The Queen'S Love Scandal

The Queen'S Love Scandal
Penolakan



Setelah kejadian malam itu, Dierez semakin kesulitan bertemu dengan Maledine. Wanita ini, selalu bisa menghindari tempat mana saja yang kemungkinan akan didatangi oleh Dierez. Sudah seminggu, tapi Dierez belum melihat wajah Maledine sama sekali. Maledine juga tidak pernah kambuh lagi, karena raja juga sudah tidak pernah pergi ke kamar Maledine karena melakukan saran dari Dierez.


Untuk pertama kalinya dalam hidup Dierez, rencana yang dia buat, justru menjadi boomerang baginya. Ingin hati agar ayahnya tidak ke kamar Maledine lagi, namun justru membuat Maledine tidak lagi ketakutan. Jika seperti itu, sudah barang pasti, Dierez tidak akan dipanggil ke kamar Maledine untuk menenangkan wanita itu.


" Aish.. Sialan.. Kenapa jadi begini..? " Keluhan Dierez yang sudah sejak tadi mondar mandir di ruang kerjanya.


" Harus kemana lagi aku mencarinya.. " Monoloh Dierez.


Meninggalkan Dierez yang tengah bingung karena Maledine sama sekali tidak bisa ditemui. Rupanya, wanita yang telah membuat putra mahkota galau saat ini, justru tengah mengobrol bersama dengan putri Eugene, yang merupakan istri dari pangeran ke 2, yang adalah adik Dierez, satu ayah namun berbeda ibu.


Putri Eugene datang ke istana, untuk memberikan penghormatan pada ratu baru. Karena beberapa bulan ini, dia tengah istirahat total setelah mengidap penyakit yang cukup serius. Sehingga karena alasan inilah, dia belum memberikan penghormatan pada ratu secara pantas.


Jadi, putri Eugene ikut dengan suaminya yang memang hari ini masuk ke istana karena memiliki urusan dengan raja. Mereka berdua memang tidak tinggal di wilayah istana. Hal ini untuk memenuhi keinginan dari orang-orang yang selama ini berada di belakang raja untuk menyetir raja.


Pengaruh ayah dari putri Eugene yang merupakan menteri yang mengurus urusan keamanan dan pertahanan. Dulu, seharusnya putri Eugene menikah dengan Dierez, namun karena ternyata baik putri Eugene maupun pangeran Aeolus, keduanya ternyata saling mencintai, putra mahkota pun memerintahkan keduanya untuk menikah.


Para menteri yang dipimpin oleh perdana Menteri akhirnya memberi persyaratan agar pernikahan itu bisa berjalan. Syarat yang katanya demi melindungi posisi putra mahkota, padahal hanya alasan saja dari para menteri. Syarat ini memang tidak memberatkan, karena itu pangeran Aeolus menyetujuinya. Toh, dirinya tidak lagi boleh tinggal di istana, dan harus melapor setiap kali masuk ke istana. Bukanlah hal sulit bagi pangeran Aeolus, dia justru merasa bebas karena tidak terkekang di istana.


" Senang bertemu anda yang mulai ibu.. Mohon maafkan keterlambatan saya untuk memberikan penghormatan pada anda.. Dan, saya turut prihatin atas apa yang menimpa, yang mulia ibu beberapa waktu yang lalu.. " Ucap Putri Eugene sopan.


" Terima kasih.. Tapi bisakah anda tidak terlalu formal dengan saya.. Jujur saja, saya tidak nyaman.. Bisa kita bicara seperti sebelumnya, karena saya nyaman seperti itu.. " Ujar Maledine tidak nyaman ketika wanita yang dulu dia panggil yang mulia putri, sekarang justru memanggil dirinya dengan sebutan yang mulia juga.


" Maafkan saya, yang mulia ibu.. Sepertinya saya tidak dapat melakukannya karena itu justru akan membuat saya dihukum oleh yang mulia ayah. " Tolak putri Eugene masih tetap berusaha untuk menjaga kesopanan.


Maledine langsung tertunduk lesu. Semuanya yang dia jalani saat ini, sama sekali tidak membuatnya nyaman. Dia, lebih senang dan bahagia saat masih menjadi pelayanan ratu. Sekarang ini, semua orang menghormatinya dan mengelu-elukannya. Maledine sungguh tidak terbiasa dengan itu semua.


Keduanya pun mengobrol bersama sambil menikmati secangkir teh. Kebetulan, keduanya memang cocok jadi semakin lama, formalitas yang ditunjukan oleh putri Eugene semakin berkurang. Kini, putri Eugene menyebut dan memanggil Maledine dengan sebutan ratu, tanpa embel-embel yang mulia. Meski awalnya Maledine menolak karena dia menginginkan namanya saja yang dipanggil. Tapi putro Eugene kekeh tetap ingin memanggil ratu daripada Maledine dipanggil di awal tadi.


***********


Langit kini sudah berganti dengan malam. Saat makan malam tadi, Dierez juga tidak melihat keberadaan dari Maledine di meja makan. Hanya ada ayahnya dan juga selir Oclariana saja yang terlihat semakin lengket dengan raja. Dierez melihat itu merasa lega, karena setidaknya untuk saat ini, ayahnya tidak akan datang ke kamar Maledine. Yang ditakutkan oleh Dierez, ayahnya akan meminta haknya sebagai suami pada Maledine.


" Kalau tidur begini, dia terlihat sangat damai.. Seolah hidupnya tanpa beban.. " Dierez mengambil tempat di samping Maledine. Dia berbaring tepat di sebelah Maledine, demi bisa menikmati keindahan yang telah dewa ciptakan.


Disaat putra mahkota tengah asyik menikmati keindahan wajah Maledine, tiba-tiba saja mata Maledine terbuka karena dia merasakan ada nafas seseorang yang mengenai wajahnya. Keduanya saling bertatapan sejenak, hingga kemudian Maledine menyadari apa yang telah terjadi. Dia hampir saja berteriak kalau saja Dierez tidak menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


" Tenanglah.. Ini aku, Dierez. " Bisik Dierez tepat di telinga Maledine. Hal membuat Maledine merinding, karena merasakan sesuatu yang bangkit dari dalam dirinya.


" Apa yang anda lakukan disini? Apa Anda sudah gila, menyusup ke kamar saya malam-malam begini? " Ucap Maledine tengah emosi.


" Aku merindukan mu.. Bagaimana bisa kau tidak terlihat sama sekali di mata ku selama satu minggu ini.. Aku sangat menderita karena tidak bisa melihat mu.. " Ucap Dierez.


" Anda benar-benar sudah gila rupanya.. Saya adalah istri dari ayah anda, bagaimana bisa anda memiliki perasaan terhadap saya.. Apa Anda tidak sadar telah berbuat hal yang dilarang dewa.. " Maledine terus menolak kehadiran putra mahkota dalam hidupnya dan juga kamarnya.


Dierez yang terus mendapatkan penolakan pun kalap. Dia yang tadi sempat menegak alkohol, sekarang jadi merasa emosi karena telah merasa diremehkan oleh Maledine. Putra mahkota hilang akan, hingga akhirnya tubuhnya bergerak menindih Maledine, dan langsung mencium bibir Maledine dengan sangat kasar.


" Emmmpptt... Emmpppttt... " Maledine terkejut dan langsung menangis karena ulah Dierez yang menciumnya dengan paksa. Anehnya, dia sama sekali tidak merasa trauma kambuh jika bersama dengan Dierez. Apakah ini kekuatan cinta.


Ciuman Dierez semakin kasar dan menuntut. Meski tersulut gairahnya oleh Dierez, tapi Maledine tetap berusaha untuk tidak merasakan apa-apa. Maledine bahkan menutup rapat bibirnya agar lidah Dierez, tidak bisa mengeksplor rongga mulutnya. Hingga ketika tangan Dierez mulai kelewat jalur, Maledine pun langsung mengambil tindakan.


PLAK..


" APA ANDA SUDAH TIDAK WARAS. BAGAIMANA BISA ANDA MELAKUKAN INI PADA SAYA? SAYA BUKAN WANITA MURAHAN, YANG MULIA.. " Sentak Maledine.


" PERGI.. PERGI DARI KAMAR SAYA, SEBELUM PENJAGA MASUK DAN MEMERGOKI ANDA DI KAMAR SAYA.. PERGI!!! PERGI!! " Maledine menunjukan pintu keluar.


Meski tidak suka dengan ucapan dengan nada tinggi dari Maledine, tapi Dierez tidak marah karena memang dirinya merasa keterlaluan kali ini. Tanpa banyak kata, Dierez lekas pergi dari kamar Maledine karena tidak ingin semakin dibenci oleh wanita ini atas apa yang dia lakukan.


Melihat kepergian Dierez, Maledine memegang jantungnya yang berdetak sangat kencang. Bohong jika dia tidak terpancing oleh kenikmatan yang diberikan Dierez padanya. Akan tetapi, Maledine punya alasan kenapa sampai menolah Dierez seperti ini.