
"Nah itu kau tau, ini makan malam. Yasudah apa yang perlu di ributkan?"
"Saya juga tau kalau ini makan malam, tapi maksudnya apa?"
"Nah itu saya juga tanya, menurut kamu makan malam ini apa?"
"Okay, berhenti bahas ini. Mari kita makan saja, Pak." Hanna menghela nafas kesal. Tidak ada gunanya bertanya kepada Arthur.
"Hanna...apa kau jarang menonton film dan membaca buku romantis atau memang kau yang tidak peka?"
Tentu aku tau maksud ini! Maksudnya...eh...biasanya ini dilakukan oleh pasangan, bukan begitu?! Hanna membatin.
Makan malam akhirnya selesai, pelayan datang mengambil piring dari meja mereka dan menukarnya dengan makanan penutup yaitu ice cream. Hanna perlahan memasukkan ice cream ke dalam mulut. "Kau suka?" Tanya Arthur.
Hanna tersenyum kecil sembari mengangguk. Arthur mengambil ice cream miliknya dan memberikannya ke Hanna. "Ah tidak usah, Pak. Silakan makan punya Pak Arthur, saya punya ice cream ini." Balas Hanna.
"Saya tidak suka ice cream, jadi kau saja yang menghabiskannya."
Kalau begitu kenapa harus pesan ice cream?! Hanna membatin kesal.
"saya pikir sepertinya saya tidak bisa menghabiskannya, bagaimana jika kita membungkusnya dan memberikannya kepada yang lain?"
"Ice cream tidak mungkin tahan lama di perjalanan, jika kau tidak mau, lebih baik di buang."
"Itu buang-buang uang namanya," ucap Hanna dengan suara kecil. "Apa kau bilang?" Tanya Arthur.
"Ah tidak, Pak."
"Harga ice cream disini tidak bisa membuat saya bangkrut, Hanna. Meskipun aku menyewa pulau ini atau pulau yang ingin aku beli, uangku juga tidak akan habis."
Sombongnya.
Hanna mengangguk sebagai balasan. "Besok temani aku bermain jetski." Kata Arthur.
"No! I won't!" Tolak Hanna keras. "Kenapa Pak Arthur tidak pergi bersama yang lain saja? Bersama dengan teman Pak Arthur?" Hanna bertanya.
"Why?" Arthur memiringkan kepalanya sedikit sembari menatap dan tersenyum. Siapapun akan luluh dengan sikap manis lelaki ini. Hanna mengalihkan pandangan ketika matanya tidak sengaja bertabrakan dengan mata Arthur. "Karena saya ada..." Hanna mencari alasan yang logis namun sikap yang ia tunjukkan sekarang sudah menunjukkan jika ia sedang mencari alasan. "Saya ada sudah berjanjian dengan Melly! Ya dengan Melly!"
Arthur terkekeh. "Han, tidak ada kata tidak dalam kamus saya." Ucapnya lalu meninggalkan sejumlah uang di meja. Kemudian ia berdiri dan berjalan menghampiri Hanna. Hanna berdiri dan menunggu apa yang akan dilakukan oleh atasannya tersebut. "What are you doing, sir?" Tanya Hanna ketika melihat Arthur mengulurkan tangan. "Just take my hand." Balasnya.
Arthur secara mendadak berlutut sambil tersebut, Hanna yabg terkejut langsung menarik tangan. Namun tangan itu berhasil ditarik kembali oleh Arthur. "Wait, Han-" Hanna memotong ucapan, "What are you doing, sir?! Can you just stop doing this!"
"No, Hanna. Let me tell you something special. Just for us." Hanna mengernyitkan dahi. Dalam benaknya timbul pemikiran yang tentunya seperti lamaran terhadap kekasihnya. Dengan posisi sama, Arthur mulai menggerakan bibirnya. "Hanna, pertama kali kamu melihat saya mungkin aku adalah seorang pimpinan yang selalu menggoda perempuan." Benar, ucap Hanna membatin. "Namun seiring berjalannya waktu, ada sebuah pertanyaan yang membuatku ingin tau jawabannya. 'Apakah ada seorang perempuan yang tidak memandangku sebagai harta'." Arthur berbicara dengan mata menatap penuh ke Hanna meskipun gadis itu sesekali mengalihkan pandangan.
"Sir, I don't-"
"Shht, biarku selesaikan." Hanna kembali mengernyitkan dahi dan menambah kebingungan. 'Aku?' Tanya Hanna dalam benaknya. Dia tidak sedang salah berbicara, bukan?
"Diantara puluhan bahkan ratusan wanita yang sudah kutemui akhirnya pertanyaan yang terus berada di pikiranku, akhirnya terjawab. Kau adalah jawabannya." Arthur mengelus punggung tangan Hanna yang lembut dan halus. "Hanna, would you be mine?"
Hanna terdiam. Tidak seharusnya ia berada di waktu yang seperti ini, ia bahkan baru berkenalan dengan Arthur beberapa bulan, belum dalam hitungan tahun. Alasan lain adalah Arthur sudah di label oleh Hanna adalah lelaki yang tidak mungkin ia jadikan seorang pasanga. Are you kidding me? Am i worth it for you? Huh!
"Enough, sir! I'm your assistant!" Tegas Hanna kepada Arthur. Arthur kemudian membalas. "Yeah, i know it. Tell me what's your answer?"
"Don't waste my time." Ucap Arthur kembali. Hanna menghela nafas. "Kalau begitu, Pak Arthur tidak usah menunggu jawaban saya. Lagi pula tidak akan ada kabar baik." Ujar Hanna.
"Hanna..."
TO BE CONTINUE