The Bad Boss

The Bad Boss
Bab 31 - Boy Meets What



Sudah  sebulan sejak Arthur dan Hanna menjalin hubunhan. Mereka semakin dekat dan banyak orang yang mendukung hubungan mereka kecuali orangtua Arthur yang masih tidak terima. Sekarang Arthur dan Hanna sedang jam makan siang dan Hanna membawa hasil masakannya untuk di berikan ke Arthur.


"Ini sangat enak, kau tidak mau?" Ajak Arthur dan Hanna langsung menggeleng.


"Kau akan menyesal."


"Mana mungkin aku menyesal dengan hasil masakanku sendiri, aku bisa memasaknya lagi dan memakannya sendiri." Kata Hanna lalu memainkan handphonenya.


"Lain kali kau harus selalu membawakanku makan siang, aku bosan dengan makanan kantin."


"Aku malas lagi pula tugasku banyak, kau tidak lihat betapa tingginya kertas putih itu? Karena kau aku harus menghentikan pekerjaanku."


"Aku-" Hanna langsung memotong ucapan Arthur dan melanjutkan ucapannya lagi.


"Lagi pula kau atasan, kau bisa menyuruh mereka membuat makanan yang kau ingin, kenapa sangat menyusahkan, uh?" Ujar Hanna dengan nada kesal.


"Kenapa kau marah? Aku hanya ingin memakan makanan calon istriku setiap hari."


"Calon istri apanya?! Kau bahkan belum melamarku!" Arthur sedikit tertawa dan berdiri lalu mendekati Hanna. Lelaki itu mengelus rambut pacarnya itu dengan lembut.


"Kau ingin aku lamar?"


*Knock*


Suara ketukan pintu terdengar dan muncullah seorang wanita yang tidak lain adalah Karlie. Dia masuk dengan sebuah surat beramplop putih.


"Oh apa ada masalah?" Tanya Arthur dengan posisi masih di dekat Hanna.


"Aku hanya ingin memberikan ini. Aku ingin mengundurkan diri-" Hanna langsung kaget begitu juga dengan Arthur.


"Why?! Kenapa harus?" Tanya Hanna lalu berjalan mendekat ke Karlie.


"Keluargaku semuanya pindah ke Boston, jadi mau tidak mau aku harus pindah kesana. Makasih untuk selama ini Pak Arthur dan Hanna. Saya undur diri." Kata Karlie sambil membungkuk ke Arthur sedangkan ke Hanna dia mengambil kedua tangannya.


"Dengarlah, kau sahabat yang baik. Kalau ada masalah datanglah padaku, jika kau datang ke Boston, jangan lupa hubungi aku. Sampai jumpa, Hanna." Kata Karlie lalu memeluk Hanna. Semenjak pengumuman Arthur bersama Hanna, Karlie sudah tidak bisa melakukan apapun. Awalnya ia sangat marah dan ingin menjabak Hanna namun rasa takut kepada Arthur melebihi keinginannya. Oleh sebab itu, Karlie mulai menerima dan mendekatkan diri dengan Hanna sebagai teman dan rekan kerja.


Setelah itu, Karlie pergi dan Hanna tersenyum tipis karna ia masih menginginkan Karlie di dekatnya. Walaupun masih ada Melly di sampingnya tapi Karlie sudah menemaninya selama ia menjadi sekretaris.


"Jangan sedih, kamu masih bisa mengubunginya." Arthur berdiri di sampingnya sambil tersenyum dengan tangan mengelus kepala Hanna.


•••


Sudah berbulan-bulan berlalu, terhitung 3 bulan sejak kepergian Karlie karna pengunduran dirinya. Hanna juga semakin sibuk sebab biasanya tugasnya di bagi dengan Karlie sekarang menjadi miliknya semua.


"Istirahatlah, kau bahkan lembur 3 hari." Kata Arthur yang berdiri di samping Hanna yang masih bekerja.


"Ini karenamu."


"Itu karena sudah menjadi tugasmu." Kata Arthur sambil tertawa dan Hanna hanya mempoutkan bibirnya.


"Lusa kau akan merasa ringanan dengan pekerjaanmu. Ada seseorang yang datang dan mengantikan tugas Karlie." Hanna langsung membinarkan matanya namun dalam hatinya ada rasa sedikit kesal.


"Apa dia perempuan?"


"Apa kau cemburu kalau dia perempuan?"


"Bu-bukan..hanya saja bukankah lelaki lebih baik?"


"Kau juga perempuan, tapi lihat saja nanti." Kata Arthur lalu menjauh dari Hanna, karna penasaran Hanna menyusul Arthur yang kini duduk di kursi kerjanya.


"Hey, katakanlah, aku benar-benar ingin tau." Ujar Hanna dengan wajah penasarannya itu. Arthur hanya tertawa dan menatap wajah yang menurutnya itu sangat lucu.


2 days later...


Sesuai janji ada seseorang yang datang untuk mengantikan posisi Karlie yang sebelumnya diisi oleh Hanna. Sekarang Arthur dan Hanna sedang duduk di sofa.


"Kapan dia datang, aku sangat penasaran." Ujar Hanna sambil menatap ke arah pintu.


"Apa pintu lebih tampan di banding aku?" Hanna tertawa kecil dan Arthur mengambil dagu gadis itu lalu membawanya ke hadapannya. Lelaki itu mendekatkan wajahnya ke Hanna dan bersiap untuk menyentuh benda kecil berwarna kemerahan itu.


Sedikit lagi...


Beberapa centi lagi dan akhirnya mereka tidak jadi karena suara ketukan pintu. Arthur langsung menjauhkan wajahnya dari Hanna dan begitu juga dengan Hanna.


"Masuk lah." Kata Arthur sambil berjalan ke arah mejanya, begitu pun dengan Hanna.


Seseorang masuk ke dalam dengan bunyi ketukan sepatu heels tingginya itu. Tubuhnya yang tinggi dan rambut berwarna coklat yang di ikat kuda.


"Kau yang akan menjadi sekretaris baru 'kan?" Tanya Arthur sambil menatap perempuan itu sambil memangku dagunya dengan tangannya.


"Benar, Pak."


"Perkenalkan namamu."


"Nama saya Sarah." Ujar perempuan yang baru memperkenalkan dirinya. Raut wajah Hanna antara senang dan marah. Senang di karenakan pekerjaannya berkurang dan marah karna takut perempuan itu melakukan hal seperti Karlie yang dulu.


Arthur sedikit melirik Hanna yang sedang menekuk wajah. Lelaki itu terkekeh kecil dan setelahnya kembali dengan wajah biasanya.


"Sarah, kau bisa langsung kerja. Meja kerjamu ada di luar." Kata Arthur.


"Dan satu lagi, perkenalkan dia Hanna. Dia sekretaris pertama dan kau bisa konfirmasi kerjamu apa nanti." Tambah Arthur yang menerima anggukan dari Sarah.


"Pak, boleh saya bertanya?" Arthur mengangguk.


"Silakan, apa pertanyaanmu."


"Dia memang saya khususkan di ruangan ini bersama saya, karna dia penting." Sarah langsung mengangguk mengerti sedangkan Hanna yang mendengarnya hanya tersenyum senang.


Sepenting apanya? Padahal tugasnya sama aja.


-Sarah


"Makasih, Pak." Ucap Sarah dan karna ia tidak mau menunggu lebih lama, dia mendekati meja kerja milik Hanna.


"Apa yang harus ku kerjakan, Hanna?" Tanya Sarah dan Hanna dengan cepat memberikan sejumlah kertas yang lumayan banyak tapi itu sudah di bagi dua dengan tugasnya.


"Kalau kau sudah selesai, berikan padaku untuk aku periksa sebelum aku berikan ke Pak Arthur." Ucap Hanna sambil menatap Sarah sembari tersenyum.


"Baiklah, aku pergi dulu. Pak Arthur, saya permisi dulu." Ujar Sarah dan pergi dari ruangan Arthur.


Setelah kepergian Sarah, Arthur berdiri dan mendekati meja Hanna. Gadis itu sedang mengerjakan kerjaannya dengan serius hingga ia tidak tau kalau Arthur sudah duduk di hadapannya.


Hanna meregangkan tubuhnya dan ia baru menyadari kalau Arthur dari tadi memperhatikannya. "Sejak kapan kau di sana?" Tanya Hanna dan mnumpuhkan dagunya dengan kedua tangannya pada meja.


"Sekitar 10 menit? Entahlah aku tidak tau." Ucap Arthur lalu memajukan dirinya ke meja dan menumpuh dagunya dengan tangannya.


"Hey aku lapar, ayo kita makan di luar." Ajak Arthur. Hanna langsung menggeleng pelan.


"Tuan Arthur, apa kau tidak lihat tugasku sangat banyak." Ucap Hanna sambil tersenyum sembari menatap Arthur yang tengah menatapnya juga sambil tersenyum.


"Mrs.Harrison, tugas itu masih bisa kau lanjutkan nanti, makan harus yang pertama." Kata Arthur lalu mencubit kedua pipi Hanna.


"Aww! Ini sakit!" Seru Hanna sambil mengelus kedua pipinya sembari menatap kesal ke Arthur, sedangkan yang di tatap hanya tertawa puas karna ia selalu berhasil membuat kekasihnya ini kesal.


"Sudahlah ayo, aku sudah benar-benar lapar!" Rengek Arthur lalu berdiri dan menarik tangan Hanna keluar ruangan dengan paksa tapi juga ia lembut menariknya.


"Kalau tugasku belum selesai-"


"Tenang saja, kekasihmu ini akan menemanimu hingga pekerjaanmu selesai." Ujar Arthur lalu tersenyum dan mengelus rambut Hanna.


Semua pasang mata menatap Arthur yang sedang menarik Hanna keluar perusahaan. Senyuman tanpa bisa mereka hindari karna melihat betapa gemasnya gaya berpacaran Arthur dan Hanna.


Bukankah mereka lucu?


Aish. Aku iri dengan mereka.


Bukankah Hanna sangat beruntung bisa mendapatkan lelaki tampan seperti Arthur? Belum lagi dia juga tajir.


Aku harap mereka langgeng hingga nanti.


Begitulah ucapan mereka terhadap hubungan Arthur dan Hanna. Banyak yang mengharapkan pasangan gemas itu bisa bersama hingga selamanya, namun tidak ada yang tau apakah hubungan itu masih sama atau tidak.


•••


02.00 PM


-R'Velvets Restaurant-


Arthur menarik kursi untuk Hanna duduk dan setelah baru ia duduk di kursi miliknya. Seorang pelayan datang dengan membawa buku menu dan tidak lama kemudian pergi setelah mencatat pesanan.


"Sudah lama kita tidak makan berdua." Ujar Arthur sambil memegang tangan Hanna yang berada di atas meja.


"Benar juga, terakhir kali kita makan berdua waktu ulang tahunmu bukan oktober."


"Ya tapi bedanya itu malam dan ini siang." Hanna menanggapinya dengan senyuman sambil menatap Arthur dengan senang. Arthur menatap manik mata Hanna yang begitu indah untuk di lihat.


From Kenzo :


Kak, aku ingin mengambil barang yang aku simpan di kantor.


Read.


Arthur langsung melihat notif dari adiknya itu dan membalas pesan itu.


To Kenzo :


Ambillah, sebelumnya kakak pindahkan ke laci nomor 2.


Send.


From Kenzo :


Baiklah, Kak!


Read.


•••


Kenzo baru saja sampai di perusahaan dan banyak pasang mata yang pastinya mengenal dengan jelas lelaki itu. Dikarenakan Kenzo hanya mengenakan kaos putih dengan celana jogers hitam dan sneakers miliknya. Sangat simple namun terlihat keren di tubuhnya. Jika ada yang menanyakan bagaimana kondisi Kenzo saat kejadian makan malam sebulan yang lalu, jujur Kenzo tidak nafsu makan selama 3 hari. Ia merasa bodoh. Namun akhirnya ia merelakannya karena kebahagiaan Hanna adalah yang ia utamakan.


Ting!


Suara dentingan lift terdengar dan Kenzo langsung masuk ke dalam lalu menekan lantai yang ia tuju. Lelaki itu keluar saat lantai yang ia tuju sudah tiba.


Namun saat beberapa langkah dari lift, ia melihat seseorang yang tidak asing di penglihatannya. Kenzo melangkah lebih dekat dan betapa kagetnya dirinya bisa bertemu dengannya lagi.


"Sarah?"


TO BE CONTINUE