The Bad Boss

The Bad Boss
Bab 20 - Theatre



Menghirup udara yang sama di sebuah ruangan gelap dan hanya ada sebuah layar yang besar di hadapan kita. Selain itu, hanya ada kita di ruangan ini serta layar besar itu menayangkan film romantis.


Hanna benar-benar tidak menyukai kecanggungan, ia ingin keluar dari tempat ini. Sesekali ia melirik ke jam tangan miliknya. Sebentar lagi gate akan terbuka, oh ternyata waktu berjalan dengan cepat. Ia tenggelam dengan suasana canggung disini bersama dengan film romantis itu.


"Pak Arthur, maaf mengganggu anda." Arthur menoleh ke Hanna dengan tatapan yang berbeda dari biasanya. Bahkan Hanna langsung merinding karena tidak biasa melihat tatapan itu.


"Waktu untuk gate di buka tersisa 30 menit. Apa sebaiknya kita pergi kesana sekarang karena jarak gate dari theatre ini cukup jauh." Ucap Hanna. Arthur mengangguk dan langsung menarik tangan Hanna pergi menjauh dari theatre.


Apa dia nggak bisa berjalan sendiri?


-Hanna.


Tiba-tiba Arthur berhenti dan Hanna menabrak punggung lelaki itu. "Mulai sekarang kita jalan bergandengan tangan." Kata Arthur yang membuat Hanna mengerutkan dahinya.


Tidak ada angin, tidak ada hujan, lelaki ini langsung mengeluarkan kalimat itu. Bahkan ia tidak berharap ada kalimat itu yang terlontar dari mulutnya, oh sebaiknya kalimat itu menghilang.


Arthur menaikkan tautan tangan mereka ke wajah Hanna agar gadis itu melihatnya dan sedikit menggerakkannya. "Kenapa harus begitu?"


"Apa harus ada alasan untuk memegang gadis yang kusukai?"


Wait? Tadi apa yang ku dengar?


-Hanna.


"Kusukai? Bagaimana anda bisa mengatakan itu? Kita tidak pernah berjalan bersama, berbicara panjang, kita bahkan tidak dekat, dan anda hanya suka memerintah saya."


"Jadi kau menginginkan hal seperti itu, baiklah kita mulai sekarang. Dan kau tidak menyukai yang terakhir bukan, aku akan coba untuk menguranginya." Arthur tersenyum pada Hanna.


Hanna kembali menggeleng. "Pak Arthur bahkan sudah di jodohkan dengan Ibu Pak Arthur. Lebih baik kita tetap dengan hubungan antara Boss dan Sekretaris." Hanna mengucapkannya dengan pelan-pelan takut Arthur akan marah padanya.


Jangan buat diriku menjadi sulit! Menjadi sekretaris saja sudah membuatku seperti terikat pada tali yang sangat kuat dan sulit untuk bernafas. Jika lebih dari itu, mungkin-


-Hanna.


"Saya tidak pernah menginginkan perjodohan bisnis ini. Dan kau sudah melihatnya bukan, ketika aku memarahi Charlotte itu dan bahkan menyebut dirinya adalah seorang ******?"


Hanna tersenyum miring sedikit. "Well, saya lebih menyukai lelaki yang bisa menghormati perempuan. Seberapa buruk perempuan itu, saya lebih menyukai lelaki yang tau bagaimana cara-"


"Apa perempuan semacam Charlotte itu pantas mendapati kehormatan? Cih..bahkan saya sendiri merasa kehormatan perempuan itu sudah hilang karena ia tinggalkan di club malam bersama dengan para lelaki disana."


"Anda mengatakan itu seakan anda becermin pada diri anda sendiri. Bukankah anda juga sering melakukan adengan menjijikkan itu setiap pagi sekali?" Balas Hanna. Arthur melepas tautan tangan Hanna dan melipat kedua tangannya.


"Mereka yang menawariku terlebih dahulu. Lagi pula siapa yang tergiur dengan tubuh mereka."


Hanna membuang muka. "Anda juga bersalah, kenapa tidak-"


"Kenapa tidak menolak? Ya sekarang saya menolak. Karena kenapa? Karena kau." Arthur melangkah mendekat ke Hanna.


"Kenapa karena saya? Saya tidak pernah meminta kepada anda."


"Coba kau pikir kenapa saya melakukannya?"


Gadis itu menjauhkan diri dari wajah Arthur yang semakin dekat, ia mendorong kepala ke bagian belakang. Sementara Arthur pun terus mendesaknya dengan memajukkan kepala.


Alhasil punggung Hanna yang terlalu kebawah membuat tubuhnya tidak seimbang dan terjatuh, hingga sebuah tangan melingkar ke pinggang dan menahan tubuh kecil itu terjatuh.


Arthur tersenyum manis. "Bagaimana jika saya telat menangkapmu?"


Hanna menatap kearah lain. "Lepaskan!"


Brukk!!


"Ooouuuchh!!" Pekik Hanna sambil memegang bagian yang sakit. Ia kira lelaki ini tidak melakukan apa yang di minta. Tidak, ia mengharapkannya. Tapi bukan seperti ini yang ia maksud, membuatnya mencium lantai bandara ini.


Tidak, tidak. Sekarang bukan rasa sakit yang ia pikirkan, tetapi rasa malu yang menyerang karena ia berada di tempat publik! Sial kau Arthur!


Arthur mengulurkan tangan kepada Hanna namun gadis itu bangkit dengan sendirinya. "Saya bisa sendiri." Ujar Hanna dan berangsur pergi dari hadapan Arthur dengan amarah di dirinya.


"Kemana kau pergi?!" Teriak Arthur pada Hanna yang berbeda 3 meter dari jaraknya. Lelaki itu melirik jam di tangannya, masih tersisa 10 menit sebelum gate di buka.


Jarak tempat ia berdiri tidak jauh dari theatre dan jarak theatre sangat jauh dari gate tempat pesawat berada. Jika ia pergi sekarang mungkin tidak akan telat sebelum waktunya, tapi ia tidak mungkin pergi meninggalkan gadis itu yang baru pergi ke luar negeri pertama kalinya.


Belum lagi, gadis itu pergi dengan amarah dan ia tidak mengenal siapapun di sini. Bagaimana jika gadis itu menghilang lagi dan alhasil ia harus melakukan panggilan seperti tadi. Itu memalukan sebenarnya.


Di lain sisi Hanna masih memikirkan kejadian terjatuh dirinya dengan Arthur yang merengkuh pinggangnya. Ia menutup wajah dengan kedua tangan karena ia kesal sekaligus malu.


"Kenapa kau tidak menendang miliknya saat itu? Kenapa kau harus memundurkan wajahmu dan alhasil kau-AAARGG!!" Hanna menghentakkan kakinya di sela langkahannya.


Ia bahkan tidak sadar jika sekarang ia berjalan tanpa arah. Arah yang ia tuju membuat dirinya semakin jauh dari lokasi gate.


"Hanna!!" Panggil sebuah nama dari jauh. Hanna tidak mendengarnya.


"Hanna!" Sekali lagi namun lebih dekat. Namanya berulang kali disebut dan semakin besar.


Hanna tetap melanjutkan jalannya saat melihat Arthur di belakang menyusulnya. Ia masih malas untuk bertemu dengan wajah lelaki itu.


Brukk!!


"Kau disini rupanya." Ujar seorang perempuan dengan nada sinis. Hanna mundur sebentar sambil memegang kening tempat ia bertabrakan dengan perempuan itu.


"Oh, maafkan saya nona Charlotte." Hanna bahkan tidak mengerti kenapa perempuan ini bisa disini. Ia tidak termasuk dalam rombongan jalan-jalan perusahaan ini.


Hanna melihat ke belakang dan disana masih ada Arthur yang memanggil namanya serta jaraknya tidak jauh dari dirinya. "Apa kau tidak punya kesadaran untuk tidak merebut lelaki yang akan bertunangan?"


"Siapa yang merebut lelaki yang akan bertunangan itu?!"


"Kau! Sudah berulang kali ku peringati, kenapa kau tidak bisa menjauh dari Arthur?!"


"Bilang kepada Arthur untuk tidak selalu mendekatiku!"


Dan setelahnya Hanna merasakan air yang menampar wajahnya. Setelah itu ia menyadarkan diri dari tidurnya selama perjalanan pesawatnya.


"Kenapa kau sangat sulit untuk di bangunkan?" Tanya Arthur di sampingnya.


"Dia memang begitu, Pak. Saya bahkan harus menbangunkan dirinya selama setengah jam jika ia kurang tidur. Tapi jika tidak, ia bisa bangun sendiri." Tutur Melly pada Arthur. Lelaki itu mengangguk mengerti.


"Well, Hanna sekarang kau harus berganti pakaian, kita akan melakukan transit."


TO BE CONTINUE