
Tidak terasa sudah seminggu lebih Hanna bekerja di Perusahaan Harrison. Percaya atau tidak, tiada hari dengan penyiksaan dari Arthur untuk Hanna. Perempuan itu tetap diperlakukan seperti pesuruh daripada sekretaris.
Oh jangan lupakan dengan suara yang menjijikan yang selalu Hanna dengar setiap paginya. Ia bahkan bingung apa lelaki itu tidak bosan melakukan hal menjijikan itu setiap pagi? Setiap hari?
Apa mungkin hal menjijikan itu sudah menjadi sarapan pagi Arthur sebelum ia memulai pekerjaan? Damn! Untuk apa Hanna memikirkan hal seperti itu?!
Sabtu pagi yang ceria ini, Hanna ingin melakukan rutinitas olahraga bersama dengan kedua anak anjing kesayangannya-Mogi dan Moka. Ia sudah berjanji kepada kedua anak anjing itu untuk membawa mereka jalan-jalan. Hanna kasihan melihat Mogi dan Moka yang jarang ia urus, ada keinginan untuk Hanna memberikan kedua anak anjing itu kepada orang lain yang bisa menjaga mereka.
Namun jika ia memberikan Mogi dan Moka, Hanna bisa kesepian di rumah yang hanya ada dia. Bukankah menyendiri itu tidak menyenangkan? Pasti ada rasa bosan yang menyerang disana.
Hanna berlari keluar rumah dengan membawa Mogi dan Moka ke taman perumahan miliknya. Ada hal yang Hanna sukai jika sedang jogging disana, ia bisa menghirup udara yang bersih serta sejuk dari penghijauan di taman ini.
"Hanna! Kita bertemu kembali." Hanna menolehkan kepalanya dan mencari sumber suara. Sebuah senyuman tercetak pada wajah saat melihat seorang lelaki yang memiliki sifat yang berbanding terbalik dengan Arthur. Siapa lagi jika bukan Alfred Heaton.
"Selamat Pagi, Pak Alfred. Mungkin hanya kebetulan yang datang sehingga kita bisa bertemu kembali disini, atau karena kita tinggal di perumahan yang sama namun hanya berbeda blok?" Ucap Hanna sambil tertawa kecil. Alfred tersenyum.
"Atau mungkin karena waktu kita jogging selalu sama. Kesibukan pekerjaan juga bisa menjadi faktor untuk kita bertemu setiap pagi disini." Hanna kembali tertawa kecil dan Alfred pun begitu. Walaupun masih ada kecanggungan diantara mereka berdua, Hanna dan Alfred bisa mengatasi kecanggungan tersebut untuk hilang diantara mereka.
"Apa kau sudah lama jogging disini?"
"Tidak, Pak Alfred. Saya baru saja tiba disini. Sekalian membawa anak anjing saya." Hanna menunjukkan Mogi dan Moka kepada Alfred. Alfred tersenyum dan langsung mengelus bulu halus milik Mogi dan Mola dengan telapak tangan besarnya itu.
"Wah lain kali kita harus membuat janji untuk jogging bersama. Saya sudah cukup lama disini, sehingga kita tidak bisa berbicara lebih lama lagi," Hanna mengangguk dan menerima ajakan Alfred.
"Dan jangan lupa untuk membawa kedua anak anjingmu, Hanna. Dia sangat menggemaskan. Andai saja aku memiliki waktu untuk merawat seekor anjing, pasti anak anjing saya sudah bermain dengan kamu punya." Hanna tertawa halus menanggapinya. Ia tau betul jika lelaki dihadapannya ini memiliki kesibukan yang sama seperti Arthur.
Sekarang Hanna bisa membedakan antara Arthur dan Alfred. Jika setiap pagi Alfred senang berolahraga dengan jogging di taman, lain dengan Arthur yang setiap pagi melakukan hal menjijikan sebagai olahraga. Hais, Hanna kembali memikirkan hal yang tidak penting itu.
"Kalau begitu saya harus pergi, Hanna. Nikmati olahraga pagimu dengan kedua anak anjingmu yang lucu itu." Ucap Alfred dan ia berlalu dari pandangan Hanna.
Hanna tersenyum sambil melihat punggung Alfred yang mulai menghilang. Siapa yang tidak jatuh cinta pada Alfred? Lelaki itu benar-benar berbeda dengan Arthur.
Sebuah gongongan dari Mogi dan Moka mengingatkan dirinya untuk kembali pada kenyataan. Mungkin gonggongan dari mereka merupakan alarm untuk berhenti membayangkan hal yang tidak mungkin terjadi.
•••
Hari cepat sekali ingin berganti. Tugas matahari berganti dengan tugas bulan yang bertugas untuk menerangi bumi yang gelap bersama dengan ribuan bintang yang bertabur di langit.
Hanna berlari dari dapur dengan membawa sendok yang baru saja digunakan untuk mengaduk telor mentah. Ia menjawab panggilan yang menganggu itu dengan nada malas.
"Malam, dengan Hanna sen-" ucapan Hanna langsung terputus dengan suara teriakan dari sana. Hanna bahkan menjauhkan gagang telpon tersebut dari telinga.
"Bagaimana mungkin dia kembali?" Tanya Hanna kepada Melly.
"Mungkin saja. Kapan saja orang lain bisa kembali jika mereka memang mau." Jawab Melly.
"Kamu tau dari mana jika dia kembali?"
"Mel, aku masih ingat betul apa yang ia katakan padaku. Ia tidak akan kembali karena ia ingin mengejar impiannya disana."
"Mungkin ia merindukanmu? Dan dia akan kembali lusa. Kau tidak ingin menjemputnya?"
"Aku mau tapi aku tidak bisa. Kau tau si Arthur itu tidak bisa memberiku nafas untuk sedetik saja."
"Padahal dia berharap jika kau yang menjemputnya." Hanna berdeham menanggapinya.
"Lagi pula aku tidak terlalu penting disana. Disana sudah ada Jess dan ketidakhadiranku bukan masalah besar disana," Hanna mengigit bibirnya. Kilasan kenangan dulu pun kembali terbuka dengan jelas.
"Dan aku juga tidak memiliki hubungan apapun dengannya." Sambung Hanna dengan helaan nafas diakhir. Dulu ia memang menyukai dia yang lusa akan kembali ke kota ini. Namun rasa cintanya terputus saat dia pergi untuk menggapai impian di negara lain.
"Jangan sedih, Han. Aku yakin masih ada lelaki yang lebih baik untukmu. Jika dulu ia menolak, ku pastikan ia menyesal dengan pilihannya dulu." Melly berusaha menghibur Hanna. Melly pernah melihat Hanna berada di masa yang terpuruk saat rasa cinta itu tidak terbalas, perempuan itu sudah menyimpan rasa itu bertahun-tahun dan berakhir dengan sakit hati.
"Aku sudah tidak peduli dengannya lagi. Jika aku berpikir kembali bagaimana keadaanku dulu, aku seperti perempuan bodoh karena menangisi lelaki yang tidak membalas rasaku."
"Kita akhiri pembahasan ini. Bagaimana jika kita pergi ke mall, untuk refreshing? Kau tau aku-" Hanna memotong ucapan Melly. Ia mendengus kesal.
"Mel, pekerjaanmu lebih mudah tanpa menguras harus emosi, sedangkan aku harus menahan emosiku untuk suara menjijikan itu dan juga kelakuan si Arthur yang membuatku ilfeel."
"Kau harus menghilangkan ke jijikkanmu itu Hanna, kau mau nanti saat kau menikah dan melakukan malam pertama, kau-"
"Itu berbeda Mel, sudahlah aku ingin melanjutkan masakku. Bye." Hanna langsung menutup telepon dan berjalan dengan penuh kekesalan ke dalam dapur. Kenangan yang sudah lama kembali terbuka dan buru-buru Hanna melakukan hal lain untuk menghilangkan kenangan yang buruk itu.
Ting tong!
Suara bel terdengar dan Hanna berlari ke pintu utama. Kepalanya ia gerakan ke kanan dan ke kiri tapi tidak ada siapa-siapa, hingga ia melihat sebuah kotak berukuran sedang di lantai.
Hanna mengambilnya dan membawanya ke dalam. Ia penasaran dengan isi nya dan betapa kagetnya ia melihat setangkai bunga, foto kenangan dirinya bersama orang yang baru ia bicarakan dengan Melly, dan juga sepucuk surat.
Hanna mengambil surat dan membukanya.
Dear Hanna,
Mari kita bertemu lagi dan kita ulang dari awal. Lusa aku akan pulang, aku harap kamu bisa menemuiku setelah beberapa tahun lamanya kita tidak bertemu. Aku merindukanmu.
Love,
From someone you know.
TO BE CONTINUE
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
2020.09.08