
"Ikut saya sekarang." Tangan Hanna langsung di tarik menjauh dari tempat Melly dan semua pekerja berada. Hanna ikut saja karena ia tidak bisa berbicara apapun, meskipun ia ingin sekali memuntahkan semua emosi yang terpendam.
"Bukannya waktu itu saya sudah tanya Pak Arthur, tapi Pak Arthur menerimanya. Jadi saya memesan tempat ini, dan Pak Arthur menyerahkan semua kepada saya." Kata Hanna sepanjang perjalanan dengan tangan yang masih di tarik Arthur.
Hanna mulai berbicara panjang lebar dan meluapkan semua emosinya. Hingga ia tidak sadar jika mereka sudah sangat jauh dari lokasi tempat makan. Arthur melepas tarikan tangan dan disaat itu Hanna tersadar.
Damn! Dimana ini? Hanna membatin. Di depannya hanya ada hamparan laut dan semuanya gelap. Rasa dingin semakin menusuk kulit dan ia mengusapkan kedua tangan ke tubuh serta ke kedua tangan.
"Ini dimana, Pak?"
"Saya juga tidak tau."
Hanna menatap Arthur terheran-herannya. Bagaimana bisa dia tidak tau tempatnya?! Dia yang membawa dirinya pergi dan apa sekarang mereka tengah menghilang?! Atau hilang arah?
Arthur tersenyum manis kepada Hanna dan kembali menarik tangan Hanna. Namun gadis itu menepis menjauh. Hanna tidak ingin ikut lebih jauh lagi, ia tidak mau hilang di pulau ini.
Arthur mendecak dan kembali menarik tangan Hanna namun Hanna kembali menepisnya. "Saya tidak mau, Pak. Saya tidak tau tempat ini dan Pak Arthur juga, bagaimana nanti kita hilang arah lalu kita disangka orang hilang?"
Arthur memutar kedua matanya dengan jengkel dan kembali menarik tangan Hanna dengan paksa. "Sudah kamu ikut saya saja, meskipun saya tidak tau tempat ini tapi saya tau arah kembali."
"Benarkah? Bagaimana jika tidak?"
"Kau akan tau nanti."
"Lebih baik kita kembali, Pak. Lagi pula tidak enak juga pada mereka yang menunggu kita disana."
"Saya tidak peduli."
Hanna mengerutkan dahi, bagaimana mungkin seorang atasan tidak memikirkan mereka yang mungkin sedang menunggu dirinya serta Arthur. Hanna menatap ke sekeliling yang minim cahaya dan sedikit takut.
Di pertengahan perjalanan, Arthur berhenti dan mengetik sesuatu di ponsel pintarnya. Sesekali Hanna melirik ke arah Arthur yang fokus ke benda kecil tersebut dan terkadang tertangkap basah.
Tiba-tiba ada kembang api yang meluncur ke langit lalu menghasilkan percikan indah di sana. Tidak hanya ada satu melainkan puluhan. Ini sangat indah!
Hingga salah satu kembang api berbentuk hati membuat dahinya mengerut. Namun setelahnya ia normalkan kembali dan di gantikan dengan sebuah senyuman manis di wajah.
"Kau suka?" Tanya Arthur. Lelaki ini melihat Hanna sejak kembang api dimulai. Seharusnya hal menarik untuk dilihat adalah kembang api, namun untuk Arthur tidak berlaku.
"Ya, saya tidak pernah melihat kembang api secantik ini dan sebanyak ini. Apa ini tahun baru?" Hanna menoleh ke Arthur sebentar lalu tersenyum menampilkan deretan gigi sebelum kembali melihat kembang api yang masih setia berpesta di langit.
Arthur tersenyum kecil dan ia kembali mengetik sesuatu di ponsel pintarnya.
"Sudah saya bilang, saya tidak peduli. Biarkan mereka berpesta disana dan disini saya ada keperluan denganmu."
"Sayang sekali, mereka gak bisa melihat ini."
"Tentu mereka bisa melihat Hanna, letak kita tidak jauh dari letak mereka. Sekarang kita lanjut berjalan, okay." Kali ini Arthur tidak menarik tangan Hanna karena ia tau kalau gadis ini akan mengikutinya.
Setapak demi setapak mereka lewati dan tibalah di suatu tempat yang terdapat sepasang kursi yang saling berhadapan. Dua lilin di atas meja serta bunga yang terdapat disana. Tidak hanya itu, jalur ke meja makan tersebut sudah di tata dengan menggunakan lilin yang berhadapan.
Maksudnya apa ini?! Batin Hanna berteriak kebingungan.
"Ayo." Arthur menarik tangan Hanna dengan lembut. Ia membawa Hanna berjalan melewati deretan lilin yang menerangi jalannya.
Arthur menarik kursi untuk Hanna dan kemudian baru menduduki bangku yang ada di seberang Hanna.
INI DINNER?! Batin Hanna berseru. Hanna masih memutar otaknya karena untuk apa Arthur melakukan dinner dengannya. Ia hanyalah sekretaris, untuk apa ia mendapat makan malam romantis di pinggir pantai. "Makan dulu, jangan pikirkan yang lain." Kata Arthur.
Beberapa saat kemudian, ada dua orang pelayan yang mendatangi meja mereka untuk memberikan makanan.
Mungkin saja jika bersama dengan kekasih, hal ini akan sangat romantis. Tetapi ini dengan Arthur! Lelaki keras kepala yang ingin selalu keinginannya terpenuhi. Jika ada yang berkata tidak atau tidak ada yang mengikuti keingannanya, maka Arthur akan berbuat apapun untuk orang tersebut mengiakan.
Hanna menatap Arthur yang tengah menyantap steak dengan sangat tenang. Ia melihat lelaki itu memotong steak tersebut dengan pisau serta menusuknya dengan garpu sebelum memasukkannya ke dalam mulut.
"Hanna...ikuti ucapan saya. Makan dulu dan jangan perhatikan saya." Ucap Arthur kembali. Lelaki itu berhenti makan dan melihat Hanna yang masih menatap dirinya.
"Bisa Pak Arthur jelaskan kepada saya maksud makan malam ini?" Tanya Hanna langsung ke inti nya. Arthur tersenyum kecil. "Menurutmu apa?" Arthur bertanya kepada Hanna.
Hal seperti ini sangat mengesalkan. Ketika kita bertanya ke orang dan orang tersebut balik tanya ke kita. "Lalu saya harus bertanya kemana, Pak? Saya saja tidak tau maksud makan malam ini." Jawab Hanna.
"Nah itu kau tau, ini makan malam. Yasudah apa yang perlu di ributkan?"
"Saya juga tau kalau ini makan malam, tapi maksudnya apa?"
"Nah itu saya juga tanya, menurut kamu makan malam ini apa?"
"Okay, berhenti bahas ini. Mari kita makan saja, Pak." Hanna menghela nafas kesal. Tidak ada gunanya bertanya kepada Arthur.
"Hanna...apa kau jarang menonton film danĀ membaca buku romantis atau memang kau yang tidak peka?"
Tentu aku tau maksud ini! Maksudnya...eh...biasanya ini dilakukan oleh pasangan, bukan begitu?! Hanna membatin.
TO BE CONTINUE