The Bad Boss

The Bad Boss
Bab 41 - Can't



Aliran darah memenuhi wajah dan juga kaki Hanna.


"Please..aku harus.." lirih Hanna sambil berusaha melepaskan kakinya yang terjepit. Disaat itu mobil miliknya di kerumungi oleh banyak orang dan tidak lama mobil ambuland datang dengan suara sirenenya.


Hanna menangis karna merasakan sakit yang luar biasa pada kakinya, kakinya terjepit dan susah untuk di keluarkan. Tim medis akhirnya datang dan mencoba untuk melepaskan kaki yang terjepit.


Sedangkan mobil yang menabrak dirinya, pengemudinya sudah di bawa lebih dulu ke rumah sakit.


Membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk melepaskan kakinya dan sekarang dalam perjalanan ke rumah sakit. Disaat itu Hanna sudah tidak bisa menahan sakitnya dan akhirnya dia pingsan.


•••


-Los Angeles Hospital-


17.35 PM


Saat ia di bawa ke sebuah ruang gawat darurat, ia sadar sebentar dan ia tahu rumah sakit ini. Ini rumah sakit yang hari ini ia datangi alias rumah sakit xxx itu.


Sampai di saat itu, terdengar suara yang sangat ia kenal perlahan mendekati dirinya. Ya. Dia Arthur. Lelaki itu meneriaki dirinya agar tetap sadar dan juga ia menangis.


"HANNA!!! HANNA!!!"


• FLASHBACK ON •


"Hanna mana?" Tanya Arthur setelah i menyadari kalau perempuan yang datang bersamanya tadi menghilang. Kenzo juga melihat ke sekeliling dan hasilnya nihil begitu juga dengan Arthur.


Arthur mengecek saku celananya dan ia baru sadar kalau kunci mobilnya masih di Hanna. Lelaki itu langsung berteriak kesal dan memukul dinding dengan kepala tangannya.


"Kenapa kau bisa melupakan hal itu, Arthur?! Bodoh!" Gerutu Arthur sambil mengusap kepalanya dengan gusar.


"Sekarang gimana, Kak? Aku telpon Charlotte aja, suruh dia kem-" Arthur langsung mengangguk tanpa mendengar ucapan selanjutnya.


Akhirnya Arthur memilih untuk menelpon Hanna dan panggilan itu di jawab. Lelaki itu meminta untuk tidak datangi Charlotte karna ia takut terjadi apa-apa pada kekasihnya, namun karna Hanna terlalu keras kepala akhirnya perempuan itu memutuskan panggilannya.


10 minutes later...


"Gimana nih kak, Charlotte mengizinkan kita untuk mengambil darah miliknya, hanya saja ada syaratnya."


"Apa syaratnya?"


"Kau harus mau menjadi miliknya."


"F*ck! Bagaimana bisa dia masih menginginkan hal itu padahal aku sudah mengatakan semua hal buruk padanya."


"Please kak, kau harus mau. Jess..Jess..dia harus sembuh!" Arthur tidak tau harus memilih apa. Ia tidak menginginkan hal buruk terjadi pada Jess tapi ia juga tidak mau meninggalkan Hanna dengan mudahnya.


"Jangan gila kamu Kenzo! Kamu mau korbanin hubungan kakak buat selamatin hubungan kamu?! Egois kamu, Zo! Memangnya tidak ada cara lain hanya untuk donor darah?! Pakai otakmu!" Bentak Arthur yang amarahnya sudah di ubun-ubun. Bagaimana bisa adiknya ini meminta hal seperti itu.


"Cepat tanya ke pihak rumah sakit apa bisa meminta darah AB dari rumah sakit lain." Celetuk Arthur kesal. Ia memegang keningnya dan memijatnya karena ia pusing.


Handphone milik Arthur berbunyi dan disana tertera nama Hanna. Lelaki itu langsung mengangkat panggilan itu.


"Sayang, kamu-"


"Apa anda keluarga dari perempuan ini?" Tanya seorang lelaki. Arthur mengerutkan dahinya dengan bingung. Lelaki itu memiliki feeling yang tidak bagus saat ini.


"Perempuan ini mengalami kecelakaan dan sekarang sedang perjalanan ke rumah sakit Los Angeles, keadaan sekarang cukup parah-"


"Apa masih lama hingga datang ke rumah sakit? Saya sedang di rumah sakit Los Angeles."


"Tidak, sebentar lagi kami tiba, saya harus menutup panggilan ini, terima kasih." Setelah itu Arthur langsung menurunkan dirinya dan bersandar pada dinding lalu mengusap kepalanya dengan gusar.


"Oh god, kenapa ini sangat rumit?"


Tidak lama kemudian, beberapa perawat berlari ke luar dan Arthur yakin kalau itu adalah kekasihnya yang baru sampai, ia langsung berdiri lalu berlari.


• FLASHBACK OFF •


"HANNA!!! HANNA!!!" Arthur langsung mengambil satu tangan Hanna lalu mengelusnya dan satu tangan Arthur di gunakan untuk mengelus rambut Hanna. Lelaki itu merasa sakit dan gagal dalam menjaga Hanna, ia merasa harusnya—yang ada di tempat Hanna—adalah dirinya, bukan kekasihnya.


Hanna hanya bisa menutup dan membuka matanya sebentar lalu melihat wajah Arthur sebelum matanya tertutup lagi dan semuanya gelap.


Arthur dan Kenzo sekarang mengalami masalah yang sama, perempuan mereka juga mengalami hal yang sama. Di diri mereka, ia selalu meyalahkan diri mereka yang gagal dalam menjaga kekasih mereka masing-masing dan seharusnya itu adalah posisi mereka.


Tuk! Tuk!


Suara ketukan sepatu terdengar dan disana ada Charlotte dengan Sarah di sana. Arthur sedikit kaget dengan kedatangan Charlotte bersama Sarah disana.


"Apa aku lama datang?" Tanya Charlotte dengan wajah tenang dan terkesan cuek. Kenzo menahan rasa kesalnya dan ia langsung berdiri lalu mendekat ke Charlotte.


"Charlotte, kau memiliki darah yang sama dengan Jess jadi kumohon, kumohon untuk mendonorkan darahmu padanya." Pinta Kenzo sambil berlutut di hadapan Charlotte.


Sarah sebenarnya kesal karna Kenzo lebih memilih Jess, padahal dirinya sudah senang saat mengetahui kalau Jess bisa separah itu. Ya, tentu itu bagian dari rencana.


"Aku mau hanya saja ada syarat, dan kau sudha mengetahuinya apa syarat itu." Kata Charlotte. Kenzo masih berlutut dan tidak lama Arthur berdiri di samping Kenzo dengan satu tangan di bahu Kenzo.


"Charlotte, apa kau tidak punya rasa iba sekalipun?" Charlotte berdecih sata mendengar Arthur berbicara.


"Baiklah kalau kau tidak mau, Sarah ayo kita pergi."


"Apa ini semua dari rencana kalian?!" Sekarang Kenzo yang bersuara.


"Siapa keluarga dari pasien bernama Hanna?" Tanya seorang dokter yang baru keluar dari ruang gawat darurat.


"Saya, Dok." Arthur berjalan mendekat ke Dokter itu dengan muka khawatir sekaligus sedih, takut, dan semuanya bercampur aduk.


"Begini ternyata kondisi pasien semakin lama semakin memburuk, pasien juga kehilangan banyak darah, tidak hanya itu pasien juga mengalami benturan pada bagian kepala lumayan cukup keras sehingga mengalami pendarahan di kepalanya. Pasien bergolongan darah B dan kami kehabisan stok darah itu, karena sebelumnya sudah ada tiga pasien yang mengambilnya. Kebetulan pihak rumah sakit sudah memesan stok darah lagi dan sedang kemari, cuman jika harus menunggu-"


"Arthur, Sarah bergolongan darah yang sama, bagaimana?" Charlotte berjalan ke Arthur dengan kedua tangan terlipat di dada.


"Tentu ada syarat jika kau mau." Kata Sarah.


"Katakan cepat!"


Sarah berjalan mendekat ke Kenzo lalu, "aku ingin dia menjadi milikku."


Kenapa semua jadi dipaksa seperti ini? Sialan! Dasar perempuan tidak tau diri!


TO BE CONTINUE