
Maledine duduk termenung di sofa yang ada di dalam kamarnya. Sofa yang menghadap ke bagian luar kediaman Ratu yang kini di tempatinya. Bagian luar yang kini tengah dilihat Maledine, adalah bagian di mana banyak sekali pohon tinggi menjulang hampir sampai ke langit. Pohon tinggi yang menutupi, jika ada sebuah gubuk tua di dalam sana. Maledine, mengenal tempat itu.
Dulu, dulu sekali, saat pertama kali Maledine masuk ke istana. Dia yang awalnya di tempatkan di bagian dapur istana, harus pergi menggantikan seniornya untuk mengantarkan makanan ke tempat ratu. Saat itulah, Maledine yang secara tidak sengaja menyaksikan sesuatu yang seharusnya tidak dia saksikan, langsung berlari menuju ke dalam tempat yang ditumbuhi pohon tinggi ini.
Terus dan terus berlari, hingga Maledine menemukan sebuah gubuk tua, yang anehnya sangat terawat. Saat itulah, Maledine masuk ke gubuk tua itu untuk bersembunyi. Dia berencana keluar beberapa saat lagi, berharap apa yang dia lihat tadi telah usai. Namun, karena terlalu lelahnya, Maledine pun ketiduran di dalam gubuk tua itu.
Tak lama setelah dia tertidur, terdengar suara orang-orang yang berisik di luar. Karena takut jika orang-orang di luar itu, adalah orang yang dia lihat tadi di kediaman Ratu, Maledine pun memutuskan untuk bersembunyi.
Ceklek..
" Benar-benar tidak tahu malu.. Apakah mereka bahkan tidak memiliki uang untuk pergi keluar.. Kenapa melakukannya di tempat ibu ku.. Benar-benar keterlaluan.. " Terdengar suara seorang pria mengomel.
" Aku akan lapor pada ayah dan ibu, agar kedua orang tidak tahu diri itu dihukum seberat-beratnya.
Ah.. Mata ku telah ternoda.. " Ucap pria itu lagi.
Dalam persembunyiannya, Maledine menebak, jika pria ini juga melihat apa yang dia lihat di lorong tadi. Tapi, Maledine sangat pemasaran, siapakah pria yang masuk ke dalam gubuk ini. Kemudian Maledine juga bertanya-tanya, siapa pemilik gubuk ini. Setahunya, area ini adalah milik ratu.
Karena rasa penasaran yang tinggi, Maledine pun mengintip dari celah kecil yang ada di antara barang-barang yang dia jadikan sebagai tempat persembunyian. Mata Maledine membola, ketika melihat ada pemuda tampan, tengah duduk. Di kursi yang tadinya dia duduki. Pemuda ini memakai pakaian yang bagus, sepertinya pemuda ini adalah seorang putra salah satu menteri atau bangsawan.
" Kalau dia putra bangsawan, kenapa dia bisa ke sini ya? Apa dia pemilik tempat ini? " Batin Maledine.
" Pemuda ini sangat tampan, kira--kira dia siapa ya?" Maledine mengagumi sosok yang untuk pertama kalinya dia lihat dan dia pun belum mengenalnya.
Lamunan Maledine buyar saat mendengar pelayan pribadi memanggilnya dengan suara yang cukup keras. Maledine terkadang heran, pelayannya ini sama sekali tdak berubah sejak pertama kali Maledine mengenalnya. Keduanya dulu sama-sama pelayan mending ratu.
" yang mullia... Saya mendapatkan kabar dari pihak astronomi.. Menurut yang saya dengar, tanggal dimana anda dan yang mulia raja akan melewati malam bersama sudah ditetapkan." ucap pelayan pribadi Maledine yang bernama Puara.
" Apa kau bilang?" tanya Maledine merasa tut jika dirinya salah dengar.
" Tanggal yang mana anda akan melakukan hubungan suami istri dengan yang mulia raja sudah ditetapkan. Menurut yang saya dengar, waktu yang tepat adalah tiga hari dari sekarang.." ucap Puara menjelaskan.
Maledine terdiam, rasanya dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan. Jika menurut aturan yang ada, memang sudah sepatutnya ari seperti yang Puara katakan terjadi. Raja membutuhkan penerus, dan ratulah yang harus melahirkan keturunan raja. Hanya saja, awalnya Maledine berpikir jika raja akan melewatkan malam itu. Mengingat bagaimana mereka bisa berakhir menikah, rasanya Maledine tidak percaya malam pertamanya bersama Raja akan terjadi tiga hari lagi.
***********
Di kediaman putra mahkota, Dierez langsung shock mendengar laporan dari Luke mengenai berita yang telah beredar di istana. Rasanya tidak percaya hal semacam ini akan terjadi. Bagaimana bisa ayahnya melakukan itu semua pada seorang gadis yang lebih pantas di sebut anak daripada istri. Apa ayahnya sudah gila, sampai melakukan itu semua. Semudah itukah, ayahnya mengkhianati ibunya.
" Apa kau yakin dengan apa yang kau ucapkan Luke?" tanya Dierez berharap apa yang dia dengar adalah kebohongan atau isu belaka.
" Benar yang mulia. Pihak menteri astronomi lah yang mengumumkan hal itu di rapat kerja pagi ini.." Luke mengangguk mantap.
" Sial.. Ide gila siapa lagi ini?" Dierez memijat pangkal hidungnya yang tiba-tiba terasa sakit.
" Menurut yang saya dengar, yang mulia raja sendiri yang meminta menteri astronomi untuk menghitung ari yang baik untuk malam pertamanya bersama dengan ratu. " ujar Luke sesuai dengan apa yang memang dia dengar.
Tanpa menanggapi ucapan dari Luke, lekas saja Dierez pergi menuju ke tempat dimana dia ingin memastikan sesuatu. Selama perjalanan menuju tempat yang Dierez maksud. Jujur saja, Dierez berharap semua ini tidak akan pernah terjadi.
" Kau harus menolak!! Ini perintah!!" ucap Dierez begitu dia melihat Maledine.
" Saya tidak bisa menolaknya yang mulia.. Ini adalah tanggung jawab hamba sebagai istri yang mulia raja.." ucap Maledine dengan kepala tertunduk. Dia takut melihat kemarahan dan kecemburuan yang terpancar dari mata Dierez. maledine sungguh takut jika dia sampai goyah pada pendirian yang sudah dia tekadkan.
" Kenapa? kau tidak mencintai ayah ku. Bagaimana bisa kau menerima begitu saja, semua ini? Kau berhak untuk menolak Maledine.. Katakan saja kau belum siap.." sentak Dierez yang hilang kesabaran.
" Sampai kapan? Sampai kapan saya bisa menghindar? Saya juga tidak menginginkan ini semua, tapi saya bisa apa? Saya bukan seseorang yang memiliki kekuasaan seperti anda untuk menolak apa yang tidak saya inginkan." Maledine menangis.
Melihat bagaimana Dierez menatapnya penuh luka, hati kecil Maledine pun ikut sakit. Bagaimana caranya agar dia bisa menjalani kewajibannya tanpa menyakiti pria yang dia cintai ini. Terkadang Maledine berpikir, jika betapa bahagianya diri jika cintanya pada seorang putra mahkota berbalas. Namun, kini yang terjadi justru kebalikannya. Disaat cintanya berbalas, Maledine justru akan kehilangan cinta itu.
Alasan Maledine tidak bisa menolak karena memang tidak memilliki alasan yang tepat. Semua dayang dan pelayan yang melayaninya tahu jika dirinya tidak sedang daang bulan. lalu dengan alasan apa dia menolak itu semua. Maledine tidak memiliki keberanian untuk melakukan perlawanan. Tidak ada jaminan, jika pria di depannya ini akan membantunya.
" Jawab pertanyaan ku.. Apa kau menginginkannya?" tanya Dieres menangkup pipi Maledine untuk bisa membuat tatapan mereka bertemu.
" Jika kau mengatakan tidak menginginkan ini semua, maka aku akan membuat semua tidak akan pernah terjadi..Jawab aku jujur, Maledine!!" Maledine menatap bola mata dari Dierez, berusaha mencari kebohongan di mata pria yang telah menjadi pemilik hatinya ini. Dan ketika dia bisa memastikan jika Dierez tidak akan membohonginya, akhirnya Maledine pun menganggukan kepalanya. Dia memang tidak menginginkan semua ini, apapun jaminan yang dia dapat dari raja nantinya.
" Kalau begitu, percaya pada ku.. Ingat, percaya dan turuti semua yang aku katakan pada mu, maka malam itu tidak akan pernah terjadi selamanya.." ucap Dierez dengan sangat yakin.