
Hanna menarik nafas panjang. Jantungnya berdegup kencang. Ia tidak berani menatap ke mata pemilik nama Harrison itu dan juga keluarga Charlotte. Ia mengigit bibirnya sedikit dan melangkahkan kaki ketika Arthur mengantarkannya ke tempat duduk. Suasana saat ini sangatlah mencekam. Tidak seharusnya ia ikut pertemuan ini. Ini buruk! Kenapa dirinya berani mengambil keputusan untuk ke sini?! Bodoh kau, Hanna!
Arthur duduk di samping Vincent dan Hanna duduk di samping dirinya. Kursi di sebelah Hanna kosong sebagai pembatas Hanna dengan Charlotte. Ketika makan malam telah datang ke meja makan, Hanna tidak berani menggerakkan tubuhnya, ia memilih diam dan menatap sepasang alat makan. Tubuh ramping dan tegapnya saat duduk serta wajah yang tenang mampu menutupi kegugupan Hanna. Arthur tersenyum tipis. Jika Hanna sudah berani mengambil keputusan seperti ini, berarti ia juga harus berani mengambil keputusan untuk kebahagiaannya.
Arthur menatap ke arah Kyena dan juga keluarga Charlotte. Wajahnya sangat tenang namun juga serius. Hingga sebuah suara mengecohkan pandangan mereka semua. "Maaf, aku terlambat."
"Oh, bagaimana bisa ada Hanna disini?" Tanya Kenzo, ia mengerutkan dahi dan duduk di sebelah Hanna. Karena hanya disana tersisa kursi kosong. Hanna sedikit bersyukur karena ada Kenzo disini. Paling tidak ada temannya yang mungkin akan membantunya untuk keluar dari sini. Ya, teman yang dulu ia suka namun sekarang tidak.
"Aku yang mengajak Hanna kemari." Balas Arthur. Kenzo terdiam dan menatap ke arah Arthur dan Hanna. Apa hubungan Hanna disini? Kenapa ia harus ikut serta dengan Arthur? Setau dirinya, makan malam ini membahasa pertunangan Arthur dengan Charlotte.
Ketika Vincent mempersilahkan untuk semua makan, akhirnya acara makan dimulai. Namun Hanna masih enggan untuk mengambil makanan sehingga membuat Arthur gemas. Ia mengambil beberapa makanan dan meletakkannya di piring Hanna. Hingga sendok milik Kenzo bertabrakan dengan Arthur membuat kedua saudara itu saling menatap. Mereka mengambil makanan untuk Hanna.
Hanna menghela nafas dan mimik wajahnya sudah tidak karuan. Ia butuh udara segar. "Saya izin ke toilet," kata Hanna sambil menunduk hormat sedikit. Ia berlari kecil menjauh dari zona menyeramkan itu. Apa dia langsung pergi saja dari sini? Tapi pasti Arthur akan marah besar dan mungkin saja namanya akan jelek dihadapan kedua keluarga itu.
Kenzo langsung bangkit berdiri tidak lama kemudian dan menyusul Hanna. Arthur ingin menyusul namun suara Keyna membuat dirinya ditahan. "Apa toilet lebih penting daripada acara makan ini?" Tanya Keyna, nadanya terdengar dingin dan tegas.
"Mari kita bahas tujuan makan malam ini. Maafkan saya jika Arthur membawa sekretarisnya ke acara makan malam ini, mungkin karena-" ucapan Keyna terpotong. Matanya menatap ke arah Arthur.
"Karena dia wanita yang saya cintai. Tujuan saya datang ke acara ini untuk membatalkan petunangan ini. Saya tidak peduli tentang kerugian yang akan saya dapat namun saya yakin, cepat lambat saya akan memulihkan perusahaan saya," kata Arthur. "Saya tau keluarga anda sudah berkorban banyak dan berjasa bagi kami, cuman menurut saya, ada cara lain untuk membalas jasa kalian." Tambahnya.
Semua mata tertuju pada Arthur. "Charlotte sudah baik kepadamu, Arthur! Bagaimana bisa kamu ingin membatalkan pertunangan ini?!" Balas Keyna.
"Sayang, kamu gak yakin dengan keputusan kamu, Bukan? Aku sudah sangat sayang sama kamu," kata Charlotte. Matanya hampir menangis. Ia terbayang-bayang dengan perlakuan Arthur tadi siang. Harga dirinya sudah diinjak-injak oleh lelaki itu.
"Charlotte, akan lebih baik jika kamu menikah dengan seseorang yang kamu cinta. Jika meneruskan ini, kamu juga merasa rugi." Balas Arthur.
"Dan juga Mom, aku sudah banyak menderita dengan semua keputusan mom. Aku menuruti semua keinginan mom. Aku bahkan melupakan kebahagiaanku sendiri. Kemudian, Hannaku datang dan menjadi sumber kebahagiaan yang aku tunggu," ucap Arthur. Ia berharap Hanna berada disini ketika ia mengatakan ini.
Dan sebuah keajaiban, Hanna berdiri di belakang Arthur dengan pandangan terharu. Apa dia benar-benar mengatakan itu? Kenzo menurunkan bahunya dan rasa kesal namun juga pasrah bercampur aduk. Ia menatap punggung Hanna yang sedikit bergetar. Apa dia menangis?
Flashback
"Hanna." Panggil Kenzo. Hanna yang baru keluar dari toilet langsung mengarahkan pandangan ke lelaki itu. Teman yang pernah spesial di hatinya. "Ya, kenapa, Kenz?"
"Sudah lama kita tidak berbicara berdua saja. Bisa berbicara sebentar? Ada yang ingin kusampaikan." Hanna mengangguk pelan. Kenzo membawa Hanna ke tempat yang sepi agar lebih leluasa untuk berbicara.
"Aku ingin tanya, apa sewaktu graduation ada hal yang ingin kau katakan padaku atau memberikan aku sebuah surat?" Tanya Kenzo perlahan. Ia teringat dengan surat yang pernah ia temukan di kotak itu. Hanna sedikit terdiam. Apa ia pernah mengirimkan surat? Ia sudah tidak ingat banyak tentang itu. Tapi ia ingin mengatakan perasaannya saat itu namun lelaki itu sudah pergi. Apa ia harus katakan yang sebenarnya?
"Aku pernah menyukaimu bahkan mencintaimu tapi saat itu kau pergi dan akhirnya, aku melepaskan rasa itu bersama dengan kepergianmu." Kata Hanna. Kenzo menahan rasa perih di dadanya. Jika saja dulu ia menyadari rasa itu dan tidak pergi ke london. Mungkin ia bisa bersama dengan Hanna.
"Maaf jika aku tidak menyadarinya. Hanna, bisakah kita mengulang semuanya? Aku janji tidak akan pergi lagi dan melukai perasaanmu. Setelah aku tinggal di London, hatiku merasa kosong. Aku merasa kehadiranmu disisiku sebelum aku pergi memberi aku-"
"Siapa dia, Han?"
"Bagaimana jika kita kembali? Mereka pasti akan mencari dirimu jika terlalu lama disini?"
Flashback off
Kenzo yakin jika seseorang yang Hanna cintai itu adalah kakaknya, yang tidak lain adalah Arthur. Nafas Kenzo seaakan tertahan. Bagaimana mungkin ia akan melawan Arthur? Melawan kakaknya sendiri? Kenzo berusaha tegar. Ia melihat Arthur meninggalkan acara makan dengan teriakan dari Keyna, mamanya.
Arthur menarik tangan Hanna dan membawanya pergi. Kenzo melihat tatapan Arthur yang begitu marah dan ia tidak pernah melihat kakaknya seperti ini ketika lelaki itu melewati tubuhnya. Arthur membawa Hanna ke sebuah tempat yang sepi. Ia ingin berbicara leluasa dengan gadis itu.
Ketika mobil yang mereka naiki telah sampai di tempat yang dimaksud. Pemandangan kota dari atas bukit. Arthur duduk di depan mobil dengan sandaran pada penutup mobil depan. Hanna yakin lelaki itu dalam nuansa hati yang kacau dan ia berusaha mengerti.
"Han, kau tau perasaanku sekarang?" Tanya Arthur, ketika ia mendengar suara pintu mobil tertutup. Hanna duduk di samping Arthur dan menatap ke arahnya. Pandangan lelaki itu ke pemandangan kota di hadapannya. "Aku merasa senang karena aku bisa mengutarakan perasaanku namun juga cemas dengan perkataan jika perusahaan akan baik-baik saja. Ribuan orang di kantor adalah tanggung jawabku," kata Arthur.
Hanna tersenyum kecil. Ia memberanikan diri untuk menyentuh tangan Arthur. "Saya juga bagian dari tanggung jawab itu karena saya adalah sekretaris anda, Pak. Saya akan selalu ada di sisi, Pak Arthur, bagaimana pun nanti." Karena kau adalah lelaki yang aku cintai sekarang.
Arthur menoleh kearah Hanna. "Makasih, Hanna. Mari kita lewati semuanya bersama."
"Hmm, Ar-Arthu-r." Panggil Hanna, memberanikan diri untuk memanggil nama depan pemimpinnya itu. Lagi pula Arthur sendiri sudah memperbolehkannya. Arthur menunggu kalimat selanjutnya.
"Apa ucapanmu tadi benar? Jika aku sumber-"
"Iya."
"Tapi bagaimana bisa? Kita baru bertemu beberapa bulan lamanya, hampir satu tahun." Kata Hanna.
Arthur hanya tersenyum. "Jadi bagaimana keputusanmu?" Tanya lelaki itu mengalihkan topik. "Aku pikir kita harus mencobanya, Han. Apa aku belum terlihat menyakinkan untukmu?"
Hanna menggelengkan kepala. "Kau sudah menyakinkan untukku."
"Lalu apa lagi?"
"Aku hanya perlu waktu untuk memikirkannya. Dan menurutku," Hanna tersenyum. Arthur mengerutkan dahi dan sedetik kemudian, lelaki itu tertawa bahagia. Hanna menerimanya! Arthur akan memperjuangkan Hanna meskipun melawan Keyna!
"Aku akan menjagamu dan selalu membuatmu berada disisiku, Han. Kau milikku!" Arthur menarik Hanna ke dalam pelukan dan menarik dagunya dengan lenbut. Hanna tidak bisa berhenti tersenyum. Kemudian, bibirnya merasakan sesuatu yang menyentuhnya. Arthur mencium Hanna dengan begitu lembut hingga membuat perut Hanna di penuhi oleh kupu-kupu. Siapa yang percaya jika seorang Hanna mampu memiliki seorang Arthur Harrison? Hanna sendiri masih belum mempercayainya.
TO BE CONTINUE