
Kenzo kembali membuka kotak berwarna merah tersebut setelah ia berpakaian santai. Dengan suasana ruangan yang dingin, ia memakai selimut menutupi bagian kakinya agar tidak kedinginan.
Kenzo benar-benar tidak mengenal apapun surat di kotak ini, bahkan ia tidak tau sejak kapan kotak ini ada. Ia berpikir apa kotak ini milik Kakaknya?
Tidak, tidak. Jika di pikir untuk apa lelaki itu menyimpan kotak di kamar bahkan lemari baju miliknya. Oh, Kenzo bahkan tidak bisa membayangkan Kakaknya mau menerima surat semacam ini yang bahkan di beri tanda 'love' di bagian depan surat.
Seorang Arthur pasti langsung akan membuang ini setelah ia menerimanya. Kenzo sangat mengenal Kakaknya. Ia sempat berpikir untuk bertanya kepada Arthur namun pasti Kakaknya akan mendiamkan dirinya karena pasti menurut lelaki itu ini tidak penting.
Dia pasti akan menjawab, 'kenapa kau tidak langsung membukanya. Dengan begitu kau akan langsung menemukan jawaban dari pertanyaanmu.' Mungkin seperti itu yang di pikirkan oleh Kenzo terhadap Kakaknya.
"Memang selalu percuma untuk mendapat jawaban dari lelaki semacam dia." Ucap Kenzo sembari mengambil satu buah surat dari dalam kotak di hadapannya.
"Berwarna pink, bergambar hati. Bertuliskan dari pengangum rahasia." Ujar Kenzo berbicara sendiri. Ia tidak bicara dalam hati, ia membacanya sendiri di kamarnya yang dingin ini.
"Apa ini dari dia karena aku pergi?" Gumam Kenzo bertanya. Rasa penasaran seakan menerkam ia dan memenuhi semua isi di otaknya.
Dear Kenzo,
Happy Graduation Day!
Kamu tidak perlu tau namaku karena aku adalah pengagum rahasiamu. Kita pernah bertemu saat pertama kali kami tampil bermain piano sewaktu pensi dulu.
Jika kamu udah baca surat ini, aku harap kamu masih mengingat aku tanpa aku beri tahu namaku.
Kenzo berhenti membaca surat itu sebentar dan mencoba mengingat siapa pengirim ini. Jelas ini bukan dia, mendadak rasa penasaran seakan berkurang sedikit.
Ini hanya sebuah surat dari penggemar berat dia semasa ia sekolah. Kenzo menghela nafas kecewa dan menyingkirkan kotak tersebut ke atas nakas di sebelahnya. Ia selalu bepikir jika ia terus membaca semua surat ini, tubuhnya bisa geli sendiri. Dalam artian lain, semua isi surat yang disini tidak jauh beda dengan apa yang pernah ia baca dari penggemar dulu.
Isinya bahkan membuat Kenzo ingin cepat-cepat membuang surat itu atau membakarnya. Namun karena ia menghargai usaha penggemarnya, akhirnya ia taruh saja di dalam kotak yang ia kubur di tanah.
Baik lewatkan. Kenzo menyadari jika kotak berwarna merah itu berasal dari penggemarnya. Ia juga ingat jika saat kelulusan, Arthur lah yang mewakili karena semua anggota keluarganya sibuk.
Kenzo sendiri pergi ke London setelah ujian akhir selesai bersama dengan Vincent yang menemaninya. Tidak hanya itu, Keyna yang merupakan Ibunya juga tidak bisa hadir karena ia sedang sakit saat itu.
Sehingga mau tidak mau, Arthur yang mewakili untuk pengambilan bukti kelulusan Kenzo. Well, Kenzo sendiri tidak menyangka jika seorang Arthur mau melakukan hal seperti ini.
•••
Next Day,
Morning-07.30 A.M
Harrison Mansion.
Arthur berbincang sebentar dengan kedua orangtuanya—Vincent dan Keyna—karena mereka yang meminta untuk kembali berbicara tentang masa depan Arthur yang masih belum mendapatkan pasangan.
"Charlotte lagi, Charlotte lagi! Apa Mom tidak bosan menyebut nama itu? Mom jangan tertipu dengan wajah cantiknya itu karena di belakangnya ia-" Keyna memotong ucapan Arthur.
"Dan apa kamu tidak bosan juga menyebut Charlotte dengan apa yang kamu pikirkan adalah salah? Dia satu-satunya gadis dari keluarga terhomat, Arthur! Keluarganya sudah sangat berjasa untuk kita disaat keluarga kita dulu masih belum bisa seperti sekarang!" Arthur menunduk mendengarkan, tetapi dalam hatinya ia membenarkan jika keluarga Charlotte memang sangat berjasa.
Arthur mendesis kesal. Kembali lagi Keyna membahas Hanna yang selalu menjadi kelemahannya. Ia tidak suka Hanna ada yang menjelekkannya. Ini salah besar!
"Hanna bahkan lebih baik dari pada Charlotte. Oh Mom, penampilan fisik atau derajat seseorang tidak penting untukku. Aku lebih memilih seorang gadis yang bukan berasal dari keluarga terhormat atau apapun yang Mom inginkan, dari pada memilih seorang perempuan yang kerjaan setiap malam adalah memuaskan hasrat dirinya bahkan lelaki lain. Aku pergi!"
Arthur berdiri dan meninggalkan pembicaraan yang memang sudah tidak menarik sejak awal. Ia ingin memilih pasangannya sendiri, ia sudah besar bukan seorang anak kecil yang bodoh dalam percintaan.
Ia hati-hati dalam sebuah hubungan karena ia hanya menginginkan untuk menikah sekali dalam hidupnya dan hidup bersama dengan perempuan yang ia sayangi. Itu saja tidak lebih, mungkin susah untuk menemukan orang tersebut. Tetapi mungkin sekarang ia bisa melihat siapa orang tersebut. Mungkin.
"Lihat anakmu, Vincent! Anak yang kau banggakan, sekarang dia menjadi anak yang pembangkang terhadap orangtuanya." Kata Keyna dengan emosi yang terlihat di wajahnya. Vincent pun tidak mengerti kenapa kedua orang ini selalu bertengkar.
"Sudahlah, Arthur sudah besar jadi kamu tidak perlu mengurus masalah percintaannya. Lagi pula anak kita dua, dan sudah besar." Keyna langsung pergi setelah mendengar ucapan Vincent.
"Anak dan Ibu sama saja kalau sedang marah, pasti langsung pergi." Vincent menggelengkan kepalanya sambil berdecak. Ia tidak mengambil pusing saat istrinya sedang marah karena amarah itu akan redam dengan sendirinya.
•••
08.35 A.M
Harrison Mansion
"Selamat pagi, Pak Arthur." Sapa Hanna dari meja kerjanya. Well, sepertinya mulai sekarang Hanna tidak perlu merasa jijik untuk mendengar suara yang selalu menyambut pagi kerjanya. Arthur mulai berubah walaupun hanya sedikit perubahannya.
"Berikan aku data tentang perjalanan pertengahan tahun perusahaan kita nanti. Kau sudah selesai mengerjakannya bukan, Hanna?"
Tentu Hanna sudah menyelesaikannya. Ia bahkan hampir tidak tidur semalaman hanya untuk mengerjakan pekerjaan ini. "Tentu, Pak Arthur."
Hanna memberikan sejumlah kertas kepada Arthur. "Saya mencari beberapa tempat yang cocok untuk tempat liburan karyawan perusahaan. Saya memilih Malta dan Saipan sebagai tempat yang cocok," Arthur mengangguk sambil melihat isi dokumen sembari mendengarkan ucapan Hanna.
"Pak Arthur bisa menentukan kedua tempat itu atau jika Pak Arthur tidak menyukainya. Saya bisa mencari tempat yang lain sebagai liburan perusahaan ini." Tambah Hanna.
"Tidak perlu, Hanna. Saya menyukainya. Tapi kau lebih menyukai tempat yang mana? Apapun pilihanmu, Saya akan mengikutinya."
"Tapi ini bukan pekerjaan Saya dan ini bukan bagian Saya untuk menentukan. Pak Arthur adalah pemimpin perusahaan ini, ada baiknya jika Pak Arthur saja yang memilih."
"Hanna jika kau terus melakukan ini. Pemilihan untuk tempat liburan tidak akan selesai juga hingga esok hari." Arthur berjalan ke sisi meja kerja miliknya dan duduk di sana.
Hanna benci situasi ini. "Baiklah, Saipan."
"Dan Saya menyetujuinya. Kau bisa langsung mencari semua kebutuhan kita disana," Ucap Arthur dan menampilkan deretan giginya yang rapi.
"Oh! Dan jangan pusingkan harga, pentingkan kenyamanan karyawan kita." Tambahnya. Well, kita? Hanna hanyalah seorang sekretaris bukan seorang pemimpin.
Kita? Karyawan anda bukan saya.
-Hanna
TO BE CONTINUE