
"APA MAKSUDMU, SARAH?!"
"Kau tau Kenzo, apa hal yang aku lewati waktu kau tidak ada? Uh..aku hamil anakmu Kenzo, tapi betapa bodohnya aku hingga menggugurkannya, dan sejak itu aku ingin-"
"Bagaimana...kenapa kau tidak memberitahunya?"
"Karna disaat itu kau tidak menginginkanku."
Kenzo semakin dibuat bagaimana jalan hidupnya bisa serumit ini? Di hari yang sama, masalah yang sama seperti kakaknya seakan ini hanya settingan semata.
"Jadi bagaimana kau menerima permintaanku, kalau tidak, tidak masalah itu masalah kau sendiri." Ujar Sarah dengan nada cuek.
"Charlotte, aku menerimanya, dan ku mohon kau jangan datang ke kehidupan Hanna lagi. Kau harus menjauhinya!" Kata Arthur dengan keputusan yang sudah bulat. Ia harus merelakan hubungannya demi keselamatan Jess.
"Kakak! Bagaimana dengan Hanna?"
"Kau juga harus menerima keputusan Sarah, Kenzo. Aku merelakan hubunganku sama Hanna dan kau juga harus melakukan hal yang sama." Ucap Arthur yang membuat Kenzo harus memilih yang mana.
"Kita melakukan ini demi kebaikan Hanna dan juga Jess, Kenzo. Ku harap kau mengerti." Tambah Arthur dengan nada sedihnya.
Kenzo menatap Arthur sebelum beralih ke Sarah. "Baik, aku menerimanya dan sama seperti permintaan Kakakku, ku mohon kau jangan datang ke kehidupan Jess!"
"Baiklah, lagipula untuk apa aku mencampuri urusan gadis jelek itu." Kata Charlotte dengan nada cuek. Arthur dan Kenzo menahan kesalnya karna ini masih lingkungan rumah sakit dan juga mereka adalah perempuan.
"Lebih baik kalian cepat masuk dan mendonorkan darah kalian!" Perintah Arthur kepada Sarah dan Charlotte dengan nada lumayan tinggi.
•••
One month later...
Hanna sudah mulai sehat dan Jess begitu. Hanya saja mereka murung karna tidak ada orang yang selalu membuat mereka bahagia. Siapa lagi kalau bukan Arthur dan Kenzo?
Semenjak permintaan Charlotte dan Sarah, Arthur dan Kenzo tidak bisa menampilkan wajah mereka di depan Jess dan Hanna, mereka memilih memantau dari jauh.
Arthur dan Kenzo mengirim seorang perawat khusus yang akan selalu memberitahu semua aktivitas Hanna dan Jess selama di rawat. Mereka tidak akan dengan mudah melepaskan kedua wanita yang mereka sayangi.
"Bagimana keadaan Hanna?" Tanya Arthur ke seorang perawat yang ia suruh memantau Hanna.
"Seperti biasa, Tuan. Dia selalu terlihat murung dan bahkan dia sering menangis di malam harinya. Belum lagi dari kemarin malam dia belum makan sekali pun. Semalam saya mendengar dia memanggil nama anda, Tuan."
"Baiklah saya tutup telponnya. Terus pantau Hanna dan langsung kabari saya kalau ada masalah." Arthur langsung menutup telponnya dan menyandarkan kepalanya pada sisi kursi kerja miliknya.
Dengan bulu halus yang tumbuh menjadi jenggot, serta rambut yang mulai memanjang, lelaki itu bahkan tidak mengurus dirinya semenjak ia meninggalkan Hanna.
Bahkan perusahaannya mengalami penurunan karna Arthur tidak mengurusnya dengan baik.
"Arthur! Aku bosan melihatmu seperti ini! Aku pergi!" Kata Charlotte lalu meninggalkan Arthur yang tersenyum menyeringai. Bagus! Ia memang membuat rencana ini diam-diam. Meskipun ia mengacukan kondisi perusahaannya. Ini karena Arthur tau Charlotte hanya memandang dirinya sebagai harta karun, yang siap di rampas di setiap waktu. Sialan! Memang perempuan tidak tau diri.
"Baiklah, aku menunggu saat ini." Setelah itu ia langsung membersihkan dirinya yang kotor lalu mulai pergi ke kendaraannya dan ke rumah sakit untuk menemui Hanna. Bagaimana kabar Hanna setelah satu bulan tidak bertemu? Apa dia akan menunjukkan wajah senangnya lalu memeluknya dengan sekuat tenaga? Atau menangis bahagia di pelukannya sambil bertanya kemana dirinya selama ini?
Arthur memang tidak menemui langsung Hanna ketika wanita tersebut membuka matanya setelah operasi. Ini semua karena perempuan iblis itu.
Sesampainya di rumah sakit, Arthur sangat senang dan langsung menuju ke kamar inap Hanna. Lelaki itu mengharapkan saat ia datang ia langsung melihat senyum Hanna karna merindukannya dan juga memeluk dirinya, namun seketika harapan itu hilang saat dirinya tiba di kamar Hanna.
Hanna sedang bercanda gurau dengan seorang lelaki yang juga memakai pakaian seperti Hanna. Lelaki itu tampak lebih muda dari dirinya, mungkin beda 1 tahun atau 2 tahun? Entahlah.
"Aku baru meninggalkanmu selama satu bulan, Hanna. Tapi kenapa kau sangat cepat melupakanku?"
Sedangkan Hanna....
"Berhentilah, perutku sakit karna terlalu banyak tertawa." Ujar Hanna sambil memegang perutnya yang sakit.
"Sangat susah membuatmu tertawa, kau selalu saja murung. Aku temanmu jadi aku harus membuatmu tertawa." Hanna tersenyum mendengar ucapan lelaki di depannya.
"Bagaimana pun waktuku disini hanya sampai besok, aku harus pergi dan aku harus membuat memory denganmu. Kau teman pertamaku disini." Kata lelaki di depannya Hanna.
Hanna sedih mendengarnya. "Kau pasti bisa melawan kanker itu, Steven. Setelah aku sembuh aku akan menyusulmu ke sana dan menyemangatimu."
"Memangnya kau tau aku akan pergi kemana, uh?" Tanya Steven sambil tertawa kecil.
"Bukankah London?"
"Iya. Aku akan menunggumu disana." Kata Steven lalu mengusap kepala Hanna sambil tertawa begitu pun dengan Hanna.
TBC