
Kereta kuda dengan ukuran lambang kerajaan dimana Raja Delroy memimpin, terlihat memasuki gerbang istana. Penjaga memberi hormat karena jelas tahu siapa yang ada di dalam kereta kuda itu. Kereta kuda yang hanya dinaiki oleh keluarga kerajaan inti. Jadi jelas para penjaga bisa menyimpulkan siapa kiranya yang berada di dalam kereta kuda itu.
Dierez, pria yang berada di dalam kereta kuda ini, awalnya menolak pulang menggunakan kereta kuda karena dia ingin menunggangi kuda miliknya sendiri. Akan tetapi, Luke mengatakan jika Dierez terlihat begitu khawatir sampai pulang ke istana hanya karena ratu, bisa jadi semua orang akan mencurigai hubungan di antara putra mahkota dan ratu.
Luke dan beberapa orang yang menjadi kepercayaan Dierez tahu skandal yang terjadi antara putra mahkota, tuan mereka dengan ratu. Tidak ada yang berani berkomentar karena pastinya jelas putra mahkota akan menindak mereka. Jadi lebih baik, menuruti semua perintah putra mahkota. Toh mereka tidak rugi sama sekali dan malah mendapatkan bonus dari putra mahkota sebagai uang tutup mulut.
" Dimana ratu sekarang? " Tanya Dierez para Luke yang juga berada di dalam kereta kuda yang membawanya dari perbatasan kembali ke ibukota.
" Beliau tinggal di kediaman sementara yang kebetulan letaknya dekat dengan sekitar Oclariana. " Jawab Luke sesuai dengan informasi yang dayang kirimkan padanya.
" Selir Oclariana, jika seperti itu berarti kediamannya dekat dengan ayah kan? Sial.. Dia pasti mengambil kesempatan dalam kesempitan.. " Kesal Dierez mengumpat.
Luke menatap tidak percaya pada putra mahkota. Ucapan putra mahkota barusan mengenai raja yang mengambil kesempatan dalam kesempitan, bukanlah hal yang salah menurut Luke. Ratu adalah pasangan raja, hanya saja tuannya ini yang dengan gilanya mengakui ratu adalah miliknya. Jadi disini, siapa yang mengambil kesempatan dalam kesempitan. Meski begitu, Luke tetap diam saja, karena tidak ada gunanya dia mengingatkan status keduanya.
Begitu kereta kuda berhenti di depan istana utama, Dierez langsung berlari menuju ke sisi sebelah kanan istana utama dimana arah ini adalah arah menuju ke tempat dimana kekasih hatinya sekarang ini berada. Dierez bahkan tidak memperdulikan sapaan dari penjaga dan dayang yang dia lewati karena fokusnya ingin segera bertemu dengan Maledine.
Namun, kenyataan tidak sesuai dengan ekspetasi dari putra mahkota. Niat hati ingin bertemu dan memeluk kekasih hatinya guna menenangkan sang kekasih yang pasti ketakutan atas peristiwa yang terjadi saat dia pergi. Hanya saja, kenyataan seakan menampar putra mahkota. Yang dia lihat kini, justru ayahnya lah yang memeluk kekasihnya. Hal ini membuatnya cemburu dan rasanya ingin menghajar sang ayah.
" Selamat datang yang mulia putra mahkota.. " Dayang yang merupakan orang dari putra mahkota mengucap salam saat melihat putra mahkota di pintu, menatap datar pasangan suami istri yang sedang berpelukan.
Mata Maledine langsung membulat saat telinganya mendengar dengan jelas sapaan dari dayangnya yang diperuntukkan untuk siapa. Secara refleks, Maledine langsung mendorong raja menjauh darinya, kemudian menunduk karena tidak berani menatap Dierez yang pastinya sedang murka saat ini.
" Kenapa kau kembali? Apa permasalahan di perbatasan sudah selesai? " Tanya raja yang juga terkejut melihat putranya sudah pulang.
" Karena istana ini merupakan tempat tinggal saya.. Dan untuk masalah perbatasan bukanlah suatu yang perlu kehadiran saya untuk menyelesaikan. Hanya tinggal mengangkat orang kita untuk naik tahta di sana. Justru kedatangan anda yang paling diharapkan di sana.. " Ucap Dierez dengan suara yang terdengar dingin dan menakutkan di telinga Maledine.
" Benarkah? Mempercayakan semuanya pada mu memang tidak pernah mengecewakan.. Kau.. Menginginkan hadiah apa? " Tanya raja yang memang selalu menyediakan hadiah di setiap keberhasilan yang dicapai oleh putra mahkota.
( Menginginkan ratu untuk menjadi wanita ku..) ucap Dierez dalam hati.
" Tentu saja.. Kau bisa bebas dari misi untuk waktu dua bulan ke depan.. Ayah bangga pada mu, nak.. " Raja menepuk pelan pundak Dierez.
Ketika raja hendak meninggalkan kamar ratu, putra mahkota menghentikannya dengan bertanya yang jika bisa seseorang mengambil maksud dari pertanyaan putra mahkota, isinya adalah menganggap raja tidak becus menjaga keamanan istana. Tentu saja hal ini membuat raja sedikit tersinggung.
" Bagaimana bisa di kediaman ratu ada ular yang berasal dari negeri yang sangat jauh dari ibukota? Apakah penjagaan istana tidak dilakukan dengan benar selama kepergian saya? " Tanya Dierez pada raja. Hanya saja, matanya menatap Maledine tajam karena masih sangat kesal.
" Itu kesalahan ku.. Aku sedang menyelidiki masalah ini.. " Ucap raja yang sebenarnya tersinggung.
Tidak merasa memiliki kepentingan lagi, raja pun meninggalkan putra mahkota dan ratu karena putra mahkota mengatakan ingin mendengar secara langsung dari ratu atas kejadian dua malam yang lalu. Raja sama sekali tidak curiga dengan hal ini, karena raja pikir hubungan antara istri dan putranya ini tidaklah baik.
Sepeninggal raja, Maledine sama sekali belum berani mengangkat kepalanya untuk melihat putra mahkota. Padahal saat ini, putra mahkota sudah berada tepat di depannya. Hanya mereka berdua di kamar ini, karena Dierez memerintahkan semuanya keluar dengan alasan tidak ingin ada yang mengganggu.
Kemari Dierez menjepit dagu Maledine, memaksa kekasihnya ini untuk menatap wajahnya. Dierez bisa merasakan jika tubuh Maledine bergetar lantaran takut. Tapi, dirinya tidak bisa membiarkan kejadian tadi. Bukankah dia sudah berpesan agar Maledine tidak dekat dengan pria manapun selama dia pergi.
Meski bukan salah Maledine sepenuhnya, karena Dierez sadar betul apa status Maledine dan ayahnya. Hanya saja, dia tidak bisa membohongi dirinya untuk tidak cemburu. Siapa sih, yang tidak panas hati dan pikiran jika melihat kekasihnya berpelukan dengan orang lain. Bersyukur saja, tadi Dierez tidak kalap dan membongkar semuanya.
" Apa tidak ada yang ingin kau katakan pada ku? " Tanya Dierez dengan sangat serius. Dari tubuhnya memancarkan aura yang begitu menakutkan. Maledine sampai tidak bisa berkata sepatah kata pun.
" Bukankah aku sudah berpesan agar diri mu tidak dekat dengan pria lain.. Kenapa tidak menolak saat ayah memeluk mu? Apa kau tahu aku cemburu? " Ucap Dierez sudah tidak peduli lagi apa pemikiran Maledine tentang dirinya.
" Maafkan saya.. Kejadian tadi berlangsung sangat cepat. Saat saya hendak menghindar, tiba-tiba saja yang mulai sudah memeluk saya.. Maafkan saya.. " Ucap Maledine dengan wajah yang memelas.
Tatapan Maledine memancarkan rasa penyesalan yang besar karena telah membuat kekasih hatinya ini cemburu padanya. Namun, yang kini menjadi fokus Dierez bukan lah ucapan Maledine yang tengah meminta maaf dengannya. Akan tetapi, mata Dierez menatap bibir mungil merah cherry milik Maledine yang membuka dan menutup, terlihat sangat indah sekali. Ingin rasanya Dierez mencium dengan kasar bibir itu.
Entah sadar atau tidak, Dierez benar-benar mendekatkan wajahnya pada wajah Maledine. Langsung saja Maledine menutup matanya lantaran terkejut saat tadi dia begitu dekat dengan Dierez. Dalam hati Maledine bertanya-tanya, apakah Dierez benar-benar akan menciumnya?