersenyum senang, sepertinya harapannya untuk menjadi ratu sudah terlihat jalannya. Sebagai selir satu-satunya yang raja miliki, Oclariana pikir jika ratu meninggal dunia, maka dia lah yang akan naik tahta. Sungguh tidak disangka, ratu justru memberikan wasiat agar raja menikahi pelayannya.
Oclariana sangat kecewa dan marah sekali saat itu. Raja seolah lupa akan jasa yang sudah ia dan keluarganya berikan untuknya agar bisa naik tahta sebagai raja. Ayah Oclariana sendiri sampai rela menjadi pembunuh saudara raja demi agar raja naik tahta. Tapi lihatlah sekarang apa balasan yanag didapat oleh Oclariana dan keluarganya.
" Sepertinya aku harus mencari seseorang yang bisa membantu ku mengenyahkan wanita tiak tahu diri itu." ucap Oclariana berpikir dengan keras.
Saat dia tengah memikirkan siapa yang bisa menjadi sekutunya, matanya tanpa sengaja melihat ada seseorang yang juga melihat kedekatan Maledine dan putra mahkota. Dan sepertinya orang ini sangat tidak suka melihat kedekatan dua orang ini. Oclariana pun mendapatkan petunjuk untuk rencananya. Rupanya dewa masih berpihak padanya.
" Putri Conrad.." sapa Oclarana.
" Arrrrggghhhhh..." pekik Arlonisa.
" Yang mulia selir,, maafkan saya.. Saya kaget ketika tiba-tiba saja anda berada di belakang saya." ucap Arlonisa menjelaskan.
" Tak apa.. Tidak perlu sungkan dengan ku.. Apa aku kau sedang melihat ratu dan putra mahkota?" tanya Oclariana, meski sebenarnya dia tahu jawaban dari pertanyaannya.
" Maaf... maafkan saya yang mulia.. saya telah lancang." Arlonisa terlihat sangat ketakutan.
" Jangan takut.. Akku hanya bertanya dan tidak akan marah.. Sama seperti mu, aku juga tidak suka melihat mereka dekat.. Rasanya sangat tidak pantas jika ratu yang adalah ibu tiri putra mahkota, sampai sedekat itu.. Pastinya nanti akan muncul gosip tidak sedap tentang keduanya." ucap Oclariana mulai melancarkan aksinya.
" Maksud anda bagaimana yang mulia?" Arlonisa mulai sedikit paham dengan maksud selir raja ini. Hanya saja dia harus memastikan terlebih dahulu benar atau tidak pemahamannya.
" Aku curiga... Mereka lebih dari itu.. " ucap Oclariana bisik-bisik.
" Tapi tenang saja, aku berada di pihak mu.. Tentunya asal kau mengikuti apa yang aku katakan.. Lagipula, kita sama-sama tidak menyukai gadis itu kan?" Oclariana menyeringai.